Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Aura dingin


__ADS_3

Suara letusan itu membuat para penjaga dan art berhamburan masuk untuk melihat kejadian apa di dalam kamar majikan mereka.


Beberapa pengawal Arsen sangat terkejut dan segera mengarahkan senja tanya kepada Aurel yang saat itu terlihat masih syok dengan penem bakan yang ia lakukan pada Arsen.


"Jatuhkan senjata anda Nona!" intrupsi pengawal itu sembari mengarahkan pis tolnya kepada Aurel.


Arsen yang masih sadar segera memberi kode kepada pengawalnya untuk menurunkan senjata mereka.


"Tapi Tuan, Nona mencoba


mem bunuh anda!"


"Di-dia ti-tidak sengaja me-melakukannya, sekarang Ba-bantu saya kerumah sakit!" Perintah Arsen


Maka pengawal dan yang lainnya segera membawa Arsen ke RS. Sementara itu Aurel dengan tubuh bergetar ia terduduk di lantai dan pis tol itu terjatuh dari tangannya.


Makcik Leha yang melihat sen jata itu telah jatuh maka ia segera mendekati Aurel, dan meraih tubuh wanita itu lalu mendekapnya.


"Makcik, maafkan saya! sa-saya tidak be-bermaksud membunuhnya!" Ucapnya dengan suara bergetar.


"Tenanglah,Nona, Tuan pasti baik-baik saja, jom masuk kat dalam kamar, tak elok dilua." Makcik memapah Aurel untuk masuk kedalam kamar.


"Duduklah, tenangkan diri Nona, jangan banyak pikir!"


"Apakah dia akan mati Makcik?" Tanya Aurel kembali dengan wajah cemas


"Jangan cakap macam tu, mari kita berdo'a semoga Tuan, baik-baik je!"


Sementara itu di RS, Arsen segera menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dada sebelah kirinya.


Cukup memakan waktu lama operasi itu berjalan, dan akhirnya dokter berhasil mengeluarkan peluru yang hampir mengenai jantung. dan Pria itu juga sudah melewati masa kritisnya.


"Macam mane awak dah sada?" Tanya seorang dokter yang menangani operasi Arsen, saat ia baru sadar, yaitu Dr Hasan, dia ahli bedah.


"Kau tidak lihat aku sudah bisa melihat tampang jelek mu!" Ujar Arsen sedikit jengah.

__ADS_1


"Eee.. Dah baik saye tolong awak, suke je marah-marah, kalau tahu macam ni saye bia je awak tu mati!" Sungut pria yang menggunakan pakaian serba putih itu.


"Kau nyumpahi aku mati? Dasar Dokter tak ada akhlak!"


"Awak tulah pasien tak berakhlak, dah di bantu masih takde terima kaseh!"


"Oke, oke, thanks my best friend, karena sudah membantuku!" Akhirnya Pria itu mengucapkan rasa terima kasih sembari menjabat tangan sahabatnya itu.


"Ape pasal? Cuba cakap kat saye! Siapa pule orang yang berani tembak diri awak ni?"


"Itu tidak penting!" Jawabnya tak ingin membahas tentang kejadian yang mengakibatkan dirinya berada di RS itu.


Arsen tersenyum mengingat tingkat keberanian istri kecilnya itu, tetapi seketika senyum itu memudar jika dia ingat bahwa Aurel tak menginginkan bayi yang ada dalam kandungannya.


Entah kenapa dirinya sangat takut kehilangan bayi yang dikandung Aurel, apa yang sedang dia pikirkan? Bukankah pernikahannya dan Aurel akan segera berakhir tapi kenapa dia berharap kehadiran bayi itu?


***


Sudah 3 hari Arsen dirumah sakit, sore ini dia sudah di perbolehkan pulang karena paksaan Pria itu, maka dokter Hasan tak bisa menahan sahabatnya yang wataknya keras kepala.


Aurel merasa hidupnya semakin rumit namun, sebenci dan sedendam apapun ia tak pernah menghendaki untuk menjadi seorang pembu nuh, baginya lebih baik dia yang mati.


Sore ini Aurel kembali duduk di balkon kamar utama, kembali ingatannya pada tiga hari yang lalu dimana rasa takut masih menghantuinya, namun, bersyukur pria itu tidak mati di tangannya.


"Selamat sore Nona, ini Makcik bawakan buah segar dan susu hamil. Nona minum ye!" Ujar Makcik membawakan buah dan susu hamil untuknya.


"Aurel menerima dan segera meminum susu hamil itu. Saat ini ia tidak tahu, yang jelas ia hanya memasrahkan diri kepada Allah. Tak ada lagi penolakan atas bayi itu.


"Makcik, apakah Tuan Arsen, baik-baik saja?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari bibirnya.


"Alhamdulillah, Tuan Arsen baik-baik je, sebenta lagi Tuan akan tiba kat rumah ni," jelas Makcik sedikit lega mendengar pertanyaan gadis itu.


Tidak berselang lama obrolan Makcik dan Aurel, Arsen sudah pulang diantarkan oleh Doni asistennya. Doni dan Makcik membantu Arsen untuk naik keatas tempat tidur.


Aurel hanya terdiam memperhatikan Pria yang masih berstatus suami kontraknya itu. Apa yang dipikirkan oleh gadis itu? Apakah dia takut? Tentu saja jawabannya tidak.

__ADS_1


Karena Aurel sudah tak mempunyai rasa takut atas dirinya, tapi dia hanya merasa bersalah, karena telah mencelakai Pria itu.


Setelah semua keluar dari kamar, kini tinggal Aurel dan Arsen. Mereka hanya saling diam, Aurel duduk di di sofa, sesekali tatapan mereka bertemu.


Ponsel Arsen berdering


"Ya, Momm, ah, tidak. Aku baik-baik saja, mommy tidak perlu cemas, cuma insiden kecil tapi semua sudah teratasi, Okey, Momm. Selamat sore kembali."


Terdengar Pria itu bicara dengan tenang untuk meyakinkan sang Mommy, setelah selesai bertelponan, ia berusaha berdiri dengan pelan untuk menuju kamar mandi.


Aurel yang melihat Arsen kesusahan menahan sakit di dadanya, ia refleks berdiri untuk membantu, tangannya meraih tangan Arsen dan meletakkan di bahunya.


Pria itu sedikit tidak percaya dengan perlakuan istrinya yang beberapa hari ini sangat kejam padanya.


Tanpa bicara mereka menuju kamar mandi. Aurel mengantarkan setelah itu ia keluar dan menunggu di depan kamar mandi.


Tidak berapa lama Arsen keluar dari kamar mandi, Aurel kembali membantu pria itu dengan pelan. Aura dingin masih terasa diantara mereka.


"Bisa bantu menukar perban lukaku?" Tanya pria itu sedikit ragu, sebenarnya belum saatnya pembalut luka itu ditukar. Namun, ia ingin mencari perhatian sang istri agar rasa kaku tak begitu tercipta


Aurel hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara, baginya saat ini diam lebih baik untuk berdamai dengan keadaan. Walau sebenarnya hatinya masih menyimpan rasa sakit saat mengingat Pria itu membohonginya yang membuat nyawa sang Bunda tak bisa tertolong lagi.


Dengan perlahan Aurel membuka kemeja suaminya itu, dan memperlihatkan tubuh atletisnya, ada rasa canggung dan malu. Walaupun mereka sudah sering menyatu, namun, ini pertama kalinya ia memperhatikan tanpa dalam keadaan terpaksa.


Dengan hati-hati Aurel membuka kain kasa itu dan menggantinya dengan yang baru. Kini wajah mereka begitu dekat. Arsen menatap wajah cantik dan polos istri kecilnya,


Tiba-tiba jantung Pria itu berdebar. Darahnya berdesir. Ia merutuki dirinya sendiri takut terdengar oleh wanita yang ada dihadapannya.


"Terimakasih ya."


Aurel kembali membalas dengan anggukan, seakan sekarang wanita itu bisu dihadapannya. Entahlah, hatinya masih enggan untuk bicara Aurel masih butuh waktu untuk menepi meyakinkan hatinya agar bisa berdamai dan memaafkan kesalahan pria itu.


Bersambung....


Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2