
Dewi sudah di pindahkan ke ruang rawat. Wanita itu tampak lebih tenang, karena Dokter telah menyuntikkan obat penghilang nyeri. Reza dan Mama Hema ikut mendampinginya.
"Bagaimana? Apakah masih sakit?" Tanya Mama Hema.
"Sudah berkurang, Bu. Terimakasih, ibu sudah mau menemani saya," ujar Dewi mengulas senyum pada sang Mama mertua.
"Iya, saya cuma ingin tahu keadaan cucu saya. Lagian kamu kenapa tidak bilang dari awal. Bikin saya kesel lagi!" Sanggah wanita itu masih cuek. Sebenarnya dihatinya tidak terlalu marah.
"Maaf ya, Bu, karena sudah membuat ibu marah, tapi saya sangat merindukan Mas Haikal. Saya ingin bertemu dengannya."
Dewi kembali menangis, rasa rindu yang begitu dalam tak bisa ia tahan. Mungkin karena bawaan kehamilannya, membuat hatinya melow dan sensitif.
"Udah, nggak usah nangis. Kamu tidak boleh banyak pikiran. Fokus dengan kesembuhan kamu dulu. Nanti kalau sudah sembuh saya akan antar kamu ketemu Haikal," jelas wanita baya itu. Masih ketus tapi penuh perhatian. Sama persis seperti sikap Haikal.
Dewi tersenyum bahagia mendengar ucapan Mama mertua. "Terimakasih ya, Bu, aku janji akan segera pulih. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Mas Haikal."
Setelah beberapa jam, berada di ruang rawat inap, kini perawat akan membawa Dewi ke ruang Dr Obgyn. Mama Hema masih setia mendampingi menantunya. Sementara Reza hanya memperhatikan dari kejauhan, sedikit lega dihati Pria remaja itu saat melihat mertua kakaknya sudah mulai bersikap baik.
Dewi segera di periksa oleh dokter. Banyak pertanyaan yang di kemukakan oleh Dr Obgyn, karena dari hasil pemeriksaan apa yang sedang dialami Dewi akibat stress dan banyak pikiran.
Dewi hanya membenarkan semua dugaan yang Dokter itu pertanyakan, karena memang begitu adanya. Hampir satu Minggu semenjak Haikal hilang tanpa kabar, membuat pikirannya kacau dan stress, bahkan makan dan minum sudah tak teratur.
"Saya, minta Bu Dewi, harus bisa menjaga kesehatan, dan jangan banyak fikiran. Jika ada masalah yang memicu ibu banyak fikiran, cobalah untuk menghindari masalah itu dulu. Coba untuk pergi jalan-jalan refreshing agar pikiran kembali fresh."
Dokter obgyn itu memberi saran dan solusi. Dewi hanya diam tak menanggapi, karena baginya yang membuat pikirannya tenang adalah bisa bertemu dengan sang suami.
"Apakah bayinya baik-baik saja, Dok? Tanya Mama Hema.
"Alhamdulillah, masih bisa di selamatkan. Ibu tidak perlu cemas, usahakan untuk membuat ibu sibayi nyaman tanpa banyak tekanan. Dan disaat seperti ini peran suami sangat dibutuhkan agar istri tetap nyaman." Terang dokter itu kembali.
__ADS_1
Mama Hema merasa sedih, karena sang Putra kini sedang berada di tahanan kerena surat perjanjian yang pernah mereka buat.
"Apakah harus menjalani rawat inap, Dok?" Tanya wanita baya itu kembali.
"Sebenarnya tidak perlu, jika pasien ingin pulang juga boleh, nanti kami resepkan obat penguat kandungan dan vitamin."
"Tolong berikan yang terbaik untuk menantu dan calon cucu saya, Dok," wanita baya itu penuh perhatian. Dewi kembali tersenyum mendengar ucapan Mama dari suaminya itu.
Setelah berunding, Dewi memutuskan untuk tetap pulang. Sudah jelas pulang kerumah ibu mertuanya. Walaupun Reza sedikit cemas dengan keputusan kakaknya.
Setelah Mama Hema keluar, Reza mendekati Dewi. "Mbak, yakin ingin pulang kerumah mertua Mbak yang judes itu? Bagaimana jika dia menyakiti Mbak Dewi lagi?" Tanya Reza cemas.
"Dek, Mbak yakin, kamu tidak perlu khawatir ya. Mbak percaya beliau tidak akan menyakiti Mbak lagi. Karena ada keponakan kamu yang akan membuat hati eyangnya melunak." Dewi berusaha meyakinkan sang adik.
"Ya, baiklah jika itu keputusan Mbak. Aku ikut saja." Akhirnya Reza mengalah.
Setelah sampai, Mama Hema segera membawa Dewi menuju sebuah kamar yang terlihat begitu luas dan sangat nyaman. Dewi memperhatikan sekeliling ruangan itu.
Dewi yang ingin duduk, mengurungkan niatnya, ia berjalan pelan menuju pigura foto itu. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. "Mas Haikal. Aku kangen Mas." Desis wanita itu sembari mengusap gambar itu, dengan setitik air mata jatuh.
Mama Hema yang melihat pemandangan itu, hatinya terasa pilu. Dia harus berbuat sesuatu agar sang putra keluar dari tahanan. Ya, dia akan mencari pengacara handal untuk mengeluarkan putranya.
Ini semua demi calon cucunya. Dia dapat memahami bagaimana perasaan Dewi sekarang. Seharusnya saat hamil muda begini Dewi mendapatkan kasih sayang dari suaminya.
"Ayo istirahatlah. Besok jika keadaanmu sudah semakin baik, saya akan membawamu bertemu dengan Haikal."
Suara wanita itu mengejutkan Dewi. Konsentrasinya buyar. Dia segera menatap sang Mama mertua. Dewi mendekati Mama Hema.
"Bu, Terimakasih banyak, atas perhatian Mama. Aku sangat terharu," ujar Dewi berkaca-kaca.
__ADS_1
"Biasa saja. Jangan terlalu baperan. Ini semua aku lakukan untuk cucuku," balas Mama masih dingin sedikit tidak mengenakan. Berarti apa yang dia lakukan semata untuk calon cucunya.
Dewi berusaha untuk tersenyum dan membesarkan hatinya. Dia menyadari bahwa itu tidak akan mudah. Karena wanita yang di inginkan untuk menjadi menantu bukan dirinya. Butuh waktu bagi Mama Hema menerima kehadirannya.
Setidaknya wanita baya ini sudah bisa menerima calon cucunya,itu sudah sangat Dewi syukuri. Yang penting dia bisa bertemu dengan sang suami.
"Ya, aku tahu, Bu. Maaf jika aku sudah banyak merepotkan ibu." Dewi tersenyum lembut, sedikit mengusik hati ibu mertuanya itu, ternyata menantunya mempunyai hati yang cukup lembut.
"Ayo sekarang istirahatlah, sebentar lagi Bibik membawakan makan untuk kamu. Jangan sampai lupa minum obat dan vitaminnya." Perintah Mama Hema.
"Ah baik, Bu." Dewi kembali tersenyum dan berbaring diatas ranjang sang suami. Masih menyisakan aroma parfum Haikal yang mendominan, sedikit mengobati rasa rindu dihatinya.
Setelah mengantarkan anak menantunya di kamar Haikal, kini Mama Hema kembali ke ruang tamu menemui Reza yang masih duduk disana sembari memainkan ponselnya untuk membuang suntuk.
"Siapa nama kamu?" Tanya Mama Hema pada Adik menantunya itu.
"Reza, Bu." Jawab Reza datar.
Mama Hema menatap Reza dengan seksama, sedikit senyum ia ukirkan. Pria remaja ini cukup pemberani dan begitu menyayangi kakaknya.
"Ayo ikut, akan Ibu tunjukkan kamar kamu." Perintah wanita itu.
Reza sedikit heran melihat sikap mertua kakaknya yang tadi menjadi lawan berdebat dengannya. Kini begitu baik dan perhatian. Reza hanya mengikuti langkah wanita baya itu.
"Kamu istirahatlah disini. Kamu pasti capek karena belum istirahat. Nanti saat makan malam akan saya bangunkan."
"Baik, terimakasih Bu," ucap Reza sudah mulai lunak dan kembali menghormati. Tadi Pria itu sempat hilang kendali karena kesal melihat kakak satu-satunya dihina.
Bagi Pria itu, tak boleh siapapun yang menghina kakaknya. Karena dia begitu mengenal sikap Dewi yang baik dan penuh perhatian. Kakaknya seorang wanita yang tangguh dan mandiri. Dia bukanlah wanita materialistis.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰