
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Arsen pada Aurel yang duduk di pojok ranjang sembari memeluk Alif.
Wanita itu hanya diam tak mengindahkan pertanyaan Arsen. Arsen membuka pakaiannya didepan Aurel, membuat wajah wanita itu merah seketika dan memalingkan muka.
"Kenapa harus buka pakaian disini sih,Tuan?" protes Aurel kesal
"Kenapa? Bukannya kamu sudah pernah melihat semuanya." Jawab Arsen tersenyum nakal.
Aurel tidak ingin menanggapi lagi, wanita itu merebah membelakangi Arsen sembari memeluk Alif. Karena terbuai sejuknya suhu kamar suaminya sehingga membuatnya terlelap bersama bayi mungilnya.
Arsen segera bersih-bersih mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Pria itu mendekat dan melihat istri dan anaknya tampak begitu nyaman tidurnya.
Senyum tipis tersungging di bibirnya, sembari mengusap rambut Aurel dengan penuh perasaan sayang.
Tidurlah dengan nyaman,Sayang. Maaf jika aku sudah membuatmu menangis hari ini. Aku hanya tidak rela melihat kamu dekat dengan Pria lain.
Arsen menarik kain tebal untuk menutupi tubuh istri dan anaknya, agar tidur lebih nyenyak, setelah itu ia keluar untuk memesan makanan.
"Doni, ambil pesananku yang ada di alamat ini!" titah Arsen pada sang asisten.
"Baik,Tuan." Doni segera bergegas melaksanakan tugas yang diberikan oleh majikannya.
Sudah cukup sore, Aurel tersentak dari tidur lelapnya karena merasa ada yang merusuh diatas tubuhnya, ternyata kerjaan bayi mungil itu. Akhirnya wanita itu merasa lega, untung kerjaan anaknya, bukan bapaknya.
"Udah bangun anak Bunda, ya ampun pintar banget kamu bangunin Bunda ya, ayo Bunda mandiin Adek sekarang."
Aurel segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, untuk memandikan Alif, seketika ia mengingat bahwa tidak ada pakaian ganti anaknya disini.
"Tuan..."
Panggil Aurel mencari suaminya itu, Aurel keluar dari kamar sembari menggendong Alif,
"Ada apa?" Tanya Arsen yang sudah berada dibelakangnya.
"Ya Allah, ngagetin aja!" Kesal Aurel.
"Iya, maaf. Ada apa?"
__ADS_1
"Aku mau mandiin Alif, pakaian gantinya nggak ada."
"Ada di dalam lemari. Semua pakaian ganti kamu dan Alif sudah ada di sana," jelas Arsen.
Aurel hanya tertegun mendengar jawaban Arsen. Sejak kapan dia menyediakan semuanya? Minat banget Om yang satu ini bawa aku dan Alif tinggal disini!
Wanita itu bersungut-sungut dalam hati sembari memandikan Alif. Setelah selesai mengurus sang bayi, Aurel kembali keluar menyerahkan Alif pada Daddynya.
"Mau ngapain?" Tanya Arsen.
"Nggak usah kepo," balas Aurel ketus bergerak meninggalkan Arsen yang sedang menggendong Alif.
Aurel segera mengambil pakaian yang di sediakan oleh Arsen, ia memilih stelan pakaian rumahan itu. "Ternyata dia tahu juga ukuran aku." Gumam wanita itu mengambil salah satu stelan. "Tapi, tunggu dulu!" Aurel seperti mencari sesuatu.
Arsen memang menyediakan pakaian ganti, tapi tidak dengan dala mannya. "Jadi aku mau pakai apa, nih? Mana ini udah seharian nggak diganti, aku nggak mungkin menggunakannya lagi."
Aurel kembali keluar kamar, wanita itu bingung harus ngapain. Aurel duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan wajah kesal. Ingin rasanya kembali ke rumahnya yang sederhana, tapi lihatlah sekarang, ia malah tinggal seatap dengan ayah anaknya itu.
"Loh, Nona Aurel lagi ngapain, kok bengong? Apakah Nona butuh sesuatu?" Tanya Doni yang baru keluar dari kamarnya. Pria itu sudah tampak rapi.
"Nggak, aku nggak butuh apa-apa, aku hanya butuh pulang bersama Alif, tolong dong, kak Doni, beri tahu Bos kakak itu!" Jelas Aurel.
"Yaudah nggak usah nanya-nanya!" rungut Aurel menatap malas.
"Ada apa ini?" Tanya Arsen yang baru keluar dari ruang kerjanya masih menggendong Alif.
Aurel tak menjawab lalu meninggalkan dua orang Pria dewasa itu. Percuma saja bicara Arsen tidak akan mungkin merubah keputusannya.
Aurel masih bingung, ia ingin mandi tapi tidak mempunyai ganti dala maan, sehingga ia memutuskan untuk pulang saja kekediamannya.
"Kenapa masih bengong? Mandilah, nanti keburu sore." Ujar Arsen yang sudah berada di kamar itu.
"Tuan, aku ingin pulang. Tolong biarkan Alif bersamaku." Wanita itu mendekati Arsen untuk mengambil Alif.
"Tidak, aku tidak mengizinkan Alif ikut bersamamu. Jika kamu ingin pulang silahkan tapi tidak dengan Alif." Tegas Arsen.
Aurel menatap kesal. Bagaimana mungkin ia mengatakan alasannya kenapa ia harus pulang.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa tinggal disini! Aku ingin mandi, gerah!" Ungkap Aurel kesal.
"Siapa yang melarangmu mandi? Kan dari tadi aku menyuruhmu untuk mandi," balas Arsen.
"Ck, kamu gimana sih! Aku tidak mungkin mengatakan padamu." Aurel berdecak kesal.
"Kenapa? Apa yang kamu inginkan? Semua pakaian ganti kamu sudah aku sediakan."
"Ya, pakaian memang kamu sediakan. Tapi..." Ucapan wanita itu menggantung.
"Oh, itu masalahnya. Ayo aku tunjukkan." Arsen menarik tangan Aurel menuju lemari pakaian, ia membuka salah satu laci khusus untuk pakaian da lam.
"Ini semua punya kamu. Pilih saja model dan ukuran yang kamu suka. Tapi kalau soal ukuran aku rasa belum berubah. Nomor 36 'kan?" Tanya Arsen, yang membuat wajah Aurel berubah merah padam.
"Ish... Apaan sih! Awas nggak? Nyebelin banget. Nggak perlu di perjelas juga!" Omel wanita itu dengan rasa malu alang kepalang.
Arsen hanya terkekeh. Sembari mengusap kepala Aurel, dan mendapat tepisan dari istrinya itu.
"Mandilah, setelah itu kita makan bersama. Oya, jangan coba-coba untuk mogok makan jika kamu masih sayang anakmu." Tegas Pria itu dengan nada sedikit mengancam.
Arsen segera meninggalkan Aurel yang masih termangu. Tidak apa-apa diberi ancaman demi kebaikan sang istri. Karena Arsen sudah hafal dengan tabiat Aurel jika marah maka wanita itu akan mogok makan.
Bersyukur sekarang kehadiran bayi mungil itu menjadi pelunak hati sang Bunda, karena Aurel sangat menyayangi putranya dengan terpaksa ia mengikuti segalanya demi untuk selalu bersama dengan anaknya.
Aurel sangat menyadari jika ia berpisah dan menempuh jalur hukum tentang hak asuh anak, maka sudah pasti Arsen yang mendapatkannya, sebab secara materi Arsen sangat mampu memenuhi segala kebutuhan Alif.
Maka dari itu Aurel terpaksa mengalah menjelang ia mampu melawan Pria itu saat di meja hijau nanti.
Malam setelah makan, Aurel membawa Alif bermain di ruang keluarga, sementara itu Arsen dan Doni sedang membahas sesuatu di dalam ruang kerja.
Bayi mungil itu benar-benar aktif, apapun akan diraih dan dibuang, setelah lelah merusuh bayi mungil itu sudah tertidur di atas kasur khusus bayi yang telah di sediakan oleh Daddynya.
Aurel ingin memindahkan bayi itu kedalam kamar, tetapi tangannya terhenti saat tangan kekar sang suami telah mengambil alih.
Dengan berat hati Aurel mengikuti langkah Pria itu masuk kedalam kamar. Aurel membuat sekat diantara dirinya dan Arsen. Maka ia meletakan Alif di tengah-tengah mereka.
Arsen hanya tersenyum melihat tingkah parno sang istri, tidak akan menjadi masalah baginya, yang penting mereka bisa tidur satu ranjang, meskipun sering mencuri kesempatan hanya untuk memberi kecupan hangat di kening Aurel.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰