Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
kekecewaan Dewi


__ADS_3

Aurel berdiri di depan podium sembari memegang sebuah penghargaan yang di berikan kepadanya.


"Assalamualaikum, warahmatullahi wabarakatuh.


"Yang saya hormati, Bapak rektor dan seluruh jajaran Dosen pembimbing kami. Yang saya hormati, Teman-teman beserta wali kami yang ada disini.


"Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Karena karunia-Nya kita dapat berkumpul bersama di tempat yang paling bersejarah bagi kita ini.


"Para hadirin yang saya hormati.


"Izinkan saya untuk menyampaikan terimakasih kepada Bapak dan Ibu Dosen Pembimbing saya, karena selama saya belajar di universitas ini, Bapak dan Ibu Dosen telah mengajari saya ilmu yang sangat berharga, dari mulai Budi pekerti dan keterampilan, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu, dan itu semua karena Bapak dan Ibu Dosen sebagai sosok yang menginspirasi bagi saya.


"Terimakasih saya ucapkan sebesar-besarnya atas penghargaan yang telah diberikan kepada saya. Tentu saja apa yang saya dapatkan saat ini adalah tak lepas dari dukungan orang yang paling berarti dalam hidup saya.


"Di kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan rasa terima kasih saya kepada sosok penyabar yang selama ini menemani saya dalam meniti pendidikan, sehingga saya mendapatkan nilai terbaik. Saya sudah tidak mempunyai kedua orangtua, tetapi saya mempunyai seorang suami yang sangat penyayang dan penyabar.


"Ya, dialah Pria penyabar dan sangat lembut penuh kasih sayang itu, dia adalah suami dan anak saya, yang paling berarti dalam hidup saya.


"Mas Arseno, maafkanlah istrimu bila sering membuat hatimu terluka, Terimakasih telah menjadi orang yang sabar untukku, aku menyayangimu selalu."


Kata-kata Aurel membuat Arsen tak kuasa menahan haru, Pria itu berdiri dan menggendong putranya menghampiri sang istri.


Arsen memberi ucapan selamat pada Aurel dan memeluk wanita kesayangannya itu, ia tak menyangka bahwa Aurel juga sangat menyayanginya.


Semua yang menghadiri acara itu memberikan tepuk tangan untuk pasangan itu. Haikal dan Dewi menghampiri mereka memberikan ucapan selamat.


Setelah selesai acara, diakhiri pose bersama, setelah itu mereka yang mempunyai keluarga berpose dengan keluarga masing-masing.


Aurel dan Arsen juga tak ingin melewatkan momen itu, maka mereka meminta Dewi untuk mengambil gambar keluarga kecilnya.


"Wi, kamu tidak ingin foto juga sama Pak Haikal?" Tanya Aurel setelah berfoto bersama dengan sahabatnya itu, sementara itu Haikal dan Arsen masih terlibat obrolan ringan sembari memperhatikan Istri mereka.


"Aku sih pengen banget, Rel, tapi kamu kan tahu sendiri, semua orang tidak ada yang tahu tentang hubungan kami."

__ADS_1


"Eh, ada Pak Haikal tuh, minta foto bareng yuk." Terlihat segerombolan mahasiswi menghampiri Haikal minta foto bareng.


"Pak, foto bareng dong, Pak. Untuk kenang-kenangan, Pak." Ujar para wanita itu mendekati Haikal.


Dewi dan Haikal saling bertatapan, namun, Dewi segera memutuskan tatapan itu. Ia berusaha untuk tetap tenang dan bersikap sewajarnya.


"Mas, bisa minta tolong fotoin kita bareng Pak Dosen, nggak?" Ujar seorang wanita menghampiri Arsen yang berdiri di samping Haikal.


Arsen menatap Aurel, namun Aurel menatap tajam seakan menusuk jantungnya, sehingga membuat nyali Pria itu ciut dan tak ingin mengambil resiko, meskipun ingin cuci mata sedikit.


"Ah, maaf Dek, saya sedang buru-buru, soalnya istri saya yang cantik itu ada urusan. Maaf ya." Arsen segera beranjak dan menyambangi wanita yang tampak sedikit kesal itu.


"Sayang, kita jalan sekarang yuk." Ajak Arsen sembari menggandeng tangan Aurel dengan mesra.


"Ayo, Bund, Alif pengen jalan-jalan," rengek bocah kecil itu dan menggandeng tangan Aurel yang sebelahnya. Jadilah dirinya berada ditengah dua orang lelaki kesayangannya itu.


"Baiklah. Wi, aku pamit duluan ya, soalnya Alif pengen jalan-jalan ke mall." Aurel meminta Arsen dan Alif menunggu di mobil, ia ingin pamit terlebih dahulu pada sahabatnya itu, tetapi Dewi tak menghiraukan ucapannya.


Aurel memperhatikan kemana arah tatapan Dewi, ternyata wanita itu sedang mengawasi sang suami yang sedang di gandrungi oleh wanita-wanita cantik.


"Eh, Rel, kamu bilang apa tadi?" Tanya Dewi berusaha untuk memasang wajah datar.


"Aku bilang mau pamit dulu, soalnya aku ingin bawa Alif jalan-jalan sebentar ke mall."


"Oh, yaudah, nggak papa. Silahkan."


"Kamu lagi lihatin apa sih? Aku ajari kamu ya, jangan mau dikacangin oleh suami sendiri, tuh lihat dia enak-enakan berpose dengan wanita cantik, sementara kamu disini jadi obat nyamuk! Padahal kamu lebih berhak atas diri Pak Dosen itu!"


Dewi hanya bisa diam mendengar ucapan Aurel, sebenarnya apa yang dikatakan Aurel ada benarnya, karena bagaimanapun dia lebih berhak atas diri Haikal.


"Tunggu apalagi? Udah sana ikut foto bareng!" Usir Aurel, ia tidak ingin sahabatnya itu menjadi semakin bodoh karena cinta. Karena Dewi berhak bahagia.


"I-iya, nanti aku akan kesana. Yaudah jika kamu ingin pergi, silahkan." Ujar Dewi.

__ADS_1


"Benaran ya. Ingat Wi! Jangan mau dibodohi oleh cinta, kita berhak bahagia." Dewi hanya mengangguk dan Aurel segera beranjak menyongsong suami dan anaknya yang telah menunggu di mobil.


Setelah Aurel pergi, Dewi masih termangu di tempat. Ia ingin sekali menuruti ucapan Aurel, tetapi ia takut Haikal akan marah.


Dengan hati kecewa Dewi masih setia menunggu sang suami, ia hanya bisa tersenyum perih melihat keadaan itu.


"Mbak, belum pulang?" Tanya Reza yang melihat kakaknya masih melamun menunggu Haikal.


"Reza melihat arah tatapan Dewi, dia juga merasa kesal melihat Abang iparnya itu.


"Ayo kita pulang sekarang, Mbak." Ajak Reza meraih tangan Dewi.


"Tidak, Za. Mbak tunggu Pak Haikal dulu." Tolak Dewi.


"Mau sampai kapan Mbak nungguin dia? Emang dia mikirin perasaan Mbak?"


Haikal yang melihat Reza menatapnya dengan marah, maka ia menyudahi foto bersama dengan para muridnya, beralasan ada kepentingan yang lain sehingga ia baru bisa melepaskan diri dari mereka.


"Ayo pulang." Ajak Haikal menghampiri Dewi.


"Ayo aku saja yang mengantarkan Mbak pulang!" Ujar Reza masih meraih tangan Dewi.


"Tidak, Dek. Mbak pulang bersama Pak Haikal saja. Kamu pulanglah, nanti malam Mbak akan pulang kerumah, Mbak ingin masak sesuatu untuk merayakan hari kelulusan Mbak ini," ujar Dewi pada sang adik.


"Mbak yakin ingin pulang bareng dia? Apakah Mbak masih sanggup jika nanti dia dikerumuni oleh wanita cantik lagi, sementara Mbak tak pernah dianggap."


Kata-kata Reza menohok jantung Haikal. Tetapi Pria dewasa itu tak bisa menyangkal ucapan sang adik ipar.


"Reza, tidak boleh bicara seperti itu, Dek!" Tegur Dewi pada Reza.


"Udahlah, Mbak. Nggak perlu merasa kuat dan tegar, bila kenyataannya selama dua bulan ini hingga sekarang pun Mbak Dewi masih menangis dalam diam. Aku sudah berulang kali mengatakan Mbak, boleh cinta tapi jangan sampai membuat Mbak sebodoh itu. Karena Mbak Dewi berhak bahagia!" Tegas Reza segera pergi dengan kekesalannya.


Bersambung...

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2