
Dewi masih bingung bagaimana menyikapi ucapan Haikal yang ingin membatalkan perjanjian itu, hatinya masih bimbang dan ragu. Apakah ini sudah keputusan yang tepat? Bagaimana jika suatu saat nanti Haikal menyerah karena tidak bisa mencintai dirinya?
Wanita itu masih banyak pertimbangan, karena ia tahu dari semula Haikal tidak mencintainya. Siapa yang bisa menjamin jika Pria itu tidak akan meninggalkan disaat dia sudah memberikan segalanya.
"Hei, kenapa bengong? Apakah kamu setuju?" Tanya Haikal kembali.
"Maaf, Mas. Aku masih belum bisa meyakinkan hati, aku masih ragu, bagaimana jika nanti suatu saat kamu masih tidak bisa mencintai aku, dan memilih untuk berpisah, rasanya itu lebih menyakitkan lagi."
"Wi, aku tahu dengan segala kecemasanmu, percayalah, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Aku akan berusaha untuk mencintai kamu."
Haikal masih berusaha untuk meyakinkan wanita itu, ia memang belum bisa memastikan hati, tetapi ia akan berusaha untuk melabuhkan cintanya untuk Dewi, baginya pernikahan cukup sekali seumur hidup.
"Maaf, aku takut kecewa lebih dalam lagi, jujur aku sangat mencintai kamu,Mas, tapi aku takut tidak mampu menggapai hatimu," ujar Dewi dengan setitik cairan bening menetes di sudut pipinya.
Haikal meraih tubuh sang istri dan membawa masuk kedalam pelukannya. ia sangat mengerti dengan kecemasan hati Dewi.
"Sudah, jangan menangis ya, aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan tetap berusaha untuk mencintaimu, dan menjadikanmu wanita yang akan memenuhi hatiku.
"Ayo sekarang kita istirahat, biarkan aku mendekap tubuhmu dalam tidurku, aku janji tidak akan melakukan hal yang lebih, aku hanya ingin mencoba meresapi perasaanku, jujur aku sudah mulai nyaman saat bersamamu.
Dewi tidak menyahut dia hanya menuruti permintaan Haikal, ia tidur memunggungi, dan suaminya itu memeluknya dari belakang.
Haikal memang menepati janjinya, ia hanya memeluk tanpa merusuh, meskipun dihati sangat menginginkannya, tetapi ia juga memikirkan perasaan Dewi yang belum siap.
Akhirnya mereka tidur dengan nyaman setelah semalaman mendrama, membuat Dewi uring-uringan karena ulah Haikal yang merusuh.
***
Setelah memesan dua porsi nasi uduk, Aurel dan Arsen duduk di warung angkringan Mas Sugeng.
"Silahkan, Mas, Mbak." ujar mas Sugeng menghidangkan menu yang mereka pesan.
"Ya, terimakasih." Arsen segera mendekatkan piring menu itu pada Aurel.
"Makan, Sayang, Habiskan," intrupsinya pada sang istri.
Aurel segera menyendok nasi uduk itu untuk masuk kedalam mulutnya, tadi ia menghayalkan rasanya begitu enak, tapi ternyata ekspektasi tak sesuai realita, sehingga membuat selera makan wanita itu kendor.
__ADS_1
"Kok, cuma di aduk-aduk saja,Sayang? Ayo dimakan, ini enak kok." Arsen kembali bingung melihat tingkah Aurel.
"Mas, enak 'kan?"
"Iya,enak banget," Arsen bersemangat memakannya, untuk memacu sang istri agar ikut menikmati hidangan itu.
"Tapi, aku sudah kenyang Mas. Kamu aja ya yang abisin punya aku, sayang kalau nggak dimakan, Mas."
Arsen terdiam sepi mendengar ucapan Aurel, kembali Pria itu menanamkan rasa sabar yang tak terkira, sumpah demi apa, malam ini tingkah istrinya itu benar-benar membuat gula darahnya naik.
"Kok lihatin aku begitu? Kamu marah, Mas? Kamu nggak ikhlas bawa aku kesini?" Tanya Aurel dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.
Arsen semakin curiga, benarkah yang dikatakan Mommy bahwa istrinya saat ini sedang hamil? Arsen segera mengulas senyum se ikhlas mungkin dan memasang wajah semanis gula.
"Nggak, Sayang, aku sangat ikhlas lahir dan batin, apapun yang kamu mau akan aku penuhi, tapi dimakan ya, kan kata kamu sayang kalau terbuang,"
"Nggak mau, Mas. Aku sudah kenyang." Aurel masih bersikukuh dengan pendiriannya, sehingga Arsen tak bisa memaksa.
Sebenarnya bukan karena sayang tidak dimakan, tetapi mengingat perjuangannya hingga sampai di tempat itu jam tiga dini hari begini.
"Udah, Kita pulang? Ada lagi nggak yang kamu inginkan?" Tanya Arsen memastikan mumpung masih diluar, takutnya nanti sudah sampai rumah istri kecilnya itu kembali membuat huru hara.
"Nggak ada, aku hanya ngantuk pengen tidur, Mas." Rengek wanita itu begitu manja
Arsen tersenyum sembari menggusal kepala Aurel dengan sayang. "Jom kita pulang sekarang."
Pagi ini Aurel maupun Arsen bangun kesiangan, Aurel baru saja membuka mata segera melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Astaghfirullah, kesiangan lagi! Kenapa aku bisa bangun jam segini." Aurel merutuki dirinya sendiri wanita itu begitu malu dan sungkan pada kedua mertuanya.
Aurel bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya segera keluar untuk menemui mertuanya, Aurel benar-benar malu, bagaimana mungkin dia menjadi menantu tak tahu diri begitu.
"Bunda..." Panggil Alif segera menyongsong Bundanya dan meminta gendong, bocil itu sudah rapi dan wangi, tentu saja Omanya yang mengurusi.
"Sudah bangun, Nak? Suamimu mana?" Tanya Mommy pada Aurel tersenyum
"Mas Arsen masih tidur, Mom. Aku benar-benar minta maaf ya,Mom, apakah Mommy dan Daddy sudah sarapan? Kalau belum akan aku buatkan sebentar," ujar Aurel dengan wajah sungkan.
__ADS_1
"Sudah, Mommy, Daddy dan juga Alif sudah sarapan. Itu sarapan kamu dan Arsen sudah Mommy sediakan, ayo bangunkan suamimu."
"Ya, Allah, aku benar-benar minta maaf ya. Mommy jadi repot begini." Sesal Aurel tidak enak.
"Jangan bicara seperti itu, Nak. Mommy tidak ada masalah, Mommy tahu kamu juga bisa merasakan capek, karena kamu mengerjakan semua tugas rumah sendiri."
Aurel hanya tersenyum kaku, dan permisi kekamar untuk membangunkan Arsen.
"Mas, bangun!" Aurel mengguncang tubuh Arsen.
"Hmm... Masih ngantuk, Sayang," gumam Arsen dengan suara berat.
"Ayo bangun, Mas, ini sudah siang. Itu dari tadi ponsel kamu berdering, sepertinya kak Doni yang telpon," jelas Aurel.
"Emang jam berapa sih, Sayang?" Tanya Arsen sembari tangannya melilit di pinggang Aurel.
"Udah jam setengah sebelas, Mas." Tukas Aurel
"Ya, Allah, kita kesiangan? Kamu kenapa tidak membangunkan aku? Mana hari ini ada meeting penting lagi, dengan klien dari luar kota," jelas Arsen dengan wajah panik
Arsen segera meraih ponselnya, dan segera menghubungi Doni. Dia meminta Doni untuk mengganti kan dirinya, beruntungnya Doni asisten yang benar-benar bisa diandalkan sehingga urusannya telah di handle.
"Gimana, Mas? Bisa kak Doni?" Tanya Aurel sedikit penasaran karena melihat kepanikan dari sang suami.
"Alhamdulillah sudah di handle oleh Doni. Berarti hari ini full time buat kamu."
"Yaudah, sana mandi, Mas, setelah itu kita sarapan, tadi Mommy yang sediain sarapan buat kita. Aku malu banget, Mas," ujar Aurel dengan wajah memberengut, ingin marah tapi entah pada siapa, yang jelas tentu saja pada dirinya sendiri, karena kebanyakan polah sehingga mengakibatkan bangun kesiangan.
"Udah nggak usah begitu wajahnya, Mommy orangnya sangat pengertian, apalagi saat dia tahu sebentar lagi ingin dapat cucu lagi, pasti Mommy sangat bahagia," bujuk Arsen membuat Aurel terkesiap.
"Ih, apaan sih, Mas? Ngarang deh. Udah sana mandi!" Usirnya sembari melepaskan tangan Arsen sedari tadi melilit pinggangnya.
"Oke, Daddy mandi bentar ya,Sayang, kamu dan Bunda tunggu Daddy sebentar," ujar Arsen mengelus perut datar Aurel membawanya bicara seakan sudah meyakini bahwa di dalam rahim sang istri ada malaikat kecil.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1