
Saat mereka sedang bersitegang tiba-tiba Hasan datang ia juga ingin masuk ke ruang operasi, Pria itu mendengar Arsen dan Aurel masih berdebat.
"Ada apa ini?" Tanya Hasan menghampiri mereka.
"Bang Hasan, aku ikut ya menemani suamiku menjalani operasi," ujar Aurel langsung bertanya pada dokter yang juga ikut serta menangani suaminya sekaligus pemilik RS itu.
"Bukan tak boleh, tapi kondisi awak sedang mengandung, Abang takut awak tak tahan bile tengok operasi tu," jelas Hasan pada Aurel.
"Bang, aku tidak apa-apa, aku kuat kok. Lagipula aku sudah pernah mengikuti praktek, ya, Bang? Boleh ya?" Wanita itu masih berusaha membujuk Dokter bedah itu.
Arsen hanya diam saja mendengarkan istrinya sedang berdiskusi dengan dokternya itu. Aurel benar-benar orangnya sangat keras kepala dia akan terus berusaha hingga apa yang diinginkan tercapai.
Hasan hanya bisa menghela nafas panjang, ia terpaksa menggunakan kekuasaan sebagai pemilik RS untuk membungkam para dokter yang lainnya bila nanti mereka protes.
"Baiklah, tapi awak boleh janji, tetap tenang tak boleh buat gaduh bile kat dalam, jangan sampai ganggu para dokter."
Aurel tersenyum sumringah mendapat izin dari Hasan. "Aku janji nggak akan macam-macam, aku hanya ingin menemani suamiku," janji Aurel sembari mengacungkan kedua jarinya untuk meyakinkan Hasan.
Arsen menatap Hasan dengan senyum pasrah. "Maaf ya, istriku jadi merepotkan kamu."
"Dahlah, tak ape, payah cakap kat orang mengandung ni bile tak di turut mau die," ujar Hasan menepuk pundak Arsen.
Akhirnya mereka masuk kedalam ruang operasi. Arsen mulai berbaring diatas meja operasi, Aurel masih setia mendampingi sang suami, Pria itu menatap sang istri dengan wajah cemas saat Dr anestesi mulai mengambil tindakan.
"Harus semangat ya, Mas." Aurel menggengam erat tangan Arsen dan mengecupnya.
"Terimakasih ya, Sayang, tetaplah disini, jangan tinggalkan aku," ujar Arsen mengecup tangan Aurel dan meletakkan di pipinya.
"Aku akan menemani kamu, hingga nanti kamu membuka mata kembali, maka akulah yang pertama kamu lihat." Balas Aurel, tetapi Arsen tak menyahut lagi.
Ternyata bius Dr anestesi sudah beraksi dan menghilangkan alam sadar suaminya. Aurel yang sudah mengerti maka ia segera mengambil tempat duduk yang ada disamping kepala Arsen.
Aurel memperhatikan time dokter yang sedang berjuang untuk penyembuhan suaminya. Sebenarnya ia sangat penasaran ingin melihat cara kerja tim dokter untuk menbah ilmu pengetahuannya hitung-hitung bonus praktek gratis, tetapi ia sudah berjanji pada Hasan untuk tenang di tempat. Maka Aurel harus komit.
Operasi itu Berjalan selama 5 jam, yaitu di tangani Empat orang dokter dan dua perawat. Yang mana dokter yang ikut andil adalah, Dr sp, Nefrologi, dr urologi untuk memastikan saluran kemih bekerja dengan baik. Dr bedah, dan juga dr ahli psikologi.
Aurel selalu memanjatkan Do'a selama operasi itu Berjalan. Tahap demi tahap mereka lalu dengan tenang namun pasti.
__ADS_1
Aurel hanya mengamati wajah tampan suaminya yang kini tak sadarkan diri. Perlahan tangannya mengusap wajahnya dan mengecup kening Arsen.
Lima jam berlalu, setelah cukup lama berjuang. Akhirnya para dokter, secara bersamaan mengucapkan syukur bertanda operasi itu berhasil dan berjalan lancar, sesuai dengan ekspektasi mereka.
"Alhamdulillah.... Good Job Brother." Seru Hasan pada tim dokter semua yang ada di ruangan itu.
Hasan menghampiri Aurel, dan tersenyum puas. "Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar, tak perlu risau, sebenta lagi dah boleh pindah kat bilik perawatan," jelas Hasan pada Aurel.
"Alhamdulillah... Terimakasih ya, Bang, dan terimakasih juga untuk tim dokter yang lainnya, saya sangat berterima kasih atas segala kerja kerasnya."
Mereka semua tersenyum sembari mengangguk secara bersamaan dengan sopan, mereka semua sudah tahu bahwa Arsen adalah sahabat dekat Hasan.
Kini Arsen telah dipindahkan ke ruangan perawatan. Aurel masih selalu mendampingi sang suami, wanita itu belum bisa tenang bila Arsen belum sadar.
"Bagaimana, Nak?" Tanya Mommy menghampiri Aurel
"Alhamdulillah, Mom, semua berjalan dengan baik," jawab Aurel dengan senyum lembut.
"Alhamdulillah ya Allah." Mommy tersenyum bahagia dan segera memeluk menantunya.
"Mommy sangat senang dan lega."
Arsen melihat sang istri sedang tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bertopang pada tangannya.
Dengan perlahan Arsen membelai kepala Aurel. Ia tak ingin mengganggu tidur sang istri. Arsen tahu bahwa wanita itu dari semalam kurang istirahat, karena rasa cemas dan takutnya melupakan kesehatan dirinya sendiri.
Jika Aurel tengah bersyukur atas keberhasilan operasi transplantasi ginjal yang di lalui Arsen. Lain halnya dengan Dewi dan Haikal.
Hari ini weekend, Dewi dan Haikal menghabiskan waktu libur di apartemen, tetapi sore mereka punya rencana untuk nonton bioskop.
"Masak apa, Sayang?" Tanya Haikal telah berada di belakangnya dan memeluk dengan lembut
"Eh ya ampun, kaget aku, Mas." Dewi merasa kurang nyaman karena tangan suaminya mulai rusuh.
"Awas dulu, Mas, aku belum selesai masak!" Ujar Dewi menjarak
"Aku bantuin ya," Haikal mendadak sibuk sendiri.
__ADS_1
"Serius ingin bantuin?" Tanya Dewi memastikan.
"Serius dong, Sayang."
"Nih, bersihkan ikan," Dewi menyodorkan ikan yang tadi telah ia keluarkan dari freezer.
Haikal mengerutkan keningnya menatap ikan yang ada di dalam wadah itu. "Kamu serius Sayang?"
"Serius banget malah, Mas." Dewi tersenyum menatap wajah suaminya kebingungan
Mau tidak mau, Haikal menerima perintah sang istri, meskipun harus riweh sendiri dan banyak pertanyaan yang ia lontarkan, agar tak salah dari segi membersihkan kotoran dan pemotongan.
Saat mereka sedang asyik di dapur, terdengar suara bel apartemennya berbunyi. Haikal segera menunda pekerjaannya dan membukakan pintu.
Betapa terkejutnya Pria itu saat melihat siapa tamu yang datang, "Mama! Kok datang tidak bilang-bilang?" Ujar Pria itu gelisah.
"Kenapa? Kamu tidak senang melihat Mama datang?" Tanya sang Mama yang melihat wajah Haikal tegang.
"Bu-bukan, bukan begitu maksud aku. Kok Mama datang bersama Andin?" Tanya Haikal sembari mengikuti langkah Mamanya yang nyelonong masuk dan di ikuti oleh wanita yang bernama Andin itu.
"Loh,emang kenapa jika Mama datang bersama Andin? Dia kan calon istri kamu!"
Praaaanggg!!
Terdengar suara pecahan beling. Dewi terpaku dan terdiam sepi saat mendengar pernyataan yang baru saja ia dengar dari wanita yang di panggil Mama oleh Haikal.
Dan dia juga melihat kehadiran seorang wanita cantik yang tadi disebut bernama Andin calon istri Haikal. Tubuh wanita itu kaku.
"Loh, kamu siapa?" Tanya sang Mama
Haikal bingung harus berbuat apa dan menjawab apa. "Dia, dia..."
"Selamat pagi, Bu, saya Dewi, ART disini," jawab wanita itu tak ingin memperkeruh suasana, dia tahu Haikal sedang kebingungan.
Dewi hanya ingin mendengar penjelasan dari Haikal. Dia tak ingin lancang mengakui tanpa seizin Haikal.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰