Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Tujuh tahun yang lalu


__ADS_3

Doni masih diam, Pria itu bingung harus memulai darimana pembahasan ini. Sungguh dia merasa sungkan untuk menanyakan hal itu.


"Doni, kamu ini mau bicara apa sih? Kenapa bingung begitu? Ayo katakan! Urusanku masih banyak!" Tekan Arsen.


"Ah, baiklah, Bos. Sebenarnya, saya ingin menanyakan..." Ucapan Pria itu kembali menggantung, membuat Arsen gemas sendiri.


"Ya ampun, nih orang! Aku hitung sampai tiga. 1,2, ti..."


"Saya mau bertanya, bagaimana cara meluluhkan hati seorang wanita yang sedang kecewa?"


Arsen menatap Doni penuh selidik. Ternyata hal itu yang membuat sikap asistennya berubah. Hah, Pria yang selama ini terkenal tegas dalam mengemban tugas, ternyata mempunyai jiwa kerupuk juga dalam asmara.


"Siapa wanita yang sudah membuat hatimu gelisah seperti itu? Apakah dia pegawai RS ini?" tanya sang majikan, ikut kepo.


"Bos, saya hanya butuh solusi, dari, Bos. Bukan minta dikepoin!" Ujar Doni, begitu berani.


"Ya ampun, sensi banget kamu. Ternyata cinta bisa membuat seseorang berubah. Toh nyatanya sekarang, orang yang biasanya tidak berani membantah, kini dia begitu berani memberiku kata-kata." Sindir Arsen.


"Ah, maafkan saya, Bos, sungguh saya tidak bermaksud seperti itu."


"Baiklah, aku tahu kamu sedang jatuh cinta. Ada yang perlu kamu tahu, jika kamu benar-benar mencintai wanita itu. Maka, kamu harus rela berkorban, menerima segala kemarahannya, dan yang paling penting adalah menanamkan rasa sabar yang tak bertepi, jangan mudah menyerah. Kamu tahu, sekeras apapun hati wanita, dia akan luluh bila melihat pengorbanan yang tulus dari lelakinya."


Arsen sudah seperti Dokter cinta, berbagi pengalaman yang pernah di alami dalam hidupnya. Trik dan kiat-kiat yang dia lakukan ternyata membuahkan hasil yang begitu manis. Walau harus menunggu sampai bertahun-tahun.


"Baik, terimakasih, Bos. Saya paham sekarang," ujar Doni merasa mendapat ilmu dari majikannya.


"Apakah kamu memang tidak ingin berbagi denganku? Apakah kamu masih menganggapku sebagai orang lain?" tanya Arsen yang masih penasaran.


"Sebenarnya, dia wanita masalalu saya, Bos, dulu kami saling mencintai, ada suatu hal yang membuat kami berpisah. Dan tadi saat saya ingin kekantin, saya bertemu kembali dengannya, dia seorang perawat di RS ini.


"Okey, selamat berjuang brother!" Arsen menepuk pundak Doni sembari memberi semangat.


Setelah cukup lama berbincang, Arsen kembali masuk kedalam ruangan bersalin, dimana tadi saat ia tinggalkan, Aurel sedang perbaikan jalan lahir, tadi sempat robek sendiri karena mengejan tidak beraturan.


Saat Arsen masuk, Aurel sudah selesai di urus, kini tinggal memindahkan ke ruang rawat inap.

__ADS_1


"Kamu kemana aja sih, Mas?" tanya Aurel sedikit manyun, terkesan sikap suaminya cuek.


"Maaf ya, Sayang, aku ada urusan sedikit," jelas Arsen sembari mencuri kecupan di pipi Aurel.


"Ish, nggak usah cium-cium. Aku ngambek," ucap wanita itu masih mode kesal.


"Eh, habis melahirkan nggak boleh ngambek. Nanti tensian. Sini aku peluk dulu. Maaf ya, sayangku." Arsen memeluk istrinya dan memberi kecupan di seluruh wajah Aurel.


"Udah, Mas, malu dilihatin sama Dokter dan yang lainnya!" Aurel menahan wajah suaminya yang masih gencar menciumnya.


"Bilang dulu, udah nggak marah lagi!" Ujar Arsen masih berusaha ngedusel wajahnya.


"Hehe... Iya, iya. Aku udah nggak marah lagi, udab dong, Mas."


Akhirnya Arsen melepaskan sang istri dari dekapannya. Dan segera membawa Aurel pindah ke ruang rawat inap.


Sementara itu, setelah mendapatkan petunjuk dari Arsen, Doni kembali menemui Herlina. Pria itu mencari tahu dari pihak RS, wanitanya itu perawat bagian apa.


Setelah mendapat informasi, Doni segera menemui suster Lina. Pria itu, melihat Lina sedang mengurus seorang pasien yang baru saja melahirkan. ternyata Lina perawat bagian kandungan.


Jantung Doni berdegup kencang, saat menatap wajah wanita cantik itu dari kejauhan, dia begitu merindukan sosok itu, ingin rasanya membawanya kedalam dekapan.


FLASHBACK (Doni dan Herlina)


"Mas, kita sudah tiga tahun pacaran. Kapan kamu mau melamar ku?" Tanya Lina di sela-sela makan malam mereka. Lina ingin meminta kepastian pada Pria sederhana itu.


"Sayang, secepatnya aku akan datang, untuk melamarmu. Apakah orangtuamu mau menerimaku apa adanya?" Tanya Doni sedikit ragu, Pria itu menggengam tangan Lina dengan lembut.


"Kamu tenang saja, Mas, orangtuaku pasti menerimamu sebagai menantu." Lina membalas genggaman tangan Doni.


Seminggu berlalu setelah pembahasan mereka malam itu, Doni datang kerumah Lina, berniat melamar sang pujaan hati, memintanya untuk menjadi istri.


"Apa maksud kamu datang kesini, anak muda?" Tanya ayah Lina, Pria itu tampak tidak suka, mereka memperhatikan penampilan Doni yang sangat sederhana, maklum Doni hanya seorang montir yang berkerja di sebuah bengkel mobil.


"Maksud kedatangan saya, adalah, ingin melamar anak Bapak," jelas Doni meluruskan niatnya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu menatap Doni dengan tatapan rendah. "Apa yang bisa kamu berikan pada putri saya?"


"Saya, memang tak bisa memberikan apa-apa untuk putri Bapak, tapi saya berjanji akan berusaha membahagiakan Lina," jelas Doni.


"Hng! Kamu kira saya percaya begitu saja dengan ucapanmu? Siapa yang bisa menjamin Lina akan bahagia hidup bersamamu."


"Tapi kami saling mencintai, Pak."


"Kamu kira bisa hidup hanya makan cinta saja? Maaf, anak muda. Saya sudah menjodohkan Lina dengan Pria lain. Pria yang mempunyai pekerjaan yang bagus dan mapan, sudah pasti bisa membuat Lina bahagia.


Seketika hati Doni hancur, mendengar ucapan ayah dari kekasihnya itu. Dia melihat Lina masih memberontak, gadis itu masih tidak terima dengan apa yang di katakan oleh ayahnya.


"Tidak, Ayah! Aku tidak akan menikah dengan Pria manapun, selain dengan Mas Doni!" Tegas Lina dengan tangisnya.


"Kamu berani melawan Ayah? Kamu seharusnya bersyukur karena ayah bisa mencarikanmu Pria yang bisa membuatmu bahagia nantinya!" Bentak Pria itu tak kalah marah.


"Tapi aku tidak bisa menikah, karena aku tidak mencintainya, aku hanya mencintai Mas Doni."


"Persetan dengan cinta! Kamu harus ingat, Lina! tidak ada orang yang bisa hidup hanya mengandalkan cinta. Dengan seiring waktu, cinta akan datang sendiri."


"Tidak, Ayah! Aku tidak mau!"


"Terserah! Kamu suka atau tidaknya, yang jelas Minggu depan kamu harus menikah. Dan kau! Pergilah! Jangan pernah mendekati anak saya lagi!"


Sungguh sakit yang teramat dalam, Doni rasakan. Pria itu pergi meninggalkan rumah orangtua kekasihnya. Luka hatinya tak bisa digambarkan.


Tiga hari berlalu setelah kejadian menyakitkan itu. Dipagi buta, Lina menyambangi kontrakan Doni. Pria itu memang tak mempunyai keluarga dia hanya seorang anak yatim-piatu.


Tok! tok!


"Mas, Mas Doni! Buka pintunya. Ini aku, Mas." Lina menggedor pintu rumah kontrakan itu.


Doni yang merasa tidurnya terganggu, maka, dengan mata berat, ia segera membuka pintu.


"Lina! Kamu ngapain pagi-pagi begini datang kesini?" Tanya Doni tak mengerti.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2