Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Kado ulangtahun


__ADS_3

"Kamu!" Haikal menatap wanita yang pernah menjadi tunangannya, tetapi yang dia anggap hanya sebagai adik tak lebih dari itu.


Dewi hanya diam disamping Haikal, tangannya masih memegang lengan Haikal. Dewi sudah tahu siapa wanita yang ada dihadapannya, karena dia juga sudah pernah bertemu saat Andin datang bersama Mama Hema.


"Ya, aku. Kenapa kaget? Miris ya, seorang Dosen menikahi pembantunya sendiri. Atau jangan-jangan kamu sudah di jebak olehnya sehingga kamu harus bertanggungjawab!"


"Apa yang kamu katakan, Andin? Jaga ucapanmu!" Sanggah Haikal, Sudah mulai emosi.


"Udah biarkan saja, Mas! Biarkan dia berasumsi sendiri. Toh nggak ngaruh dengan aku sama sekali!" Balas Dewi tersenyum miring menatap wanita itu.


Haikal sedikit terkejut mendengar dan melihat ekspresi istrinya. Dia mengira Dewi akan tersinggung dan menangis.


"Dasar pelakor!" Balas Andin dengan amarah memuncak, karena melihat tanggapan Dewi yang begitu slowly, membuat darahnya panas.


"Pelakor? Apakah aku tidak salah dengar. Emang sejak kapan kamu menikah dengan suamiku? Dengar ya, Mbak. Anda itu hanya mantan tunangan yang tak di inginkan oleh suamiku sama sekali! Dan tunangan itu terjadi karena adanya paksaan dari kedua belah pihak. Jadi, Mas Haikal berhak memilih wanita yang dia cintai."


"Tutup mulutmu! Jangan sok tahu kamu wanita murahan!" Andin tak bisa menahan emosinya dia melayangkan tangannya untuk menampar Dewi. Haikal segera menahan tangan itu sehingga berhenti di udara.


"Dengar, Andin! Jangan pernah kamu menyakiti istriku. Apa yang dikatakan oleh Dewi benar adanya. Karena aku dari dulu hingga sekarang, hanya menganggapmu sebagai adik. Jadi, sudahlah! Jangan ganggu kami lagi!"


Haikal menghempaskan tangan Andin. Wanita itu menatap tajam pada kedua pasangan suami-istri itu.


"Dengar, Mas! Kamu harus bayar semua rasa sakit hatiku. Sampai kapanpun aku tidak pernah memaafkan kalian!" Ujar wanita itu dan segera berlalu.


Dewi dan Haikal menatap kepergian Andin. Ternyata wanita itu menyimpan dendam yang belum usai.


"Ayo kita pergi sekarang, jangan pikirkan." Haikal Kembali menggandeng tangan Dewi.


"Kamu kok beda ya," ucap Haikal menggusal kepala istrinya.


"Beda? Maksud kamu?" Tanya Dewi tak mengerti.


"Iya, nggak nyangka aja, biasanya Dewi yang aku kenal sangat lembut, tapi saat berhadapan dengan saingan sikapnya berubah seperti singa jantan. Hehe..." Haikal tertawa lucu.

__ADS_1


"Ish, ngatain istri sendiri kayak singa. Aku itu tidak akan pernah terlihat lemah di depan orang yang jahat, kecuali orang yang aku cintai, maka hatiku akan mudah luluh. Bahkan aku rela mengalah, tapi tidak untuk musuh!"


"Ya ampun, makin cinta deh sama kamu, Dek, kalau seperti ini mana mungkin aku bisa berpaling darimu."


"Udah ah, nggak usah memuji terus, nanti aku bisa terbang. Tapi, serius nanya, kalau ada seseorang yang mendekati aku, apakah kamu juga akan memperjuangkan aku, Mas?" Tanya Dewi penasaran.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Tentu saja aku akan memperjuangkan kamu. Kecuali kamu sendiri yang menginginkan Pria itu, maka dengan berat hati aku sendiri yang akan menikahkan kamu dengan lelaki itu."


Jawaban Haikal membuat hati Dewi perih. Dewi menatap Haikal dengan dalam. "Kenapa Mas bicara seperti itu?"


"Terus, aku mau bicara apa, Sayang? Jika hati kamu yang tak menginginkan aku lagi, maka, aku tidak akan mungkin memaksa. Cinta itu tidak egois, Dek, walaupun hatiku hancur, aku akan mengutamakan kebahagiaanmu."


Tiba-tiba Dewi memeluk Haikal. "Udah, jangan diteruskan, Mas, aku tidak ingin lagi mendengarnya. Bagiku tidak akan pernah ada lelaki lain dihatiku selain dirimu."


"Terimakasih, Sayang, begitu juga diriku. Kembali aku tekankan, jika ada lelaki lain mengganggu dirimu, maka, aku rela mati untuk melindungimu. Karena kamu Istriku dan milikku seutuhnya."


Dewi tersenyum bahagia, merangkul pinggang Haikal, sembari berjalan mengikuti langkah Pria itu. Pasangan itu terlihat begitu mesra, mereka tak peduli menjadi tontonan banyak mata.


Haikal membawa Dewi ke sebuah toko perhiasan yang ada di mall itu. Dia ingin mengambil barang yang telah ia pesan pagi tadi.


"Ayo duduk disini, nggak usah banyak nanya, bumil dilarang protes dan harus nurut sama Papa Tampan." Intrupsi Haikal, yang membuat Dewi tersenyum gemas melihat polah suaminya.


Dewi hanya mengangguk patuh dan duduk tenang di kursi yang ada di toko perhiasan itu. Haikal segera mengambil pesanannya dan melakukan transaksi.


Dua buah kotak beludru Haikal bawa kehadapan Dewi. "Ini buat kamu, Sayang, kado ulang tahun dariku," ujarnya menyerahkan satu kotak. "Dan yang ini untuk kita berdua." Haikal membuka kotak itu dan memperlihatkan sepasang cincin kawin, yang terbuat dari emas putih.


Dewi tersenyum, matanya berkaca-kaca menatap cincin kawin itu. Wanita itu menangis bukan karena mendapatkan hadiah mahal, tapi, dia terharu karena Haikal benar-benar membuktikan cintanya, dengan menyematkan cincin kawin, menandakan mereka sudah terikat satu sama lain.


"Mana jari manis kamu, Sayang." Dewi segera memberikan jarinya, Haikal segera menyematkan cincin itu.


Dewi juga menyematkan cincin untuk Haikal, dengan penuh haru ia mengecup tangan suaminya. "Terimakasih ya,Mas. Aku benar-benar bahagia memiliki lelaki seperti dirimu."


Haikal mengecup kening istrinya, dan kembali mendekap tubuh Dewi. "Berjanjilah untuk selalu bersamaku, Sayang, jadilah ibu dari anak-anakku, kita akan membesarkan buah cinta kita bersama."

__ADS_1


"Iya, Mas, aku janji tidak akan pernah pergi, aku selalu ada bersamamu."


Setelah menyematkan cincin, Haikal Kembali memakaikan sebuah kalung yang ada di kotak yang satu lagi. Jangan ditanya bagaimana perasaan Dewi saat itu. Dia tak bisa menggambarkan rasa bahagianya.


Kini pasangan suami istri itu pulang dengan hati yang berbunga-bunga, disepanjang perjalanan senyum bahagia selalu mereka ukirkan.


"Sudah pulang kencannya?" Tanya Mama Hema, berpapasan dengan pasangan itu yang hendak masuk kedalam kamar.


"Eh, Mama, iya nih. Mama belum tidur?" Tanya Haikal


"Belum, Mama sengaja nungguin kalian pulang. Ada yang ingin Mama bicarakan."


"Apa itu Ma?" Tanya Haikal.


"Ayo kita bicarakan sekarang." Ajak Mama menuju ruang tamu.


Dewi menatap Haikal sedikit cemas. Apakah kira-kira yang akan di bicarakan sang Mama.


"Udah, nggak usah cemas begitu, Ayo." Haikal merangkul bahu Dewi dan mengikuti langkah sang Mama.


"Begini, Mama ingin membicarakan tentang resepsi pernikahan kalian. Kapan kalian punya waktu?" Tanya Mama pada anak dan menantunya.


"Bagaimana, Dek?" Tanya Haikal pada Dewi minta pendapat.


"Aku sih, ikut kamu saja, Mas."


"Menurut Mama kapan bagusnya?" Tanya Haikal ingin ikut rencana Mamanya saja.


"Minggu depan gimana? Karena menurut Mama lebih cepat lebih baik, sebelum kandungan istrimu membesar." Mama memberi solusi.


"Hmm, baiklah. kami ikut Mama saja, besok aku akan mengurus segala dokumen nikah, dan segera akan memasukkan ke kantor urusan agama."


"Oke, kita sepakati minggu depan ya."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2