
Arsen segera masuk kedalam ruangan itu. Dengan langkah lebarnya mencari keberadaan sang Putra.
"Alif....! Kamu dimana, Nak? Daddy datang Sayang." Seru Arsen sembari mencari disetiap ruangan yang ada.
"Waow.... Ternyata kamu datang juga, Sayang, kamu memang Pria yang selalu konsisten dengan ucapan." Maura keluar dari sebuah kamar dengan senyum lebar.
"Mau apa kau Maura? Mana anakku? Cepat serahkan!!" Bentak Arsen mendekati wanita itu.
"Saba lah kejap, Sayang, awak dah bawa Pak penghulu, jom lah kita nikah dulu. Lepas tu baru awak dapat jumpa dengan Alif," ujar Maura menagih janjinya.
"Jangan gila kamu Maura! Kamu sudah tahu bahwa aku tidak mungkin melakukan itu. Aku tidak mau menghianati istriku!" Jelas Arsen, sembari menahan amarah.
"Kau harus menikahi aku! Aku tidak rela kau hidup bahagia bersama wanita tu. Sebab akulah orang yang temani kau selama ini! Aku masih cinta dengan awak. Kenapa awak tak ngerti perasaan aku!!"
Maura tak kalah emosi, dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu masih belum rela melepas Arsen, karena Arsen adalah cinta pertamanya, kini Pria itu begitu mudah melupakannya.
"Tutup mulutmu itu Maura! Semua sudah berlalu. Aku tidak ingin menyakiti perasaan istriku. Jangan mengungkit masalalu lagi, semua berawal dari kebodohanmu sendiri. Hanya karena karir kau rela menjadi wanita murahan!!"
"Daddy....! Pekik Alif berlari menyongsong Arsen.
"Berhenti kau anak kecil!" Maura mengeluarkan senpi yang Adi saku bajunya dan mengarahkan pada bocah kecil itu. Arsen terkesiap melihat hal itu.
"Apa yang kau lakukan Maura! Turunkan senjatamu! Jangan coba-coba kau menyakiti anakku!"
"Hahahaha.... Jangan coba-coba? Hng! Jika kau tak menuruti keinginanku maka aku akan mencobanya sekali tembakan pada dada sisi kiri anakmu!"
Saat Arsen hendak maju. Pengawal Maura yang sedari tadi mendampingi sudah menodongkan senjata pada Arsen. Sehingga Pria itu ikut menghentikan langkahnya.
"Daddy..." Panggil Alif ketakutan dengan tubuh bergetar.
"Jangan takut Sayang, Daddy ada disini." Arsen memberi kode pada Pria yang menyamar sebagai penghulu itu, untuk memainkan perannya.
Seketika itu, tanpa aba-aba, Pria itu menembak pergelangan tangan Maura sehingga pis tolnya jatuh, dan Arsen segera menyikut Pria yang ada di sisinya itu.
Perkelahian tak bisa di elakkan. Kedua Pria itu terlibat adu jotos, karena pistolnya telah jatuh. Arsen yang memang mantan mafia, maka dengan mudah melumpuhkan lawannya.
__ADS_1
Sementara itu Maura yang sedari tadi menahan rasa sakit. Maka, ia berniat ingin mengambil senjatanya kembali dengan tangan kirinya. Tetapi Pria tadi segera menendang pis tolnya.
"Bos, ayo segara bawa anaknya, wanita ini biar aku yang urus!" Ujar Pria yang diketahui adalah mantan anak buah Arsen. Dan sekarang dialah yang menggantikan posisinya di dunia hitam itu.
Arsen segera mengambil Alif, bocah itu sudah begitu ketakutan sehingga ia menutup kedua matanya, saat melihat pertarungan orang dewasa itu.
"Sayang, ini Daddy." Arsen menyentuh bahu sang anak.
"Daddy! Alif takut Dad. Alif ingin pulang!" Tangis bocah itu pecah sembari masuk kedalam gendongan sang ayah.
"Jangan takut, Sayang, Daddy ada disini yang akan selalu melindungi kamu. Ayo kita pulang sekarang ya." Arsen segera meninggalkan ruangan itu.
"Kau berhati-hatilah!" Peringatan Arsen pada anak buahnya.
"Siap Bos, jangan cemas, anak buahku sudah berada diluar."
Setibanya diluar, Arsen melihat orang suruhan Maura sudah tergeletak. Arsen segera meminta pada salah seorang anak buahnya untuk mengantarkannya pulang, ia masih mendekap Alif dalam gendongannya.
Diperjalanan pulang, Arsen berusaha menenangkan Alif, bocah itu masih tampak ketakutan.
"No, Daddy, tapi meleka bentak-bentak Alif." Adu bocah itu dalam dekapannya sang ayah.
"Sudah, sekarang jangan takut lagi ya, mereka tidak akan berani menyakiti kamu." Arsen mengusap punggung Alif dan mengecup wajahnya.
"Benalkah, Dad? Meleka pasti sudah takut, kalena Daddy, hebat, Daddy sepelti supel Hilo!" Celoteh bocah kecil itu menyamakan Daddynya dengan super Hiro. Dia sudah mulai tenang
Arsen tersenyum, sembari memeluk dan mencium Putra kesayangannya. "Benarkah Daddy hebat?"
"Benal, Dad, tadi Daddy memukul olang jahat itu. Meleka jatuh."
"Baiklah, kalau begitu Alif tidak takut lagi 'kan?" Tanya Arsen masih berusaha untuk menghibur, ia takut jika psikis anaknya terganggu karena kejadian itu.
"Tidak, Daddy, kalena Alif mempunyai Daddy yang sangat hebat."
Arsen tertawa kecil mendengar ucapan yang keluar dari bibir bijak putranya. Hatinya sudah mulai lega karena Alif sudah tenang dan kembali rileks. Bersyukur sekali mental bocah itu kuat.
__ADS_1
Sementara itu Aurel dan Mommy, begitu gelisah. Aurel tak berhenti menangis, Daddy dan Mommy berusaha menenangkan wanita hamil itu.
"Aurel, tenanglah! Kamu jangan seperti ini. Ingat kandungan kamu, Nak. Percayalah pada Daddy, Arsen dan Alif pasti baik-baik saja." Daddy berusaha menghibur anak menantunya itu.
"Tapi aku benar-benar takut, Dad, Mas Arsen masih belum pulih. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka? Hiks..."
"Sayang, ayo duduklah. Kamu harus tenang ya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita sama berdo'a, semoga mereka baik-baik saja."
"Mommy meraih tangan Aurel dan membawanya duduk untuk menenangkan diri. Saat Mommy dan Daddy berusaha menghibur Aurel.
"Bunda..." Panggil Alif yang tiba-tiba masuk segera berlari ke arah Bundanya.
"Alif! Alhamdulillah ya Allah, kamu baik-baik saja Sayang? Mana yang sakit, Nak? Apakah mereka menyakiti kamu?" Tanya Aurel beruntun sembari memeluk dan memeriksa tubuh sang putra.
"No, Bunda, Alif baik-baik saja, Bunda tidak pelu cemas. Daddy supel Hilo. Olang jahat itu dikalahkan oleh Daddy," adu bocah itu pada Bundanya dan juga Oma Opanya.
"Daddy? Mana Daddy, Nak?" Tanya Aurel tak melihat keberadaan sang suami.
"Daddy, tadi ada di lual." Jawab bocah itu dengan bicara cadelnya yang belum bisa menyebut huruf R.
Aurel segera mencari keberadaan suaminya, ia takut terjadi sesuatu pada ayah anaknya itu. Setibanya di depan pintu Arsen sudah berdiri disana.
"Mas!" Aurel memeluk tubuh itu. Ia begitu takut terjadi sesuatu pada suaminya. "Mas, apakah kamu terluka?" Aurel segera menaikan baju bagian atas Arsen. "Ya Allah, ini berdarah, Mas!"
Aurel terkejut dan menutup mulutnya. Ia menatap wajah suaminya. Dia takut luka bekas operasinya akan rusak dan infeksi.
"Tenanglah, Sayang, aku baik-baik saja! Ini tidak masalah." Arsen berusaha menenangkan wanita itu.
"Tapi ini berdarah, Mas! Aku takut luka kamu akan infeksi. Ayo kita ke RS sekarang!"
"Sayang, aku tidak apa-apa! Sudahlah, kamu jangan cemas begitu! Ayo kita masuk sekarang. Kalau hanya untuk mengganti perban, kamu pasti bisa kan? Masa seorang calon dokter tidak bisa."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1