
Dewi masih berusaha meyakinkan, dan akhirnya Pria itu menyetujui tawaran itu dengan syarat Dewi tak mendapatkan apapun, sementara Haikal tetap membayar penuh kepadanya sesuai yang sudah disepakati.
Dengan langkah ragu Dewi menuju sebuah kamar, entah kenapa hatinya begitu sakit saat mengetahui apa yang di inginkan Haikal.
Begitu terhinakah dirinya oleh ucapan mantan kekasihnya itu sehingga dia melampiaskan sakit hatinya untuk menggauli seorang gadis perawan.
Sebelum masuk ke kamar itu, Dewi terdiam sejenak sembari mengatur nafas, rasa takut dan was-was melipir dalam hatinya,
Tidak, aku harus menyadarkan dirimu. Aku tidak rela kamu melakukan hal itu, aku tahu kamu Pria yang baik, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu meskipun aku harus mengorbankan harga diriku.
Dengan langkah pasti Dewi masuk kedalam kamar itu, ia melihat tak ada orang, Dewi mengedarkan pandangannya mencari sosok sang Dosen. Sayup-sayup terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.
Dewi bingung harus berbuat apa, perasaan takut menjalar, bagaimana jika Pria itu marah dan kesal kepadanya, tapi semua sudah terlanjur. Dia juga sudah membuat perjanjian pada Pria tadi, tidak mungkin mangkir begitu saja.
Dewi yang telah menggunakan pakaian minim dan merias tipis wajahnya tentu saja tampak begitu cantik dan seksi, tetapi ia sungguh sangat risih memandang tubuhnya sendiri. Wanita itu duduk di bibir ranjang dengan wajah menghadap ke dinding.
Tidak berapa lama terdengar pintu kamar mandi terbuka. Jantung Dewi rasa ingin lompat saat itu juga kala mengetahui Haikal telah berada di belakangnya.
"Kamu sudah datang?" Tanya Haikal sembari mendekat dengan bertelanjang dada hanya menggunakan handuk yang masih melilit tubuh bagian bawahnya.
Haikal ikut duduk di belakang Dewi, seketika tubuh wanita itu bergetar dan berkeringat dingin. ia meremat seprai dengan kuat.
Seketika tangan Pria itu menyentuh bahunya yang terbuka, sumpah demi apapun, nafas wanita itu terasa berhenti saat itu juga.
Semakin lama sentuhan itu semakin dalam, Dewi memejamkan matanya, ingin sekali berteriak dan memberontak tetapi ia sungguh tak mampu melakukan hal itu.
Haikal semakin berani menjamah tubuh wanita yang ada dihadapannya dan memberi kecupan pada bahu putih yang terekspos maka membuat hasrat Pria itu memuncak.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Dewi saat itu. Apakah dia harus senang menerima sentuhan Pria yang telah bertahun ia dambakan dan selalu memenuhi hatinya, apakah seperti ini akhir dari buah kesabarannya?
Rasa tak sanggup menahan segala gejolak hatinya, dengan perlahan ia memutar posisi tubuh menghadap pada Pria itu.
Haikal yang telah terbakar api gairah sangat bersemangat melihat wanita yang ada dihadapannya itu akan membalas cum buannya.
Dengan tertunduk Dewi menghadap kepada Haikal, perlahan mengangkat wajahnya. Seketika Haikal terkesiap dan menjarak mundur kebelakang.
__ADS_1
"Dewi! Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Haikal terkejut dan begitu kesal.
"Maafkan saya, Pak."
Haikal segera berdiri dan menggunakan pakaiannya, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu juga. Ada rasa malu tak terkira karena bibirnya telah lancang menyentuh wanita yang masih berstatus sebagai mahasiswinya sendiri.
Setelah menggunakan pakaiannya, Haikal menelpon Pria yang tadi, dan segera ingin keluar untuk menemuinya, tetapi Dewi segera menahannya dengan berdiri didepan pintu.
Dengan pakaian seksi Dewi membuat Haikal Salfok menatap kemolekan tubuhnya. "Dewi, apa yang kamu lakukan? Minggir Wi!" titah Haikal
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Bapak, untuk melakukannya dengan wanita lain!"
Haikal menaikan sebelah alisnya mendengar pernyataan gadis itu. Sebenarnya apa yang di inginkannya? Benar-benar gadis bodoh.
"Dewi, apa yang sebenarnya kamu mau? Kenapa kamu bisa berada di kamar ini? Untuk apa kamu melakukan hal ini? Apakah ini pekerjaanmu?" Tanya Haikal dengan kesal.
"Untuk malam ini memang ini pekerjaanku hanya khusus untuk Bapak," balas Dewi yang tak mempunyai rasa malu lagi.
"Kamu sudah gila?"
"Ya, aku gila karena Pak Haikal."
"Nggak mau..." Dewi masih bersikukuh.
Haikal mendekati wanita itu, mengikis jarak diantara mereka, wajahnya begitu dekat. Ia bermaksud untuk menakutinya, tetapi sepertinya Dewi tak terusik sedikitpun.
Kini tatapan mereka bertemu, Haikal menatap Dewi begitu dalam. "Katakan apa yang kamu inginkan?" Tanya Pria itu begitu dekat sehingga nafas hangatnya menyapu wajah Dewi.
"A-aku, aku ingin Bapak pulang, jangan lakukan hal itu, jangan mencari pelarian hanya karena Bapak sedang patah hati," balas Dewi sembari menatap mata teduh itu.
Haikal tersenyum, seakan meremehkan ucapan wanita itu. "Jika aku tidak mau, kamu mau apa?"
"Jika Bapak tidak mau, maka aku rela menjadi wanita itu untuk memenuhi keinginan Bapak."
Haikal terkesiap mendengar ucapan Dewi. Dia masih belum mengerti dengan segala maksud mahasiswi kedokteran itu. Kenapa dia rela ingin mengorbankan harga dirinya.
__ADS_1
Haikal menjarakkan tubuhnya dan menatap wajah cantik yang ada dihadapannya.
"Katakan alasanmu melakukan semua ini padaku? Untuk apa?"
"Karena, aku, aku mencintai Pak Haikal."
Kembali Pria matang itu spot jantung mendengar ucapan gadis itu. Ia berusaha menetralkan perasaan yang sedang tak menentu.
"Jangan ngocok kamu Wi, ayo pulang." Haikal membuka jaketnya dan menyampirkan di tubuh Dewi yang terbuka.
"Tidak, aku tidak mau!" Dewi menepis tangan Haikal yang menariknya untuk keluar dari kamar, wanita itu merasa kesal karena Haikal tak menanggapi ucapannya yang tanpa sengaja telah mengungkapkan perasaan yang selama ini ia simpan rapi.
"Wi, kamu ini sebenarnya mau apa sih? Ayo sekarang pulang!" bentak Haikal kesal
"Aku mau Bapak menanggapi ucapanku yang tadi, kenapa Bapak begitu acuh? Apakah bapak tahu, perasaan itu sudah empat tahun aku simpan rapi, aku tahu Bapak tidak pernah melihat betapa aku mencintai dan menyayangi Bapak, tapi malam ini aku membuang semua harga diriku agar Bapak mengerti dengan perasaanku!"
Dewi mengeluarkan segala yang ia simpan selama ini, persetan dengan harga diri, karena Haikal juga sudah mengetahui semuanya.
Haikal menatap gadis cantik itu, tetapi apa yang harus ia katakan, karena jujur saja ia tidak mempunyai perasaan apapun terhadap gadis itu.
"Wi, aku harus menanggapi bagaimana? Jujur aku tidak mengerti. Apakah aku harus berpura-pura dengan perasaanku yang nantinya akan menyakitimu?"
Seketika air mata gadis itu luruh, rasanya sakit sekali saat cinta tak terbalaskan. Wanita itu berusaha untuk tetap tenang.
"Baiklah, Terimakasih Bapak sudah jujur, tapi aku mohon biarkan aku tetap mencintai Bapak hingga aku lelah. Ayo kita pulang sekarang, jika Bapak masih ingin meniduri seorang perawan,maka aku rela menjadi perawan itu untuk Bapak malam ini, Aku ikhlas."
Haikal memicingkan matanya, sungguh wanita yang rumit. "Ayo kita pulang sekarang!" Ajaknya sembari meraih tangan Dewi.
Dewi kembali menarik tangannya. Dan menatap curiga pada Pria dewasa itu.
"Apalagi, Wi?" Tanya Haikal tidak mengerti.
"Apakah Bapak akan kembali lagi kesini?"
Pria itu menghela nafas panjang. Kenapa cewek sulit sekali dimengerti. "Tidak. Aku tidak akan kembali lagi, ayo sekarang kita pulang!"
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰