BELOVED

BELOVED
Episode 16.


__ADS_3

Arsen mempersilahkan sahabatnya duduk di sofa yang tersedia dalam ruangannya.


"Kedatangan mu sungguh mengejutkan Alfredo," ujar Arsen membuka obrolan.


"Hem aku sengaja ingin mengejutkan mu Sen. Ternyata rumah sakit milik keluarga mu besar sekali," ucap Alfredo yang baru pertama kali ke rumah sakit milik Horison.


"Kau bisa saja Al, padahal rumah sakit milik mu lebih besar lagi," kata Arsen mengetahui bahwa sahabatnya memiliki rumah sakit sendiri yang berada di Roma, Italia. Arsen sungguh bangga pada sahabatnya, di usia semuda ini sahabatnya telah memiliki rumah sakit sendiri dengan kerja kerasnya.


"Kau tahu betul cita-cita ku Sen, kamu adalah satu-satunya sahabat yang selalu mau mendengar keluh kesah ku," tukas Alfredo.


"Ya, sampai sekarang pun aku masih ingat perkataan mu Al. Setiap hari kau terus berbicara 'Sen suatu saat nanti aku bakalan jadi dokter dan punya rumah sakit sendiri'. Sampai kau rela harus pindah ke Italia mengikuti orang tua mu, dan ya sekarang kau sudah sukses mendapat gelar dokter dan punya rumah sakit impian mu, aku bangga sama kamu Al."


Arsen menepuk pudak Alfredo bangga atas hasil yang dicapai oleh sahabatnya sekarang.


"Akhirnya kita bisa sama sama jadi dokter, yang menjalankan tugas menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan pertolongan," tutur Alfredo.


"Oh iya Al, kamu ke Indonesia bakalan menetap atau hanya ada urusan di sini?" tanya Arsen mengingat Alfredo adalah direktur rumah sakit yang dia punya, jadi tidak mungkin sahabatnya bebas kemana-mana, karna punya tanggung jawab besar.


"Tidak Sen, aku ke Indonesia hanya ada urusan. Lusa aku akan balik ke Italia," ujar Alfredo.


"Cepat sekali! Kalau kau tidak keberatan, aku mengundang mu untuk makan malam dirumahku," kata Arsen.

__ADS_1


"Dengan senang hati, aku tidak menolaknya Sen. Because this is the first time you invited me to your house," ucap Alfredo penuh senyuman.


Setelah mengobrol panjang Arsen dengan Alfredo. Arsen dipanggil oleh suster agar segera pergi ke ruang IGD. Arsen pun mengakhiri obrolan bersama sahabatnya, lalu segera bersiap kembali pergi ke IGD menjalankam tugasnya.


🥀


Sementara di kota B seorang wanita yang merupakan Ibu dari kelima anak, masih tetap sama belum bisa mengingat tentang dirinya. Selalu memaksa ingin mengingat sesuatu tetapi kepala malah akan terasa amat sakit yang menyebabkan harus beristirahat di rumah. Bahkan dokter mengingatkan Rani untuk tidak terlalu memaksa ingatannya agar tidak terjadi sesuatu tak diinginkan.


Rani yang telah mempunyai cukup modal akhirnya memutuskan untuk membuka warung kecil-kecilan depan kontrakan baru mereka. Kebetulan rumah kontrakan mereka yang sebelumnya sangat jauh dari keramaian, mereka bertiga pun memutuskan pindah mencari kontrakan yang agak ramai dan tak terlalu jauh juga dari kebun teh tempat kerja orang tua angkatnya.


"Rani," panggil Bu Tini yang baru saja pulang dari kebun teh bersama suaminya Pak Tono.


"Ibu bapak." Rani langsung menghampiri Pak Tono dan Ibu Tini untuk menyalimi tangan keduanya.


"Alhamdulillah rame pembeli bu. Ibu sama bapak bersih bersih sekarang, biar aku siapin makan siang buat ibu sama bapak," ujar Rani meminta kedua orang tua angkatnya agar berbersih.


Kedua paruh baya segera masuk ke dalam rumah dan berbersih, lalu setelah itu keluar untuk makan siang.


Ketika Rani sedang melayani pembeli, tiba-tiba telinganya mendengar sebuah suara lirih memanggil 'Mommy', lantas membuat Rani memegang kepalanya yang berdenyut, terlintas bayang-bayang seorang diingatannya yang masih tidak jelas.


"Rani! Rani kamu kenapa nak," seru Bu Tini dan Pak Tono dengan cepat menghampiri Rani yang hampir akan pingsan.

__ADS_1


"Rani!" Bu Tini memegang pundak Rani agar sadar kehadirannya.


Rani lantas menoleh saat merasakan tangan seseorang di pundaknya, ia menoleh mendapati kedua orang tua angkatnya ada di dekatnya.


"Kamu pasti berusaha mengingat keluarga mu lagi ya nak," ujar Pak Tono menebaknya.


Rani seketika menggeleng, "Engga pak, aku cuma mendengar suara seseorang memanggil mommy dengan suara lirihnya. Otakku juga bekerja mengingat orangnya yang bahkan masih tidak jelas diingatanku." Jelasnya.


"Rani sebaiknya kamu istirahat saja nak, kamu pasti kecapean, apalagi barusan kamu bilang banyak pembeli hari ini. Biar Ibu yang menjaga warung mu," kata Bu Tini tidak tega melihat wajah Rani kelihatan pucat.


"Engga usah Ibu, biar aku tutup saja warungnya. Ibu sama bapak juga butuh istirahat yany cukup." Putus Rani akhirnya menutup warungnya, tetapi sebelum itu melayani pembeli terakhirnya.


...🥀🥀🥀...


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


 

__ADS_1


 


__ADS_2