Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Bertemu sang Dosen


__ADS_3

Setelah dua hari training, akhirnya Aurel diterima bekerja di restoran Padang itu, karena restoran itu buka dua puluh empat jam, maka Aurel mendapatkan shift pagi hingga siang jam satu.


Restoran Padang itu terbilang cukup ramai dan laris maka mereka mempunyai banyak karyawan. Bagian pembungkusan saja sampai Enam orang termasuk Aurel.


Mungkin karena Aurel jujur mengatakan bahwa dirinya sedang hamil, maka manajer restoran itu menempatkan dirinya bagian pembungkusan yaitu dari jam tujuh hingga jam satu siang.


Aurel sangat bahagia dan senang karena bisa mendapatkan pekerjaan itu, yang penting ada pemasukan setiap bulannya. Meskipun diawal sedikit merasa kakinya pegal karena banyak berdiri, mungkin belum terbiasa, namun wanita itu tetap bersyukur dan semangat bekerja.


Siang ini Aurel baru saja pulang dari tempat kerja, dengan kondisinya yang sedang berbadan dua, maka ia merasa sangat lelah. Aurel ingin segera istirahat.


"Aurel?" Panggil Bibi Ana.


"Ya, Bi?" Aurel menghentikan tangannya yang akan memutar kenop pintu.


"Tadi ada surat dari sekolah kamu," ujar Bibi Ana menyerahkan surat itu.


"Ah, iya. Terimakasih ya Bi."


Aurel masuk kedalam rumah, ia segera membuka isi surat, tertera di surat itu panggilan dari guru BK agar Aurel datang besok pagi ke sekolah.


Wanita itu bertanya-tanya dalam hati, untuk apa guru BK memanggilnya? Apakah dirinya mempunyai masalah? bukankah ia sudah melunasi segala tunggakan SPP saat pengambilan ijazah kemaren? Dirinya juga tidak pernah berurusan dengan guru bimbingan konseling itu.


Entahlah Aurel enggan untuk menerka-nerka yang jelas ia sudah tidak sabar untuk menunggu pagi besok, agar ia mengetahui persoalannya.


---Malaysia--


Sementara itu Di kantor, Arsen sedang mengamati video yang dikirim oleh spionase pribadinya, orang itu ditugaskan untuk memantau aktivitas sang istri dan mengurus segala kesulitan wanita itu.


Arsen melihat bagaimana istri kecilnya sedang melayani para pengunjung restoran, dengan cekatan wanita itu membungkus makanan yang dipesan.


Merasa sedih melihat kondisi istrinya, Arsen mencemaskan keadaan Aurel dan janinnya. Ia takut jika Aurel akan kelelahan, tetapi Arsen tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak mau jika Aurel mengetahui bahwa dirinya masih memantaunya.


Pria itu berharap semua akan baik-baik saja. Kembali rasa penyesalan melipir dihatinya. Andai saja dia tidak menyia-nyiakan gadis itu, mungkin saat ini ia bisa melindungi istri dan calon anaknya.


Arsen mengusap wajahnya dengan kasar. Dadanya terasa begitu sesak, ia merasa tidak berguna sebagai seorang suami tega membiarkan istri yang sedang hamil bekerja demi kelangsungan hidup.


Arsen sangat tahu bagaimana istri kecilnya itu, Aurel tidak akan berharap pada orang lain jika dirinya tidak terdesak dengan keadaan. Seperti yang telah terjadi, Aurel tidak mengambil uang pemberiannya jika tidak begitu membutuhkan biaya pengobatan sang bunda.


Bahkan kartu kredit yang ia berikan hingga saat ini Aurel belum pernah menyentuhnya. Arsen benar-benar telah salah menilai gadis itu dari awal.


***


Pagi ini Aurel telah bersiap untuk datang ke sekolahnya. Ia ingin memastikan ada hal apa guru BK memanggilnya.


"Permisi, Bu, apakah Ibu memanggil saya?" Tanya Aurel setelah masuk keruangan guru BK.


"Dengan Aurel 'kan?"


"Benar,Bu."

__ADS_1


"Ayo silahkan duduk!" Ujar guru BK yang bernama Ernawati itu.


Aurel segera duduk dan sedikit gugup, rasa penasaran masih bergelayut di benaknya.


"Begini Aurel, apakah kamu benar ingin kuliah?"


"Benar Bu, tapi tidak sekarang, karena saya belum mempunyai biaya untuk kuliah tahun ini," jelas Aurel dengan jujur


"Kalau ada yang membiayai, mau nggak?" Tanya Bu Erna yang membuat Aurel bingung tidak mengerti.


"Maksud Ibu?" Tanyanya masih bingung


"Begini, pengajuan BMU mu sudah di setujui ( Beasiswa masuk universitas)


"Maksudnya, Bu? mohon maaf, saya tidak pernah mengajukan itu," ujar Aurel masih tidak mengerti.


"Karena beasiswa yang pernah kamu dapatkan telah diberikan kepada siswa yang lain, maka wali kelasmu mengajukannya, kamu siswi berprestasi nilai akademik kamu juga bagus, jadi ada seorang dosen fakultas kedokteran yang akan membiayai kuliah kamu," jelas Bu Erna.


Seketika mata Aurel berkaca-kaca. Antara percaya tak percaya dengan pernyataan dari guru BK itu. Air matanya lolos begitu saja.


"Ibu, ini benar 'kan? Aku tidak mimpi?" Tanya Aurel kembali dengan segala kebahagiaan yang tak terduga.


"Benar Aurel, ini bukan mimpi. Segera persiapkan dirimu untuk pendaftaran, universitasnya sudah di tentukan.


"Baiklah Bu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak atas segala pertolongan Ibu dan guru-guru yang lainnya," ucap Aurel sembari menyalami tangan Bu Erna dengan takzim.


"Maaf, Bu, saya boleh tahu siapa dosen itu? Apakah beliau juga mengajar di kampus itu?" Tanya Aurel agar ia bisa mengucapkan terimakasih kepada sang dosen yang telah berbaik hati.


"Ya, dia juga mengajar disana. Besok temuilah! Namanya, Pak Haikal," jelas Bu Erna.


"Baiklah, Bu, saya akan menemui beliau besok. Kalau begitu saya permisi untuk pulang dulu Bu!"


"Ah, Aurel?" Panggil Bu Erna.


"Ya, Bu?" Jawab wanita itu menghentikan langkahnya saat ingin keluar dari ruangan itu


"Bisa kamu tinggalkan no ponselmu? Agar ibu bisa menghubungimu jika ada info penting!"


"Ya, bisa Bu." Aurel segera memberikan no ponselnya pada guru BK itu.


Setelah dari sekolah Aurel segera menuju tempat kerjanya, ia sudah minta izin akan datang terlambat, maka Aurel berjanji akan menggantikan jam kerjanya yang tertunda.


Dengan semangat Aurel mengerjakan tugasnya, hari ini ia benar-benar bahagia. Karena ia mendapatkan shift pagi, maka Aurel akan mengambil mata kuliahnya disiang hari.


Setelah pulang kerja, Aurel mempersiapkan segala keperluannya untuk pendaftaran besok. Aurel sangat bersyukur bisa masuk di universitas terbaik yang ada di kota Bertuah itu.


Pagi ini Aurel kembali izin ditempat kerjanya, ia mengatakan yang sebenarnya kepada manajer restoran itu bahwa ia sedang mendaftar kuliah, maka bentuk tanggung jawab ia akan menukar jam kerjanya di siang hari untuk beberapa hari ini selama pendaftaran berlangsung.


Setibanya di kampus Aurel segera menemui dosen yang bernama Haikal, seperti yang diarahkan oleh Bu Erna saat ditelepon.

__ADS_1


Setelah mendapat petunjuk, maka Aurel segera menemui dosen Haikal di ruangannya.


Tok! Tok!


"Silahkan masuk!" Terdengar suara seorang lelaki yang cukup tegas dan berwibawa.


"Permisi Pak, saya Aurel Siswa dari SMA N 09, saya diminta Bu Erna untuk menemui Bapak," ujarnya jujur


"Oh, jadi ini yang namanya Aurel. Ayo silahkan duduk!" titah Pak Dosen dengan ramah.


Aurel tersenyum segera duduk di bangku yang berhadapan dengan Dosen itu. Ia menatap wajah Pria itu, sungguh diluar dugaannya, semula ia berpikir bahwa Pak Haikal itu sudah tua tetapi ternyata masih cukup muda dan tampan.


"Jadi kamu siswi yang berprestasi itu, sungguh luar biasa. Nilai akademik kamu sangat bagus. Maka dari itu saya memutuskan untuk menjamin segala biaya kuliah fakultas kedokteran kamu."


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak, Pak, atas kebaikan Bapak yang sudah mau membiayai kuliah saya. Sungguh saya tidak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan perasaan terimakasih ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak."


"Ya, sama-sama Aurel, bisa berikan kepada saya semua berkas-berkas pendaftaran kamu? Nanti biar saya yang mengurus semuanya. Kamu cuma perlu tinggalkan no ponsel nanti akan saya hubungi," ujar pria itu yang menurut Aurel sungguh sangat baik sekali.


"Ah, iya. Ini Pak berkas-berkasnya. Tapi Pak?" ucap Aurel menggantung.


"Apa itu Aurel?"


"Saya ingin jujur, bahwa saya sudah menikah dan sekarang saya sedang hamil. Apakah saya masih diperbolehkan untuk mendapatkan beasiswa ini Pak? Karena saya tahu hal itu mungkin perlu pertimbangan oleh Bapak!"


Akhirnya Aurel jujur dengan statusnya. Dari awal sebenarnya ia berniat untuk menyembunyikan kehamilannya, namun, entah kenapa ia tidak berani membohongi orang sebaik Pak Haikal.


"Tidak apa-apa Aurel, walaupun kamu sedang hamil, nanti jadwal kuliahnya bisa disesuaikan," ujar sang Dosen yang tampak tidak keberatan sama sekali.


"Ba-bapak serius?" Tanya wanita itu dengan senyum senang tiada terkira


"Ya, saya serius! Kalau boleh saya tahu, suami kamu bekerja dimana?"


"Ah, su-suami saya jadi TKI di Malaysia, Pak," ujarnya terpaksa berbohong.


"Wah LDR dong!"


Aurel bingung harus mengekspresikan wajahnya gimana. Bahkan hubungannya dan Arsen saat ini tidak tahu bagaimana.


"Ya, begitulah Pak," jawabnya singkat


"Tidak apa-apa, asalkan komunikasi lancar! Suami kamu sering memberi kabar 'kan?" Tanya Pria itu kembali yang membuat Aurel kikuk.


"Ya, sering Pak!" Sudah dua kali Aurel berbohong dalam pembahasan ini.


Bersambung....


Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2