
Sebulan berlalu semenjak Arsen pulang dari RS, namun, sikap Aurel masih tetap dingin. Tak banyak yang berubah, wanita itu akan bicara bila perlu saja.
Arsen selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahannya, tetapi rasa kecewa istrinya sudah terlalu dalam, bahkan Aurel sudah tidak mau tidur seranjang dengannya.
Suatu Pagi Arsen sudah bersiap ke kantor, ia tak mendapati sang istri sedari dia bangun tidur. Rasa penasaran dan cemas mengusik hatinya. Pria itu berdiri di balkon kamar dan menatap kebawah.
Arsen menemui sosok yang ia cari. Ya, wanita itu memang sering duduk melamun di bawah pohon palem yang ada di taman belakang mansion itu.
Arsen memperhatikan dari kejauhan ia melihat Aurel menghapus air matanya. Hatinya bagaikan disentil. Sakit, ya itulah yang dirasakan oleh pria itu saat melihat wanita yang sudah mulai mengisi hatinya selalu bersedih.
Arsen menyesali segala perbuatannya, hati wanita itu begitu kecewa bahkan sampai saat ini ia tidak pernah melihat sang istri tersenyum, yang ada hanya tangisan.
Apakah tak ada lagi kesempatan baginya untuk memperbaiki segala kesalahannya? Apa yang harus ia lakukan agar wanita itu mau memaafkan. Arsen menghirup udara sepenuh dada sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Pria itu menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang sang istri. Setelah selesai bertelponan, Arsen segera beranjak ke kantor.
"Makcik, pastikan Aurel selalu makan, berikan apapun yang dia mau!" Pesan Arsen pada Makcik Leha.
"Baik, Tuan. Sarapan lah dulu, Makcik dah siapkan sarapan untuk Tuan,"
"Tidak, Makcik, saya sarapan diluar saja. Hari ini jadwal saya penuh," jelas Arsen sembari meninggalkan kediamannya.
***
Suatu malam seperti biasanya, saat Arsen pulang Aurel sudah tertidur di sofa, maka Pria itu akan bertugas memindahkan istri kecilnya ke atas ranjang dan digantikan dirinya yang tidur di sofa, karena Aurel sudah tidak ingin tidur satu ranjang dengannya.
Namun, saat Arsen membaringkan tubuh Aurel, Pria itu menatap wajah cantik nan polos itu penuh hasrat, sudah beberapa bulan ia tak pernah menyentuhnya.
Arsen mengecup bibir mungil itu dengan lembut, lalu melu matnya dengan dalam sehingga yang empunya membuka mata.
__ADS_1
Aurel mendorong tubuh Arsen agar menjauh, ia segera beringsut menghindari. Rasa takut dan trauma atas perlakuan Arsen masih ia rasakan.
Arsen yang telah terbakar gairah, kembali mencoba menyentuh Aurel sedikit memaksa, namun wanita itu tetap memberontak dan menghindar hingga ia menangis sesenggukan
Ya, semenjak hamil perasaannya terasa sangat sensitif. Apalagi perlakuan kasar Arsen kepadanya masih selalu tersimpan dalam memory ingatannya.
"Maafkan aku!" Arsen segera melepaskan wanita itu dari kungkungannya.
Aurel hanya diam tak menjawab apapun. Dia menutup mata namun, cairan bening masih mengalir dari sudut matanya.
"Aurel, katakan kepadaku! Apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku dan bagaimana caranya aku bisa membuat kamu tersenyum dan bahagia?" Tanya pria itu dengan putus asa
Aurel yang mendengar hal itu segera membuka mata. Ia menatap pria itu dan mencoba melihat kesungguhan dimatanya.
"Aku ingin akhiri pernikahan kontrak ini, dan biarkan aku pulang ke Indonesia. Biarkan aku hidup tenang tanpa ada ikatan apapun lagi dengan Tuan!" Jawabnya tegas dan jelas.
Pria itu sudah memutuskan untuk menikahi Aurel dengan resmi dan akan memberitahukan kepada kedua orangtuanya, tapi harapan itu Seketika pupus saat mendengar keinginan sang istri.
"Baik, tidurlah sekarang! Besok pagi aku akan mengantarkanmu kepelabuhan!" Ucapnya memenuhi keinginan Aurel meskipun menahan rasa sakit yang teramat dalam.
Aurel sedikit terkejut mendengar pernyataan suami kontraknya itu, ada sedikit perasaan aneh dihatinya saat Arsen memenuhi keinginannya, tetapi perasaan itu segera ia tepis jauh-jauh dan ia ganti dengan perasaan bahagia yang teramat besar karena dapat terlepas dari pria itu.
Dengan keputusan bulat Aurel memilih pulang ke Indonesia, ia akan merawat sang anak saat lahir nanti. Gadis itu masih mempunyai keinginan untuk melanjutkan kuliahnya, setibanya di kampung halaman nanti, ia akan menanyakan kembali tentang beasiswa yang didapatkan dari pihak sekolah.
Aurel berpikir tidak ada salahnya kuliah saat hamil, yang penting dirinya mampu tetap menjaga kesehatan janinnya.
Pagi ini Aurel bersemangat untuk bangun lebih awal, karena dia akan segera pulang ke kampung halamannya. Walaupun Empat bulan ia menjalani pernikahan kontrak itu namun, menyimpan banyaknya kenangan.
Kenangan itu teramat pahit untuk dikenang. Tidak ada kebahagiaan yang ia dapatkan, namun, ada suatu hal yang akan dia ingat atas kebaikan Tuan Arseno, yang telah bermurah hati melepaskan dirinya dari ikatan penderitaan itu.
__ADS_1
Mungkin orang akan menganggap dirinya wanita bodoh telah mengambil keputusan disaat Tuan besar itu bermurah hati mau merubah sikapnya, tapi Aurel sudah tak mempunyai kepercayaan lagi dan rasa kecewa dan trauma membuatnya ingin terlepas dari suami kontraknya.
Wanita itu rela membesarkan anaknya kelak seorang diri walaupun tanpa seorang suami, yang terpenting dia bisa lepas dari belenggu Tuan kejam.
Aurel mengemasi segala barang-barangnya. Dan menyatukan di satu koper bawaannya dulu saat pertama datang.
"Aurel, apakah kamu sudah yakin dengan keputusan ini?" Tanya Arsen baru selesai mandi duduk dihadapan sang istri dengan wajah sendu.
"Saya yakin Tuan, biarkan saya hidup dengan tenang. Maaf jika saya sudah ingkar atas perjanjian kontrak nikah ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas kemurahan hati Tuan mau melepaskan saya sebelum kontrak berakhir," ucapnya dengan suara tercekat, entah kenapa hatinya merasa sedih namun, ia tidak tahu rasa sedih itu untuk apa.
Arsen berjalan mengambil sesuatu didalam laci, sepasang buku nikah resmi dari kewarganegaraan Indo nesia, ia memberikan kepada Aurel.
"Aurel, ini buku nikah resmi kita. Kamu simpanlah! Aku yakin ini akan berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang atas kehamilanmu, dan juga pengurusan dokumen penting untuk anak kita kelak."
"Kamu tidak perlu khawatir! Aku tidak akan pernah muncul dihadapanmu lagi kecuali kamu yang meminta, jika kamu butuh tandatanganku suatu saat nanti, kamu bisa telpon aku maka orang suruhanku akan mengambil berkas itu."
"Ini ada kartu kredit nafkah dariku untuk bayi yang ada dalam kandunganmu. Kamu tidak perlu sungkan untuk menggunakannya."
Aurel tak bisa berkata-kata, kenapa kesannya Arsen tak melepaskannya karena Pria itu membekali dirinya dengan fasilitas yang ia berikan.
"Maaf, Tuan, saya tidak bisa terima apapun dari Anda kecuali buku nikah ini," tolak Aurel, karena dia tidak ingin masih bergantung dengan uang pria itu kecuali buku nikah itu memang perlu baginya untuk pengurusan Dalam kuliahnya nanti.
Aurel masih heran bagaimana Pria itu bisa mengurus buku nikah resmi padahal dia berwarganegara berbeda dengannya. Tapi pikiran itu segera ia tepis, apa sih yang tak bisa dengan orang kaya raya seperti dirinya.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🥰
Happy reading 🥰
__ADS_1