
Lina tak menjawab pertanyaan Doni, ia segera nyelonong masuk. Tentu saja membuat Doni semakin heran.
"Lina, kamu kenapa datang kesini? Apakah kamu tidak takut akan mendapatkan masalah dengan ayahmu?" tanya Doni kembali, sembari mengikuti langkah Lina.
Wanita itu menatap Doni dengan wajah sendu, seketika air matanya jatuh. Lina memeluk Doni begitu erat. "Mas, bawa aku pergi dari kota ini. Kita bisa menikah tanpa restu mereka," jelas wanita itu memberi solusi.
"Doni membalas pelukan sang kekasih. Dia masih begitu mencintai Lina, tetapi hubungan mereka dipaksa harus putus, karena Lina akan segera menikah.
"Jangan, sayang, kita tidak akan pernah bahagia bila menikah tanpa restu orangtua." Doni mencoba menyadarkan sang kekasih.
"Jadi, Mas tega membiarkan aku menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai? Aku hanya cinta dengan kamu, Mas!" tangis wanita itu pecah.
"Sssth.. Tenanglah, Sayang. Jangan menangis."
"Bagaimana aku bisa tenang, Mas? Kamu tega membiarkan aku menikah dengan orang lain. Atau jangan-jangan kamu memang tak mencintai aku lagi."
"Bukan begitu maksudku, Sayang, aku juga sangat mencintai kamu. Tapi, aku tidak mau menikah tanpa restu orangtua."
Tak berapa lama hujan turun di pagi hari. membuat suasana menjadi sendu, begitu juga dua insan yang sedang dilema.
Pelukan mereka semakin dalam. Entah siapa yang memulai sehingga bibir mereka telah menyatu. helaan nafas mereka beriringan dengan turunnya hujan. Semilir angin menghembus masuk di celah yang ada, sehingga membuat kedua insan yang larut dalam rindu menumpahkan segala rasa yang menumpuk.
Tanpa mereka sadari, bahwa keintiman telah berada semakin dalam. Dinginnya suasana membuat pasangan itu lupa diri. Rindu, dan rasa takut kehilangan menjadi pemicu.
Akhirnya, di tengah derasnya hujan mencurah, sepasang kekasih itu telah berhubungan, yang seharusnya belum boleh mereka lakukan. Setelah selesai melakukan percintaan, Doni membawa Lina dalam dekapannya.
"Maafkan aku, Sayang, kita sudah sejauh ini melakukannya. Maafkan aku." Doni masih menggumam maaf pada wanita yang dicintainya.
Lina semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan pergi tinggalkan aku, Mas, aku sangat mencintai kamu. Berjuanglah demi cinta kita," lirih Lina.
"Sayang, dengarkan aku! Aku berjanji akan menikahimu. Aku harap kamu bisa menungguku. Aku akan buktikan bahwa aku layak untuk menjadi suami kamu. Apakah kamu bisa menantiku hingga aku kembali?" Tanya Doni meyakinkan Lina.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, Mas?" Lina belum mengerti maksud dari perkataan Doni.
"Sayang, lamaran onlineku diterima di sebuah perusahaan property yang ada di Malaysia."
"Jadi, maksud kamu? Kamu ingin pergi tinggalkan aku, Mas?" tanya Lina, matanya mulai berkaca-kaca.
"Sayang, ini hanya sementara. Aku berjanji, setelah berhasil nanti, aku akan kembali untuk melamar dirimu. Kita akan menikah, kita akan bahagia." Doni masih berusaha meyakinkan Lina.
"Apakah kamu bisa tetap setia padaku, Mas? Aku takut kamu akan meninggalkan aku begitu saja," lirih wanita itu dengan rasa cemas.
"Sayang, aku berjanji padamu. Aku bersumpah, tidak akan pernah menikah dengan wanita lain, selain dirimu. Itulah sumpahku padamu!" Doni meletakan tangannya diatas kepala Lina.
Lina tersenyum lega, kembali masuk kedalam pelukan sang kekasih. "Aku akan setia menanti dirimu, Mas. Aku akan menolak pernikahan itu."
"Terimakasih ya, Sayang." Pasangan belum halal itu kembali melakukannya, sehingga mereka lelah dalam selimut yang sama.
Setelah Doni pergi keluar negeri, Lina berusaha keras untuk menolak pernikahan yang telah di rancang sedemikian rupa. Wanita itu mengancam keluarganya untuk melakukan bunuh diri.
"Jadi ini alasan kamu menolak pernikahan itu? Ternyata kamu masih menjalin hubungan dengan Pria kere itu!" Ayah merebut ponsel Lina.
"Ayah, kembalikan ponselku! Aku mohon, Ayah!" Lina berusaha untuk meraih ponsel di tangan sang ayah.
Pria itu segera pergi tanpa menghiraukan jeritan anaknya. Ayah menuju sebuah sumur batu yang ada di belakang rumahnya, dan mencampakkan ponsel itu kedalamnya.
"Ayah...! Apa yang ayah lakukan? Aku benci dengan Ayah!" Ujar Lina segera berlari kedalam kamarnya.
Adik dan Ibu, hanya bisa diam melihat pertengkaran ayah dan anak itu. Jujur mereka tidak setuju dengan sikap keras ayahnya, tetapi mereka tak ada yang berani membantah, hanya Lina di cap sebagai anak pembangkang.
Tiga bulan berlalu, mereka tak lagi berkirim kabar setelah ponselnya dilenyapkan oleh ayahnya. Lina hanya menunggu kedatangan sang pujaan hati untuk membuktikan janjinya.
Suatu hari Lina sedang dinas malam di sebuah RS, tiba-tiba tubuhnya menggigil kedinginan siang hari, kepalanya pusing, dia juga merasakan mual. Banyak temannya sesama perawat, mereka berasumsi bahwa Lina sedang hamil.
__ADS_1
Seketika wanita itu ingat, bahwa sudah beberapa bulan ini dia tak pernah haid. Setelah pulang, Lina membeli tespeck.
Sesampainya dirumah, ia menguji dengan alat itu. Dan apa yang sangkakan oleh teman-temannya memang benar, Lina hamil. Sudah jalan tiga bulan.
Tentu saja hal itu tak bisa disembunyikan. Tetapi, wanita itu berkeyakinan bahwa Doni akan pulang untuk menikahinya. Tetapi, semua hanya angan-angan saja. Hingga kandungannya diketahui oleh semua orang.
Lina diusir oleh keluarganya, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya. Dengan terpaksa wanita itu pergi meninggalkan rumahnya, Lina mencari kontrakan yang dekat dengan RS, berharap dia masih di perbolehkan untuk bekerja.
Tetapi pihak RS meminta surat bukti bahwa Lina benar sudah menikah. Agar mereka tak salah memperkerjakan wanita yang tidak baik.
Karena tak mempunyai persyaratan yang diminta, maka Lina mengundurkan diri dari RS itu. Lina memutuskan untuk keluar dari kota itu, ia ingin mencari ketenangan, agar tak menjadi cemoohan orang.
Akhirnya Lina pergi meninggalkan kota asalnya, dia masih berharap Doni akan datang menjemput dirinya. Tetapi, itu hanya harapan belaka.
Setelah keluar dari kota, Lina mengontrak di sebuah rumah petak, disanalah dirinya tinggal bersama bayi yang ada dalam kandungannya.
Nasib baik masih berpihak padanya, Lina diterima bekerja sebagai perawat di sebuah klinik. Disanalah Lina menjalani hari-harinya, dia harus membuang harapan yang pernah ia impikan.
Meskipun Doni pergi tak pernah kembali, tetapi Lina masih menyimpan cintanya untuk Pria itu. Hingga anaknya lahir, bayangan Pria itu tak pernah lepas dari ingatannya.
Lina melihat wajah putranya yang begitu mirip dengan Doni, maka wanita itu memberi nama sang anak menggunakan nama ayahnya sendiri.
Lina berpikir hanya Doni kecilnya yang tak akan pernah pergi meninggalkannya. Enam tahun berlalu, Lina sudah bisa berdamai dengan keadaan. Dia memutuskan menjalani kehidupannya tanpa ingin berpikir untuk menikah.
Cinta itu masih utuh untuk satu nama dalam hatinya. Suatu hari Lina melihat ada link penerimaan lowongan di sebuah RS swasta Iseng-iseng Lina memasukkan lamarannya sebagai perawat. Dan Alhamdulillah dia diterima, akhirnya Lina memboyong Putra semata wayangnya ke kota bertuah itu.
FLASHBACK OFF
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1