Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Dewi terluka


__ADS_3

Mama dan Andin menatap Dewi dengan heran. Sejak kapan Haikal mempunyai ART di apartemennya. Andin menatap sinis seperti sedang mengintimidasi Dewi.


"Ah, maaf, Bu, saya sudah membuat kekacauan. Saya akan bersihkan sekarang." Dewi segera beranjak dari hadapan mereka mengambil peralatan untuk membersihkan kaca yang pecah berserakan.


Hati Dewi perih, seperti serpihan kaca yang sedang ia bersihkan itu. Kenapa Haikal tak pernah bercerita tentang calon istrinya. Apakah karena itu pacarnya yang waktu itu meninggalkannya dengan lelaki lain, karena memang Haikal tak berniat untuk menikahinya.


Apakah dirinya korban kedua? Itukah sebabnya sampai saat ini Haikal belum membicarakan soal pernikahan sirinya pada keluarganya.


Setelah membersihkan kekacauan itu, Dewi kembali melanjutkan acara memasaknya yang tadi ia lakukan dengan bahagia bersama suaminya, tapi kini kebahagiaan itu menguap begitu saja saat mendengar bahwa Pria itu telah mempunyai calon istri.


Sungguh Dewi merasa tertipu oleh Haikal. Inikah awal mula penyesalan itu datang? Apa yang akan dia katakan kepada Reza.


Tanpa terasa air mata Dewi menetes, batinnya terasa begitu nyeri. Ingin rasanya ia pergi saat itu juga, tetapi ia masih berusaha untuk tetap tegar, ia berharap Haikal akan menjelaskan bahwa apa yang ia dengar tadi tidaklah benar.


Saat tangannya sibuk dengan pekerjaan dapur, tetapi hatinya sibuk berperang melawan ego yang sudah mulai sulit untuk di kendalikan.


"Sayang, jangan menangis. Aku bisa menjelaskan semuanya." Terdengar suara Pria yang sedari tadi sibuk bercengkrama bersama Mama dan calon istrinya.


"Katakan, Mas, jika itu tidak benar. Wanita itu bukan calon istri kamu 'kan?" Tanya Dewi sembari menghapus air matanya.


"Wi, aku akan menjelaskannya nanti, beri aku waktu ya." Jawaban Pria itu menambah luka dihatinya, seakan Haikal membenarkan ucapannya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang, silahkan kamu bereskan urusanmu." Dewi segera beranjak.


"Wi, tunggu dulu!" Haikal menarik wanita itu ingin memeluknya tetapi Dewi dengan kuat mendorong tubuh Haikal dan segera pergi.


Dewi melewati kedua tamu Haikal yang sedang duduk di ruang tamu. Seketika netranya bertatapan dengan Mama mertuanya. Dewi mengukir senyum meskipun hatinya sakit.


"Mau kemana, Nak?" Sapa wanita baya itu tersenyum ramah.


"Ah, ada sesuatu yang ingin saya beli. Mari,Bu." Dewi segera berlalu keluar dari apartemen suaminya itu.

__ADS_1


Sesampainya di diluar gedung, Dewi segera menggunakan jasa taksi untuk pulang ke kediamannya. Disepanjang perjalanan ia menangis meratapi kebodohan dan juga menyesal telah mempercayai Haikal. Ternyata semua diluar dugaannya.


Setibanya di kediamannya, ia melihat sang adik yang hendak keluar, secepat mungkin Dewi menghapus air matanya, jangan sampai Reza mengetahui yang sebenarnya.


"Loh, Mbak, tumben pulang pagi-pagi begini?" Sapa Reza


"Ah iya, Dek, Mbak lagi suntuk di rumah sendirian. Lagian Mas Haikal sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi, Mbak pengen pulang, rindu juga suasana rumah," balas Dewi berbohong pada adiknya.


"Oh, ya udah, kalau begitu aku tinggal gapapa ya Mbak, soalnya aku ada tugas kelompok."


"Iya, gapapa, Dek. Mbak juga ingin berberes rumah. Nanti siang pulang makan ya, Mbak masak hari ini," intrupsi wanita itu pada sang adik.


"Baiklah, Mbak, aku pamit." Reza menyalami tangan sang kakak dan segera beranjak.


Setelah Reza pergi, Dewi segera masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar ia menangis sejadi-jadinya, untuk melepaskan beban dihatinya.


Saat wanita itu larut dalam tangisan, ia merasakan pundaknya ada yang memegang sehingga membuatnya terkesiap.


Reza duduk di sisi sang kakak. Pria itu segera meraih tubuh Dewi dan membawa masuk kedalam dekapannya. Dia tahu hati kakaknya sedang berduka.


Dewi semakin tak bisa menahan, pada akhirnya tangisannya kembali pecah di dalam dekapan sang adik. "Maaf Mbak, Dek. Maaf..." Lirih wanita itu dengan tubuh berguncang menahan Isak tangis.


"Menangislah, Mbak, agar hati Mbak lega." Pria yang berumur sembilan belas tahun itu begitu dewasa menyikapi dan begitu memahami kegundahan hati Dewi.


Dewi masih menangis dan Reza masih setia memberi sandaran untuk kakaknya. Kedua anak yatim-piatu itu saling menyayangi dan memberi kekuatan untuk saudaranya.


"Za, sekali lagi Mbak minta maaf karena sudah tak men..."


"Sudah, Mbak! Jangan merasa bersalah. Apapun masalah Mbak sekarang, aku akan selalu ada buat, Mbak. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mbak Dewi, karena bagi aku Mbak adalah pengganti ibu," ujar Pria itu berkaca-kaca.


Dewi kembali menangis dalam pelukan sang adik. Dia mengira jika Reza akan marah dan meninggalkan dirinya. Ternyata sikap Pria itu hampir sama sepertinya, tidak akan pernah sampai hati.

__ADS_1


Setelah cukup lega, Dewi melerai pelukannya dan menatap wajah Reza, tampak dimatanya menyimpan kekecewaan. Tetapi Pria itu berusaha untuk bersikap sewajarnya.


"Udah, lega? Mbak mau aku temani atau aku boleh pergi untuk mengerjakan tugas kampus?" tanya Reza sembari menghapus air mata kakaknya.


Reza begitu menyayangi kakak perempuan satu-satunya itu, sedari kecil mereka di tinggalkan kedua orangtua, maka Dewi lah yang merawat sang adik dengan penuh kasih sayang, Dewi berusaha mencukupi segala kebutuhan Reza sehingga Pria itu tak merasa kekurangan, meskipun tidak mewah tetapi apa yang dia butuhkan Dewi selalu memberikan.


"Alhamdulillah, Mbak sudah lega, kamu pergilah. Jangan pikirkan, Mbak baik-baik saja."


"Benaran?" Tanya Pria itu memastikan sekali lagi.


"Iya benaran, Dek!"


"Oke, aku akan pergi. Mbak jangan menangis lagi ya. Aku janji tidak akan lama." Pria itu beranjak dan segera mengambil bukunya yang tadi ketinggalan.


Reza tahu Dewi sedang ada masalah dengan Haikal, ia belum mau memaksa Dewi untuk bercerita. Ia masih memberikan ruang untuk kakaknya, biarkan Dewi sendiri yang bercerita.


Setelah Reza pergi, Dewi segera menghapus air matanya, dia tidak boleh lemah. Dewi yang selama ini begitu tangguh dan tegar, tak akan membiarkan dirinya melow hanya karena perasaan.


Jika memang ini takdir yang harus dijalani, maka ia harus menerimanya dengan lapang dada. Mungkin inilah akhir perjuangannya selama ini, untuk meluluhkan hati sang dosen. Hingga Tuhan memberinya kesempatan untuk menjadi istri Pria dewasa itu.


Nyatanya Dewi harus menelan kekecewaan. Maka wanita itu sudah putuskan untuk tidak mempertahankan lagi, ia akan menerima jika nanti harus berpisah dari sang suami.


Dewi sudah tak ingin lagi memaksakan kehendak. Dia sadar, inilah konsekuensinya dari pernikahan yang dia setujui. Setidaknya dia sudah berjuang dan berhasil menikah dengan Pria yang dicintai, walau pada akhirnya pernikahan itu harus kandas.


Dewi masih larut dalam lamunan, sesekali air matanya jatuh, meskipun ia sudah berusaha untuk tetap tegar, tetapi yang menyangkut tentang hati. Maka tetap saja air mata terlebih dahulu menggambarkan bagaimana lukanya perasaan itu


"Sayang, Aku minta maaf!"


Bersambung....


ini sambungan dari bab ke 63 ya, entah kenapa bab itu belum juga lolos sampai sekarang.

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2