Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Kedatangan Doni dan Lina


__ADS_3

Aurel masih bercerita pengalaman dirinya melahirkan, Dewi begitu bersemangat mendengarkannya, karena dia ingin banyak belajar dari sahabatnya yang terlebih dahulu mengalami. Sementara itu, duo Om-om sedang ngobrol di balkon.


Saat mereka sedang asyik ngobrol, terdengar bel apartemennya kembali berbunyi, Arsen bergegas untuk membukakan pintu.


Doni dan Lina bergumam salam, dan di sambut baik oleh Arsen, Pria itu menatap wajah sang asisten tampak lebih bahagia dari sebelumnya.


"Bos, perkenalkan, ini Lina calon istri saya, yang waktu itu pernah saya ceritakan," ujar Doni memperkenalkan calon istrinya pada sang majikan.


"Ah, ya, saya Arsen, teman Doni. Ayo mari silahkan masuk. Loh siapa bocah Tampan ini?" Arsen menatap wajah Putra dan Doni, sepertinya Pria itu mulai curiga.


"Ini anak saya, Tuan, ayo sayang, salim dulu sama Omnya." jawab Lina, sembari menyuruh sang bocah menyalami tangan majikan calon suaminya.


"Ayo, ayo, masuklah!"


Mereka masuk bersamaan, Doni segera memberikan pesanan yang diminta oleh Arsen.


"Sayang, ada tamu tuh," ujar Arsen pada Aurel.


Aurel dan Dewi tersenyum ramah pada tamunya. Mereka segera bersalaman.


"Nama saya, Herlina."


"Ah, saya Aurel, Mbak."


"Saya, Dewi."


"Ayo silahkan duduk, Mbak Lina." Aurel mempersilahkan sang tamu untuk duduk.


"Hai, Rel, bagaimana baby-nya sehat?" tanya Doni yang ikut bergabung dengan mereka. Dan di ikuti oleh Arsen dan Haikal.


"Alhamdulillah sehat, Kak. Mbak Lina siapanya Kak Doni?" tanya Aurel penasaran, karena dia memang belum tahu sama sekali.


"Dia calon istriku. Kami akan segera menikah," jelas Doni pada mereka yang ada di ruang tamu.


"Wah, selamat ya, Mbak Lina dan Kak Doni, semoga diberi kelancaran," seru Aurel memberi selamat.


Semua orang mengaminkan ucapan Aurel, Lina hanya tersenyum menanggapi, wanita itu masih sangat sungkan berada di tengah-tengah majikan Doni.

__ADS_1


"Kapan kamu dan Lina akan menikah, Don?" tanya Arsen ingin memastikan.


"Mungkin dua Minggu kedepan, Bos. Kami harus mempersiapkan segala sesuatunya."


"Baiklah, soal tempat resepsi biar aku yang mempersiapkan," ujar Arsen, dia sengaja memberikan reward khusus buat asistennya yang selama ini telah banyak membantu dirinya dalam mengelola perusahaan, Baik yang ada di luar negeri maupun yang ada di kota bertuah itu sendiri.


"Terimakasih banyak, Bos." Doni sangat bahagia mendapatkan dukungan penuh dari Bosnya.


"Soal, hidangan menjamu, biar aku yang handle. Pokoknya kamu terima beres. Free khusus buat kamu," sambung Haikal yang ikut memberikan apresiasi pada Doni.


"Udah, Mas Doni dan Mbak Lina mempersiapkan untuk malam pertama saja. Gimana biar berkesan, jangan sampai ada tawar menawar seperti kita-kita." Dewi menimpali.


"Kita-kita? Kamu aja kali. Aku sama Aurel nggak begitu, tuh." Balas Arsen.


Semua orang yang ada di ruangan itu ikut tertawa. Kecuali Lina yang tampak masih kaku, wanita itu hanya tersenyum dengan wajah bersemu.


"Oya, Mbak Lina dan Kak Doni, kenal dimana?" tanya Aurel yang masih penasaran dengan hubungan mereka, dia ingin tahu bagaimana awal kisah Doni bisa jatuh cinta pada seorang janda beranak satu. Begitulah dalam pemikiran Aurel dan yang lainnya.


Akhirnya Doni tak ingin menutupi status anaknya, ia juga tak ingin menutupi tentang hubungannya dan Lina. Doni menceritakan perjalanan cinta mereka. Semua yang mendengar cukup terharu.


"Ternyata semua diantara kita mempunyai kisah yang pahit ya, tetapi, jika kita sabar dalam menerima ujian itu, maka Allah akan membalasnya dengan kebahagiaan yang tak terkira." Aurel mengingat kembali, ternyata bukan dirinya saja yang pernah mengalami kisah pilu.


"Terimakasih banyak,Bos, saya sangat bersyukur bisa mengenal orang sebaik, Bos. insyaAllah, saya akan tetap bekerja, saya tidak akan meninggalkan Bos."


Kini persaudaraan itu semakin kental. Arsen sudah menganggap Doni sebagai saudaranya sendiri, Lina juga sangat bersyukur ternyata majikan calon suaminya begitu baik, penuh kekeluargaan.


Setelah cukup lama mereka bercengkrama. Akhirnya Doni dan Lina, pamit untuk pulang, begitu juga Haikal dan Dewi.


Setelah mereka pergi, Arsen dan Aurel kembali berbincang-bincang mengenai persiapan untuk resepsi pernikahan Doni. Arsen meminta pendapat Aurel mana hotel yang terbaik untuk pelaksanaan resepsi.


"Lucu ya, Mas, kita mempersiapkan pernikahan Doni, sementara kita sendiri tidak pernah duduk di pelaminan, bahkan sekarang kita sudah mempunyai dua orang anak." Aurel seperti sedang mencurahkan isi hatinya.


"Curhat sepertinya nih?" tanya Arsen sembari mengusap kepala Aurel dengan lembut.


"Tuh, paham. Siapa sih, Mas, wanita yang tak menginginkan momen bahagia,dan berharga sekali seumur hidup. Semua orang punya kenang-kenangan, aku tidak ada yang akan di ceritakan pada anakku nanti."


Arsen mendekap Istri dan anaknya. Pria itu begitu mengerti apa yang sedang dirasakan oleh istrinya.

__ADS_1


"Sayang, kita akan mengadakan resepsi pernikahan, bahkan jauh sebelumnya aku sudah mempersiapkan kado spesial buat kamu nanti. Tapi, tidak sekarang, nanti setelah kamu menyelesaikan kuliah, dan telah mendapatkan gelar Dokter."


Aurel terkesiap dengan mata berbinar. "Kamu serius, Mas?"


"Benar, Sayang. Aku tidak mungkin mengabaikan hal penting itu."


"Ya Allah, Terimakasih ya, Mas. Aku kira kamu tidak peka akan hal itu, kamu benar-benar suami paling the best." puji Aurel memeluk Arsen dengan bahagia.


"Tapi, serius nanya. Apakah kamu nggak keburu tua? Nungguin aku tiga tahun lagi. Hehe..."


"Eh, ngatain suami sendiri tua. Biar tua-tua begini bisa bikin kamu nyerah diranjang," balas Arsen


"Ish, kalau itu aku udah paham banget. Pokoknya diakui deh, kamu mantul soal ranjang."


Pasangan itu tertawa bahagia, saling bersenda gurau. Arsen begitu menyayangi istri dan anaknya.


"Mommy dan Daddy kapan kesini, Mas? Aku udah kangen banget sama putraku." rengek Aurel pada suaminya.


"Kata Mommy, tunggu Alif libur dulu, Sayang, Minggu ini sudah ujian, mungkin minggu depan mereka sudah disini. Sabar ya, Bunda."


"Anisa tidur, Sayang?" tanya Arsen, menilik bayi mungil itu sudah terlelap dalam pelukan Bundanya.


"Iya nih, maunya ditimang, kalau di taruh nangis dia."


"Yaudah, ayo kita coba ayunan yang di beli oleh Doni tadi."


"Hah! Serius kamu, Mas?"


"Serius, itu sudah terpasang di kamar."


"Ya ampun, kok aku nggak tahu. Yaudah, ayo kita cobain, Mas."


Bayi mungil itu dimasukkan dalam ayunan, Arsen menyetel ayunannya agar slow, ternyata bayi itu tidur dengan nyaman.


"Tuh, apa aku bilang, benar 'kan, dia pengen di ayun. Ah, kalau tahu begini aku kan bisa tidur dengan nyenyak," seru Arsen sembari menghempas tubuhnya di atas ranjang.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2