Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Kepergian Reza


__ADS_3

Haikal masih berusaha untuk menenangkan Dewi. Wanita hamil itu masih menangis, pikirannya tidak tenang sebelum mengetahui keadaan sang adik.


Cukup lama menunggu, akhirnya Dokter keluar dari ruang operasi. Dewi segera berdiri dan menghampiri dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?" Tanya Dewi begitu cemas.


Dokter itu terdiam sejenak dengan wajah datar. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada pihak keluarga. Dengan berat hati sang dokter memberi kabar duka itu.


"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berkehendak lain. Pasien meninggal dunia akibat peluru menembus jaringan selaput jantung." Dokter itu menjelaskan.


"Innalilahi Wainailaihi Raji'un." Mereka serentak mengucapkan.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Reza tidak mungkin meninggal. Reza tidak mungkin meninggalkan aku, tidak mungkin! Haa...Hiks." Dewi merosot dan tak sadarkan diri.


"Sayang, kamu kenapa? Ayo bangun, Dek." Haikal mencoba membangunkan Dewi.


"Ayo bawa Dewi masuk ke ruangan,Kal!" Titah Mama Hema.


Bawa keruangan sebelah, Pak. Akan saya panggil Dokter umum," ujar Dokter bedah yang menangani Reza.


Aurel dan yang lainnya tak kuasa menahan tangis. Aurel yang tahu bagaimana kebaikan Reza. Pria remaja itu sangat menyayangi kakaknya, bahakan Reza begitu sopan pada orang yang lebih tua darinya.


Mereka semua juga merasa kehilangan. Mama Hema juga tak kuasa menahan air matanya. Sedih saat mengingat bagaimana Reza melindungi kakaknya.


Sementara Haikal masih menunggu Dewi siuman. Pria itu tampak berduka. Air matanya tak berhenti jatuh. Haikal mengingat kenangan bersama sang adik ipar yang begitu sopan.


Haikal sangat tahu bagaimana Reza yang selalu melindungi Dewi sepenuh hati. Hingga dia rela mati demi menyelamatkan nyawa kakaknya.


Kini Pria remaja itu sudah tak ada lagi. Hatinya perih, akhirnya dua orang saudara yang saling menyayangi, kini mereka sudah dipisahkan oleh maut. Haikal tidak tahu bagaimana hancurnya hati Dewi.


Saat Haikal sedang menghapus air matanya. Dewi membuka mata. Dia menatap sekeliling ruangan itu.

__ADS_1


"Mas, aku dimana? Reza bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan, Mas?" Tanya Dewi sembari memegang tangan Haikal.


Haikal berusaha untuk tetap tenang. Dia menggenggam tangan Dewi. "Sayang, kamu harus sabar ya. Kamu harus kuat."


"Tidak, Mas! Reza masih hidup. Dia tidak mungkin meninggalkan aku. Dokter pasti salah, Mas. Adikku tidak mungkin meninggal." Tangis Dewi kembali pecah.


Haikal mendekap tubuh sang istri, dia juga tak kuasa menahan haru, Haikal benar-benar sedih melihat keadaan Dewi. "Sabar, Dek, jangan menangis. Kamu pasti bisa melalui cobaan ini." Haikal kembali menjatuhkan air matanya.


"Tidak, Mas. Adikku masih hidup. Aku hanya memiliki dia. Aku tidak mungkin bisa memaafkan diriku. Aku sudah berjanji pada ibu dan ayah untuk menjaganya. Hiks... Ini pasti mimpi 'kan, Mas?"


Dewi bangkit dari pembaringannya. Dia hendak melangkah keluar untuk menemui sang adik. Haikal kembali mencekal tangannya.


"Dek, tenangkan dirimu dulu." Haikal mencoba menahan Dewi.


"Tidak, Mas! Aku ingin memastikan bahwa Reza baik-baik saja." Dewi segera keluar dari ruangan itu.


Setibanya di depan ruangan dimana jenazah Reza terbujur, Dewi menatap semua kerabatnya sedang bersedih. Aurel segera menyongsong Dewi.


"Sayang, kamu harus tabah. Allah lebih sayang dengan Reza. Dia sudah tenang disana." Aurel memeluk tubuh kaku sahabatnya itu.


"Tidak! Kamu pasti bohong kan, Rel? Rezaku masih hidup. Ini pasti mimpi! Haaaa! Rezaaaa!!"


Dewi histeris. Dan segera berlari masuk kedalam ruangan itu. Dia berharap melihat sosok sang adik masih bernafas. Tetapi tubuh itu telah terbujur kaku.


Wanita itu berusaha untuk tetap tegar. Mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir. Perlahan ia mendekatinya.


Haikal memegang bahu Dewi, ia menahannya. Dan menatap wajah sang istri. Untuk meminta kepastian apakah dia benar-benar siap untuk melihat jasad sang adik.


"Mas, aku ingin melihat adikku." Lirih Dewi dengan wajah duka.


"Tapi kamu harus janji, tetap tenang ya. Kamu harus ikhlas!"

__ADS_1


"Hiks..." Dengan tangis Dewi mengangguk.


Dengan bismillah, Dewi membuka kain penutup tubuh Reza. Kembali air matanya jatuh saat menatap wajah pucat tak berdarah lagi.


Selama puluhan tahun mereka hidup bersama. Dewi kembali mengingat waktu ibu dan ayah meninggal dunia akibat kecelakaan. Saat itu Reza masih berumur sepuluh tahun. Dialah yang menjaga dan mencurahkan segala kasih sayang pada sang adik.


Dewi selalu membawa Reza kemanapun dia pergi, bahkan dia membawa Reza saat dirinya bekerja, karena Dewi tidak ingin meninggalkan Reza sendirian di rumah.


Sedari kecil Reza tak pernah merepotkan dirinya. Pria itu tak banyak menuntut, dia sangat tahu kemampuan sang kakak. Bahkan Reza berusaha membantu Dewi untuk membiayai sekolah mereka.


Dengan pelan Dewi mengusap wajah adiknya yang sudah terasa dingin. "Dek, kenapa kamu pergi tinggalkan, Mbak. Bukankah kamu pernah berjanji bahwa kita akan tetap bersama hingga tua nanti.


"Kenapa kamu tinggalkan diriku sendiri.Dek, kini Mbak sendiri. Maafkan Mbak yang telah membuat kamu seperti ini. Reza... jangan tinggalkan Mbak! Haa..."


Dewi masih tergugu, nafasnya terasa sesak. Sangat sulit untuk mempercayai kenyataan yang ada. Dunianya benar-benar runtuh. Kini tak ada lagi sosok yang selalu melindunginya.


Tidak ada lagi orang yang selalu menghiburnya. tak ada lagi bahu kekar yang selalu tempatnya bersandar. Rasanya begitu sakit ditinggalkan orang terkasih.


"Sayang, Mas mohon, tegarlah. Ikhlaskan kepergian Reza. Dia sudah tenang di alam sana. Semoga Allah memberikan tempat terindah disisi-Nya." Haikal menenangkan Dewi.


Puas menangis dan bersedih, Dewi menghapus air matanya. Dia berusaha ikhlas melepaskan kepergian sang adik. Dewi menyadari seperti apapun kita menyayangi, jika Allah telah mengambil kembali titipannya, maka, kita tidak akan pernah bisa mengingkari takdir itu.


Dewi mendekatkan wajahnya pada wajah sang adik. Perlahan ia mencium keningnya untuk yang terakhir kali. "Tenanglah disana, Dek. Semoga kelak kita bertemu kembali di surga Allah. Terimakasih segala kasih sayang dan pengorbanan kamu selama ini untuk Mbak. Mbak sangat bahagia dan bersyukur karena mempunyai adik sebaik dirimu."


Dewi memeluk tubuh kaku itu dan kembali mengecup kening Reza, setelahnya kembali menutup jasad sang adik.


Haikal mengusap kepala Dewi dengan lembut dan kembali memeluk tubuh Dewi. "Sabar ya, Sayang. insyaAllah Reza mendapatkan tempat yang terindah. Karena dia adalah seorang adik yang sangat baik."


Haikal mencoba membesarkan hati sang istri, dia tahu ini tidak akan mudah bagi Dewi melewati semuanya. Tapi, mungkin inilah takdir dari Allah. Mereka harus tabah dan ikhlas.


Merasa sudah cukup tenang, Haikal membawa Dewi keluar dari ruangan itu. Dia membawa Dewi untuk duduk sejenak, sembari menanyakan keinginannya. Mau dimanakah Reza di makamkan.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2