
"Mas, kamu serius tidak apa-apa? Aku takut, Mas," ucap Aurel dengan tangisnya.
"Benar, Sayang, aku baik-baik saja. Kamu jangan cemas ya. Ayo bantu aku untuk menukar perban lukaku."
Aurel mengikuti langkah suaminya yang merangkulnya masuk kedalam. Arsen berpapasan dengan kedua orangtuanya yang sedang mengasuh sang cucu.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Mommy tampak cemas.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja Mom, tidak perlu cemas.
"Apakah kamu sudah melaporkan wanita itu ke kantor polisi?" Tanya Daddy.
"Sudah, Daddy, aku sudah membereskannya."
"Syukurlah. Kalian harus lebih hati-hati lagi. Jangan sampai lengah seperti ini lagi!"
"Iya, Dad, aku memutuskan untuk memindahkan Alif ke sekolah lain, agar penjagaannya lebih ketat lagi. Aku juga sudah menambah beberapa penjaga untuk mengantisipasi agar hal seperti ini tak terulang lagi."
"Bagus kalau begitu." Daddy merasa lega karena anak dan cucunya baik-baik saja.
Aurel segera membawa Arsen masuk kedalam kamar untuk memeriksa luka bekas operasi suaminya.
Dengan teliti dan fokus, Aurel melihat luka itu, sedikit lecet, ia segera memberi salap yang di khususkan untuk luka.
"Apakah ini terkena pukulan?" Tanya Aurel saat masih fokus dengan luka itu. Aurel juga melihat bekas luka operasi lama waktu dulu terkena tembakan dari dirinya sendiri.
Aurel mengusap bekas luka lama itu. Dia menatap wajah sang suami. "Apa yang kamu rasakan saat itu Mas?" Tanya Aurel mencoba mengingat masalalu itu lagi.
Arsen hanya tersenyum, mengingat bagaimana akan hal itu. "Aku merasa kagum." Jawab Arsen santai.
"Kagum? Apakah kamu tidak marah padaku waktu itu?" Tanya Aurel mencoba mendalami perasaan Pria itu.
"Tidak, aku merasa terpukau, ada seorang gadis remaja yang aku kira sangat penakut dan penurut, tapi tiba-tiba dia berubah menjadi seekor singa yang menakutkan."
__ADS_1
"Makanya jangan menganggap remeh pada seorang wanita yang lemah. Bila tiba masanya, maka ia rela mati demi membalas sakit dihatinya." Tekan Aurel yang membuat Arsen menelan salivanya dengan kasar
"Begitukah? Apa saat itu kamu begitu membenciku?"
"Sangat benci. Karena kamu sudah membohongi aku, Padahal aku rela berkorban demi apa saja, asalkan Ibu bisa sembuh, nyatanya semua perjuanganku tak berarti apa-apa."
Aurel kembali mengutarakan perasaannya saat itu. Dimana akal sehatnya hampir tak berpungsi menghadapi Tuan kejam yang kini sudah begitu patuh padanya.
Arsen mendekap tubuh Aurel, wanita itu tampak menjatuhkan air matanya, saat mengingat kembali kenangan pahit itu.
"Sayang, maafkanlah aku. Sungguh aku menyesali segala perbuatanku di masa lalu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakan hal itu." Sesal Arsen sembari memeluk tubuh sang istri.
"Tidak, Mas, jangan berkata begitu. Itu semua adalah masa lalu. Kini aku sudah sangat bahagia hidup bersama Pria yang pernah aku benci itu."
Aurel melerai pelukanya dan merangkum wajah Arsen, sebuah kecupan hangat ia berikan pada bibir Pria Tampan yang dulu begitu menakutkan. Tapi kini Pria itu begitu menyayangi dirinya bahkan tak rela melihatnya tersakiti walau sedikit saja. Hati seseorang memang tak ada yang pernah bisa mengukurnya. Hanya Allah yang maha tahu. Dan Allah juga yang maha membolak-balikkan hati seseorang itu.
"Terimakasih ya, sayang, aku berjanji tidak akan pernah menyakiti dirimu lagi, cukup sekali kebodohan itu aku lakukan dalam hidup ini. Kamu dan anak-anak kita adalah prioritasku yang utama."
Aurel tersenyum. "Terimakasih ya, Mas. Aku sangat mencintai kamu. Tetaplah selalu membersamai kami. Aku benar-benar takut kehilanganmu."
--Indonesia--
Pagi ini Dewi masih tak berselera makan, pasalnya sudah beberapa hari sejak hari dimana ia bertemu dengan sang suami, hingga saat ini tidak ada kabar dari Mama, tentang suaminya.
Bahkan saat Dewi membahas tentang hal itu, Mama Hema selalu mengalihkan pembicaraan. Dewi begitu sedih dan galau. Ia ingin bercerita tetapi entah dengan siapa. Sementara sang adik yang selalu bisa ia andalkan, kini sudah tak ada.
Reza sudah pulang ke Pekanbaru terlebih dahulu, karena Pria itu tak bisa meninggalkan tugas kuliahnya yang sudah menumpuk. Kini Dewi hanya bisa memendam segala apa yang ia rasakan.
Tak ada tempat ia bercerita, untuk berbagai sedikit gundah dihatinya. Apalah daya dirinya hanya seorang menantu, yang sudah pasti tak berani banyak protes dan bertanya.
Hingga sore hari wanita itu hanya mengurung diri di kamar. Makanan yang diantarkan oleh art tak disentuh olehnya. Dewi begitu merindukan sosok Pria dewasa itu.
"Dewi, kamu tidak makan hari ini?" Tanya Mama Hema yang sudah berada di dalam kamar itu. Karena asyik melamunDewi tak menyadari Entah kapan Mama mertuanya masuk.
__ADS_1
"Ah, Mama! I-iya, aku akan makan sekarang, tadi lagi nggak selera makan." Jawab Dew gugup,i segera mengambil makanan yang sudah dingin itu.
"Nggak usah dimakan. Itu sudah dingin, bahkan bisa jadi sudah basi. Lagian Mama heran dengan kamu. Apa sih yang kamu pikirkan?"
Mama Hema sedikit memarah Dewi yang keras kepala itu. Walau tak sampai hati, tapi ia ingin memberi kejutan untuk anak menantunya itu.
Dewi yang mendapatkan protes dari sang Mama mertua membuat hatinya makin sedih. Ingin sekali mengatakan apa yang sedang di pikirkannya saat ini, yaitu adalah anak wanita baya itu sendiri.
"Sudah, sekarang ganti pakaian kamu. Ikut Mama keluar kita makan diluar saja." Titah Mama pada Dewi
"Tapi, Ma, aku sedang malas keluar. Aku makan dirumah saja. Aku akan minta bibi untuk mengantarkan makanan." Tolak Dewi.
"Tidak ada bantahan, Dewi!" Tegas Mama Hema.
"Ba-baiklah, Ma." Dengan terpaksa Dewi mengikuti ibu mertuanya itu.
Setelah bersiap, Dewi segera menemui Mama yang sedari tadi sudah menunggu di ruang tamu.
"Udah? Kamu tuh lama banget sih geraknya!" Rungut wanita itu pada Dewi.
Rasanya Dewi ingin sekali menangis. Kenapa sekarang Mama suaminya itu kembali judes, kalau bukan karena sang suami, Dewi tidak ingin tinggal dirumah itu.
"Ayo jalan, Pak." Perintah Mama Hema.
"Nanti kalau sudah di pesan makanan, harus dimakan! Jangan sampai di anggurin tuh makanan. Mama belinya pake duit."
Dewi hanya membalas dengan anggukan. Tanpa sadar setitik air mata jatuh. Perasaannya yang sensitif memudahkan dirinya menangis.
"Nggak usah cengeng. Kalau mau jadi menantuku harus kuat. Mama tidak suka menantu yang cengeng dan manja."
Dewi hanya diam saja, ia segera menghapus air matanya. Harus bagaimana lagi, ia memang cinta dengan anaknya. Jadi, seperti apapun sikap Mamanya harus ia terima dengan lapang dada.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰