Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Melahirkan


__ADS_3

Hari ini Aurel tidak bersemangat untuk mengikuti mata kuliahnya. Wanita itu nampak banyak melamun. Ia masih teringat ucapan Maura, masih belum percaya jika Arsen telah kembali dengan mantan tunangannya.


"Ingin marah ataupun protes tapi tak punya hak, tapi hatinya mendadak ngilu menerima kenyataan itu. Maka Aurel kembali menguatkan batinnya.


Mungkin mulai saat ini ia harus melupakan Ayah dari anaknya itu. Walaupun tak bisa dipungkiri rasa cinta hadir dihatinya belakangan saat dirinya telah berhasil menepi, mengobati batinnya yang terluka.


Namun, ekspektasi tak sesuai realita, Aurel harus mengubur perasaan yang mulai tumbuh, ia memutuskan menjalani kehidupannya hanya berdua dengan sang anak.


"Haii... Melamun saja bumil, ada apa? Nggak biasanya aku lihat kamu tidak bersemangat begini?" Tanya Dewi sembari duduk di sisi Aurel.


"Eh, Wi. Nggak, aku nggak ngelamun kok," jawab Aurel datar


"Rel, kamu memang mengurangi mata kuliah kamu ya?"


"Iya, Wi. Untuk saat ini aku hanya mengambil satu mata kuliah, karena sebentar lagi aku akan melahirkan, jadi dokter melarang jika terlalu banyak beraktivitas."


"Oh, begitu ya! Oh ya, Rel, Semalam aku lihat kamu pulang diantar oleh pak Haikal ya?" Tanya Dewi yang membuat Aurel terkesiap.


"Ah, i-iya, Wi. Kemaren aku sedang buru-buru ingin ke RS. Jadi aku terpaksa menerima tawaran Pak Haikal," jelas Aurel dengan jujur.


"Rel, sepertinya Pak Haikal menyukai kamu deh!"


"Ya ampun, nggak usah ngarang kamu,Wi! Mana ada orang setampan dan sebaik Pak Haikal menyukai wanita hamil seperti aku ini dan juga sudah bersuami? Udah nggak usah aneh-aneh kamu! Tenang saja aku nggak akan gangguin gebetan kamu itu. kalo sama kamu mah, baru cocok!"


"Gebetan, tapi dia tidak pernah ngelirik aku tuh! Malahan aku melihat dia selalu memperhatikan kamu, dia selalu tanyain jika kamu tidak masuk kuliah. Aku sih pengen juga dapat perhatian dan beasiswa seperti kamu dari pak Haikal," Ujar Dewi mendadak melow.


"Hah? Beasiswa? Bukankah kamu mampu ya bayar mandiri?" Tanya Aurel yang memang sampai saat ini masih belum tahu tentang kehidupan Dewi.


Dewi tersenyum mendengar ucapan Aurel, mungkin sahabatnya itu memang belum tahu bagaimana perjuangannya untuk bisa berada di universitas itu. Dewi menyimpan segala kesulitan hidupnya agar tak ada seorangpun yang tahu.


***


Tak terasa waktu berjalan, kini kandungan Aurel sudah berjalan minggu ke 36 ia sudah menunggu HPL. Aurel sudah mengambil cuti kuliah, dia hanya fokus dengan pekerjaannya.


Siang ini saat ia baru saja keluar dari restoran untuk pulang, tiba-tiba perutnya keram dan meerasa sangat tidak nyaman.


Aurel menahan sakit di perutnya sembari duduk gelisah di halte busway. Semua serba tidak nyaman semakin lama sakit itu semakin kuat.

__ADS_1


Aurel mencoba menahan, dan tiba-tiba sakit itu hilang, dan dimenit berikutnya sakit kembali. Aurel masih awam maka dia tidak tahu bahwa itu adalah tanda-tanda orang akan melahirkan.


Saat Aurel masih fokus menikmati kontraksi awal, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.


"Rel... Kamu kenapa?" Tanya Haikal sudah turun dari mobilnya dan menghampiri Aurel yang terlihat sedang menahan sakit.


"Pak Haikal! Nggak tahu nih Pak, perut saya tiba-tiba sakit," lirih Aurel masih menahan.


"Apakah kita ke RS sekarang? Mungkin kamu ingin melahirkan," jelas Haikal.


"Masa sih? Tapi semua perlengkapan bayi saya masih dirumah, Pak!"


"Itu gampang nanti kamu minta tolong tetangga atau saudara untuk mengantarkan, yang penting kamu ke RS dulu biar di periksa ya!"


Karena tak tahan Aurel di temani oleh Haikal masuk ke RS swasta yang ada di samping restoran tempat ia bekerja, karena biasanya Aurel periksa kandungan juga disana.


Setelah sampai Aurel segera masuk diruangan persalinan untuk segera diperiksa. Benar saja, pintu lahir sudah buka dua.


Sementara itu Haikal mencari tempat yang aman menghubungi Arsen untuk memberi kabar bahwa istrinya akan segera melahirkan.


Baiklah, sekarang juga aku akan berangkat! Haikal, tolong kabari aku setiap saat.


Dari siang hingga kini jam sepuluh malam namun pintu lahir tak bertambah, dokter sudah mengambil keputusan untuk menempuh jala Caesar.


Aurel juga sudah kehabisan tenaga menahan sakit maka ia menerima saja arahan dari dokter obgyn itu.


Arsen bergegas menuju RS yang telah di Sherlock oleh Haikal, setelah sampai Haikal sudah menunggu di lobby RS.


"Hai, Bro! Kangen banget aku sama kamu!" Ujar Arsen bersalaman ala manly,


"Aku juga kangen, lama tidak mendapat kabar darimu tahu-tahunya memintaku jadi mata-mata istri kecilmu itu! Benar-benar kawan tak berakhlak!" Sungut Haikal


"Hahaha... Sorry kawan aku bukan melupakanmu, karena aku benar-benar sibuk."


"Hah! Alasan saja. Yasudah ayo kita temui dokter sekarang, dokter ingin bertemu dengan suami pasien. Jangan membuatku repot lagi untuk berperan menjadi suami palsu istrimu!"


"Hahaha... Baiklah, baiklah. Ayo!"

__ADS_1


Mereka segera menuju ruang tunggu yang ada di depan kamar bersalin. Arsen merasakan jantungnya berdebar tak karuan, setelah berpisah selama 6 bulan dengan sang istri, maka hari ini ia berada di RS akan menemani istri dan anaknya untuk proses persalinan.


Arsen ingin sekali menemui Aurel, rasa rindu yang begitu dalam ingin rasanya meluapkan segalanya. Tapi apalah daya, dirinya telah berjanji tidak akan pernah muncul dihadapan wanita itu lagi sebelum dia yang menginginkan.


Bahkan sampai saat ini Aurel tak pernah menghubunginya. Arsen merasa bahwa Aurel sudah bahagia tanpa kehadirannya.


"Suami Ibu Aurel?" Panggil sang dokter.


"Ah, ya. Saya Dok!" Jawab Arsen.


"Loh, Bapak suaminya ibu Aurel? Saya kira Simas nya," ujar sang dokter sedikit heran sembari menunjuk Haikal.


"Bukan, dia teman saya, tadi saya minta tolong antar ke RS karena saya sedang berada di luar kota," jelas Arsen.


"Oh, begitu. Mari Pak, ikut saya keruangan!"


Arsen bergegas mengikuti langkah Dokter masuk kedalam ruangannya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


"Begini Pak, kami sudah menunggu dari tadi siang hingga sekarang namun, jalan lahir tidak bertambah, dan ketuban juga sudah pecah, tapi kepala bayi tidak masuk panggul. Jadi kami menyarankan agar segera Caesar, kita sudah tidak bisa menunggu karena ketuban sudah kering maka akan berdampak buruk pada bayi," jelas Dokter panjang lebar.


"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya! Kalau saya boleh tahu apa penyebabnya Dok?" Tanya Arsen begitu cemas.


"Banyak faktor penyebabnya, Pak. Mungkin Ibu Aurel kelelahan, karena dari pernyataannya dia adalah seorang mahasiswi. Benar begitu, Pak?"


"Iya, benar, Dok."


"Nah, itulah membuat bayi juga ikut lelah dan tidak berdaya memacu tubuhnya untuk mendorong masuk kedalam panggul sang Ibu. Dan ada lagi faktor yang mungkin menjadi salah satu penyebabnya. yaitu Ibu Aurel juga masih tergolong cukup muda. Jadi untuk menghadapi dekatnya hari persalinan dia masih sangat awam," Dokter itu kembali menjelaskan panjang lebar.


Arsen merasa bersalah karena telah membiarkan Aurel melaluinya sendiri. Tetapi lagi-lagi Pria itu tak bisa berbuat apa-apa, karena ia tidak ingin mengingkari janjinya pada Aurel.


"Dokter, tolong berikan yang terbaik untuk istri dan anak saya. Berapapun biayanya akan saya berikan!"


"Baiklah, Pak. Kami akan segera mengambil tindakan. Silahkan temui istri anda dulu untuk memberinya semangat, agar rasa cemasnya tidak terlalu, karena dukungan seorang suami sangat berpengaruh terhadap istri anda."


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2