Balas Dendam Istri Kontrak

Balas Dendam Istri Kontrak
Tangis haru


__ADS_3

"Akhh....!"


"Iya, bagus Bu, ayo dorong lagi! Sedikit lagi bayinya keluar udah kelihatan kepalanya," Ujar Dokter yang telah melihat kepala bayi.


"Astaghfirullah, sakit banget!" Aurel merangkul tubuh Arsen yang membungkuk. "Semangat, Sayang! Kamu pasti bisa, sebentar lagi anak kita lahir," ujar Arsen membalas pelukan sang istri dan mengusap punggungnya dengan lembut.


Tak berselang lama, rasa sakit dan angin ngeden pun kembali datang. Aurel mempersiapkan diri dengan semangat agar bayinya segera keluar.


"Aaaakhh....."


Suara bayi menggema diruangan itu. Arsen dan Aurel mengucapkan syukur kepada Rabb-Nya. Jam 00.30 Seorang bayi laki-laki tampan lahir dengan selamat, tanpa kurang suatu apapun.


"Alhamdulillah... Akhirnya jagoannya keluar juga, welcome baby boy. Ya ampun, Sayang, Bu dokter dan Bunda kamu udah nungguin dari siang tadi. Rupanya harus nungguin Papanya dateng dulu baru mau keluar, anak pintar," seru Bu dokter sembari menjawil hidung mancung bayi itu dengan gemas.


Arsen tak bisa berkata apa-apa. Wajah bahagia dan haru tampak sekali dengan jelas. Tanpa terasa setitik cairan bening jatuh dan mengenai wajah Aurel.


Wanita itu menatap mata hazel itu. Sehingga netra mereka bertemu. Arsen segera mengecup kening Aurel sangat lama.


"Terimakasih, Sayang, terimakasih segala pengorbanan kamu. Aku sangat bahagia."


Tanpa terasa Aurel membalas pelukan Arsen dengan anggukan pelan, dan tersenyum tipis sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami menghirup aroma parfum yang berbaur dengan aroma tubuhnya yang khas.


Melihat reaksi tubuh Aurel yang merespon dengan baik dan juga membalas pelukannya, sungguh hati Pria itu sangat bahagia. Jika tidak memikirkan malu maka Arsen akan berteriak untuk meluapkan rasa bahagianya.


Dokter dan perawat hanya tersenyum malu menatap kelakuan kedua orangtua baru itu. Arsen tak ingin melepaskan pelukannya, sehingga membuat wanita yang berusia delapan belas tahun itu merasa malu.


"Tuan, lepaskan aku! Aku malu dilihat Bu dokter," serunya sembari mendorong tubuh Arsen.


Pria itu segera melepaskan, dan tersenyum mesem pada Bu dokter menyerahkan sang bayi padanya untuk di adzankan.


"Ini bayinya Pak, silahkan di adzankan!"


"Ah, ya, terimakasih Dok." Arsen menerima bayi mungil dan menggemaskan.


Dengan haru Arsen mengecup seluruh wajah bayi merah itu, inilah sosok yang selalu ia rindukan selama ini.


"Akhirnya Daddy bisa menyambut kehadiranmu Nak, dadi sangat menyayangimu dan juga Bundamu." Arsen mendekatkan bayi itu kepada sang istri, dengan tetesan air mata Aurel mengelus pipi putranya itu dan mengecupnya dengan dalam. "Terimakasih, Nak, telah hadir dalam hidup kami, semoga menjadi anak yang Sholeh."

__ADS_1


"Aamiin..." Arsen mengaminkan, lalu meletakkan bayinya disisi Aurel, ia mengambil wudhu sebelum mengadzani sang Putra.


Setelah selesai proses persalinan, Aurel segera di pindahkan ke ruang perawatan. Bibi Ana dan Haikal sangat antusias menyambut kehadiran bayi mungil itu.


Arsen dan Haikal tetap menjalani sandiwara seakan mereka tidak saling mengenal. Begitu juga Bibi Ana yang sudah tahu dari Haikal ia hanya bisa menyimpan rahasia itu, asalkan demi kebaikan Aurel.


"Ya ampun, aku gemas sekali melihat wajah lucu kamu baby boy," seru Haikal dengan wajah sumringah.


"Maaf, Pak Dosen, sepertinya anda sudah cukup mengganggu ketenangan tidur putra saya! Apakah anda belum mempunyai anak?" Tanya Arsen terlalu formal.


"Ah, maaf Pak Arsen. masih di proses," jawab Haikal.


"Wah, bagus kalau begitu, semoga berhasil prosesnya," ujar Arsen lagi


"Iya, tentu saja selalu berhasil Pak, soalnya udah banyak banget anaknya di kandang, maksud saya anak kucing!" Ujarnya nyengir kuda.


Arsen menyorot sahabatnya itu kesal. Diajakin bersandiwara dengan serius malah bercanda. Dasar payah.


"Aurel, Bibi pulang dulu ya, besok Bibi akan datang kembali, kamu mau makan apa? Biar besok Bibi masakin," tanya Bibi Ana yang begitu menyayangi Aurel.


"Tidak usah repot-repot Bibi. Aku sudah dapat makan dari RS. Bibi pulanglah, aku sangat berterima kasih kepada Bibi yang telah menemani aku," ujar Aurel memegang tangan sang Bibi.


"Siap Bi, saya akan menjaganya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak ya Bi."


Bibi Ana segera keluar, tetapi Arsen mengejarnya. Pria itu ingin memberikan sesuatu tanda terima kasih karena selama ini sudah membantu dan menjaga istrinya.


"Bibi Ana, sebentar!" Panggil Arsen bergegas mendekatinya.


"Ya, ada apa Arsen?"


"Bi, tolong terima ini! Saya sangat berterima kasih karena telah banyak berhutang budi pada Bibi. Terimakasih Bibi telah menjaga Dan merawat Aurel seperti anak sendiri."


"Ya ampun, tidak perlu memberi Bibi uang begini. Bibi ikhlas dengan apa yang telah Bibi lakukan karena Bibi sudah menganggap Aurel anak sendiri," balas Bibi merasa sangat sungkan


"Tidak apa-apa Bi, terimalah! Ini tidak seberapa dari apa yang Bibi lakukan pada istriku, Bibi tidak perlu sungkan saya memberinya sangat ikhlas."


Arsen menyerahkan uang merah itu. Dan Bibi Ana menerimanya, karena dia juga butuh uang untuk biaya sekolah anaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu Bibi berterimakasih. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia selamanya."


"Aamiin, terimakasih do'anya Bi."


Setelah Bibi Ana pulang, Arsen kembali masuk keruang rawat sang istri. Ia melihat Haikal dan Aurel sedang mengobrol, mengenai mata kuliah.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, Rel. Semoga kamu cepat pulih. sehat bayi dan ibunya," ucap Haikal yang segera akan beranjak pulang, karena ia harus memberikan ruang untuk pasangan suami istri itu agar hubungan mereka semakin membaik.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih ya, Pak Haikal," ujar Aurel dengan tulus.


"Ya, sama. Baiklah saya permisi Pak Arsen," Haikal menyalami tangan Arsen sembari berbisik. "Segera perbaiki hubungan anda dan istri, jangan sampai merepotkan aku lagi."


"Baiklah, aku akan memperbaiki hubunganku. Sekali lagi terimakasih banyak atas bantuanmu kawan. Semoga secepatnya nyusul dapat momongan," bisik Arsen.


"Iya, anak kucing!" Balas Pria itu segera keluar dari ruangannya.


Hah dasar teman tak berakhlak, Di do'ain yang baik balasnya begitu!" gerutu Arsen dalam hati.


Aurel masih asyik dengan sang bayi, wanita itu menoel-noel pipi merah itu dan tak lepas dari kecupannya.


Dengan ragu Arsen mendekat. ikut mengelus wajah bayi tampan itu. "Dia tampan 'kan? Seperti aku," ujarnya meminta pengakuan dari Aurel.


Wanita itu menatapnya sejenak. Lalu kembali tatapnya terpusat pada sang bayi. "Anda percaya diri sekali Tuan, dia itu mirip aku. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan." Balas Aurel.


"Jangan panggil Tuan, lagi dong! Aku ini suami kamu, apakah kamu tidak malu jika orang mempertanyakan soal panggilan itu," protesnya.


"Baiklah kalau begitu aku panggil, Om saja," balas Aurel,


"Ya Allah. Kenapa panggilannya tambah menyakitkan?"


"Ya,memang itu panggilan yang cocok, karena umur kita terpaut berapa tahun coba?"


"Eh, jangan dong, Sayang. kalau om, berarti bayi mungil ini cucu aku dong! Masa iya anakku cucuku? Ya ampun, enggak, enggak! Tukar."


Aurel tersenyum geli mendengar protes Arsen, hatinya membenarkan jika itu panggilan yang menggelikan.


Bersambung....

__ADS_1


NB. Author ganti yang semalam. Jangan lupa kasih dukungan ya 🙏🤗🥰


Happy reading🥰


__ADS_2