
Malam ini Aurel menceritakan yang sebenarnya kepada para tetangga yang kepo akan kehidupannya selama di Malaysia, kenapa ia tidak pulang saat Bundanya meninggal.
Aurel menceritakan bahwa dia telah dinikahi oleh majikannya sendiri, dan dia telah ditipu oleh calo migran yang bernama Nando itu. Namun, entah kenapa Aurel tidak menceritakan bagaimana Arsen memperlakukannya saat itu.
Tidak mudah meyakinkan orang lain untuk mempercayai penjelasannya, yaitu pro kontra akan selalu ada, sebagian dari mereka ada yang percaya ada pula yang menganggap hanyalah sandiwara.
Ditambah lagi Aurel mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang hamil. Dan dia juga menunjukkan buku nikah resminya. Jika mereka yang tidak tahu maka akan mengira bahwa Aurel berbohong.
Toh nyatanya di buku nikah itu catatan sipil sang Pria tertera sebagai warganegara Indonesia. Alamat juga dijelaskan bahwa Pria itu tinggal di Jakarta.
Mereka tidak mempercayai bahwa Aurel memang pergi ke negeri Jiran. tetapi tidak lain hanyalah tinggal di Jakarta bersama suaminya, tetapi kenapa ia tidak pulang saat Ibundanya meninggal dunia.
Sungguh sulit menjelaskan pada orang yang tidak mengetahui yang sebenarnya. Maka Aurel memilih cukup diam dan menerima segala tuduhan mereka, yang jelas anak yang ada dikandungnya tidak menjadi serangan fitnah mereka, bersyukur dia mempunyai buku nikah itu.
Sekian banyak diantara mereka yang meragukan tentang penjelasan Aurel, tapi Bibi Ana lah yang mempercayai pernyataan Aurel. Wanita itu sangat bersyukur masih ada orang yang mempercayainya.
***
Seminggu berlalu setelah Aurel pulang. Rencananya pagi ini ia akan ke sekolah untuk mengambil ijazahnya dan sekaligus menanyakan tentang beasiswa yang pernah ia dapatkan.
Setelah sampai di sekolah ia segera menemui wali kelasnya untuk pengambilan ijazah, dan menanyakan tentang beasiswa dari pihak sekolah.
"Begini Aurel, karena kami tidak mendapatkan kepastian darimu waktu itu. Maka pihak sekolah memutuskan untuk memberikan beasiswa itu pada siswa yang berprestasi lainnya, maka kami dari pihak sekolah mohon maaf untuk hal itu!"
Sedikit kecewa dihatinya karena gagal mendapatkan beasiswa kedokteran itu. Tetapi Aurel tetap optimis, ia akan berusaha untuk tetap kuliah, walaupun tidak ditahun ini, mungkin tahun depan bisa terleksanakan, yang penting ia harus tetap berusaha menabung untuk biaya pendidikannya kelak.
Sepulang dari sekolah ia mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhannya sehari-hari dengan bekal uang yang ia punya, Ya, Aurel tidak membawa uang pemberian Arsen yang senilai 150 juta itu, tetapi dia menerima pemberian uang yang diberikan Arsen saat terakhir mereka berbicara di mobil.
Arsen memberikan Aurel uang dalam amplop coklat dengan mata uang Indonesia itu. Entahlah, sepertinya pria itu telah mempersiapkan segalanya dengan matang untuk membekali sang istri.
__ADS_1
Walaupun tidak begitu banyak namun, cukup untuknya bertahan beberapa bulan kedepannya. Maka dari itu Aurel berniat ingin mencari pekerjaan agar ada pendapatan.
Malam ini Aurel duduk didalam kesunyian. Semua kenangan kembali dalam ingatan, dari masa-masa indah bersama Bunda hingga kenangan pahit saat menjadi istri kontrak seorang Pria kejam.
Disaat masih larut dalam lamunan Aurel merasakan sesuatu bergerak halus dalam perutnya. Seketika Aurel merespon pergerakan itu.
Tiba-tiba hatinya merasa terenyuh. Jujur semenjak ia menolak kehadiran janin itu, baru kali ini Aurel mengusap perutnya dengan lembut, hatinya merasa menghangat.
Aurel baru menyadari bahwa dia hanya memiliki bayi itu dalam hidupnya, seharusnya ia bersyukur kehadiran bayi itu, karena bayi itulah yang akan menjadi penyemangat hidupnya.
"Sayang, jangan takut ya,Nak, Bunda akan selalu menjagamu. Maaf Nak, jika Bunda pernah menolak kehadiranmu, tetapi sekarang Bunda menyadari hanya kamulah satu-satunya yang Bunda miliki," ujarnya sembari mengusap perutnya dengan lembut.
Merasa cukup lelah akhirnya Aurel memutuskan untuk tidur dengan memeluk perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit.
---malaysia--
Malam ini Arsen baru saja pulang kantor setelah beberapa hari tidak menampakkan batang hidungnya di perusahaan property itu.
"Makcik, apakah ada kabar dari Aurel? Adakah dia menghubungi Makcik?" Tanya Pria itu berharap ia mendapatkan no ponsel dari sang istri, sebenarnya Arsen sudah pernah memberikan Aurel ponsel tetapi wanita itu menolak pemberian darinya.
"Takde,Tuan. Makcik belum dapat kaba apapon dari Nona Aurel," jelas wanita tua itu.
"Baiklah, jika nanti dia menghubungi Makcik berikan no ponselnya padaku. Aku hanya ingin memiliki no ponsel Istriku sendiri. Aku janji tidak akan mengganggu ketenangannya," jelas Pria itu meyakinkan Makcik bahwa dia tidak akan merecoki Aurel.
"Baeklah, bila ade kaba dari Nona Aurel nanti Makcik bagi tahu kat Tuan."
Arsen segera naik dan menuju kamar utama. Setibanya di kamar, Arsen segera menghubungi orang suruhannya itu untuk menanyakan kabar sang Istri dan aktivitas apa saja yang dilakukan Aurel hari ini.
"Katakan informasi apa yang kamu dapat hari ini tentang istriku?"
__ADS_1
Hari ini Nona Aurel pergi ke sekolah Tuan, untuk mengambil ijazah dan menanyakan tentang beasiswa yang pernah tertunda."
"Terus... Bagaimana hasilnya?"
Pihak sekolah telah memberikan beasiswa itu kepada siswa lainnya karena Nona Aurel tidak memberikan kepastian waktu itu.
"Urus semuanya seperti yang aku mau. Jangan sampai dia curiga!"
Baiklah Tuan, besok akan saya urus.
Arsen menutup telepon dari spionase pribadinya. Pria itu menatap gambar Aurel yang ada didinding kamarnya.
"Sayang, aku berjanji akan menebus kesalahanku. Semoga kamu bisa tersenyum saat cita-citamu tercapai nantinya. Tetaplah menjadi wanitaku yang tangguh dan pemberani! Aku selalu berdo'a semoga kamu dan bayi kita selalu diberikan kekuatan.
Arsen mengusap gambar itu dengan lembut dan menatap wajah cantik polos itu. Rasa rindu menyeruak dalam qalbunya. Perpisahan ini begitu menyakitkan.
***
Siang ini Aurel masih menggitari jalanan kota bertuah itu untuk melamar pekerjaan, namun, dengan keadaannya yang hamil membuat orang sangsi untuk menerimanya, tentu saja mereka takut jika Aurel tidak bisa konsisten dalam mengemban tugas.
Dengan langkah gontai Aurel duduk di sebuah halte untuk melepaskan lelah dan memandangi deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang. Tanpa sengaja ia melihat tulisan Menerima lowongan kerja, yang terpampang di sebuah restoran Padang yang bermerek (Bareh Solok)
Restauran itu berdampingan dengan sebuah RS swasta cukup besar yang ada di kota itu. Tanpa pikir panjang, Aurel segera memasuki restoran itu untuk menanyakan apakah mereka masih membutuhkan karyawan.
Dengan kukuh meyakinkan pihak manejer restoran Padang itu dan akhirnya ia diterima bekerja sebagai tukang bungkus nasi ramas. Untung saja wanita itu banyak belajar saat dulu sang Bunda membuka warung sarapan, jadi Aurel sudah terbiasa membungkus makanan dengan kertas nasi.
Hari itu juga Aurel langsung di training untuk melihat tingkat kemampuannya dalam membungkus, sekilas terlihat mudah namun nyatanya cukup sulit, walau Aurel sudah bisa tetapi masih ada yang perlu diperbaiki agar terlihat lebih rapi dan tidak belepotan.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya agar Author semangat Update 🙏🤗
Happy reading 🥰