Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Membawa Alif ke kantor


__ADS_3

Setelah selesai makan, mereka segera pulang menggunakan mobil masing-masing. Arsen terlebih dahulu pulang karena Haikal sedang bertelponan dengan seseorang.


Setelah bertelponan, Haikal segera menuju parkiran mobil dan menggerakkan mobilnya keluar dari perkarangan Cafe. Namun, netranya tak sengaja menatap seorang wanita yang tadi sebagai pelayan Cafe.


Dewi masih berdiri dipinggir jalan sembari melihat jam tangannya, sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang, raut wajah gelisah terlihat jelas.


Tin! Tin!


Haikal menurunkan kaca mobil sontak membuat Dewi terkesiap, kembali rasa malu tak terkira. Dewi menatap Haikal hanya sesaat den segera mengalihkan pandangannya.


"Mau kemana Wi?" Tanya Haikal di iringi senyum menawannya sehingga membuat hati gadis itu jedag jedug.


"Eh, Pak. Mau pulang,lagi nunggu jemputan," jawab Dewi jujur


"Udah dijalan yang jemput?"


"Be-belum Pak, dari tadi ponselnya tidak bisa dihubungi, mungkin sebentar lagi," balas Dewi yang tak berani menatap wajah dosennya itu.


"Naiklah! Saya akan mengantarkan kamu pulang."


"Eh, ti-tidak usah Pak, mungkin sebentar lagi datang jemputan saya." Tolak Dewi.


"Ayo masuklah! Saya tidak akan mungkin tega meninggalkan kamu sendirian di pinggir jalan begini. Apalagi di daerah ini sangat rawan tindak kejahatan," ujar Pria itu yang menurut Dewi penuh perhatian.


Wanita itu hampir tidak percaya dengan apa yang di dengar. Sungguh hal yang sangat membahagiakan. Selama ini ia tak pernah mendapatkan sedikit saja perhatian dari sang Dosen yang begitu di kaguminya dan dosen itu pula yang memenuhi hatinya.


Dewi tak ingin membuang kesempatan yang ada, wanita itu segera masuk kedalam mobil Haikal dengan hati yang bahagia.


"Kamu tinggal dimana?" Tanya Haikal masih fokus mengemudi.


"Di jalan harapan raya, Pak," jawab Dewi tersenyum simpul.


"Baiklah, saya antar kamu pulang dulu."


"Maaf sudah merepotkan Bapak," ucap Dewi tak enak.


"Tidak apa-apa. Oya, kamu sejak kapan bekerja di Cafe itu?" Tanya Haikal sedikit penasaran

__ADS_1


"Sejak saya masih kelas satu SMA, Pak," jawab Dewi apa adanya.


Haikal sedikit terkejut mendengar Jawaban gadis itu. Haikal tak pernah menyangka, Dewi yang terlihat ceria dan sedikit bar-bar ternyata mempunyai perjuangan hidup yang keras.


Setelah sampai Dewi segera mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga pada sang Dosen yang telah berbaik hati mengantarkannya pulang.


"Terimakasih banyak ya, Pak, sudah mengantarkan saya pulang."


"Ya, sama-sama Wi."


Haikal menjalankan mobilnya kembali setelah memastikan gadis remaja itu masuk kedalam rumah sederhananya.


***


Sementara itu Arsen tidak kembali kekediaman Aurel, Pria itu balik ke apartemen. Arsen ingin memberikan Aurel kenyamanan tanpa kehadirannya dirumah itu.


"Mungkin ada baiknya aku tidak terlalu sering datang kerumahnya, agar dia merasa lebih tenang, tanpa kehadiranku." Gumam Pria itu sendiri sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Arsen masih memikirkan hal apa yang harus ia lakukan untuk melunakkan hati sang istri yang kini keras bagaikan batu. Ia juga masih kepikiran ucapan Haikal bahwa ada seseorang yang sedang mendekati Aurel.


Arsen begitu takut jika istrinya itu akan jatuh cinta pada Pria itu. Bagaimana jika suatu saat Aurel datang bersama lelaki pilihannya dan meminta talak darinya.


Arsen mencoba tenang dari segala pikiran buruk yang sedang menghantuinya. Pria itu mencoba memejamkan mata agar jiwanya damai sesaat berada di alam mimpi.


Pagi seperti biasanya, Arsen sudah bersiap untuk ke kantor. Ya, Pria itu sudah menanam saham di sebuah perusahaan property yang ada di kota itu. Dan ia sudah mempunyai kedudukan sendiri karena empat puluh persen saham itu atas nama dirinya.


Sebelum ke kantor ia mampir terlebih dahulu ke kediaman Aurel, Arsen ingin menemui sang Putra.


Setelah sampai Arsen segera masuk kedalam rumah, ia melihat Aurel sudah bersiap untuk berangkat ke restoran. Sebenarnya hatinya sungguh tak rela membiarkan sang istri bekerja. Tetapi lagi-lagi ia tak bisa berbuat apa-apa Aurel sama sekali tak menerima pemberian apapun dari Arsen kecuali untuk kebutuhan Alif.


"Kamu sudah mau pergi?" Tanya Arsen dengan nada lembut.


"Iya." Jawab Aurel singkat sembari menggendong Alif untuk di titipkan pada Bibi Ana.


"Sini Alif biar aku yang mengantarkan pada Bibi Ana." Arsen mengambil Alif dari gendongan Aurel, ia masih ingin bermain-main dengan putranya.


Aurel memberikan Alif dan bekal sang bayi pada Arsen. "Alif, Bunda pergi kerja dulu ya, Nak. Alif jangan rewel ya, hari ini Bunda nggak ada mata kuliah, jadi nanti siang Bunda pulang cepat, kita main lagi nanti ya." Pamit Aurel pada putranya.

__ADS_1


"Iya Bunda, hati-hati ya, jangan terlalu lelah. Kami sayang Bunda," Balas Arsen mewakili perasaannya.


Aurel hanya menatap malas mendengar jawaban Arsen, ia segera beranjak meninggalkan ayah dan anak itu yang masih berdiri di depan rumah.


Arsen menatap kepergian sang istri dengan hati sedih. Sampai kapan hatimu bisa berdamai, Sayang? Kapan aku bisa menjadi suami sungguhan kamu?


Arsen membawa Alif masuk kedalam mobil, ia mengatakan pada Bibi Ana bahwa hari ini Alif dia yang mengasuh.


"Jalan Don!" Titah Arsen.


"Kita kemana Tuan?" Tanya Doni bingung, karena sang majikan membawa anaknya.


"Kekantor."


"Tuan yakin mau kekantor?" Tanya Doni tak percaya.


"Yakinlah. Emang kenapa?"


"Tapi, bagaimana dengan den Alif?"


"Ya kamulah yang mengasuh! Hari ini kamu nggak usah ke proyek pembangunan dulu. Kamu jagain Alif di ruangan aku!"


Doni menelan salivanya dengan kasar, apa-apaan bosnya itu? Bisa-bisanya perkejaannya merangkap jadi baby sitter. Hah, dasar orang kaya. Nasib malang menjadi orang pinggiran yang harus manut perintah majikan.


"Kenapa kamu menatapku begitu? Kamu tidak suka dengan tugas yang aku berikan?" Tanya Arsen, ia melihat Doni menatapnya dengan lama melalui kaca yang ada di mobil itu.


"Ah, bu-bukan Tuan, mana pernah aku tidak menyukai segala tugas yang Tuan berikan. Sungguh tugas yang menyenangkan bagiku bisa menjadi pengasuh bayi," jawab Doni sembari memasang senyum semanis mungkin.


Sesampainya di kantor, Arsen segera masuk dengan menggendong Alif, semua mata menyaksikannya. Para pegawai wanita sungguh tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, seorang Bos membawa bayi kedalam ruangannya.


Desas desus mulai terdengar, bisik-bisik tak terlepas dari bibir wanita-wanita cantik nan seksi itu. Doni hanya mengukir senyum kepada kaum hawa itu.


Arsen memberikan Alif pada Doni, Pria itu tampak kewalahan mengasuh bayi mungil yang sudah berumur tujuh bulan, Alif cukup aktif karena sudah mulai bisa merangkak.


Arsen hanya terkekeh melihat wajah lelah sang asisten. Bagi Doni lebih baik ia diberi tugas kantor daripada menjadi seorang pengasuh.


"Mengasuh itu harus ikhlas, Don. Sudahlah nikmati saja, anggap saja sebagai latihan, jadi besok kalau kamu sudah menikah dan punya anak, kamu sudah tahu cara mengasuh bayi," celoteh Arsen sembari mengerjakan tugasnya yang menumpuk di atas meja.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2