Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Memberi kesempatan


__ADS_3

"Terus, aku panggil apa?" Tanya Aurel bingung


Arsen berpikir sejenak, ia mencari apa panggilan yang cocok untuk dirinya.


"Panggil Mas!"


"Hmm, baiklah!" Aurel mengikuti, tidak terlalu buruk dengan panggilan itu, karena suaminya itu memang ada keturunan darah Jawa.


Setelah dua hari dirawat Aurel sudah di perbolehkan untuk pulang. Arsen ingin membawa Aurel pindah ke sebuah apartemen yang telah dibelinya, tetapi Aurel menolak, ia ingin pulang kerumah orangtuanya, walaupun rumah sederhana tetapi sangat nyaman untuk ditempati.


Akhirnya Pria itu menuruti keinginan sang istri, entah kenapa Arsen tak ingin berdebat, ia tak ingin membuat masalah apapun pada Aurel, ia sangat takut sekali jika Aurel akan membenci dirinya lagi.


Walaupun sampai saat ini Aurel belum mengatakan bahwa dirinya telah memaafkan Arsen, tetapi bagi Arsen dengan Aurel tidak menolak kehadirannya saja itu sudah cukup baginya untuk saat ini.


Sesampainya dirumah, Aurel dibantu oleh Bibi Ana. Karena segala sesuatunya Aurel maupun Arsen masih awam merawat bayi maka Bibi Ana banyak berperan memberi arahan dan petunjuk cara yang benar merawat bayi merah itu.


Awal-awal Aurel memang masih canggung, tapi lama kelamaan ia sudah terbiasa tanpa bantuan Bibi Ana lagi.


Dalam beberapa hari ini pasutri itu saling membantu dalam mengurus sikecil. Terlebih Arsen yang begitu menyayangi istri dan anaknya maka dialah yang banyak berperan.


Arsen melengkapi apapun yang dibutuhkan dirumah itu, ia juga yang memasak untuk sang istri, setiap malam saat bayi mungil itu terbangun maka Arsen terlebih dahulu mengurusinya.


Pria itu benar-benar memanjakan Aurel, dia tidak rela jika istrinya kelelahan. Arsen menikmati perannya sebagai seorang suami dan ayah untuk istri dan anaknya.


Aurel masih bingung melihat sikap peduli Arsen terhadap dirinya, Apakah ada seorang mafia yang kejam bak singa lapar bisa menjadi kelinci yang lucu dan jinak?


"Sayang, ayo sarapan dulu," ujar Arsen membawa sarapan untuk Aurel.


"Iya, Terimakasih, Mas."


"Udah tidur dia?" Tanya Arsen yang ikut duduk di bibir ranjang.


"Sudah, barusan tidur," jawab Aurel singkat. Memang Aurel belum banyak bicara, dirinya masih canggung melihat perubahan sikap Arsen.

__ADS_1


"Kamu sudah punya nama untuk anak kita?" Tanya Arsen minta pendapat.


"Karena dia anak pertama jadi aku pengen kasih nama, ALIF, tapi aku belum punya kepanjangannya," ujar Aurel memberi pendapat.


"Bagus juga namanya. Alif Abraham. Bagaimana? Kamu setuju?"


"Setuju!" Aurel dan Arsen tersenyum bahagia.


Saat mereka sedang ngobrol tiba-tiba ponsel Arsen berdering, ia segera menerima telepon. Tidak berselang lama Pria itu masuk kembali dengan raut wajah sedikit tegang.


"Rel, ada masalah di perusahaan. Aku harus pulang ke Malaysia hari ini juga. Tapi aku tidak bisa meninggalkan kamu dan Alif disini, ikutlah bersamaku!"


"Tidak, Mas, aku disini saja. Aku tidak bisa ikut!" Tolak Aurel, rasanya ia belum mampu untuk menginjakkan kaki di rumah itu lagi karena banyak sekali kenangan yang menyakitkan.


"Rel, aku mohon ikutlah bersamaku, paling tidak selama kamu cuti kuliah, setelah itu kamu bisa melanjutkan kembali pendidikanmu. Aku tahu mungkin kamu masih trauma, tapi aku tidak akan membawamu ke rumah itu lagi."


Arsen mencoba meyakinkan Aurel. Dia tidak ingin berpisah dengan istri dan anaknya, Arsen ingin selalu bermasa mereka.


Mereka berangkat hari itu juga. Sebelum berangkat Aurel berpamitan dengan Bibi Ana, tentu saja mereka mengizinkan karena Aurel ikut dengan suaminya, terlebih lagi mereka semua tahu bahwa Arsen sangat menyayangi Aurel.


---Malaysia--


Arsen membawa Aurel tinggal di apartemennya. Dan setelah sampai mereka telah di sambut oleh Makcik Leha.


"Selamat datang kembali Nona cantek..."


"Makcik! Ya Allah, aku senang sekali. Makcik apa kabar?" Aurel memeluk wanita paruh baya itu dengan tawa bahagia.


"Alhamdulillah, Makcik macam ni lah, takde yang berubah. Nona sendiri macam mane?" Tanya Makcik melerai pelukannya dan menatap bayi mungil yang ada dalam gendongan Arsen.


"MasyaAllah... Handsome nye budak kecik ni. Geram betul Makcik tengok," ujar Makcik Leha sembari mengambil bayi Alif dari gendongan Daddynya.


"Jom masuklah bia Makcik tunjuk mane kamar Nona." Makcik Leha membawa majikannya untuk masuk.

__ADS_1


"Bagaimana,Sayang? apakah kamu nyaman tinggal disini?" Tanya Arsen yang baru saja selesai mandi dan telah berpakaian rapi.


"Iya, aku cukup nyaman, Mas," jawab Aurel masih fokus mengurus Alif yang sedang pup.


"Udah sana kamu mandi, biar Alif aku yang bersihkan. Aku sudah siapkan air hangat untuk mandi kamu," ujar Pria itu mengambil alih pekerjaan Aurel.


Seketika Aurel termangu menatap Arsen masih tidak percaya. Apakah suaminya itu benar-benar telah berubah? Kenapa sikapnya manis sekali? Jujur ia tak ingin membohongi perasaannya bahwa rasa cinta dihatinya tumbuh semakin besar.


Tetapi masih ada yang mengganjal dihatinya, yaitu tentang hubungan Arsen dan Maura. Bukankah mereka masih berhubungan? kembali hati wanita itu menjadi ragu.


Malam ini hampir larut malam Arsen mendapatkan telpon dari anak buahnya yang ada di markas, bahwa ada barang yang harus di selamatkan untuk sampai ke tempat tujuan dengan cara penyelundupan. Tentu saja harus melalui tangan Pria itu.


Arsen harus datang dan ia juga sudah mengambil keputusan, bahwa ini adalah untuk yang terakhir kali, dirinya akan berhenti dari dunia hitam itu. Arsen ingin memulai kehidupan baru bersama anak dan istrinya dengan tenang.


Arsen tidak ingin anak dan istrinya suatu saat akan mendapatkan imbas dari bisnis haram itu. Lagipula harta yang dimilikinya tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan.


Arsen masuk ke dunia itu hanya tertantang oleh seorang temannya yang berbisnis di dunia hitam dan mengembangkan sayapnya dan bahkan temannya itu paling di takuti dari berbagai kalangan. Bahkan apara tpun tak berkutik karena berhasil memegang kartu mereka.


Setelah mengangkat telepon Arsen bersiap untuk pergi, sehingga membuat Aurel curiga dengan siapakah suaminya itu bertelponan? Apakah dengan Maura?


"Mas?" Panggil Aurel


"Ah, Sayang? Kamu kok bangun? Tidurlah, aku ada perlu sebentar, tidak akan lama," ujarnya berpamitan.


"Perlu apa larut malam begini,Mas?"


"Perusahaanku sedang ada masalah aku harus kesana sekarang juga, kamu jangan khawatir, aku akan pulang secepatnya!" Arsen membelai pipi Aurel dengan lembut. Pria itu masih belum berani untuk sekedar memberi kecupan di pipi ataupun di dahi. Hubungan mereka masih terasa sangat kaku.


Aurel hanya mengangguk tipis melepaskan kepergian Arsen. Rasa curiga masih menyelimuti hati dan pikirannya. Aurel ingin sekali mempertanyakan hal itu tetapi ia belum mempunyai waktu yang tepat untuk bertanya.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2