
Aurel hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sang suami, sepertinya Arsen sedang menikmati kebebasan sejenak lepas dari tuan putrinya yang sudah beberapa hari ini membuat tidurnya tak nyenyak.
"Sayang, ayo sini baring. Kita istirahat sejenak mumpung tuan putri sedang tidur," ujar Pria itu memukul sisi tempat tidurnya.
Aurel segera berbaring disisi suaminya, tak bisa dipungkiri. Ia juga merasa sedikit tenang karena bayi mungilnya itu tidur dengan nyaman dalam ayunan.
"Sayang?"
"Hmm?"
"Rindu."
"Rindu apa, Mas?"
"Rindu belaianmu. Sudah lama aku tidak dimanja," rengek Pria itu sembari ngedusel wajahnya pada dada sang istri.
Aurel tertawa kecil melihat tingkah sang suami yang begitu manja, wanita itu membalas pelukan suaminya. "Dasar Om-om manja, gemes deh."
"Ish, masih aja ngatain suami sendiri Om-om. Sepertinya harus diberi hukuman pada istri bocilku ini."
Arsen segera membungkam bibir Aurel, sehingga wanita itu tak bisa berbuat apa-apa selain membalas luma tan dari sang suami. Mereka melepaskan saat merasa tak mempunyai oksigen lagi.
Arsen tersenyum nakal menatap istrinya. "Sayang, aku pengen," ujar Arsen menatap Aurel dengan gairah.
"Hah! Nggak usah ngadi-ngadi ya, Mas. Belum genap seminggu aku melahirkan, mana bisa."
"Eh, siapa bilang tidak bisa. Dengan ini kan bisa." Arsen mengecup bibir Aurel tanda memberi kode.
"Mas! Katanya mau ngajak aku istirahat. Kalau begini mah, bikin aku bekerja namanya," protes wanita itu cemberut.
"Hehe... bekerja nyenengin hati suami, kan pahala, Sayang."
Dengan mengomel kecil, Aurel mengikuti permintaan Arsen, wanita itu mencoba menuruti seperti yang di inginkan. Walau bibirnya Terasa kebas. Kembali lagi, demi menyenangkan hati kekasih halalnya itu.
Setelah mendapat kepuasan dari karya sang Istri, Arsen segera mandi. Sementara itu Aurel sudah tepar setelah memuaskan bayi besarnya itu.
Arsen keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah. Senyumnya tak pernah terlepas. Setelah selesai mengenakan pakaian, Arsen kembali berbaring disamping Aurel.
"Sayang, nggak mandi dulu? Nanti sebentar lagi Anisa bangun," ujar Pria itu sembari mencuri kecupan di pipi Aurel.
"Nanti saja, Mas. Aku pengen istirahat sebentar, mumpung Anis tidur," seru wanita itu dengan mata masih tertutup.
__ADS_1
"Baik, tidurlah." Arsen mendekap tubuh Aurel penuh kasih sayang, sehingga wanita itu tidur begitu nyaman.
***
Setelah selesai nonton dan makan malam, Doni membawa calon istri dan anaknya untuk pulang. Bocah yang berusia enam tahun itu tampak begitu ceria setelah mendapat beberapa mainan dari ayahnya.
"Putra, pengen beli yang lain?" tanya Doni yang masih ingin membahagiakan anaknya.
"Tidak Ayah, ini sudah cukup. Kata ibu nggak boleh boros, nanti uang ayah habis," celoteh bocah kecil itu dengan polos.
Doni menggendong bocah itu dan mengecup kedua pipinya. "insyaAllah, uang ayah masih ada, masih cukup untuk membelikan apapun yang kamu mau dan Ibu."
Lina hanya tersenyum haru menatap kedekatan kedua Pria kesayangannya itu. Sudah lama sekali ia merindukan hal seperti ini, yaitu mempunyai keluarga kecil yang utuh.
Mereka berjalan beriringan, Doni menggendong Putra, tangan sebelahnya merangkul bahu Lina.
Alhamdulillah ya Allah, akhirnya Engkau mempertemukan kami kembali. Semoga kami akan selalu bahagia.
"Kamu ingin beli sesuatu lagi, Sayang?" tanya Doni pada Lina.
"Tidak, Mas, ini sudah cukup. Kamu jangan terlalu memanjakan aku dan Putra, nanti kami terlalu bergantungan denganmu," jelas wanita itu yang merasa Doni begitu memanjangkannya.
"Emang kenapa, Dek? Memang itu yang aku inginkan. Aku ingin kalian selalu membutuhkan aku, sehingga kita tak akan pernah berpisah. Aku sangat tahu, kamu tidak akan mungkin pergi meninggalkan aku disaat nanti aku sudah tak memiliki apapun lagi," ujar Doni, membuat hati Lina terharu.
"Cukup sekali, Sayang, hal itu tak akan pernah terulang kembali, aku tidak akan mau kita berpisah kembali."
Saking asyiknya ngobrol, Lina tak menyadari bahwa kini mobil yang dikendarai oleh Doni sudah berhenti di sebuah apartemen.
"Loh, Mas. Kita kenapa kesini?" tanya Lina tidak paham.
"Mulai sekarang kamu dan Putra tinggal disini bersamaku. Ayo turun." Doni membukakan pintu untuk Lina dan Putra.
"Tapi, Mas?" Lina menahan langkahnya saat Doni menggiring masuk kedalam gedung menjulang itu.
"Kenapa, Dek?" tanya Doni, dia melihat ada kecemasan dihati sang kekasih.
"Kita belum menikah, aku tidak mau..."
"Iya, aku sangat paham, sayang, kamu tenanglah. Aku tidak akan menyentuh dirimu sebelum kita menjadi halal." Doni berbisik agar ucapnya tak di dengar oleh bocah kecil yang ada di dalam gendongannya.
Akhirnya Lina mengikuti langkah Doni, meskipun berat, tetapi ia tidak ingin melihat kekecewaan dihati kekasihnya.
__ADS_1
"Sayang, ini kamar kamu. Aku sudah persiapkan. Jika kamu kurang nyaman, kamu boleh menggunakan kamarku, kalau soal anak, dia bebas mau tidur dengan siapa saja."
Lina hanya tersenyum, dihatinya berdecak kagum dengan dekor kamar yang tampak begitu feminim. Mungkin Doni sudah mempersiapkan sebelum membawanya datang ke kediamannya.
"Bagaimana? Apakah kamu suka?" tanya Doni sembari mengusap kepala Lina dengan lembut. Sementara itu sang bocah sudah duduk anteng di depan tv sembari membuka mainan yang tadi dibelikan oleh ayahnya.
"Ya, aku suka banget, terimakasih ya, Mas."
"Alhamdulillah jika kamu suka. Semoga kamu nyaman ya, hingga nanti kita satu kamar," ujar Pria itu tersenyum. Lina hanya membalas senyum kaku.
***
Malam ini Dewi sedang mengeksekusi eskrim rasa buah yang asli dan murni. Dewi membuat perasanya memang dari buah asli. Sementara itu Haikal masih sibuk dengan laptopnya.
Pria itu mulai sibuk dengan aktivitasnya yang hampir satu bulan di tinggalkan, setelah menyimpan di dalam freezer, Dewi memotong beberapa puding yang tadi dia buat.
Dewi membawa beberapa potongan puding itu dan secangkir kopi hitam untuk suaminya.
"Kopinya, Mas." Dewi meletakkan di atas meja.
"Ya, terimakasih, sayang." Haikal memindahkan benda pipih itu keatas meja, dengan perlahan menyesap kopi hitam yang paling di gemari.
"Udah selesai buat eskrim?" tanya Haikal kembali meletakkan cangkir kopi itu di atas meja.
"Udah, nih cobain, tadi aku buat puding coklat lumer." Dewi memotong puding itu dan menyuapi sang suami. "Gimana? Enak nggak?" tanya Dewi minta pendapat.
"Mantap banget. Manisnya nggak ketulungan," ujar Haikal mengacungkan jempolnya.
"Hah! Masa sih kemanisan?" Dewi mengambil bekas potongan yang tadi dan memasukkan kedalam mulutnya.
"Nggak kok, Mas, manis udah pas."
"Manis di puding ini memang pas, tapi saat memandang wajah kamu maka tingkat kemanisanya bertambah. Tapi aku suka, manisnya alami. Hehe..."
"Ihh... Receh banget sih, Mas." Dewi mencubit pinggang Haikal dengan gemas.
"Hahaha...Udah dong, Sayang, maafkanlah suamimu ini yang tak pandai dalam menggombal." seru Pria itu menahan geli karena mendapat serangan dari istrinya.
Bersambung....
Nb. Mungkin beberapa bab lagi tamat ya🤗
__ADS_1
Happy reading 🥰