Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Servis


__ADS_3

"Mas..." Desis Aurel yang mendapat perlakuan tiba-tiba oleh sang suami.


Arsen melu mat bibir Aurel dengan dalam dan bermain di setiap rongga mulutnya, saling bertukar Saliva.


Aurel melepaskan pagutannya karena merasa kekurangan oksigen. Arsen menatap Aurel dengan mata sayu, dan menautkan keningnya dengan nafas yang memburu.


Aurel tak tega melihat Arsen tersiksa, ia tahu suaminya selalu bersabar agar tak meminta haknya selama rasa trauma dirinya masih ada.


Malam ini Aurel berusaha untuk mengesampingkan hal itu, ia fokus dan meresapi segala prilaku Arsen yang begitu lembut dan sangat sayang kepadanya.


Aurel menatap mata hazel itu dengan dalam dan melihat ketulusan dan cinta yang begitu besar.


Ya, dia adalah suamiku dialah yang selama empat tahun ini membersamai aku, dia tak pernah melakukan hal yang kasar.Tapi selalu mencintai aku dengan tulus. Aku yakin apa yang pernah dia lakukan kepadaku dulu, adalah terbawa pengaruh buruk dunia hitamnya.


Aurel menghirup udara sepenuh dada, dia berusaha untuk meyakinkan hati untuk memberikan hak suaminya.


Perlahan tangan Aurel naik dan mengalungkan di leher Arsen, kini mata mereka saling bertatapan dengan debar jantung tak berirama.


"Mas, aku sudah siap lahir dan batin," ucap Aurel di telinga Arsen begitu manja.


"Tidak, Sayang. Mas akan mandi sekarang, kamu bisa siapkan makan untuk, Mas ya." Pria itu menolak dan mencoba melepaskan tangan sang istri yang masih berada di lehernya.


Aurel merangkum kedua pipi Arsen dan mengecup bibir itu kembali. Dan segera melu matnya, kini wanita itu masih berusaha untuk menghilangkan rasa bersalah dalam hati Arsen, ia tahu bahwa suaminya sangat menginginkan hal itu.


Arsen membalas setiap sentuhan yang diberikan oleh Aurel, Pria itu begitu menikmati sentuhan dari tangan sang istri. Tanpa disangka, Aurel menyentuh benda turun temurun miliknya yang telah mengacung tegak menantang.


"Shh... Sayang." Lenguh Arsen sembari menghentikan tangan sang istri yang ingin membuka resleting celananya.


"Kenapa, Mas? Aku menginginkannya," ujar Aurel dengan suara penuh hasrat.


"Tapi, Sayang."


"Ayo, Mas. Kita tuntaskan malam ini juga."

__ADS_1


"Apakah kamu tidak takut lagi?" Tanya Arsen penuh harap.


"Tidak, Mas. Mana ada orang trauma minta duluan, ayolah, kamu nggak takut punya kamu karatan? Udah empat tahun lho," Ujar Aurel dengan senyum nakalnya.


"Ya ampun, istri aku ini. Masih sempat-sempatnya bercanda." Arsen kembali menyerang Aurel dengan gemas.


Tanpa aba-aba Pria itu mengangkat tubuh ramping Aurel dan membawanya masuk kedalam bathtub yang telah siap menampung tubuh kedua pasangan halal itu.


Kembali Aurel dibuat terkesiap karena ulah suaminya itu. "Mas, basah. Kenapa kita tidak buka baju terlebih dahulu," rengek Aurel pada sang suami.


"Biar main basah-basahan dulu Sayang, agar sensasinya berbeda." Gumam Arsen yang membuat wajah Aurel semakin merona.


Kembali pasangan pasutri itu saling memberi sentuhan dan kecupan di setiap tubuh sensitif masing-masing. Aurel bersandar di dinding bathtub Arsen telah berada diatas tubuhnya.


Perlahan Arsen membuka pakaian Aurel yang telah basah kuyup, hanya meninggalkan dalamnya saja, Arsen membuang pakaian itu dengan asal.


Aurel begitu malu menatap tubuhnya yang hampir polos, ia melihat kabut gairah begitu kelam di wajah Arsen. Pelan tapi pasti, Arsen membuka kain penutup di tubuh sensitif sang istri sehingga tubuh itu telah polos.


Arsen mengambil posisi dan mendudukkan Aurel diatas dirinya dan penyatuan dimulai. Perlahan gerakan itu mulai berjalan sesuai kendali.


Semakin lama gerakan itu semakin kuat, Arsen beralih posisi kini giliran Aurel yang berada di bawah, Arsen yang ambil kendali. Pria itu melakukannya benar-benar begitu lembut dan penuh kasih sayang, ia tidak ingin sang istri merasa tersakiti, hingga beberapa kali ia menanyakan kepada Aurel mana posisi yang nyaman untuk wanita kesayangannya itu.


Tidak berapa lama kedua insan itu telah mengerang menikmati dan menyelami lautan madu asmara. Arsen ambruk di atas tubuh Aurel, dengan nafas yang masih belum beraturan.


Pria itu memberi kecupan di seluruh wajah sang istri. Dan berulang kali ia mengucapkan rasa terima kasih. "Terimakasih Sayangku. Kamu benar-benar membuat aku terbang," bisik Arsen di telinga Aurel sembari menggigit kecil daun telinganya.


"Hihi... Geli, Mas. Eh, tadi kamu lepasin di dalam, bagaimana nanti jika aku hamil, Mas?" Tanya Aurel resah.


"Kenapa jika kamu hamil, Sayang? Alif sudah besar, dia pasti juga pengen banget punya adik," balas Arsen sembari mengecup bibir Aurel yang mengerucut membuatnya gemas.


"Tapi bagaimana dengan kuliah aku, Mas?"


"Kamu tenang saja, kalau kamu hamil tidak akan menghalangi studi kamu. Aku akan selalu membantu dirimu, contohnya Alif kita bisa mengasuhnya bersama," jelas Arsen meyakinkan sang istri.

__ADS_1


"Mas, sudah siap punya baby lagi?" Tanya Aurel ingin tahu kesungguhan sang suami.


"Siap banget, Sayang. Aku ingin punya anak yang banyak dari rahim kamu."


"Bukankah dulu kamu tidak menginginkan keturunan dari aku?" Tanya Aurel yang membuat Arsen kembali merasa bersalah.


"Sayang, aku minta maaf atas segala kesalahanku yang dulu begitu banyak menyakiti perasaanmu. Bisakah kamu tak mengungkitnya lagi? Agar aku tak berada dalam kubangan penyesalan," ujar Arsen merasa bersalah


Aurel segera memeluk Arsen dengan posesif, ia merasa bersalah telah membuat sang suami kembali berada didalam penyesalan.


"Maafkan aku Mas. Aku janji tidak akan mengungkitnya lagi. Yaudah, sekarang kita mandi ya, aku sudah dingin, juga lapar."


"Kamu belum makan?"


"Belum, aku sengaja tungguin kamu." Rengek Aurel begitu manja.


"Ya ampun, Sayang. Kenapa tidak bilang dari tadi, jangan di biasakan begini, nanti kamu sakit mag."


"Ayo segera kita selesaikan mandinya." Arsen dan Aurel menyelesaikan mandi mereka dengan cepat, dan tak lupa saling menyabuni tetapi tidak ada huru hara lagi karena Arsen tak ingin sang istri kelaparan, walaupun ia harus menahan tangannya yang sedikit ingin merusuh di setiap lekuk tubuh Aurel.


Setelah selesai mandi, Aurel segera menyediakan pakaian ganti untuk Arsen, setelah itu baru ia mengenakan pakaiannya sendiri.


Arsen mengenakan pakaiannya dengan cepat, setelah itu ia segera keluar dan menuju meja makan, Arsen mengeluarkan masakan dari dalam lemari pendingin dan memanaskannya, ia ingin melayani Aurel, Pria itu begitu bahagia dan sangat senang karena telah mendapat vitamin dan servis yang spesial dari sang istri.


"Sayang... Udah belum? Ayo makan." Panggil Arsen pada Aurel yang masih menyisir rambutnya.


Tak menunggu lama Aurel sudah keluar, dengan menggunakan piyama tidur pendek diatas lutut sehingga memperlihatkan paha mulusnya, membuat Arsen Salfok dan menelan air liur.


"Kamu sudah panasin masakannya, Mas?"


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2