Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Hasil USG


__ADS_3

Setelah bertelponan dengan Arsen, Haikal bingung harus ngapain maka Pria itu memutuskan untuk Relaxsing coffe di kantin RS. Ia memilih duduk di pinggir yang memperlihatkan pintu keluar dari lobi RS itu.


Sementara itu Aurel sedang di periksa oleh dokter. Hari ini ia ingin USG untuk melihat perkembangan sang bayi.


Dengan teliti dokter obgyn itu memperhatikan kerkembangan sang bayi, Aurel juga tidak ingin ketinggalan ia menatap layar tipis itu dengan seksama.


"Perkembangan bayinya cukup bagus ya Bu Aurel, tapi Anda harus istirahat yang cukup, karena terlihat disini bahwa bayi Anda agak lelah, apakah pergerakannya sering? Atau berkurang dari yang biasanya?" Tanya Dr Obgyn itu.


Aurel terkesiap mendengar penjelasan dari Dr Obgyn itu. Ia memang merasa bahwa pergerakan bayinya melemah beberapa hari ini.


"Bergerak Dok, tapi pelan, tidak seperti biasanya," jelas Aurel.


"Ya, itulah yang saya maksud. Jika Bu Aurel, terlalu banyak bergerak dan kecapean maka bisa berdampak buruk pada bayi, dan itu bisa membuat bayi lahir secara prematur."


"Jadi apa yang bisa saya lakukan,Dok?"


"Bu Aurel harus bisa membagi waktu, jangan terlalu dipaksakan beraktivitas, apalagi sekarang kehamilan anda sudah penuh bulan ke 7, biasanya semakin besar kehamilan maka semakin mudah lelah, jadi saya sarankan agar anda mempunyai waktu istirahat yang cukup, minimal anda harus tidur siang antara satu hingga dua jam, agar tubuh rileks," jelas Dokter itu panjang lebar.


"Baiklah, Dok." Aurel menerima saran dari dokter.


"Untuk semuanya bagus, kalau jenis kelaminnya, coba anda perhatikan! Anda seorang mahasiswi kedokteran 'kan? Saya rasa banyak sedikitnya anda sudah paham," ujar Dokter yang bernama Rahayu itu sembari tersenyum menatap Aurel, sepertinya ia sedang memberi ujian pada wanita hamil itu.


Aurel yang baru tiga bulan ini mengenyam bangku kuliah, maka dia masih tabu untuk soal itu.Tetapi otaknya yang memang pintar ia berusaha berpikir dan mengingat semua tentang materi genetik yang ia pelajari.


Aurel memperhatikan bagian jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungannya. "Apakah bayi saya laki-laki Dok?" Tebak wanita itu sedikit ragu.


"Wah, ternyata anda memang seorang mahasiswi yang cerdas ya, Saya salut. Benar bayi anda laki-laki. Kalau berat badannya coba Anda lihat berapa?" Tanya dokter itu kembali.


"Aduh, Dokter, soal itu saya tidak mengerti, karena saya bukan dokter obgyn," ujarnya tersenyum malu karena mendapat pertanyaan dari dokter senior itu.


"Hehehe... Baiklah, berat badan sibayi masih 1,4 ini normal untuk di usia tujuh bulan. Saran saya hanya itu ya, semuanya baik, Anda hanya perlu waktu istirahat yang cukup," terang Dr Rahayu.


Setelah selesai Aurel segera bergegas untuk pulang, hari hampir magrib perjalanan kerumahnya memakan waktu 30 menit karena dijam segitu macet.


Aurel keluar dari pintu lobby dan menuju gerbang keluar RS, Karena jam segini sudah tidak ada busway lagi maka ia memesan taksi online.


Tin! Tin!


Terdengar klakson mobil dengan pelan dari belakang, Aurel segera menoleh ia memperhatikan mobil itu, ternyata masih mobil yang sama mengantarkan dia tadi.


"Loh, baru selesai Rel? Saya kira kamu sudah pulang dari tadi," ujar Haikal berlagak tidak tahu padahal sedari tadi ia mengamati wanita itu.


"Ah iya, Pak." Jawabnya singkat, Aurel masih meneruskan langkahnya untuk sampai di pinggir jalan, ia sangat sungkan jika sang Dosen menawarkan jasanya kembali.

__ADS_1


Mobil itu mendahului Aurel, ada sedikit lega dihatinya, tetapi ternyata mobil berhenti didepan yang berjarak beberapa meter. Pintu mobilpun terbuka.


"Ayo, Rel, Naik!"


"Tidak usah, Pak. Saya sudah pesan taksi online," tolaknya dengan sungkan.


"Sudah di cancel saja, ini jalanan lagi macet pasti taksi online nya lama baru sampai, lagipula sebentar lagi mau magrib, tidak baik seorang wanita hamil berjalan magrib," jelas Haikal memberi alasan yang memang masuk akal.


Akhirnya untuk kedua kalinya Aurel menerima bantuan dari Dosennya itu. Ada rasa tidak enak, sedikit bertanya-tanya dalam hati, apakah sang Dosen akan memperlakukan hal yang sama pada semua mahasiswanya jika butuh bantuan seperti dirinya saat ini?


Kurang lebih tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Haikal sudah barada dihalaman rumah Aurel.


"Terimakasih ya, Pak!" Aurel segera bersiap akan turun.


"Ah, Rel?"


"Ya?"


"Tadi, kamu USG 'kan?"


"Iya, benar. Ada apa ya Pak?"


"Ah, saya bisa pinjam hasil USG kamu itu nggak untuk di fotokan, karena ada mahasiswa saya yang sedang menyusun skripsi, jadi dia membutuhkan hal yang seperti itu," ujar Haikal yang jelas berbohong demi sahabatnya.


"Nggak papa ya, aku pinjam?"


"Iya, nggak papa!"


Haikal segera mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar USG itu. "Oh ya, Rel, Apa jenis kelamin bayi kamu?"


"Kata dokter laki-laki, Pak."


"Wah selamat ya!" Ujarnya sembari menyerahkan hasil USG itu kembali.


"Ya, Terimakasih Pak, kalau begitu saya masuk dulu."


"Ya, silahkan. Istirahatlah!"


--Malaysia--


Jam 7 malam, Arsen masih di ruangannya mengamati foto USG yang di kirim oleh Haikal, berulang kali Pria itu menciumnya. Rasa bahagia menyelimuti hati, apalagi bayinya laki-laki. Suatu saat akan menjadi pewaris tunggal di keluarganya yang tidak berkembang itu.


Ya, dari keluarga Daddy maupun Mommy nya tidak ada memiliki keturunan yang banyak, mereka hanya mempunyai anak, paling banyak hanya dua.

__ADS_1


Pria itu menatap gambar itu, memperhatikan raut wajah sang bayi yang sangat mirip dengannya, hidung, bibir, semua mengarah kepadanya.


"Semoga kamu dan Bunda sehat selalu ya, Nak. Daddy sangat merindukan kalian. Daddy berharap suatu saat Bundamu bisa memaafkan semua kesalahan Daddy."


Arsen bergumam sendiri sembari mengusap gambar itu di layar ponselnya. Tak terasa ada rembesan cairan menetes di sudut mata.


Arsen menelpon Haikal kembali untuk menanyakan bagaimana perkembangan sang bayi. Ya, untuk saat ini Arsen sangat bergantung dengan sahabatnya itu untuk mendapatkan kabar dari sang istri.


Flashback on


Saat Arsen bingung memikirkan bagaimana caranya agar sang istri bisa mendapatkan pendidikan terbaik dan tidak curiga dengan biaya kuliahnya. Maka Arsen menemui Hasan, sahabatnya yang mempunyai salah satu RS yang ada di Malaysia.


Arsen ingin meminta pendapat sang sahabat untuk memecahkan masalahnya. Arsen sempat meminta Hasan untuk menjadi donatur beasiswa itu agar Aurel bisa kuliah di Malaysia, tetapi Hasan tidak setuju


Karena menurutnya, itu akan membuat Aurel menolak, karena mengingat wanita itu mempunyai kenangan buruk di negara itu.


"Jadi apa solusi kamu untuk masalah ini, San? Jujur aku bingung!"


"Kenapa awak tu bingung? Awak dah lupe dengan Haikal? kawan kite masa kuliah."


"Haikal Hadi, Maksud kamu?"


"Betul, die tu kan orang Riau."


"Iya, aku tahu dia orang Riau, terus apa sangkut pautnya dengan Istriku?"


"Hala... Awak ni kenapa tak tahu ape yang saye maksud. Die tu seorang Dosen fakultas kedokteran, ha, jadi awak rayu lah kawan tu bia dapat tuk bantu pecahkan masalah awak," jelas Hasan.


Arsen tersenyum sumringah. "Kenapa kamu baru bicara sekarang? Tahu begini aku tidak akan pusing memikirkannya," ujarnya gemas sembari meninju kecil bahu sahabatnya itu.


"Ish... Pandai je salah kan orang. Maka tu bini dijaga jangan sia-siakan. Kalau dah tak de barulah awak tu menyesal!" Ujar Pria itu mencebik kesal.


"Ck, apa sih kamu! Jangan buat aku pusing, ya, aku tahu salah maka dari itu aku ingin menebus semua kesalahanku."


"Dah, pegi lah telepon Haikal, jangan lupe sampai salam saye kat dia, dah rindu. bila-bila ada waktu kite bolehlah main kat sane!"


"Oke, aku setuju dengan ide kamu itu. Nanti kita cari waktu yang tepat. Atau tunggu istriku melahirkan dulu," balas Arsen dengan semangat.


Flashback off


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2