Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Menemani masak


__ADS_3

"Sudah, sekarang jangan menangis lagi ya. Yang penting kita sudah berjanji untuk tetap saling menjaga hati. Apapun yang akan terjadi aku akan tetap memperjuangkan kamu." Haikal menghapus air mata Dewi dan mengucapkan janji cinta.


Dewi kembali memeluk Haikal dengan penuh haru. "Terimakasih ya, Mas. Aku akan selalu memegang teguh janji itu, bagiku tak ada cinta selain dirimu."


"Terimakasih istriku Sayang, yaudah ayo sekarang kita lanjut masak disini. Aku ingin makan masakan kamu," ucap Haikal melerai pelukannya.


"Kamu serius? Bukankah Mama baru datang? Bagaimana nanti mereka mencari kamu, Mas?" Tanya Dewi masih heran.


"Tadi setelah aku mengantarkan mereka ke hotel, aku segera mencari alasan, ada urusan mendadak di kampus, yaitu mengikuti seminar berada di luar kota. Pokoknya aman lah! Hingga nanti malam. Aku tidak akan melewakan acara nonton kita."


Dewi tersenyum bahagia mendengar penjelasan suaminya. "Sweet banget sih kamu. Makin cinta dan sayang deh." Dewi bergelayut manja di leher Haikal dan menghadiahi kecupan hangat di bibirnya.


"Baru tahu kamu bahwa aku memang terlalu manis. Buktinya kamu tidak bisa lepas dariku," goda Pria itu membalas kecupan istrinya.


"Ish, kalau ngomong paling suka benar. Yaudah ikut kedapur, Mas, tapi kamu duduk saja dengan tenang temani aku," intrupsi Dewi sembari menggandeng tangan Haikal.


Dewi segera mengeksekusi masakannya. Haikal mengikuti perintahnya untuk duduk manis di kursi dapur. Merasa bosan, Haikal menghampiri Dewi.


"Dek, pinjam ponsel kamu dong," ujar Pria itu berdiri disamping Dewi.


Dewi menatap aneh pada Haikal. "Buat apa Mas?"


"Lagi bosan, Sayang, nggak ada kegiatan."


"Ponsel kamu kemana emangnya?"


"Aku nonaktifkan, Takut mereka telpon. Kamu kok banyak banget tanyanya? Aku nggak boleh pinjam?" Tanya Haikal penuh selidik


"Bukan begitu, Mas, curiga amad. Yaudah aku ambil ponselku sebentar." Dewi segera beranjak.


Haikal kembali duduk setelah mendapat pinjaman ponsel dari istrinya. Ia segera menghubungi nomor telepon di Cafe, untuk menanyakan apakah Mamanya datang kesana mencari dirinya.


Ternyata tidak ada, ia sedikit lega. Haikal sudah berjanji akan menyelesaikan semuanya, ia ingin hidup bahagia bersama istrinya. Tak ingin lagi ada pertimbangan atau memikirkan tentang Andin.

__ADS_1


Andin tidak pernah ada tempat dihatinya. Haikal hanya menganggap wanita itu sebagai adik. Sekarang masa depannya bersama Dewi, Ya, hanya Dewi lah wanita yang akan menemani hingga tua.


Setelah menelpon, Haikal berniat ingin mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya, tapi rasa penasaran mengusik hati, maka jemarinya melipir ke galeri untuk membuka gambar yang ada disana.


Haikal melihat foto-fotonya bersama Dewi, Pria itu menyunggingkan senyum melihat gaya pose Dewi yang menggemaskan. Ia terus menscroll gambar itu sehingga gambar-gambar yang lama dapat terlihat.


Sebuah gambar menarik perhatiannya. Yaitu gambarnya sendiri yang saat itu sedang fokus mengisi materi di dalam kelas. Haikal melihat tahun dan bulan di gambar itu. ternyata itu foto tiga tahun yang lalu.


Begitu besarkah cinta anak remaja itu pada sang Dosen, sehingga mengabadikan momen itu. Dan Haikal kembali mengingat bagaimana Dewi datang menyelamatkannya dari perbuatan dosa besar. Bahkan dia rela menggantikan wanita malam agar Haikal tak terjerumus.


Haikal menyadari bahwa cinta Dewi begitu tulus, ia tidak akan mungkin tega menyakiti perasaan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Setelah puas memeriksa galeri, kini ia melipir ke pesan, Pria itu mendadak posesif, ingin mengetahui dengan siapa saja istrinya berhubungan, baik pesan maupun panggilan telepon.


Tak ada yang mencurigakan, hanya pesan darinya yang begitu tampak spesial buat wanita itu. Haikal menutup aplikasi dan mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


"Dek,masih lama ya?" Tanya Haikal sudah merapat pada punggung Dewi.


"Nggak, bentar lagi kelar, udah lapar ya. Sabar ya my bojo." Dewi mengelus pipi suaminya.


Wanita itu hanya tersenyum bersemu mendengar gombalan amburadul dari suaminya.


"Mas, awas dulu, jangan ngerusuh. Aku nggak fokus, Mas." Dewi menahan wajah Haikal yang sedari tadi tak bisa diam. Serangan bibirnya merembes kemana-mana.


"Kalau tidak fokus di matiin dulu kompornya, sayang, ngamar bentar yuk," ajak Arfan dengan nafas sudah mulai berat.


"Tapi aku lagi masak, Mas, nanggung banget!" Sanggah Dewi, tetapi ia tak bisa menolak. Pria itu sudah terlebih dahulu mematikan kompor dan membopong tubuh istrinya.


Pertarungan sengit kembali terjadi di siang hari. Dewi hanya bisa pasrah dan menikmati segala perlakuan suaminya yang begitu manis dan memabukkan.


Selesai bercinta, mereka segera mandi. Karena kamar mandi ada diluar maka harus bertindak cepat sebelum Reza pulang.


"Ayo Sayang, kita mandi bareng." Ajak Haikal membantu Dewi untuk berdiri.

__ADS_1


"Kamu duluan yang mandi, Mas. Kalau berdua lama, nanti kamu berbuat sesuka-sukanya aja," ujar Dewi jerah, karena sudah tahu bagaimana kelakuan suaminya.


"Enggak, Sayang, aku janji tidak akan macam-macam. Ini benaran. Serius!"


"Janji ya! Awas kalau macam-macam!" Ancam Dewi mengikuti suaminya.


"Iya, aku janji. Paling cuma dua macam," seloroh Pria itu yang mendapat tatapan tajam dari Dewi.


"Hehehe... Serius amad. Udah ayo, nanti keburu Reza pulang." Haikal merangkul bahu istrinya agar berjalan sedikit cepat.


Selesai mandi, mereka keluar secara bersamaan, dan berpapasan dengan Reza yang hendak ke dapur.


"Eh, Dek, kamu sudah pulang?" Tanya Dewi begitu malu.


Reza menatap pasangan itu secara bergantian, rambut mereka basah habis keramas. Hah, dasar orang dewasa, ternyata begitu menyelesaikan masalah. Bila tak mendapatkan solusi maka masalah itu akan berakhir diatas ranjang.


Reza Bergumam dalam hati, dan segera memasang wajah biasa saja, seakan tak melihat kejanggalan diantara pasangan itu.


"Baru sampai, Mbak. Mbak jadi masak?" Tanya Reza yang merasa sudah lapar.


"Jadi, Dek, tapi belum kelar, akan Mbak selesaikan. Kamu tunggu sebentar ya." Dewi segera nyelonong meninggalkan kedua lelaki itu.


Reza menatap Haikal dengan datar. Dia ingin menanyakan masalah, kenapa kakaknya pulang dalam keadaan menangis. Tapi yang barusan dia lihat sungguh bertolak belakang. Jika ada masalah besar diantara mereka, tapi kenapa sekarang mereka bisa mandi berdua.


Reza segera meninggalkan Haikal. Dia bisa pusing memikirkan masalah orang dewasa itu. Haikal hanya mengedikkan bahunya dan ikut masuk ke kamar istrinya.


"Kok, manyun begitu? Muuach!" Haikal mencuri kecupan di pipi Dewi.


"Ish, awas Mas, aku mau menyelesaikan masakanku dulu. Ini semua gara-gara kamu. Kesal deh." Dewi segera mengunakan pakainya, dia begitu malu dengan sang adik.


Sungguh dirinya tak bisa menolak pesona Pria dewasa itu, sehingga dia juga menikmati segala perlakuannya.


Ingin marah, tapi sayang, ingin kesal tapi cinta. Benar-benar dilema.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2