
Arsen tak menjawab pertanyaan Aurel, Pria itu masih fokus dengan paha mulus sang istri yang terekspos begitu menggoda dan membuat sesuatu pada tubuhnya kembali mengeras.
Dengan percintaan sekali tadi tentu saja belum membuat hasratnya terpuaskan, bahkan ia semakin kecanduan.
"Mas, kok bengong?" Tanya Aurel mendekat sembari memukul bahu Arsen pelan.
"Ah, iya, Sayang. Aku nggak fokus karena melihat paha kamu itu," ujar Pria itu jujur sekali dan tersenyum kikuk.
"Ya ampun, Mas. Udah ayo makan. Nggak usah mesum deh..." Aurel menggandeng tangan Arsen membawanya duduk.
"Ya, habisnya kamu buat aku terpesona dan kecanduan, nanti habis makan boleh nambah nggak?" Tanya Arsen yang membuat Aurel terkesiap.
Aurel tak menjawab ia segera mengisi piring Arsen dengan nasi dan lauknya. "Makan, Mas. Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu," intrupsi Aurel sembari menatap wajah sang suami.
Arsen masih menatap lekat pada Aurel, sehingga membuat wanita itu gemas sendiri.
"Ya ampun, kamu ini mau makan atau cuma mau pelototi aku aja sih, Mas?"
"Hehe... Iya, mau makan, Sayang."
"Muuach... Udah ayo makan, nanti aku janji akan memberikan hak kamu sepenuhnya hingga kamu puas," ujar Aurel yang membuat Arsen serasa terbang saat mendapat perlakuan yang begitu manis dan juga di janjikan syurga dari sang istri.
"Kamu serius,Sayang?" Tanya Arsen sumringah
"Serius, Mas. Udah ayo makan, susah banget bujuk makan, anak dan bapaknya sama aja, selalu di janjikan sesuatu baru mau makan." Omel wanita itu sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Hahaha... Kamu bisa aja, ya jelas lah sama, tu bocah adanya karena aku, udah pasti mendominan prilaku Daddynya."
Akhirnya mereka makan penuh kemesraan dan kasih sayang, Arsen selalu memanjakan sang istri.
Pagi ini seperti biasanya, Aurel bangun lebih awal untuk mengurusi kedua lelakinya itu, walaupun tubuhnya terasa begitu pegal dan linu karena gempuran Arsen tadi malam, tetapi ia tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu.
"Kopi, Mas." Aurel menaruh secangkir kopi ginseng tanpa gula.
"Terimakasih, Sayang." Arsen meraih tangan Aurel dan membawa duduk disisinya.
"Kenapa Mas? Tanya Aurel menatap wajah tampan itu kelihatan sedikit berbeda.
Arsen mengecup wajah Aurel penuh kasih sayang. "Terimakasih untuk servis tadi malam," ujarnya tersenyum genit.
__ADS_1
"Ish... Apaan sih. Oya, nanti siang kamu pulang nggak?" Tanya Aurel sembari menyandarkan kepalanya dibahu Arsen
"Sepertinya nggak pulang, Sayang. Karena nanti siang aku dan Doni ada kunjungan sebuah proyek," jelas Arsen sembari mengecup mahkota sang istri begitu wangi.
"Yaudah, kalau begitu aku nggak masak hari ini ya, Mas. mau cuti seharian. Nanti makan malam kita delivery aja ya? Capek, Mas tubuh aku pegel semua, ini semua gara-gara kamu," Rengek Aurel begitu manja dan menggemaskan.
Arsen merengkuh pinggang Aurel agar semakin merapat. "Salah sendiri kenapa bikin aku kecanduan," bisik Arsen tersenyum nakal.
"Bukan kecanduan, tapi itu namanya doyan, Mas."
"Hahaha... Kamu bisa aja. Yaudah semua terserah kamu saja, mau masak atau tidak, yang penting kamu jangan terlalu capek. Kan aku sudah pernah bilang sama kamu, lebih baik kita cari ART untuk membantu kamu agar tidak capek, Sayang."
"Tapi aku tidak terlalu repot kok, Mas."
"Ya, udah aku ikut mau kamu, Sayang. Pokoknya aku nggak mau kamu sampai capek, tapi nanti kalau kamu sudah hamil lagi. Nggak ada penolakan lagi untuk menggunakan ART." Tekan Arsen.
"Hmm, baiklah..."
"Bunda..." Panggil Alif yang baru saja bangun menyongsong kedua orangtuanya yang masih terlibat obrolan mesra.
"Eh, sudah bangun kesayangan Bunda. Ayo sini sayang dulu. Muuach. Ih bau jigong, belum cuci muka dia Dad, bau dia. Hahaha...." Aurel menyayangi bocah kecil itu.
Bocah kecil itu terkekeh karena mendapat serangan Daddy dan Bundanya, sehingga wajahnya yang putih menjadi merah karena terkena bulu-bulu halus yang ada di wajah sang Daddy.
Setelah cukup bercengkrama dengan anak dan istri, Arsen segera pamit untuk ke kantor. Tak lupa Aurel dan Alif menyalami dengan takzim.
"Mas?" Panggil Aurel saat Arsen hendak keluar.
"Ya, Sayang?"
"Kok wajah kamu terlihat agak sembab begitu? Atau aku yang salah lihat ya?" Tanya Aurel yang sedari tadi memperhatikan
"Ah, nggak kok, mungkin kamu salah lihat. Atau mungkin aku kurang tidur." Arsen baru ingat bahwa dia melewatkan jadwal cuci darahnya, sehingga cairan menumpuk, maka mengakibatkan pembengkakan pada tubuh.
Ada sedikit kecurigaan pada hati Aurel, karena dia calon dokter tentu saja sudah mulai mengerti tentang ilmu medis.
Tak berselang lama, Arsen pergi. Bel pintu apartemen itu kembali berbunyi, Aurel segera melihat monitor yang ada disisi pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.
Ternyata sahabatnya Dewi. Aurel segera membukakan pintu untuk menyambut kedatangan sahabat yang sudah satu minggu ini tak ia temui, karena mereka memang tak mempunyai kegiatan kampus lagi, maka membuat mereka sibuk masing-masing.
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Ya ampun, senang banget. Ada angin apa kamu datang kesini, Sayang?" Tanya Aurel yang segera berpelukan sembari cipika cipiki.
"Yang pertama aku kangen sama kamu. Dan yang kedua aku ingin memberi kabar sesuatu," jelas Dewi segera duduk di kursi ruang tamu.
"Benarkah? Ayo ceritakan padaku kabar apa yang ingin kamu beri tahu? Kabar bahagiakah?"
"Fifty-Fifty."
"Why?" Tanya Aurel heran
Dewi menceritakan tentang pernikahan bersyaratnya dengan Haikal. Dan juga menceritakan tentang ketidak setujuan sang adik.
"Kamu yakin, Wi?" Tanya Aurel yang sempat terkejut dengan pengakuan sahabatnya itu.
"Aku yakin, Rel. Kamu tahu 'kan, bahwa momen ini begitu aku impikan dan aku hayalkan, dan aku tidak akan mengabaikan kesempatan yang ada untuk bisa bersatu dengan Pria yang selama ini aku cintai."
Aurel mencoba untuk memahami tentang perasaan Dewi, meskipun dihatinya begitu ragu dengan pernikahan Dewi dan Haikal cukup rumit karena menggunakan persyaratan.
Ditambah lagi mereka hanya menikah siri, tak ada jaminan untuk memperkuat pernikahan mereka, Aurel sangat mencemaskan nasib sahabatnya, bagaimana jika nanti Haikal menyakiti Dewi.
"Rel, nanti malam kamu datang ya, di pernikahan aku. Karena kamu tahu aku hanya mempunyai kamu, teman terbaikku, aku ingin kamu menyaksikan kebahagiaan aku."
"Malam? Emang jam berapa?" Tanya Aurel sedikit ragu.
"Mungkin habis isya, kamu datang di kediaman Pak Haikal, yaitu di apartemennya."
Aurel bingung harus bicara apa, ia juga tak tega untuk menolak, tapi apa alasannya kepada Arsen.
"Aku datang bawa suamiku gimana, Wi?"
"Eh, jangan. Nanti Pak Haikal jadi marah karena pernikahan ini tertutup. Kamu aja yang datang, kamu bilang menemani aku kemana, kek, beralasan pada suami kamu."
"Baiklah, nanti aku tanya dulu, Mas Arsen pulang jam berapa."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1