Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Bahagia


__ADS_3

"Ya Allah, jam berapa ini?" Lina menelisik jam yang ada di kamar itu. "Hah! udah jam setengah lima! Ya ampun,kenapa aku bisa ketiduran, pasti mas Doni kesal nih." Gumam Lina sembari ingin bangkit, tetapi pinggangnya terasa ada yang memeluk.


Lina melihat tangan itu, seketika ia memutar tubuhnya menghadap pada Doni. "Mas Doni," ucapnya sembari mengusap wajah tampan itu dengan lembut.


Doni yang merasa tidurnya terusik, ia membuka mata, senyum merekah terbit dari bibir Pria itu.


"Udah bangun, Sayang. Muuaach." Doni mengecup bibir Lina, membuat wajah wanita itu merah merona.


"Pindah kamar yuk," ajak Doni


"Hmm..." Lina hanya mengangguk tersenyum malu.


Tanpa aba-aba Doni segera membopong tubuh sang istri. "Mas..." Desis Lina mendapat perlakuan secara mendadak.


"Ssstt... diam, Sayang, nanti Boy bangun," ujar Doni sembari berjalan menuju kamar sebelah.


Doni segera membaringkan Lina diatas ranjang, dan tak lupa mengunci pintu sebelum pertarungan dimulai.


"Eh, mau kemana?" tanya Doni melihat Lina bangkit dari tempat tidur.


"Aku mau kamar mandi dulu, Mas. Pengen bersih-bersih. Nggak nyaman semalam belum mandi," ujar Lina yang juga udah kebelet buang air.


"Jangan lama-lama ya, sayang," ujar Doni mencoba bersabar.


"Nggak, Mas, lima menit ya."


"Oke." Doni mencuri kecupan kembali sebelum melepaskan sang istri.


Setelah mandi, Lina hanya menggunakan bathrob Doni yang tersampir di kamar mandi. Saat Lina keluar, ia tak mendapati suaminya.


Iseng-iseng Lina membuka lemari pakaian yang ada di dalam lemari Doni, seketika Lina menutup mulutnya saat melihat pakaian wanita begitu banyak.


Tubuhnya gemetar, Lina kembali menutup pintu lemari itu, matanya mulai memanas. Ternyata selama ini Doni mempunyai wanita simpanan, hingga pakaiannya bisa satu lemari dengan pakaian Doni.


"Udah selesai mandinya, Sayang?" tanya Doni meletakkan dua cangkir teh hangat di atas nakas.

__ADS_1


Lina tak menjawab, wanita itu masih terpaku belum bisa menetralkan perasaannya. Doni menatap sang istri sedikit heran. Ia mendekati dan segera memeluk dari belakang.


"Awas,nggak usah sentuh aku, Mas!" sentak Lina yang membuat Doni terkesiap.


"Kamu kenapa, Dek?" tanya Doni semakin heran karena mata istrinya sudah basah dengan air mata.


"Kenapa kamu berbohong, Mas! Kamu selama ini membawa wanita kerumah ini!" ujar Lina dengan amarah.


"Wanita? Apa maksud kamu, Sayang?" Doni semakin tidak mengerti dengan ucapan istrinya, kenapa jadi begini. Pria semakin pusing sendiri.


"Jangan bohong kamu, Mas! Aku tidak percaya sama kamu!" Lina masih menggunakan nada tinggi.


Doni berusaha untuk tetap sabar menghadapi sikap Lina yang berubah secara tiba-tiba. Dia benar-benar bingung dimana letak kesalahannya.


"Dek, jika kamu tidak menjelaskan duduk perkaranya, maka aku tidak akan tahu. Ayo coba katakan! Dimana salahku?"


Lina menyusut air matanya, menatap Doni dengan datar, penuh kekecewaan. Lina ingin minta penjelasan. Ia tak ingin dibohongi lebih baik sekarang sebelum melangkah lebih jauh.


"Katakan sekarang, Mas. Kamu selama ini mempunyai kekasih atau wanita simpanan 'kan?"


"Bohong kamu, Mas! Kamu mengatakan tidak, tapi pakaian wanita yang ada di dalam lemarimu itu membuktikan segalanya! Kamu tidak akan bisa menyangkal lagi,Mas!"


Tuding Lina dengan mata kembali berkaca-kaca. Nafasnya terasa sesak merasa telah dibohongi. Doni mengusap wajahnya, sembari beristighfar.


"Sayang, kamu salah paham. Pakaian itu semua milik kamu. Aku sengaja menyediakannya bersamaan waktu aku mendekor kamar kamu."


Lina terkesiap dengan tatapan tak mengerti. Apakah yang dikatakan Doni memang benar? Bagaimana dia bisa mempercayainya.


"Bagaimana aku percaya dengan ucapan kamu, Mas?" tanya Lina tak percaya


"Sayang, ayo lihat sini." Doni menarik tangan istrinya untuk melihat isi dalam lemari itu kembali.


"Kamu lihat. Semua masih baru, belum pernah di kenakan. Dan yang sebelah sini, semua pakaian buat Putra. Aku sengaja memesan paket besar melalui online langganan aku.


"Aku minta maaf karena belum sempat memberitahu kamu, karena aku benar-benar sibuk, serius, aku lupa untuk mengatakannya. Kalau bukan karena kamu yang mengatakan, mungkin aku tidak ingat sama sekali," jelas Doni meluruskan permasalahan kenapa sang istri iring-iringan di tengah pagi buta.

__ADS_1


Lina kembali memperhatikan dengan seksama, sembari memeriksa pakaian yang ada dalam lemari itu. Ternyata memang benar masih bermerek semua.


Wanita itu begitu malu karena telah meninggikan suaranya, rasa bersalah menyelimuti hatinya. Lina segera memeluk Doni.


"Mas, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu," ujar Lina menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.


Doni hanya tersenyum, sembari membalas pelukan istrinya, Doni tahu ini semua bukan salah Lina, karena ia tak mengatakan dari awal.


"Tidak apa-apa, Sayang, aku tahu ini semua bukan salah kamu. Jujur, aku benar-benar lupa mengatakan padamu." Doni berusaha menenangkan Lina.


"Kamu nggak marah sama aku kan, Mas?" tanya Lina, menatap wajah Doni sendu


Doni melepaskan handuk yang masih melilit di kepala Lina, memberikan kecupan hangat di keningnya. "Mana mungkin aku bisa marah padamu, sayang." Doni memeluk tubuh Lina dengan erat.


Doni menggiring Lina untuk naik keatas ranjang, dengan perlahan menidurinya. Bibir mereka sudah menyatu dan mulai penukaran Saliva.


Akhirnya hal yang didambakan kedua insan itu terleksanakan, mereka lakukan dengan penuh kasih sayang. Ditengah pagi buta merajut kasih. Rindu yang selama ini menggunung kini telah mencair menjadi lautan asmara


Kini pasangan itu telah berbahagia. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka menjalani penuh cinta, saling melengkapi kekurangan pasangan masing-masing.


***


3 TAHUN KEMUDIAN


Hari ini tepat dimana Aurel baru selesai mengikuti Koass, wanita itu telah mendapatkan gelar seorang Dokter spesialis.


Keluarga itu sedang berbahagia, menyambut hari itu hari keberhasilan istri dari seorang pengusaha terkenal. Segala keberhasilan yang diraih tentu saja tak pernah lepas dari dukungan dan support dari suaminya.


"Mas, Terimakasih ya, kamu sudah menjadi suami dan ayah yang terbaik buat aku dan juga anak-anak kita. Terimakasih atas segala kesabaran, dan juga support yang tak pernah henti buat aku." Aurel memeluk Arsen dengan penuh haru.


"Sama-sama, Sayang, kamu juga sudah menjadi istri dan ibu terbaik buat aku dan juga anak-anak kita. Aku sangat bersyukur mempunyai istri sepertimu. Kamu tak pernah melupakan kewajibanmu. Meski sesibuk apapun, kamu masih tetap mempunyai waktu untuk mencurahkan kasih sayang pada kami,"


Pasangan itu tersenyum bahagia, malam ini mereka sengaja dinner berdua untuk merayakan hari spesial itu, sementara itu Alif dan Anisa mereka di titipkan bersama Oma dan Opanya.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2