
Dewi menatap Haikal dengan rasa bersalah karena sang adik telah bicara kasar padanya.
"Maafkan adik saya, Pak." Ucap Dewi lebih lembut dari yang biasanya.
"Tidak apa-apa, sewajarnya dia marah. Ayo, masuklah." Haikal segera masuk kedalam mobil dan di ikuti oleh Dewi.
"Tadi Arsen dan Aurel kemana?" Tanya Haikal membuka percakapan.
"Mereka bilang ke mall mau bawah Alif bermain."
"Kita ikut mereka ya, mau nggak?" Tanya Haikal kembali yang menurut Dewi sangat aneh.
"Tapi aku tidak tahu mereka ada di mall mana."
"Baiklah, akan aku telpon dulu." Haikal segera menghubungi Arsen, setelah mengetahui mereka ada di mall mana, Haikal segera melajukan mobilnya menuju kesana.
Tidak berapa lama mobil Haikal telah memasuki area parkir. Mereka segera turun dan masuk kedalam gedung pusat perbelanjaan itu.
Haikal membawa Dewi kesuatu tempat sebelum menemui Aurel dan Arsen. Ia membawa Dewi ke lantai tiga mall, yang mana tempat itu di khususkan untuk foto-foto.
Dilantai tiga ini mempunyai pelataran terbuka dan view-nya terlihat gedung-gedung tinggi menjulang dan sangat bagus untuk orang membuat foto momen berharga.
Dewi belum ngeh, kenapa Pak Dosen membawanya kesana, wanita itu hanya memperhatikan tempat itu yang memang belum ia ketahui, karena keseharian Dewi dihabiskan ke kampus dan tempat kerja maka ia tak tahu jika sudah banyak perubahan di mall yang ada di kota itu.
Dewi masih memperhatikan orang-orang yang sedang berpose bersama keluarga maupun pasangannya.
"Kita mau ngapain disini, Pak?" Tanya Dewi sembari menatap Pria yang sedari tadi hanya diam disampingnya.
"Ya, foto. Kamu ingin kita foto bareng 'kan? Mumpung kamu masih menggunakan pakaian itu, Ayo kita foto sekarang biar punya kenangan untuk kita." Jawab Haikal seketika membuat hati Dewi meleleh.
"Ha... Bapak benar-benar membuat aku bahagia," ujar Dewi sembari tersenyum manja.
"Ish, apaan sih. Udah ayo!"
"Pak, tunggu!"
"Apalagi?"
"Gandeng."
"Ya ampun mengkek banget, kenapa nggak sekalian aja minta gendong."
"Emang boleh? Haa, mau banget!" Ujar wanita itu dengan hentakan kaki manja dan menggemaskan.
Haikal hanya menggelengkan kepala melihat tingkah manja istrinya itu, sembari mengambil tangan Dewi, menggiringnya menuju tempat pemotretan.
__ADS_1
Dewi begitu senang bisa mengabadikan momen berharga itu di dalam sebuah gambar. Mereka sengaja menggunakan jasa fotografer yang ada di tempat itu.
Mereka membuat bermacam pose yang terlihat mesra karena menurut arahan dari sang fotografer, tentu saja itu sangat menguntungkan bagi Dewi.
Ada satu gaya foto yang membuat kedua pasangan itu terdiam saling bertatapan saat fotografer itu meminta Haikal mengecup kening Dewi, mereka diarahkan untuk saling berhadapan sehingga gaya itu diminta oleh tukang potret untuk membuat momen mesra pasangan suami istri itu.
"Ayo Mas, kecup kening embaknya." Titah fotografer itu yang sudah siap untuk membidik dengan cahaya lensa kamera digital yang ada di tangannya.
Haikal kembali menatap Dewi, dan wanita itu juga menatapnya dengan perasaan tak menentu. "Nggak usah mikir yang aneh-aneh, ini hanya untuk sebuah gambar. Lagipula kamu halal untuk aku sentuh."
"Nggak papa, Pak. Anggap saja ini adalah foto prewedding kita," balas Dewi tersenyum bahagia.
"Muuach."
Ckrekk! Ckrekk!
Pidikan Camera itu telah mengambil pose mesra mereka. Dewi senyum-senyum sendiri dan rasanya ingin sekali berterima kasih pada tukang foto itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum nggak jelas begitu?" Tanya Haikal menatap aneh.
"Sedang bahagia, Pak. Nggak akan aku mikir yang aneh-aneh, kan kita memang pasangan halal. Jiwa dan ragaku semua milik Bapak." Ucap Dewi seketika Haikal memukul keningnya segera meninggalkan Dewi, agar wanita itu meneruskan hayalannya.
Haikal menghampiri fotografer itu dan melihat hasilnya mana saja yang akan di cetak. Dewi ikut nimbrung memilih beberapa foto yang menurut mereka bagus untuk di cetak.
Setelah selesai dan menerima hasil pemotretan dadakan itu, mereka segera menuju lantai dua dimana tempat Aurel dan Arsen sedang menunggu Alif sedang bermain.
"Wih, lagi seneng banget kayanya nih? Adakah yang spesial?" Tanya Aurel penasaran.
"Spesial banget pokoknya," balas Dewi sumringah.
"Oya, Apa? ayo ceritakan." Aurel membawa Dewi menjarak dari kedua Pria dewasa itu, mereka memilih duduk di pojok tempat Alif bermain bola di dalam jaringan.
Dewi bercerita kebahagiaan apa yang baru saja ia lalui bersama kekasih halalnya itu. Aurel ikut bahagia mendengar cerita sahabatnya. Dewi juga menunjukkan gambar pemotretan mereka tadi.
"Ciee.. Mesra banget. Ikut senang aku Wi, aku Do'ain semoga kedepannya semakin ada kemajuan untuk hubungan kamu dan Pak Haikal."
"Aamiin... Terimakasih untuk do'anya sahabat terbaikku." Dewi merengkuh bahu Aurel dan mereka tertawa bersama.
"Aku pasti akan merindukan kebersamaan ini nanti," ujar Aurel yang membuat Dewi menatap heran.
"Emang kamu mau kemana, rel?" Tanya Dewi penasaran.
"Wi, sepertinya aku akan ikut Mas Arsen ke Malaysia, mungkin juga aku akan meneruskan strata dua ku disana." Aurel memberitahukan kepada sahabatnya.
"Kamu serius,Rel? Ya... Pasti aku akan kesepian tanpa kamu," ucap Dewi sendu.
__ADS_1
"Nggak usah sedih, kan nanti ada Pak Haikal yang akan selalu menemanimu."
"Yaelah, soal itu masih jauh panggang dari api, Rel. Masih alot soalnya."
"Tapi itu sudah ada kemajuan tuh, perlahan tapi pasti BESTie." Ujar Aurel memberi semangat.
"Hmm, semoga saja. Aku sangat berharap bisa dicintai oleh dia."
Jika duo sahabat itu sedang membahas tentang kebahagiaan Dewi, lain halnya dua orang Pria dewasa itu yang membahas tentang perusahaan dan RS.
Arsen kembali meminta pada Haikal untuk mengelola perusahaannya, mungkin Minggu depan mereka akan bertolak ke Malaysia, untuk pengobatan Arsen.
"Daddy..." Panggil Alif yang telah keluar dari permainan mandi bola karena sudah jenuh.
"Eh, udah selesai mainya Sayang?" Tanya Haikal yang segera menggendong bocah kecil itu.
"Cudah, Om. Daddy, Alif pengen es clim," pintanya pada sang Daddy.
"Baiklah, ayo ajak Bunda sama Tante Dewi, kita makan eskrim bareng," ujar Arsen menyuruh anaknya untuk memanggil kedua wanita itu.
Alif segera turun dari gendongan Haikal dan menghampiri Bundanya. Haikal tersenyum gemas melihat tingkah lucu anak sahabatnya itu.
"Asyik 'kan, punya anak. Ayo segera proses," ujar Arsen menyikut sahabatnya itu.
"Apaan sih kamu. Boro-boro mau proses, lah wong tidur aja pisah kamar."
"Hahaha... Ngenes banget."
"Ya, gimana lagi. Harus komit terhadap kesepakatan.
"Aku kasih tahu ya kawan. Cinta itu tumbuh dengan seiring waktu, dan ada hal yang ampuh membuat cinta tumbuh dengan cepat."
"Apa?" Tanya Haikal serius penasaran.
"Hubungan badan." Jawab Arsen juga serius
"Hah? Kamu gila?"
"Aku nggak gila. Kamu coba saja kalau tidak percaya, karena dengan itu kita sangat bergantungan dengannya dan disitulah tumbuh rasa sayang dan tak ingin berpisah."
"Sok tahu kamu." Ejek Haikal.
"Hah, nih orang dibilangin nggak percaya banget! Terserah kamu. Kalau ingin percaya buktikan sendiri."
Haikal berpikir sejenak meresapi ucapan sang sahabat.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰