Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Kemarahan sang adik


__ADS_3

Haikal mengantarkan Dewi pulang kerumahnya. Setelah itu ia segera menuju kampus, setelah kesepakatan yang mereka buat, yaitu lusa mereka akan menikah. Haikal meminta Dewi untuk membicarakan hal itu kepada sang adik terlebih dahulu.


Siang ini Dewi sengaja tidak kemana-mana, ia menunggu sang adik pulang dengan perasaan was-was, Dewi takut jika adiknya tidak setuju dengan keinginan kakaknya yaitu menikah secara siri.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Akhirnya yang ditunggu-tunggu pulang juga. Dewi segera menghampiri sang adik yang baru saja pulang sekolah.


"Baru pulang, Dek?" Tanya Dewi lembut seperti biasanya. Ya, mungkin tak ada yang tahu bagaimana sikap Dewi yang sebenarnya.


Dewi adalah seorang gadis yang lembut dan sangat sopan, tetapi di depan teman kuliahnya dan teman kerja, dia akan tampak seperti gadis periang dan sedikit bar-bar. Semua itu ia lakukan agar semua orang melihat bahwa dia adalah wanita yang tangguh dan kuat tak akan kalah dengan keadaan.


"Iya, Mbak. Semalam Mbak Dewi kemana? Kok nggak pulang, aku cariin di tempat kerja nggak ada, tanya Reza heran dan tampak cemas karena baru kali ini sang kakak tidak pulang.


"Iya, maaf ya, semalam Mbak ada tugas kuliah jadi pulang kerja langsung kerumah kak Aurel dan karena sudah terlalu malam akhirnya Mbak memutuskan untuk tidur disana." Ujar Dewi jelas berbohong.


"Oh, syukurlah. Tapi lain kali kasih kabar Reza ya Mbak, biar Reza nggak cemas."


"Iya, Dek. Sekali lagi Mbak minta maaf."


Reza segera berlalu masuk kamar untuk mengganti seragam sekolahnya. Dan Dewi segera menyajikan makan siang untuk dirinya dan sang adik.


"Makan dulu, Za," ajak Dewi pada sang adik.


Reza segera duduk di hadapan kakaknya itu. Dewi segera mengisi piring Reza, mereka makan dengan hening.


"Mbak, motor mana?" Tiba-tiba pertanyaan Reza membuat Dewi kelabakan.


"Oh, itu. motor masih di kediaman kak Aurel, soalnya tadi Mbak pulang diantarkan oleh kak Aurel naik mobil, nanti Mbak jemput."


"Hmm... " Reza sedikit curiga dengan penjelasan sang kakak. Kenapa dia harus pulang naik mobil sedangkan motornya ada disana, dan pada akhirnya kakaknya itu akan kembali lagi untuk mengambil motornya.


Setelah selesai makan, Reza duduk santai di ruang TV. Sedangkan Dewi bingung harus bagaimana, karena tas dan juga ponselnya masih tertinggal di Cafe.


"Za, Mbak boleh ngomong sesuatu nggak?" Tanya Dewi yang sudah duduk di sisi adiknya.


"Boleh, ngomong saja Mbak. Emang ada larangan buat kakak aku yang terbaik ini bicara," ujar Reza tersenyum menatap sang kakak.

__ADS_1


Reza sangat menghormati dan menyayangi Dewi, karena hanya dialah kakak satu-satunya, pengganti kedua orangtua mereka yang telah meninggal dunia.


Reza juga sangat berhutang Budi pada sang kakak, Dewi lah yang selama ini mengasuh dan menyekolahkannya dan memberikan semua kasih sayangnya kepada adik lelaki satu-satunya itu. Anak yatim piatu itu saling menguatkan satu sama lain jika mereka sedang kesulitan.


"Za, Mbak ingin menikah."


Seketika Reza terkesiap mendengar ucapan Dewi. Ia memperbaiki duduknya dan menatap wajah sang kakak untuk melihat keseriusannya.


"Mbak serius? Tapi kenapa Mbak Dewi ngomongnya dadakan begini? Bukankah Mbak bilang nggak punya pacar selama ini?" Runtutan pertanyaan Reza membuat Dewi bingung menjawabnya. Karena memang selama ini dia tak pernah mempunyai pacar.


"Za, Mbak selama ini memang tidak mempunyai pacar, tapi Mbak pernah bilang kan sama kamu, kalau Mbak mempunyai Pria yang di taksir secara diam-diam."


Reza berpikir sejenak untuk mengingat Pria yang dimaksud Dewi. "Maksud Mbak, Pak Dosen?" Tanya Reza mencoba menebak.


"Hmm, benar. Mbak akan menikah dengannya, maukah kamu menjadi wali Mbak untuk pengganti ayah?"


"Tentu saja aku mau Mbak. Tapi aku masih penasaran bagaimana dia mau menikah dengan Mbak? Bukankah selama ini dia tidak tahu tentang perasaan Mbak ke dia?"


"Mbak, memberanikan diri untuk menyatakan perasaan Mbak padanya, dan dia mau menerima Mbak dan bahkan menikah, tetapi kami harus nikah siri terlebih dahulu, setelah Mbak mampu membuat dia jatuh cinta pada Mbak maka kami akan meresmikan pernikahan itu."


Dewi menceritakan tentang pernikahan itu yang sebenarnya kepada sang adik, agar tak timbul kecurigaan Reza kepadanya. Tetapi penjelasan Dewi di tentang keras oleh Reza.


"Nggak Mbak. Aku tidak mengizinkan Mbak Dewi menikah dengan Dosen itu! Kesepakatan konyol apa yang telah mbak perbuat dengannya? Sadar nggak sih bahwa itu akan menhancurkan masa depan Mbak sendiri!" Jelas Reza murka.


Reza merasa bahwa Haikal hanya memanfaatkan kakaknya saja, karena dia tahu kakaknya itu sangat mencintai sang Dosen.


"Pokoknya aku tidak setuju dengan keputusan Mbak Dewi!" Reza segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar rumah.


"Reza, tunggu Mbak. Za...!" Panggil Dewi, tetapi sang adik sudah hilang di balik pintu entah kemana Pria tujuh belas tahun itu pergi untuk menenangkan diri.


Dewi terduduk sendiri sembari menghapus air matanya, dia juga tidak tahu dengan keputusan yang memang tak masuk akal itu. Bagaimana nanti jika Haikal memang tidak bisa mencintainya, karena selama empat tahun ini Pria itu tak pernah melihat betapa besar cinta yang ia simpan.


Haruskah dia akan tetap memperjuangkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu. Jika Pria itu tak bisa ditaklukkannya maka itu akan menambah perih dihatinya, bagaimana mungkin sudah hidup bersama tetapi dia masih tak bisa membuat Haikal jatuh cinta sungguh itu adalah hal yang paling memalukan.


Dewi masih berpikir ulang untuk keputusannya, tetapi hati dan pikiran tak sinkron. Pada akhirnya Dewi tetap memilih ingin menikah dengan Pria yang amat di cintainya itu.


***


Siang ini Aurel tak ada kegiatan kampus, ia hanya menghabiskan waktu bersama bocah Tampannya itu.

__ADS_1


Aurel baru saja selesai masak untuk makan siang mereka, setelah mendapat pesan dari sang suami yang akan pulang siang ini maka Aurel segera menyediakannya.


"Alif... Makan dulu sini, Nak. Bunda sudah masakin kesukaan kamu nih." Panggil Aurel pada putranya yang sedang sibuk bermain dengan robot Transformer hadiah dari Opa dan Omanya yang ada di Malaysia.


"Nanti, Bun. Aku tungguin Daddy, nanti Mamam baleng Daddy."


Aurel hanya tersenyum menanggapi ucapan sang anak yang begitu pandai menjawab agar menunda makan.


Tak berselang lama yang ditunggu sudah pulang. Aurel segera menghampiri Arsen dan menyalami tangan sang suami. Dan Arsen memberikan kecupan hangat di kening Aurel dengan lama.


"Maaf ya, agak lama nunggunya, soalnya jalanan macet," jelas Pria itu yang begitu takut bila wanita kesayangannya itu kecewa.


"Nggak, papa kok, Mas. Aku juga baru selesai masak."


"Benarkah? Muuach." Arsen kembali mengecup pipi dan merengkuh pinggang Aurel sehingga tubuh mereka merapat.


"Mas! nanti di lihat anak kamu," pekik Aurel yang sedikit kaget mendapat perlakuan yang secara tiba-tiba oleh suaminya itu.


"Hehe... Aku kangen banget sama kamu, Sayang." Arsen memeluk tubuh Aurel dan mencium rambut panjang itu, aroma wangi rambut itu menenangkan hatinya.


"Ayo kita makan sekarang, nanti keburu dingin makanannya," ajak Aurel melerai pelukan sang suami.


"Mana jagoanku neon ku?" Tanya Arsen menggandeng sang istri berjalan masuk.


"Di ruang tengah tadi."


"Alif... Daddy sudah pulang nih..." Panggil Aurel pada sang anak.


"Daddy...." Panggil bocah kecil itu berlari menyongsong sang ayah. Arsen segera menggendongnya


"Muuach, muach..." Arsen memberi kecupan pada putra kesayangannya itu.


"Ayo kita makan sekarang, tadi bunda bilang Alif mau makan bareng Daddy 'kan?"


"Hihi... Tapi Alif masih kenyang Dad. Boleh nggak mamamnya nanti saja?"


"No, tidak ada alasan lagi ya. Nanti Daddy gigit kamu." gertak Arsen pada sang anak.


Akhirnya keluarga kecil itu makan bersama penuh kehangatan dan cinta. Sesekali celoteh bocah kecil itu membuat Aurel dan Arsen terkekeh.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2