
Arsen tak henti menggengam tangan Aurel dan mengecupnya, pipi dan keningnya juga tak lepas dari kecupan Pria itu.
Aurel semakin bingung, adakah kesalahan lebih besar yang disembunyikan Arsen darinya? Kenapa Pria itu begitu takut kehilangannya.
Aurel berusaha untuk tetap tenang dan berpikir baik, ia tak ingin gegabah untuk menyimpulkan hal yang belum ia ketahui.
"Mas, apa yang kamu sembunyikan dariku? Katakan, Mas!" Aurel menatap Arsen penuh harap.
"Sayang, jika aku jujur mengatakan semuanya, maukah kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku?" Arsen bertanya balik dengan wajah sendu
"Tentang hal apa dulu ini, Mas? Apakah tentang pengkhianatan lagi?" Tanya Aurel ingin memastikan masalah apa yang harus ia terima.
"Tidak, Sayang. Aku tidak akan mungkin mengkhianati kamu, dulupun aku tidak sengaja melakukannya, karena aku dijebak," ujar Pria itu sekalian menyangkal tuduhan sang istri.
"Baiklah, jika masalahnya bukan karena pengkhianatan, maka aku akan memaafkan kamu, asalkan kamu jujur." Jawab Aurel seketika membuat hati Arsen merasa lega.
"Terimakasih, ya Sayang, aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi nanti dirumah. Kita harus bicara dari hati ke hati, dengan pikiran tenang."
Aurel mengangguk dengan patuh, walaupun hatinya begitu penasaran dengan rahasia apa yang disembunyikan darinya.
Setelah selesai mandi, Aurel menyeduh secangkir kopi ginseng untuk Arsen.
"Kopi, Mas."
"Ah, ya, terimakasih, Sayang. Duduklah." Arsen meminta Aurel untuk duduk di sisinya.
Kini mereka duduk bersantai di balkon kamar sembari menatap Kilauan cahaya lampu kota Pekanbaru itu.
Arsen merangkul tubuh Aurel dan mengecup kening dan bibirnya, ia mencoba menghirup udara sepenuh dada untuk memasok oksigen agar ia mampu untuk mencurahkan segalanya.
Arsen sudah tidak ingin menyimpan semuanya, ia berharap Aurel bisa mengerti dan menerima apa adanya. Aurel menyandarkan kepalanya di dada Arsen.
"Sayang, sebenarnya..." Arsen menjeda ucapannya ia masih berasa sulit untuk menyampaikan.
"Sebenarnya apa, Mas?" Tanya Aurel menengadahkan menatap wajah tampan itu.
"Sebenarnya aku dan Haikal sudah berteman lama, kami berteman semenjak SMA. Kami dari kota yang sama yaitu Jakarta. Setelah kami lulus kuliah, kami berpisah.
"Aku dan Mommy pindah ke Malaysia ikut Daddy, dan Haikal melanjutkan studinya hingga ia menjadi Dosen dan bertugas di kota ini."
__ADS_1
Aurel merenggangkan pelukannya, ia mencoba mencerna semua kata-kata sang suami. Sedikit demi sedikit Aurel mulai paham dengan skenario yang di jalani Haikal.
"Mas, jadi, tentang beasiswa itu?" Tanya Aurel dengan tatapannya ingin menyimpulkan sesuatu.
"Ya, akulah yang meminta Haikal untuk membantuku agar kamu tetap kuliah, aku tahu jika kamu mengetahui pasti kamu tidak akan mau menerima pemberianku."
Aurel menatap Arsen dengan raut wajah tak bisa dipahami, merasa semua masih bagai mimpi, ternyata selama ini suaminyalah yang membiayai kuliahnya.
Kecewa, bahagia, bersalah, semua jadi satu dalam hatinya, bagaimana bisa ia mengabaikan Pria yang begitu menyayanginya dengan tulus, bahkan Pria itu juga yang telah menyekolahkannya.
"Sayang, maafkan aku. Kamu tahu, saat kamu meninggalkan aku di pelabuhan itu, rasanya separuh jiwaku pergi bersama dirimu. Aku selalu dihantui oleh rasa bersalah. Aku ingin sekali menebus semua salah dan dosaku padamu.
Aku tahu saat itu kamu sangat membenciku, maka dari itu aku meminta Haikal untuk membantu. Aku berharap kamu tidak marah dan mau memaafkan aku, tolong jangan menolak lagi semua yang aku berikan.
"Sayang, teruskan cita-citamu, aku akan mengantarkanmu hingga menggapainya. Aku akan selalu ada untuk dirimu."
Aurel tak bisa berkata apa-apa, lidahnya terasa kelu, hanya air mata yang mampu untuk menggambarkan bagaimana dirinya kecewa karena telah mengabaikan Pria baik seperti suaminya itu.
"Mas, maafkan aku yang selama ini telah mengabaikan dirimu, bukankah aku telah banyak mengecewakan kamu? Tapi kenapa kamu masih mau bertahan hidup bersama?"
"Jawabnya hanya satu, karena aku sangat mencintai kamu." Ujar Arsen dengan jujur
Aurel kembali memeluk Arsen dengan tangis haru, Arsen mendekap tubuh sang istri penuh kasih sayang, ia ingin mengatakan tentang penyakitnya tapi, rasanya ia tak tega harus melihat wajah sedih Aurel.
"Mas, apakah masih ada lagi yang kamu sembunyikan dari aku? Katakan semuanya, Mas, Aku ingin tahu. Jangan ada yang di tutup-tutupi."
Arsen menghela nafas panjang, sulit sekali untuk tidak berkata jujur bila menatap mata teduh itu, Arsen kembali menyiapkan diri untuk mengatakan tentang penyakitnya.
"Sayang, aku ingin jujur tentang sesuatu, aku berharap kamu tetap tenang setelah mengetahuinya. Aku ingin kamu tetap fokus dengan kuliahmu yang sebentar lagi akan wisuda."
"Tentang apa itu, Mas?" Tanya Aurel cemas.
"Tentang penyakitku," jawab Arsen menjeda ucapannya.
"Penyakit? Kamu sakit apa?"
"Aku di vonis dokter gagal ginjal."
"Astaghfirullah." Aurel membekap mulutnya seketika dunianya berhenti berputar. Air matanya kembali jatuh berderai.
__ADS_1
"Sejak kapan, Mas? Kenapa kamu diam saja, kenapa kamu sembunyikan ini dariku?"
Arsen kembali membawa Aurel masuk kedalam pelukannya, wanita itu tampak begitu syok sehingga tubuhnya terasa bergetar.
Aurel merasakan takut yang begitu dalam, karena ia terbayang pada almarhumah ibundanya meninggal disebabkan gagal ginjal, ia takut hal itu akan terjadi pada sang suami.
"Kamu jahat, Mas, kenapa kamu sembunyikan hal ini, aku takut sekali. Hiks..." Tangis Aurel semakin kencang.
"Sssh... Sayang, tenanglah, tadi kamu sudah berjanji untuk tetap tenang. Kamu jangan seperti ini. Semua penyakit pasti ada obatnya. Aku akan mengikuti saran Dokter untuk melakukan cangkok ginjal."
Aurel masih menangis di dalam dekapan sang suami, Pria itu masih tetap sabar untuk memberi ruang agar Aurel merasa lega.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Percayalah, aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu. Masih banyak asa yang belum kita gapai bersama."
Aurel merenggangkan pelukannya, ia menatap Arsen, dan Pria itu menghapus air mata Aurel yang masih setia menetes, sembari mengecup bibir tipis sang istri.
"Udah, jangan sedih lagi, ya."
"Kamu janji akan sembuh ya, Mas. Janji untuk menemani aku selamanya." Rengek Aurel dengan manja dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Aku janji, Sayang. Percayalah aku pasti akan sembuh."
"Apakah Mommy dan Daddy sudah tahu tentang penyakit kamu, Mas?" Tanya Aurel
"Belum, Sayang. Nanti saja setelah selesai kamu wisuda, kita akan segera ke Malaysia untuk melakukan pengobatanku," jelas Arsen
"Baiklah, kita harus cepat melakukan pengobatan kamu, aku tidak ingin kita menunda-nunda lagi."
"Iya, Sayang. Pokoknya setelah kuliah kamu selesai, kita segera pergi. Apakah kamu mau melanjutkan S2 di Malaysia, Sayang?"
"Aku ikut kamu saja, Mas."
"Benarkah?"
"Benar, pokoknya aku ikut kemanapun kamu pergi," jawab Aurel dengan serius, seakan ia tak ingin berpisah dengan sang suami.
"Terimakasih ya, Sayang. Aku sangat bahagia sekali."
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰