
Kini waktu yang dinantikan telah tiba, hari ini Aurel Wisuda, pagi-pagi sekali mereka telah bersiap untuk menghadiri acara bersejarah bagi Aurel.
"Alif, ayo pakai baju dulu, Nak, Bunda buru-buru ini Sayang." Aurel masih mengejar bocah kecil itu yang berlari keluar kamar setelah mandi.
Aurel cukup riweh menghadapi putranya itu, sementara ia di kejar waktu, karena acara akan di mulai jam sembilan, sebelumnya ia harus menyiapkan segala sesuatu sebelum acara dimulai.
"Sini, Sayang, biar aku saja yang mengurusnya, ayo kamu bersiaplah. Nanti kita telat." Arsen yang sudah rapi, mengambil pakaian yang ada di tangan Aurel.
"Tapi, Mas, kamu istirahat saja, aku bisa mengurusnya."
Ya, Aurel semenjak mengetahui penyakit Arsen, ia tak membiarkan Pria itu membantu pekerjaannya, karena Aurel tahu bahwa orang yang mempunyai penyakit Gagal ginjal tidak bisa lelah dan berkerja berat.
Di kantor juga Arsen tak banyak melakukan aktivitas, hanya mendampingi Doni, Arsen mengikuti semua arahan dari sang istri. Pria itu begitu patuh pada wanita kesayangannya itu.
"Tidak, Sayang, ini hanya perkara mudah dan ringan, aku tidak akan lelah, Ayolah."
Akhirnya Aurel menurut, ia segera bersiap dan Arsen segera menghampiri bocah kecil itu. Cukup sulit untuk membujuknya dan akhirnya Alif selesai di rapikan oleh sang Daddy.
"Tuh, kan udah tampan, Kasih Daddy cium dulu," ujar Arsen begitu gemas dengan bocah gembul itu.
"Daddy, kita mau kemana cih?"
"Kita mau temani Bunda."
"Kemana Dad?"
"Ada deh, pokoknya nanti Alif tidak boleh nakal ya, harus duduk tenang. Anak pintar harus nurut, Oke...?"
"Oke, Daddy."
Kedua Pria beda generasi terlihat akur dan saling mengasihi. Terdengar suara tawa mereka saing bersahutan, sehingga Aurel yang mendengar ikut tersenyum melihat kekonyolan kedua lelaki kesayangannya itu.
Setelah selesai bersiap Aurel keluar menghampiri Arsen yang sedang memainkan ponselnya.
"Mas, aku sudah cocok nggak pake kebaya ini?" Tanya Aurel meminta pendapat pada Arsen.
__ADS_1
Pria itu menatap dari bawah hingga atas, ia begitu terpesona dengan kecantikan istrinya itu. Walaupun sudah memiliki seorang anak, Aurel masih terlihat sangat cantik dan awet, tubuhnya juga tak berubah, tetap ramping dan seksi.
"Mas..." Aurel memanggil Arsen sedikit keras, ia gemas melihat tingkah suaminya itu, diminta pendapat malah bengong.
"Bunda cantik banget, pokoknya Bunda paling Oke, benal kan Daddy?"
Akhirnya Alif yang terlebih dahulu memberi pengakuan, sehingga membuat Arsen tersenyum gemas.
"Iya, iya. Bunda paling cantik. Pokoknya Daddy sependapat dengan Alif." Jawab Arsen membenarkan ucapan anaknya.
"Benaran?" Tanya Aurel meyakinkan lagi.
"Benar, Sayang, pokoknya kamu cocok banget pake kebaya itu. Kalau aku cocok nggak menggunakan stelan ini untuk mendampingi kamu? Jangan sampai nanti aku di bilang Bapak kamu."
"Ya, gapapa lah jika orang ngira Bapak aku, kamu kan memang udah tua, lagian umur kita terpaut jauh. Kok bisa ya, aku mencintai Om-om. Hahaha..." Gurau Aurel membuat Arsen gemas dan merengkuh pinggang Aurel sehingga tubuh mereka merapat.
"Eh, Mas, kamu mau ngapain? Aku udah pake makeup, dan ada Alif, Mas..." Desis Aurel berbisik.
"Biar Om-om begini tapi kamu suka dengan sentuhannya 'kan? Apalagi yang satu itu," balas Arsen di telinga Aurel, sehingga membuat wajah wanita itu semakin merah merona.
"Ish, mesum!"
"Ayo, kamu sudah siap semuanya 'kan?"
"Sudah, Mas. Ayo kita berangkat sekarang."
***
Di kediaman Dosen fakultas kedokteran itu, Dewi sudah selesai bersiap dengan hal yang sama yaitu memenuhi hari yang paling penting baginya. Wanita itu sudah terlihat cantik dengan dandanan sederhananya.
Saat Dewi keluar kamar, ia berpapasan dengan suaminya, Haikal juga sudah rapi dengan stelan kemeja dan menggunakan jas senada.
"Ya ampun, tampan banget My Bojo, sumpah aku makin kesem-sem sama Bapak. Nanti kita boleh foto bareng saat di kampus 'kan?" Tanya Dewi berharap.
"Kamu lupa bahwa pernikahan ini adalah disembunyikan. Kamu ingin melanggar kesepakatan kita?" Tanya Haikal dingin.
__ADS_1
"Yaelah, nggak usah serius banget nanggapinya, lagian para mahasiswi yang berfoto dengan Dosen nggak ada larangannya 'kan? Atau memang Bapak yang tidak mau berfoto dengan aku."
Dewi menyindir Pria itu, ia segera berlalu dari hadapan Haikal dan menuju meja makan, untuk sarapan. "Duduk, Pak. Ayo sarapan dulu, biar nanti aura ketampanan nggak berkurang dan nggak lupa dengan materi yang akan disampaikan."
Dewi melayani sang suami, ia akan selalu berusaha untuk mendapatkan hati Pria itu. Haikal hanya diam mengikuti perintah Dewi, ia tak pernah menolak makanan apapun yang disajikan oleh istrinya itu.
Haikal akan tetap menerima segala perlakuan dan perhatian Dewi untuknya, berharap rasa cinta itu akan segera tumbuh, namun ia belum bisa menunjukkan sikap yang bersifat pura-pura, karena ia tak ingin membohongi hatinya dan juga hati Dewi.
Haikal hanya ingin semua mengalir dengan apa adanya, tak ingin memaksa dan mendrama. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Selesai sarapan, mereka segera beranjak menuju kampus. Sesampainya di kampus Dewi melihat sang adik telah berada disana.
"Reza, kamu datang juga? Mbak kira kamu tidak mau datang," ujar Dewi, ia tahu bila Reza masih kecewa dengan keputusannya.
"Tentu saja aku datang, Mbak. Ini adalah momen paling berharga buat Mbak Dewi."
"Terimakasih, ya Dek. Eh, kita foto dulu yuk sebentar. Pak, tolong fotoin kami dong." Dewi memberikan ponselnya pada Haikal.
Dan kedua Kakak beradik itu berpose, terlihat Dewi dan Reza saling menyayangi. Setelah mengambil beberapa gambar, Haikal menyerahkan ponsel Dewi kembali.
"Mbak Dewi dan Mas Haikal, tidak berpose juga? Biar aku yang ambil gambarnya."
"Tidak, nanti saja, Dek. Soalnya sebentar lagi acaranya akan dimulai, ayo kita masuk sekarang." Dewi segera menggandeng tangan Reza, dan menjarak pada Haikal.
Haikal hanya bisa menghela nafas berat, ia tahu Dewi sedang berkomitmen agar tak melanggarnya.
Acara sudah dibuka dengan kata sambutan. Setelah itu mereka semua menyanyikan lagu Indonesia raya.
Setelah itu dilanjutkan dengan sambutan rektor dari universitas, dan beberapa acara lainnya. Dan tibalah waktunya prosesi wisuda, yaitu peneguhan atau pelantikan bagi seseorang yang telah menempuh pendidikan di kalangan akademik untuk menandakan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas.
Setelah menggunakan toga, kini para rektor mulai memindahkan tali toga bentuk apresiasi atas kelulusan para wisudawan dan wisudawati.
Tanpa di duga, Aurel mendapatkan gelar kehormatan yang diberikan secara khusus sebagai mahasiswi kedokteran yang memperoleh IPK (indeks prestasi kumulatif) 3,5
Aurel berdiri didepan podium untuk menyampaikan sesuatu tanda terimakasihnya yang telah terpilih sebagai mahasiswi dengan nilai terbaik.
__ADS_1
Bersambung...
Happy reading 🥰