Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Aurel kontraksi


__ADS_3

"Mas, aku minta jenazah Reza dibawa ke Pekanbaru. Aku ingin makamnya dekat dengan kedua orangtuaku," pinta Dewi dengan mata sembab.


"Baiklah, Sayang, kamu jangan sedih lagi ya, aku akan mengurus penerbangannya. Hari ini kita bersiap untuk berangkat ke Pekanbaru ya."


Dewi hanya mengangguk, rasanya masih sulit untuk berjanji tidak akan bersedih dan menangis. Tetapi, dia hanya mencoba tetap tegar.


"Haikal, biar aku dan Doni yang mengurus semuanya, kamu bawalah Dewi pulang, bantu dia untuk bersiap," jelas Arsen yang banyak membantu sahabatnya itu.


"Terimakasih ya, Sen, aku akan bawa Dewi pulang."


"Ayo, Nak, kita pulang. Kita akan bertolak ke Pekanbaru sekarang." Mama Hema membantu Dewi untuk bangun dari duduknya.


"Pulanglah, sayang, temani Dewi." Arsen menyuruh Aurel untuk pulang bersama Dewi dan Haikal.


"Tapi, Mas? Kamu nggak lama 'kan?" Tanya Aurel yang tak ingin berpisah walau sebentar saja.


"Nggak, Sayang, setelah selesai, aku akan segera pulang."


Akhirnya Aurel ikut pulang bersama Dewi. Walaupun sahabatnya itu belum ingin di ganggu, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.


Setibanya di kediaman Haikal, mereka segera bersiap untuk berangkat ke kota asal Dewi. Setelah selesai bersiap, Arsen dan Doni sudah tiba. Mereka segera berangkat ke bandara, bersamaan penerbangan jenazah Reza.


Setibanya di kota Pekanbaru, acara pemakaman segera dilaksanakan. Walau hari sudah sore pemakaman harus dilaksanakan hari itu juga. Reza dimakamkan di sisi makam sang Bundanya.


Setelah selesai pemakaman, Dewi duduk diantara makam ibu dan adiknya. Wanita itu masih begitu berduka.


"Ibu, maafkan Dewi, maaf jika Dewi tidak bisa menjaga Reza dengan baik, jangan marah, Bu," ujar Dewi mengusap batu nisan sang Ibu.


"Ayo, Sayang, kita pulang. Sebentar lagi magrib, tidak baik lama-lama disini. Kamu sedang hamil." Haikal dan semua kerabatnya berusaha membujuk bumil itu untuk pulang.


Dewi hanya mengangguk patuh segera bangkit meninggalkan tempat pemakaman umum itu. Haikal selalu setia mendampingi sang istri.


"Sayang, mandi dulu ya. Kita dari pemakaman." Haikal menggiring istrinya masuk kedalam kamar mandi. Sementara itu Mama Hema dan Aurel masih sibuk menyambut para pelayat yang masih datang silih berganti.


"Sayang, kamu juga harus mandi sekarang." Titah Arsen pada istrinya.


"Bentar, Mas, tunggu Dewi dan Pak Haikal selesai."


"Ayo kamu istirahatlah. Nanti kamu kelelahan." Arsen mencemaskan keadaan Aurel.


"Iya, bentar, Mas, nggak enak sama Tante Hema." Balas Aurel, merasa sungkan dengan mertua sahabatnya itu yang masih sibuk menerima tamu.

__ADS_1


"Iya, tapi aku takut kamu kelelahan, Sayang, aku takut anak kita kenapa-kenapa."


Tidak berapa lama Haikal dan Dewi sudah keluar dari kamar mandi. Aurel segera mengambil handuk dan pakaian gantinya, ia segera mandi.


Malam setelah yasinan, Arsen dan Aurel segera pamit pulang ke apartemennya. Bumil itu juga butuh istirahat, karena seharian ia begitu sibuk membantu mengurus segala keperluan pemakaman Reza.


Sesampainya di apartemen, Aurel segera mencari tempat tidur, rasanya begitu lelah. Seharian ini perut Aurel sering keram. Saat ingin memejamkan mata, Aurel teringat dengan putranya yang mereka tinggal bersama Oma dan Opanya.


"Kok belum tidur, Sayang?" Tanya Arsen yang beru keluar dari kamar mandi.


"Mas, aku kangen sama Alif. Kira-kira dia lagi ngapain ya? Pengen cepat pulang, tapi belum bisa." Keluh wanita itu pada sang suami.


"Sabar ya, nanti selesai acara tiga hari yasinan, baru kita pulang." Arsen mencoba menyemangati Aurel.


"Iya, Mas, masih nggak nyangka secepat itu Reza pergi."


"Namanya juga sudah takdir, Sayang, tapi gila juga wanita itu. Benar-benar sadis, kalau tidak Reza yang menghalangi sudah pasti Dewi yang akan menjadi korban." Arsen masih mengingat kejadian sadis itu.


"Semoga dia mendapatkan hukuman yang setimpal," balas Aurel masih kesal.


"Yasudah sekarang kita telpon jagoan neon dulu. Aku juga sudah kangen banget sama dia." Arsen segera menghubungi Mommy Iswara.


Tidak berapa lama telpon tersambung. Pasutri itu berbincang-bincang bersama putranya, dan terkahir mereka menyampaikan kabar duka itu pada Mommy dan Daddy.


Setelah selesai ngobrol dengan orangtuanya, Arsen dan Aurel memutuskan untuk istirahat. Pria itu masuk kedalam selimut sang istri.


"Sayang, kamu lapar,nggak?" Tanya Arsen sembari memeluk tubuh Aurel.


"Nggak, Mas, aku ngantuk banget. Tapi, perut aku kurang nyaman," jelas Aurel mencari kenyamanan dengan mengubah posisi tidurnya.


"Kenapa, Sayang? Apakah perut kamu sakit?"


"Cuma nyeri saja, Mas," jawab Aurel kembali mencari posisi wuenak.


"Semoga nggak terjadi apa-apa ya, jangan sampai kamu melahirkan disini." Harapan Arsen.


Arsen mengusap perut Aurel dengan pelan. Sembari mengecupnya. "Anak Daddy, jangan keluar disini ya. Sabar ya, Sayang, tunggu Daddy dan Bunda balik ke rumah Oma." Pesan Arsen pada anaknya.


Setelah bercakap-cakap dengan sang bayi, Arsen segera menyusul Aurel yang sudah terlelap.


Tengah malam jam dua dini hari, Aurel terbangun ingin buang air kecil. Rasanya begitu kebelet. Saat dikeluarkan, tak ada yang keluar.

__ADS_1


Aurel Kembali keluar. Tetapi perutnya terasa nyeri, mules tak beraturan. Aurel masih mencoba untuk menahannya, ia tidak mau mengganggu tidur lelap sang suami.


Semakin lama sakit itu semakin jadi. Dengan terpaksa Aurel membangunkan Arsen. Pria itu tampak begitu lelah.


"Mas, bangun!" Ujar Aurel menggoyangkan bahu Arsen.


"Hmm, kenapa, Sayang? Kamu lapar?" Tanya Pria itu dengan mata yang masih terpejam.


"Aawwh... Perut aku sakit, Mas!"


Arsen segera membuka matanya dengan sempurna. "Sayang, kamu kenapa? Apakah kamu ingin melahirkan?" Tanya Arsen begitu cemas.


"Nggak tahu, Mas, sakit banget. Awwh!" Ringis Aurel menahan sakit.


"Kita ke RS sekarang ya?" Arsen mengambil sweter untuk Aurel, dan segera menghubungi Doni.


"Doni ke apartemen sekarang! Antar aku ke RS!" Perintah Pria itu pada sang asisten. Dengan mata berat Pria dewasa itu memacu kendaraannya untuk mengantarkan sang majikan.


Arsen dan Aurel sudah menunggu di lobby. Doni segera membukakan pintu untuk kedua majikannya.


"Kita ke RS mana Tuan?" Tanya Doni masih fokus dengan kemudinya.


"Ke RS, triple A," ujar Arsen.


"Baik, Tuan." Doni segera memacu mobilnya menuju RS yang di inginkan oleh Big Boss.


Setelah sampai di RS, mereka segera disambut dengan ramah. Dan Aurel segera ditangani oleh beberapa dokter dan Bidan.


Wanita itu sedikit heran melihat perlakuan para staf RS itu. Mereka seperti sedang melayani tamu terhormat. Tapi, karena rasa yang mendera, maka ia tak sempat lagi memikirkan hal itu.


Aurel merasakan sakit yang luar biasa. Dokter segera memeriksa pembukaan. "Sudah buka tujuh, Nyonya," ujar Dokter itu begitu Ramah.


Sementara itu, Doni yang merasa ngantuk, dia pamit pada Arsen untuk cari kopi ke kantin.


Brukkh!


Seorang anak kecil menabrak tubuh tinggi Doni. Sehingga membuat bocah kecil itu jatuh terduduk, eskrim yang dia pegang bocah itu mengenai baju Doni.


Bocah itu menatap Doni dengan rasa takut. Tetapi, ia segera berdiri dan menangkup kedua telapak tangannya. "Om, maafkan saya. Sungguh saya tidak sengaja," ucap anak kecil yang di perkirakan berumur enam tahun itu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


"


__ADS_2