Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Sarapan bersama


__ADS_3

Dengan perasaan tidak nyaman Aurel tidur seranjang dengan Ayah dari anaknya itu, walaupun sudah memberi jarak dan pembatas, tetapi rasa takut dan was-was selalu melipir dalam hatinya.


Apakah aman tidur bersama Pria itu? Mungkinkah dia tidak bertindak aneh, entahlah yang jelas Aurel berusaha untuk mempercayai ucapan Arsen.


Pagi-pagi sekali Aurel terbangun mendapati tubuh dan pakaiannya aman tanpa berubah sedikitpun, wanita itu menghirup nafas lega. Ia melihat suami dan anaknya masih tertidur pulas, ada perasaan aneh dalam hatinya saat menatap wajah tampan kedua Pria beda generasi itu.


Aurel beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi ambil wudhu, lalu menunaikan shalat subuh dua rakaat, selesai sholat ia segera keluar mengarah ke dapur.


Aurel membuka kulkas yang tampak isinya penuh dengan bahan makanan, entah kapan dua orang Pria dewasa itu belanja lengkap, apakah mereka masak sendiri?


Aurel mengeluarkan bahan-bahan yang akan di eksekusi melalui tangannya maka bahan makanan itu akan di ubah menjadi menu yang lezat.


Arsen baru bangun, ia melihat tempat tidur Aurel kosong tak ada penghuninya, Pria itu seperti kebakaran jenggot segera bangkit untuk mencari keberadaan sang istri, takut jika wanita yang baru saja genap sembilan belas tahun itu kabur.


Saat keluar dari kamar, Arsen mendengar suara riuh di dapur, dan aroma masakan yang lezat terhirup begitu kuat.


Rasa penasaran Pria itu begitu besar ingin memastikan siapakah yang memasak di dapur, apakah sang asisten? Tapi sejak kapan Doni kerajinan begitu.


Seketika senyum Pria itu mengembang saat melihat wanita pujaannya sedang berkutat dengan peralatan dapur.


Rambut panjangnya yang di ikat asal membuat wajah wanita itu begitu ayu. Arsen hanya bisa menikmati pemandangan itu sembari dalam hati mendamba dan memuji kecantikan istri kecilnya itu.


Andai saja Hubungan mereka tidak bermasalah, maka sudah pasti Arsen akan menghampiri dan mendekapnya dari belakang dan menghadiahi kecupan hangat di setiap inci wajah sang istri.


Tapi apalah daya, semua itu masih jauh panggang dari api. Arsen terpaksa harus menanamkan rasa sabar lebih dalam menghadapi sikap Aurel yang masih terbilang sangat labil.


Arsen juga menyadari bahwa dirinya telah merenggut masa-masa remaja Aurel yang seharusnya masih bebas bermain dengan teman sebaya, Namun kini wanita itu sudah tak memiliki kebebasan kecuali cita-citanya, maka dari itu Arsen ingin mendukung penuh cita-cita Aurel untuk menjadi seorang dokter Nefrologi.


Arsen juga sedang menyediakan hadiah besar yaitu sebuah RS yang akan diatas namakan Aurel Zahira. Berharap suatu hari nanti akan mendapat maaf dari sang istri meskipun harus menunggu entah sampai berapa tahun lagi.


Dengan telaten Aurel menata hidangan yang telah selesai ia masak. Saat Aurel sedang fokus Arsen berdiri dihadapannya.


"Astaghfirullah... Kebiasaan banget ngagetin! Untung nih jantung Made in Allah, jadi masih aman." Rutunya sembari menuang air kedalam gelas.

__ADS_1


Arsen tersenyum mendengar celotehan sang istri. "Sepertinya masak enak pagi ini. Aku boleh ikut sarapan 'kan?" Tanyanya dengan wajah berharap.


"Boleh, bukan Tuan saja, sekalian panggil kak Doni," ujar Aurel sembari menduduki kursi meja makan itu.


"Pagi, Tuan, Nona..." Belum sempat dipanggil yang punya badan sudah nongol dengan senyum cerah, membuat Arsen menatap tajam.


"Pagi, Kak Doni. Ayo duduklah, aku sudah buat sarapan banyak pagi ini," balas Aurel, namun sang asisten masih ragu untuk duduk karena tatapan Tuannya yang menakutkan.


"Kenapa bengong, Kak? Ayo duduklah!" Titah Aurel sembari mengisi piring sarapan untuk kedua Pria itu.


Saat Aurel ingin mengisi piring Doni, tangannya terhenti karena dicegat oleh Arsen.


"Stop!"


Aurel mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Arsen, "Kenapa?"


"Biar dia ambil sendiri! Mulai sekarang kamu tidak boleh terlalu perhatian dengan dia, karena dia itu sudah besar sudah bisa mengambil makanannya sendiri!" Ketus Arsen menatap Doni dengan kesal.


"Apa sih! Kamu dan kak Doni itu sama saja menurut aku," ucap Aurel menatap Arsen kesal.


Apa? Dia menyamakan aku dan Doni? Benar-benar bocah nakal.


"Kenapa kamu menyamakan aku dan Doni? Ya jelas bedalah," balas Arsen tak terima.


"Apaan yang beda, orang sama-sama ngeselin kok," jawab Aurel acuh tetapi mengena di hati.


Arsen dan Doni saling melempar pandang, Doni tersenyum seperti sedang mengejek majikannya itu.


Mereka makan dalam keheningan, tak ada yang membuka suara, Aurel juga enggan untuk bicara.


Setelah selesai makan dan mengurus Alif, mereka segera bersiap untuk mengantarkan Alif kerumah Bibi Ana terlebih dahulu sebelum mengantarkan Aurel ke kampus.


Ya, Arsen juga meminta Aurel untuk berhenti bekerja di restoran Padang. Arsen ingin Aurel fokus mengurus Alif sepulang kuliah.

__ADS_1


Kembali wanita itu hanya menuruti keinginan Arsen, demi tak berpisah dari sang Putra.


Jam kuliah telah usai, Aurel bergegas pulang untuk menjemput Alif dan sekalian ingin mengambil beberapa keperluannya yang masih berada di kediamannya.


"Aurel tunggu!" Suara seseorang memanggilnya dengan meraih tangan Aurel.


"Andre! Maaf, aku sedang buru-buru," elak Aurel ingin menghindari Pria itu.


"Rel, tunggu! Kamu harus menjelaskan semuanya padaku dengan kejadian kemaren," ujar Pria itu yang ingin mendapatkan penjelasan dari Aurel.


"Maaf, Ndre. Apa yang kamu lihat dan kamu dengar adalah benar. Dia memang suamiku."


"Tapi kenapa awalnya kamu mengatakan sudah bercerai? Katakan Aurel, apakah hubungan kalian sedang bermasalah?"


"Aurel, ayo pulang saya antarkan!" Tiba-tiba saja ucapan Haikal membuyarkan obrolan dua orang mahasiswa itu.


"Ta-tapi..." Ucapan Aurel menggantung saat tangan Haikal sudah meraih pergelangan tangannya dan membawa wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


Andre speechless, Pria itu semakin bingung. Kenapa sekarang sang Dosen begitu perhatian terhadap Aurel. Siapa sebenarnya Aurel ini?


Sementara itu di sudut kampus tepatnya di depan kantin, ada sepasang mata menatap Haikal sedang menggandeng tangan Aurel untuk masuk kedalam mobil.


Rasa nyeri teramat sakit, Begitu berartikah istri orang ketimbang dirinya yang jelas masih single.


Apa yang tidak menarik pada dirinya? Kenapa sang Dosen tidak pernah melirik dan bersikap manis terhadap dirinya.


"Beruntung sekali kamu Aurel, kamu disukai oleh Pak Haikal. Tidak seperti diriku hanya Secretly Love." Gumam wanita itu sembari menghapus air matanya.


Dewi menatap wajahnya di pantulan cermin yang ada di toilet. Apa yang kurang padanya? Apakah kurang cantik? Sehingga Pria pujaannya itu mendambakan istri orang.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2