
Kini mereka sudah duduk di ruang private room. Haikal duduk masih dalam keadaan amarah yang belum mereda, Arsen membukakan air mineral untuk sahabatnya itu. "Ayo minumlah!"
"Terimakasih." Haikal menerimanya dan segera meneguk air mineral itu.
Arsen sangat tahu bagaimana rasanya sakit di khianati, karena dia pernah berada di posisi itu saat ia mendapati Maura tidur bersama produsernya.
Aurel duduk sambil memangku Alif dan menatap kedekatan Arsen dan Haikal, apakah peduli Arsen hanya memang karena sebatas teman yang baru ia kenal, atau mungkin karena Arsen sangat menghargai Haikal karena dialah yang memberi istrinya beasiswa.
Wanita itu hanya bisa menerka-nerka saja tanpa tahu yang sebenarnya. Tapi rasa curiga tersirat dalam hati karena mereka terlihat begitu akrab bagaikan sahabat lama.
Cukup lama suasana hening, Aurel dan Arsen saling pandang melihat Haikal tampak murung.
"Daddy, mana mamamnya? Alif cudah lapal?" Tanya bocah kecil itu membuyarkan susana hening.
"Ah, iya. Sebentar ya, Sayang." Arsen meraih Alif untuk duduk di pangkuannya.
"Dad, Oom nya kenapa? Kok malah-malah?" Bisik Alif di telinga Arsen sembari tersenyum melihatkan gigi putihnya.
"Hehe... Kenapa? Alif pengen tahu? Sana tanya sama Om nya." Arsen memindahkan bocah kecil itu duduk di pangkuan Haikal.
"No, Daddy..." Teriak bocah itu menahan tubuhnya, tetapi Haikal segera meraih dan menahannya segera memangku dengan posesif.
"Nggak boleh pergi kalau sudah duduk disini, sayang dulu biar, Om nggak marah-marah." Haikal mengecup wajah Alif berulangkali.
"Hahaha.... Daddy, tolong Alif." Bocah itu meronta dan tertawa karena di unyel-unyel oleh Haikal.
Arsen dan Aurel hanya tersenyum melihat kekonyolan Arsen dan Alif, sesaat mereka melihat Haikal sudah bisa lebih tenang dan tertawa berasa mendapat hiburan dari pangeran kecil itu.
Tidak berapa lama pelayan Cafe masuk membawa pesanan mereka, salah satunya ada Dewi disana.
Dewi menatap Haikal yang sedang asyik bermain dengan Alif namun tak sengaja netra mereka bertemu.
Jantung wanita itu berdegup kencang sehingga rasa nervous menjalar di tubuhnya, wajah yang semula putih berubah menjadi merah.
__ADS_1
Setelah selesai menyajikan di atas meja, para pelayan Cafe itu keluar tetapi Aurel menahan Dewi.
"Wi, jangan keluar. Duduklah, kita makan bareng," ucap Aurel meraih tangan sahabatnya itu.
Haikal dan Arsen menatap duo sahabat itu. "Wi, duduklah. Ayo kita makan bersama." Ajak Arsen yang juga ikut menahan Dewi.
"Tidak, terimakasih. Silahkan dinikmati, saya masih banyak pekerjaan," ujar Dewi tersenyum sungkan sembari ingin melangkah keluar.
"Tunggu, Wi. Ayo duduklah. Kita makan bersama, biar saya yang izin pada manejer kamu," ucap Haikal beranjak masih membawa Alif dalam gendongannya.
Haikal keluar untuk menemui manejer Cafe itu, untuk meminta izin membawa karyawannya makan bersama.
Aurel tersenyum senang, akhirnya mereka bisa makan bersama. "Ayo Dewi, duduklah." Aurel meraih tangan sahabatnya itu dan membawanya duduk.
Dengan rasa sungkan Dewi terpaksa duduk, tidak berapa lama Haikal masuk dan duduk di sampingnya. Aurel tersenyum, Bukankah hal itu yang di inginkan sahabatnya sejak dahulu, yaitu bisa makan bersama dengan Pria idamannya.
"Ayo silahkan makan..." Arsen mempersilahkan untuk makan, dan Aurel segera mengisi piring suami dan anaknya.
"Sudah?" Tanya Aurel pada Arsen dengan senyum lembut.
Aurel hanya tersenyum sembari menggeleng kecil, Dewi dan Haikal hanya menatap mereka dengan canggung, mungkin mereka mengira bahwa hubungan Aurel dan Arsen memang harmonis, tapi kenyataannya mereka juga baru ingin memulai.
"Ayo, ambil makanannya Wi, jangan lihatin mereka. Makanya cari pasangan biar nggak ngiri," ujar Haikal membuyarkan lamunan Dewi.
"Ih, Bapak apaan sih. Bukan nggak mau cari pasangan, tapi cintaku terbelenggu oleh seseorang." Balas wanita itu apa adanya.
Haikal mengerutkan dahi, mendengar pernyataan gadis yang ada di sisinya itu. "Segitunya, kenapa harus terbelenggu? Kenapa tak mencoba lepas dan mencari yang lain?" Tanya Haikal sembari mengisi piringnya.
Dewi hanya tersenyum menanggapi ucapan sang Dosen. "Bagaimana aku bisa lepas karena hati dan pikiranku hanya tertuju kepada, Bapak."
Gumam gadis itu dalam hati sembari menatap wajah tampan yang ada disisinya yang sedang serius dengan makanannya.
Setelah selesai makan, mereka ngobrol sebentar dan setelah itu Aurel dan Arsen pamit untuk pulang terlebih dahulu karena Alif sudah mulai rewel, mungkin bocah itu sudah ngantuk.
__ADS_1
Dewi bersiap membersihkan meja makan yang ada diruangan itu, sementara Haikal masih asyik dengan ponselnya duduk di sofa pojok.
Dewi menatap Pria dewasa itu dengan seksama dan memperhatikan gesture tubuhnya yang tampak sedikit gelisah tak tenang.
Dewi segera keluar setelah membersihkan meja, dan membawa peralatan makan yang telah kosong.
Sementara itu Haikal sedang bertelponan dengan seseorang, "Iya, aku mau seorang gadis perawan. Oke, aku segera kesana. Kamu kirimkan alamatnya sekarang."
Haikal segera keluar dan meninggalkan ruangan itu. Dewi speechless mendengar ucapan Pria itu di telpon. Gadis itu masih mematung di balik pintu.
Dewi segera tersadar setelah melihat punggung Pria itu keluar dari Cafe dan menuju parkiran. Gadis itu tanpa pikir panjang segera mengikuti langkah Pria itu, dan menuju parkiran sepeda motornya.
Tanpa membawa apapun, tas dan juga ponselnya masih tinggal di locker. Dewi memacu sepeda motornya mengikuti mobil Haikal dari belakang.
Dengan perasaan tak menentu wanita dua puluh dua tahun itu mengikuti mobil yang sedang di kendarai oleh Pria idamannya yang sedang patah hati.
Tidak berapa lama mobil itu memasuki parkiran sebuah klub malam yang ada di kota itu. Dewi menghentikan motornya dan memperhatikan Haikal sedang bicara pada seseorang.
Setelah Haikal masuk, Dewi segera memarkirkan motornya, dan mengejar Pria yang tadi bicara dengan Haikal. Pria itu terkejut saat merasakan tangannya ditarik.
"Eh, kamu siapa? Ada perlu apa kamu dengan saya?" Ujar Pria itu menatap Dewi dengan wajah sangar.
"Maaf, saya mau tahu, Pria yang bicara dengan anda tadi mau apa? Apa yang dia inginkan?" Tanya Dewi pada Pria itu dengan wajah tenang meskipun hatinya sangat takut.
"Apa urusanmu? Kamu siapa?" Tanya Pria itu dengan curiga.
"Saya ini adalah temannya, sekaligus wanita yang sangat mencintainya. Saya hanya ingin tahu. Tolong beritahu saya." Mohon Dewi dengan wajah melas.
"Dia ingin boking salah satu tamu saya, tapi yang orisinil." Pria itu menjelaskan.
"Begini, saya punya tawaran untuk anda, biarkan saya yang menjadi wanita bookingannya. Bagaimana?" Tanya Dewi absurd
"Apa? Kamu sudah gila? Bagaimana saya percaya jika kamu masih virgin? Kamu mau merusak segala rencana saya?" Ujar Pria itu tak percaya.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰