Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Baikan


__ADS_3

"Kamu jangan menangis lagi ya, aku tidak akan membiarkan kamu bersedih. Mulai besok aku akan mengurus dokumen nikah. Apakah kamu masih mau menikah denganku?" tanya Doni, menggengam tangan Lina, dan menatap dengan penuh harap.


Lina tersenyum bahagia, sembari mengangguk. "Tentu saja aku mau menikah dengan kamu, Mas. Kamu adalah Pria yang aku cintai."


Jawaban Lina membuat hati Doni begitu bahagia. Kembali Pria itu membawa Lina dalam dekapannya. Sekilas Pria itu mencuri kecupan di pipi calon istrinya itu.


Seketika wajah Lina berubah merah merona, jantungnya kembali berdebar, darah berdesir hebat, saat merasakan sentuhan yang dulu pernah ia rasakan, dan dari orang yang sama.


"Kenapa, wajah kamu merah begitu? Apakah kamu merundukan hal itu?" tanya Doni, dengan senyum menggoda.


"Ish, apaan sih, Mas! Nggak usah di ingat-ingat lagi," ujar Lina memalingkan wajahnya.


"Hehe... Bagaimana tidak di ingat, Sayang, dari peristiwa itu, sekarang ada Doni junior."


Lina hanya tersipu malu menanggapi ucapan calon suaminya itu. "Udah, ah, nggak usah di ingat-ingat lagi soal itu ya, memang manis, tapi, setelahnya aku berada di dalam kesengsaraan, berjuang sendiri, saat hamil dan melahirkan. Pokoknya aku tidak mau membahas tentang masalalu, sekarang kita pikirkan masa depan."


"Oke, oke. Baiklah, Sayang, kita tidak akan membahas hal itu lagi."


"Ibu dan Om, kok pelukan?" tiba-tiba Donju (Doni junior) datang.


Lina dan Doni segera melerai pelukan mereka. Pasangan itu saling pandang, Lina bingung harus menjawab apa pada buah hati mereka.


"Sayang, ayo sini duduk sama Ayah, nah mulai sekarang kamu jangan panggil Om lagi ya. Tapi, panggil Ayah."


"Kenapa? Kata Ibu, ayah aku lagi pergi merantau, belum pulang. Terus, kalau ayah nanti pulang gimana?" tanya bocah itu begitu polos.


Doni kembali sedih mendengar ucapan anaknya, Pria itu segera mendekap tubuh mungil itu. "Nak, dengarkan. Akulah ayah yang dimaksud oleh ibumu, sekarang Ayah sudah, pulang, sayang, aku ayahmu." Doni menghapus rembesan air matanya.


"Benarkah? Ibu, benarkah ini ayahku?" tanya bocah itu meminta kepastian dari sang ibu.


Lina mengusap kepala anaknya, dan mengangguk. "Iya, Nak, dia adalah ayah kandungmu. Sekarang panggil ayah ya," ujar Lina membenarkan ucapan anaknya.


"Yeee.... berarti aku sekarang sudah punya ayah, jadi aku tidak malu lagi di ejek teman-temanku." Bocah itu berseru kegirangan.

__ADS_1


Doni kembali memeluk tubuh anaknya dengan erat, rasa bersalah begitu besar sehingga anaknya menerima dampak dari semuanya, karena terlahir tanpa seorang ayah.


"Mulai sekarang kita akan selalu bersama ya, Nak. Ayah janji tidak akan meninggalkan Kalian lagi, ayah sangat menyayangi kamu dan Ibu." Doni memeluk anak dan calon istrinya.


"Nah mulai sekarang, panggilan kamu ayah tukar ya, sekarang panggilannya, "Putra". Kan nggak mungkin nama ayah dan anak sama."


Lina setuju dengan panggilan paru untuk anaknya. Keluarga kecil itu begitu bahagia. Saat mereka sedang bercengkrama, ponsel Doni berdering.


"Ya, Bos. Oke, nanti saya Carikan."


"Dari siapa, Mas?" tanya Lina.


"Dia Bos aku, yang mempunyai RS tempat kamu bekerja," jelas Doni.


"Apa! Kamu serius, Mas? Jadi kamu?"


"Ya, sayang, aku wakil direktur di RS itu. Alhamdulillah atas rezeki yang Allah berikan kepadaku, sekarang aku sudah bisa buktikan pada keluargamu bahwa aku sudah layak menjadi pendampingmu."


Doni masih mengingat beberapa tahun yang lalu, bagaimana ayah Lina menghina dirinya, dan karena itulah dia bertekad untuk memperbaiki keuangannya sehingga ia mencoba mengadu keberuntungan di negri Jiran, dan bersyukur dia bekerja dengan seorang mafia, tetapi, mafia itu memiliki hati yang baik bagi orang tak mampu, tak jarang hasil yang Arsen Raup, dia sumbangkan di negaranya.


"Mas, jujur aku sudah lama tak berkomunikasi dengan keluargaku, aku tidak tahu bagaimana kabar ibu dan ayah. Tetapi, jujur aku sangat merindukan mereka. Aku bukan tidak ingin pulang menemui mereka. Tapi, aku masih mengingat ucapan ayah dan ibu, mereka sudah tak menganggapku sebagai anak lagi. Apalagi aku sekarang sudah mempunyai anak, aku takut mereka tidak bisa menerima anakku."


Lina mencurahkan rasa rindunya pada ayah dan ibunya. Doni mengusap kepala Lina dengan lembut, dia tahu hati calon istrinya sedang sedih.


"Dek, setelah kita aku selesai mengurus dokumen nikah, kita akan pulang menemui kedua orangtuamu, kita akan meminta restu mereka, walau sebenci apapun orangtua, aku yakin mereka pasti merundukan kamu.


"Baiklah, Mas, kita akan meminta restu mereka. Direstui atau tidak, yang jelas kita sudah berusaha."


"Yasudah, sekarang ayo kita jalan-jalan, sekalian kamu bantu aku mencari pesanan, Bos aku, untuk mencari ayunan listrik. Apakah kamu tahu seperti apa?" tanya Doni pada calon istrinya.


"Tahu, Mas, apakah lengkap dengan tiangnya?" tanya Lina ingin memastikan.


"Katanya sih, begitu, satu set. Tapi aku tidak tahu. Yasudah, ayo kita berangkat. Sekalian aku kan memperkenalkan kamu dengan mereka," ajak Doni yang membuat Lina bingung untuk menolak, pasalnya dia akan bertugas malam.

__ADS_1


"Aku, bantu kamu cari barangnya ya, Mas, untuk bertamunya lain kali saja, soalnya aku lagi dinas malam, takutnya nanti telat."


"Kenapa kamu mikirin itu, sayang, aku yang akan mengizinkan kamu. Sudah, ayo bersiap, aku tunggu kamu, sana ambil pakaian ganti Putra, biar ayah yang gantiin." titah Pria itu tak ingin di tolak.


Akhirnya Lina menuruti perintah ayah anaknya itu. Sebenarnya dia masih sangat malu untuk bertemu dengan majikan suaminya yang begitu baik itu. Tapi, Lina tak ingin mengecewakan Doni.


Setelah rapi, pasangan itu segera beranjak, tujuan utama mereka adalah mencari pesanan Bos besarnya itu. Setelah mendapatkan, mereka segera menuju ke kediaman Arsen. di tengah perjalanan, bocah kecil itu tak berhenti berciloteh.


"Ayah, kita mau kemana sih?" tanya putra tak bisa diam.


"Kita kerumah Om Arsen, dulu ya. Nanti, setelah dari sana kita jalan-jalan, kamu mau kemana? Kita nonton bioskop mau nggak?" tanya Doni pada putaranya.


"Asyiikk... Mau banget, Yah. Kita nonton film animasi yang berpetualangan ya, Yah?"


"Baiklah, tapi tanya dulu sama Ibu, mau nggak ibu kamu."


"Ibu kita nonton itu saja ya, Bu?" tanya bocah itu.


"Ya, baiklah, Sayang." Lina mengelus pipi putranya dengan gemas.


Doni dan Lina tersenyum melihat keceriaan putra mereka, kini Keluarga kecil itu sudah utuh.


"Kok dia sudah tahu tentang film di bioskop, Dek?" tanya Doni penasaran.


"Setiap aku mempunyai waktu libur selalu membawanya untuk nonton, aku hanya berusaha untuk membahagiakannya, Mas, terkadang tak tega setiap pulang sekolah selalu sedih ngadu, karena di bully oleh teman-temannya. Ya, aku berusaha untuk membujuknya dengan membawanya nonton, makan, insyaAllah apapun akan aku lakukan demi buah hatiku."


"Maaf ya, Sayang, jika mengingat semua itu, sungguh hatiku masih merasa bersalah." Sesal Doni.


"Sudahlah, Mas, ini semua juga bukan salah kamu. Karena kamu tidak seperti yang aku pikirkan. Mungkin begitulah Allah, menentukan perjalanan cinta kita, toh nyatanya sekarang Allah mempertemukan kita kembali, berarti kita memang berjodoh."


"Terimakasih ya, Sayang, kamu sudah mau ngertiin aku."


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2