Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Mengetahui yang sebenarnya


__ADS_3

Sementara itu, sepulang dari kantor, Doni kembali datang ke kontrakan Lina. Pria itu belum mau menyerah untuk meluluhkan hati sang pujaannya.


"Mau apa lagi kamu datang kesini, Mas? tolong jangan ganggu lagi kehidupanku." Tekan wanita itu.


"Lina, aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini, tolong beri aku waktu." Ujar Doni memohon pada wanita itu.


"Oom..." Panggil Doni kecil yang segera menyongsong masuk kedalam dekapan Pria dewasa itu.


"Hai, udah wangi banget. Kamu sudah mandi ya." Doni mengecup wajah bocah kecil itu. Entah mengapa rasa sayangnya begitu besar padanya. Doni merasa ada ikatan batin diantara mereka.


Lina yang melihat kedekatan ayah dan anak itu, hatinya begitu sedih. Namu, wanita itu masih bimbang, dia takut akan menggangu rumah tangga Doni, karena ia berpikir bahwa Doni sudah menikah dengan wanita lain.


Mustahil rasanya seorang Pria yang sudah mapan dan tampan, belum menikah. Walaupun Pria itu sudah pernah bersumpah untuk tidak menikah dengan wanita manapun selain dirinya.


Tapi Lina tak percaya itu. Sumpah jaman sekarang sudah tak berarti lagi. Lina hanya diam mengamati dua Pria beda generasi itu berbincang-bincang.


"Om, malam ini aku ikut Om saja ya, aku bosan di RS terus, Ibu pulangnya lama." Adu bocah itu


"Benarkah? Tanya ibu dulu, Om sangat senang jika di izinkan."


"Nggak, nggak boleh!" ujar Lina ketus.


"Kenapa, nggak boleh? Aku akan menjaganya dengan baik, tenanglah aku tidak akan macam-macam padanya."


Tentu saja kamu tidak akan menyakitinya, Mas. Karena dia adalah darah dagingmu.


"Ya, Bu, boleh ya. Aku bosan ikut ibu ke RS, aku tidak ada teman disana." Bocah kecil itu merengek pada ibunya.


"Ibu bilang tidak boleh!" Lina masih Keukeh dengan pendiriannya.


"Kenapa tidak boleh, Lin?" tanya Doni, ia menatap wajah cantik itu dengan dalam.


"Aku tidak mau dia merepotkan istri kamu, Mas." Lina mengutarakan apa yang tadi dia pikirkan.


"Pppfft Hahaha.... Istri?" ujar Doni menanggapi dengan tawa.

__ADS_1


"Iya, kenapa kamu tertawa?" tanya Lina penasaran.


"Aku sudah pernah bilang padamu. Aku tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun, selain dirimu. Tapi, nyatanya, kamu sendiri yang mengingkari sumpah kita di pagi yang berkesan itu. Kamu menikah bahkan sudah mempunyai anak. Aku tahu, kamu menikah dengan orang lain, karena untuk melepaskan sakit hatimu padaku 'kan? Toh nyatanya, kamu memberi nama putramu dengan namaku."


Seketika Lina terdiam sepi. Dia tak menyangka bahwa Doni masih sendiri hingga saat ini. Tapi, kenapa Pria itu tidak pernah datang menepati janjinya.


"Kalau aku boleh tahu, dimana suamimu? Apakah dia bekerja diluar kota?" tanya Doni penasaran.


Lina masih diam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Rasanya sangat sulit untuk bicara, apakah dia harus menanyakan, apakah ayah anaknya itu masih mencintainya? Dan kenapa dia tak datang menepati janji.


"Kenapa kamu tidak mengingkari janji itu? Kenapa kamu tidak menikah dengan wanita lain?" tanya Lina, tanpa menjawab pertanyaan Doni, matanya mulai berkaca-kaca.


Doni hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan wanita yang sampai saat ini masih dicintainya itu.


"Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan wanita lain, jika hati dan pikiranku masih utuh untukmu."


"Bohong!" ucap Lina menahan air matanya.


"Demi Allah, aku masih sangat menyayangi kamu, Dek."


Lina tak kuasa menahan air mata. Hatinya kembali merasakan sakit, luka yang selama ini berusaha ia sembuhkan, kini seakan berdarah kembali.


"Doni mau jajan?" tanya Pria itu pada putranya yang belum ia ketahui.


"Mau, Om, aku pengen beli eskrim."


"Oke, ini pergilah beli apapun yang kamu mau, tapi jangan kemana-mana ya, warung di samping ini saja. Oke!" Doni memberikan bocah itu uang jajan.


"Oke, terimakasih, Om." Bocah kecil itu kegirangan, dan segera melesat lari ke warung sebelah.


Doni sengaja meminta sang anak beranjak, agar tak mengetahui apa yang ingin dia bahas, karena anak kecil itu belum waktunya untuk mengetahui yang sebenarnya.


"Lina, aku sama sekali tidak berniat untuk mengingkari janjiku. Saat itu aku ingin sekali pulang, tetapi, karena kasus wabah virus sedang marak, maka pemerintah menutup akses keluar masuk kedalam negri.


"Dan aku harus bersabar hingga keadaan kembali normal. beberapa bulan setelah itu, aku kembali ke tanah air, aku mendatangi kediamanmu, tetapi, rumah itu sudah kosong tak berpenghuni.

__ADS_1


"Aku selalu berusaha mencari keberadaan kamu, Lina, aku benar-benar minta maaf."


Lina terdiam, air matanya kembali jatuh, dia tidak menyangka ternyata Pria itu masih setia padanya.


"Jangan, menangis lagi, Dek. Aku tahu aku salah." Doni menggengam tangan Lina, netra mereka bertemu terlihat Dimata itu menyimpan rindu yang begitu besar.


"Apakah kamu bahagia menikah dengan suamimu?" tanya Doni, ia ingin memastikan bahwa wanita kesayangannya bahagia bersama orang lain.


"Suamiku yang mana, Mas? Bahkan aku tak pernah berpikir untuk menikah," lirih Lina tertunduk.


"Ma-maksud kamu?" tanya Doni tak mengerti, jika Lina tidak menikah, tapi anak itu.


"Aku masih sendiri."


"Terus, Doni?"


"Kenapa kamu masih tanyakan tentang anak itu? Apakah kamu tidak merasakan bahwa dia adalah darah dagingmu."


Seketika tubuh Doni bergetar. Tubuhnya terasa kaku. "Dek, katakan. Apakah dia benar putraku?" tanya Doni ingin memastikan.


"Iya, Mas, dia Putramu. Anak kita. Setelah perpisahan itu, aku tak mendapatkan haid lagi, hingga aku menyadari kandungan sudah tiga bulan, ayah mengusirku dari rumah. Mereka juga pindah ke kampung halaman, karena malu menjadi bahan gunjingan warga.


"Saat itu aku masih bersabar menunggu kamu pulang untuk menjemputku, tapi ternyata ekspektasiku tak sesuai realita. Aku juga berhenti bekerja di RS. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi dari kota itu.


"Aku mengira kamu sudah melupakan aku. Maka, aku memutuskan untuk membesarkan buah hati kita sendiri, aku tidak berniat untuk menikah. Jujur, hatiku masih menyimpan satu nama, yaitu kamu, Mas!"


Seketika Doni membawa Lina kedalam pelukannya. "Maafkan aku, Sayang, aku benar-benar minta maaf karena telah membuatmu menderita, Sayang, izinkan aku untuk menebus semua kesalahan ini."


Lina membalas pelukan Pria yang sangat amad dirindukannya. Hatinya begitu nyaman dalam dekapannya. "Jangan tinggalkan kami lagi, Mas. Hiks..." tangis wanita itu begitu lirih.


"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu dan anak kita. Aku akan membawa kemanapun aku pergi, kita tidak akan berpisah lagi, aku akan mengganti kesedihanmu selama ini dengan kebahagiaan."


Lina hanya mengangguk, hatinya begitu lega dengan segala ucapan dari sang kekasih.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2