Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Pengen nasi uduk


__ADS_3

Arsen benar-benar dibuat kelimpungan oleh sang istri. Kenapa istrinya malam ini mendadak rewel dan sikapnya sangat aneh, tadi tak ingin disentuh sekarang dia yang minta.


"Sayang, kamu kenapa sih? Hmm?" Arsen mengecup kening dan bibirnya.


"Mas?"


"Ya, Sayang?"


"Pengen." Ujar Aurel sembari mengelus dada bidang sang suami.


"Beneran, Sayang?" Tanya Arsen masih belum percaya.


"Iya, Mas, sekarang ya." Rengek Aurel dengan suara manja.


"Oke, Sayang, cus sampai pagi juga kuat," ujar Arsen tersenyum sumringah dan segera duduk ingin membuka kaos tidurnya.


"Eh, eh, mau ngapain?" Tanya Aurel


"Lah! Katanya pengen, Sayang? Ya ayo."


"Hehe... Bukan pengen itu, Mas. Tapi aku pengen nasi uduk yang ada di samping kampus aku."


Seketika raut wajah Arsen berubah bermuram durja, sekali lagi ia harus menelan rasa sabar agar kuat hati untuk penderitaannya malam ini.


"Sayang, kamu nggak lagi ngeprank aku 'kan? Ini sudah jam dua dini hari lho. Mana ada nasi uduk yang buka jam segini?"


"Ish, apaan sih, Mas? Nggak pernah dengar Kokok ayam kamu itu," ujar Aurel memberengut.


"Ya, jam segini belum ada ayam berkokok, ih, kamu kok makin aneh sih?"


"Bukan itu maksud aku, Mas!" Kesal wanita itu karena sang suami nggak juga peka.


Arsen berusaha menghirup udara sepenuh dada dan menghembuskan secara perlahan, malam tingkah istri kecilnya itu cukup memusingkan.


"Okey, sekarang coba jelaskan apa maksud kamu? Pada intinya saja, nggak usah muter-muter kaya bajaj."


"Dari tadi sudah bilang apa mauku, yaitu mau nasi uduk yang ada di samping kampus aku. Masa kurang jelas juga sih, Mas?"


"Pertanyaannya, jam segini apa masih buka, Aurel istriku sayang...?" Arsen mencoba untuk lebih memahami.


"Ya, masihlah! Nasi uduk mas Sugeng itu bukanya sampai jam lima pagi lho, Mas." Jelas Aurel


"Baiklah, kamu tunggu dirumah, biar aku yang pergi sekarang."

__ADS_1


"Nggak mau! Aku ikut, Mas."


"Yaudah, pakai sweter kamu, diluar dingin." Arsen tak ingin berdebat lagi, ia mengikuti semua keinginan sang istri.


Saat mereka keluar kamar, mereka berpapasan dengan Mommy Iswara yang baru keluar dari dapur membawa tabung air, karena Alif haus ingin minum.


"Loh, kalian mau kemana?" Tanya Mommy heran dan menilik jam dinding yang ada di ruang tengah.


"Mau cari nasi uduk, Mom," jawab Arsen jujur


"Nasi uduk? Jam segini mana ada?"


"Ada kok, Mom," balas Aurel.


Mommy menatap anak dan menantunya itu secara bergantian. "Kalian ngidam?" Tebak Mommy.


"Hah? Nggak, kok Mom." Jawab Aurel dengan cepat, takut ibu mertuanya salah mengartikan, ia merasa tidak sedang hamil, karena waktu hamil Alif ia tak pernah ngidam apapun.


Arsen menatap sang istri, dia baru ngeh saat mendengar ucapan Mommy, Arsen juga merasa aneh dengan sikap Aurel malam ini.


"Yaudah, kami keluar sebentar ya, Mom." Pamit Arsen segera menggandeng tangan Aurel.


"Yaudah hati-hati."


Jika Arsen sedang kelimpungan dengan kerewelan sang istri, lain halnya dengan pasangan Dosen dan mahasiswinya itu.


Dewi sangat ngantuk berat, tetapi dia takut jika Haikal kembali merusuh. Terkadang dia bingung sendiri dengan pernikahan yang bersyarat itu, sehingga membuat batin mereka tersiksa masing-masing.


"Wi?" Panggil Haikal


Dewi mendengar tapi tidak menyahut, tidak ingin meladeni suaminya itu. Ia takut jika Haikal akan melanggar perjanjian itu, karena ia tahu bahwa Haikal belum mencintai dirinya.


"Nggak nyahut. Udah tidur kali ya." Gumam Pria itu dan menyingkirkan guling pembatas mereka.


Haikal mendekat dan merapatkan tubuhnya dengan sang istri. Tangannya memeluk pinggang Dewi dengan pelan.


Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu, tak bisa dipungkiri bahwa dia juga merasakan kenyamanan, di peluk oleh Pria yang dicintainya sudah lama ia dambakan.


Kenapa kita harus seperti ini Pak? Kenapa kamu masih belum bisa mencintai aku. Padahal aku juga sangat ingin menjadi istri kamu seutuhnya.


Dewi membatin, ada rasa sedih melipir dihatinya. Tetapi ia mencoba berpikir secara logis, jika Haikal tidak mencintainya, tapi kenapa Pria itu sekarang berani memeluk dirinya.


Apakah sudah mulai ada rasa? Atau Pria ini memang ingin mencari keuntungan?

__ADS_1


Haikal menghirup aroma tubuh Dewi yang membuat tubuhnya merespon dengan cepat, apalagi tubuh bagian bawahnya.


Dewi merasakan di bokongnya ada sesuatu yang bergerak dan mengeras, seketika wanita itu menjerit


"Aaaa..."


"Wi, apaan sih kamu jejeritan begitu? Nanti dikirain Reza aku apa-apain kamu!" Sentak Haikal ikut panik


"Nggak usah aneh-aneh deh, Pak! Ngapain Bapak peluk-peluk aku begitu? Bapak ingin perkosa aku?" Tuding Dewi dengan nafas tak beraturan, wanita itu begitu syok.


"Ya ampun, anak ini. Mana ada suami perkosa istrinya sendiri. Udah ayo tidur lagi." Ajak Haikal datar tanpa rasa salah.


Dewi masih memberengut, dia mengambil bantal ingin tidur di ruang tamu. Tetapi Haikal mencekal tangannya.


"Eh, mau kemana kamu?"


"Mau tidur diluar, disini nggak nyaman, Bapak ngerusuh!" Jawab Dewi ketus


"Aduh jangan dong. Kamu mau Reza semakin mikir buruk tentang kita?" Intrupsinya


"Ya tapi harus bagaimana lagi? Habisnya kamu nggak komitmen dengan perjanjian itu. Aku capek, ngantuk, aku ingin istirahat," rengek Dewi putus asa menghadapi suaminya itu.


Haikal menarik tangan Dewi agak kuat sehingga tubuh wanita itu jatuh di atas tubuhnya. Kini netra mereka bertemu.


Haikal menatap Dewi dengan dalam, menyelami hatinya penuh suka. "Apakah kamu mau jika kita menghapus kesepakatan itu?" Tanya Haikal penuh arti.


Dewi yang membatu di atas tubuh Haikal, menjadi bingung tak menentu, dia masih meresapi ucapan sang suami, tersirat dihatinya rasa galau, bimbang menyelimuti.


"Muuach... Kok bengong?" Haikal mengecup kening wanita itu dengan gemas. Ia tidak tahu dengan perasaannya saat ini, yang jelas rasa sayang sudah mulai tumbuh, ingin memantapkan perasaan itu.


Dewi segera bangkit dari atas tubuh Haikal, dengan jantung berdebar tak karuan, kecupan hangat membuat darahnya berdesir hebat.


"Apa maksud Bapak? Apakah Bapak ingin berbuat curang? Bapak ingin memperdaya aku?" Tanya Dewi penuh curiga.


"Astaghfirullah, nih otak kenapa mikir jelek mulu sama suami sendiri?" Haikal menepuk jidat Dewi


"Awh... Sakit tahu, kdrt ini namanya." Rutu wanita itu sembari mengelus keningnya yang terkena sasaran kegemasan sang suami.


"Dengerin, Mas ngomong ya, mulai sekarang jangan panggil aku Bapak lagi, paham! Panggil "Mas." Tekan Haikal merubah panggilan Dewi.


"Serius? Nanti Bapak malu aku panggil "Mas" di depan orang," sanggah Dewi.


"Kan aku sudah bilang, sekarang kita memulai hubungan ini dengan serius, kamu juga ingin 'kan?"

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2