
Di dalam kamar Antonio dan Khanza tengah membicarakan hal serius yang memicu perdebatan antara keduanya. Antonio yang tidak biaa mengubah keputusan dan Khanza kekeh agar suaminya berubah pikiran.
"Mas bagaimana jika Queen diposisi Salsa sekarang. Apa yang akan Mas lakukan, apa Mas tega membiarkan gadis remaja yang hidup sebatang kara tinggal sendirian di apartemen, semantara di mansion ini banyak kamar kosong yang bisa dia tempati," terang Khanza mencoba membuat suaminya bersimpati pada Salsa.
"Princess ku, tidak akan pernah tergantikan, jadi jangan pernah mencoba memposisikan princess dengan gadis itu honey. Mas tetap pada kesepakatan awal kita, gadis itu tinggal diapartemen atau dia Mas pulangkan ke Bogor," putus Antonio mutlak, kemudian memilih keluar dari kamar meninggalkan istrinya. Antonio tidak ingin semakin tersulut emosi hanya karena pembahasan mereka selalu seputar gadis tersebut, Antonio sangat muak.
'BLAM'
Khanza mengelus dada, akibat kaget mendengar suara pintu dibanting keras oleh suaminya. Khanza ingin mengejar suaminya, namun Salsa tiba-tiba masuk ke kamar.
"Ibu tidak papa? Tadi dari kamar Alesha menemani Alesha nonton drakor, saat keluar dari kamar Alesha aku gak sengaja liat om Antonio banting pintu, dan wajah om Antonio kelihatan marah gitu. Jadi aku tidak jadi turun, memilih menghampiri Ibu kesini," papa Salsa menerangkan apa yang barusan dilihatnya.
"Ibu baik-baik saja kok nak, sebaiknya kamu kembali ke kamar ya lalu segera istirahat," ucap Khanza menyuruh Salsa beristirahat.
"Ibu besok maukan mengantar aku ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal ku," ujar Salsa, Khanza tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih Ibu, ku rasa akulah yang banyak berhutang budi pada keluarga Ibu. Kalian sangat baik terhadap ku, entah bagaiman aku membalas kebaikan kalian. Aku berjanji akan sekolah dengan benar," kata Salsa membawa punggung tangan Khanza untuk dicium.
Khanza merengkuh tubuh Salsa masuk ke dalam pelukannya, "Ya nak, kau harus belajar dengan giat, agar setelah lulus nanti kamu bisa masuk universitas impian mu, seperti yang sering kami katakan pada Ibu."
"Baik bu." Salsa mengurai peluka mereka, kemudian keluar dari kamar Khanza.
Setelah kepergian Salsa, Khanza berjalan ke balkon dan duduk disana menatap ke atas langit yang gelap gulita, tidak ada bulan yang bersinar serta bintang-bintang. Hanya angin berhembus menerpa dirinya, mengeratkan lipatan tangan didadanya.
Khanza merenungi pembicaraan bersama sang suami. Khanza mulai menyadari dirinya begitu egois, harus tidak kekeh pada keinginan. Padahal mereka sudah sepakat Salsa boleh sekolah ditempat anak-anak, dengan catatan tidak boleh tinggal di mansion ini.
Khanza seharusnya paham, Antonio melarang orang lain masuk ke dalam mansion mereka, karena tidak terjadi masalah suatu hari nanti, yang bisa merusak keluarga harimonis mereka.
"Mommy disini ternyata, dari tadi aku sudah ketuk pintu tapi tidak dapat sahutan. Makanya langsung nyolong masuk, maaf ya mom," ujar Arcell berdiri disamping Khanza.
"Engga papa nak, mommy memang gak dengar. Ada apa kamu kemari nak?" kata Khanza lalu bertanya.
"Iya mom, ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan daddy. Tapi kaya'nya daddy gak ada disini," ucap Arcell tak melihat adanya sang daddy bersama mommynya, kalau daddy melihat mommy duduk dibalkon dengan cuaca dingin seperti ini, daddynya pasti sudah menggendong membawa mommynya masuk ke dalam.
"Tadi daddy mu ke dapur ambil minum," bohong Khanza.
Arcell tahu mommynya berbohong, mereka pasti ada masalah. Dia tidak ingin ikut campur, dia yakin daddynya pasti bisa menyelesaikan masalah.
"Mom ayo masuk ke dalam, cuacanya sangat dingin. Bentar lagi turun hujan loh." Arcell meraih tangan mommynya dan mengajak masuk ke dalam.
"Mommy istirahat saja ya, daddy pasti balik. Jangan banyak pikiran, aku gak mau sampai mommy sakit," kata Arcell lembut, menyelimuti mommynya.
"Kamu dengar mommy sama daddy bertengkar ya," tukas Khanza.
Arcell tersenyum, lalu menggeleng, "Aku gak tau mom, tapi dari wajah murung mommy sudah menunjukkan kalian sedang bertengkar. Aku yakin daddy tidak akan lama marah sama mommy."
Arcell mencium dahi mommynya sebelum keluar dari kamar. Dia tak langsung ke kamarnya dan mencari daddynya ke kamar princess. Dia yakin daddynya pasti kesana, dia membuka pintu pelan dan benar saja daddynya tidur sambil memeluk princess.
🥀
Antonio bersiap-siap dengan cepat, tanpa menunggu Khanza menyiapkan pakaian kerjanya. Antonio tidak bisa marah pada Khanza, Antonio hanya ingin memberi ruang untuk istrinya bisa berpikir jernih.
"Daddy mau kemana pagi buta kaya gini," sergah Ghani menatap heran pada Antonio.
"Oh ini daddy ada kerjaan sama om Satya. Jadi harus ke suatu tempat, meninjau pembangunan hotel baru Horison," kata Antonio tidak berbohong, memang ada urusan dengan Satya tapi tidak sepagi ini. Dia hanya ingin menghindari Khanza untuk sehari saja.
"Daddy udah pamit belum sama mommy, entar mommy nyariim daddy loh," ujar Ghani.
"Tenang son, daddy udah pamit kok," bohong Antonio, tidak mungkin kan dia pamit saat mereka tengah dalam masalah.
"Daddy berangkat, antar princess ke sekolah," pesan Antonio pada putra ketiganya.
"Aman dad, aku yang akan mengantar princess kesekolah dengan selamat," ucap Ghani.
Antonio mencium pipi putranya, kemudian melangkah cepat masuk ke mobilnya. Hari ini dia akan berkendara sendiri, tanpa mengandalkan sopir.
Sedangkan dikamar Khanza baru saja bangun dan tak mendapati Antonio disampingnya. Khanza beranjak dari ranjang, mencari keberadaan suaminya, tapi tidak nemukan suaminya. Khanza melirik ke keranjang pakaian ke kotor, disana ada pakaian semalam dikenakan suaminya.
"Yaallah Mas sebegitu marahnya kah kamu sama aku," ucap Khanza mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Padahal aku mau minta maaf sama kamu Mas." Khanza duduk bersimpuh dengan bersandar di dekat pintu kamar mandi.
"Aku harus ke kanto Mas Nio, sehabis mengantar Salsa ke apartemen."
Khanza bangkit, lalu masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Bersiap mengenaikan pakaian dress katun selutut, lengan balon, warna dusty pink. Khanza keluar menuju meja makan disana anak-anak sudah duduk ditempat mereka masing-masing
"Mommy, daddy mana? Biasa kalian turun kebawah bersama," ujar Queen bertanya, saat tak melihat adanya sang daddy disamping mommynya.
Khanza diam seribu bahasa, dia bingung mau menjawab apa. Sedangkan dia tidak tahu kemana perginya Antonio, entah benaran pergi ke kantor atau kemana.
"Abang baru ingat, tadi pagi abang papasan sama daddy. Daddy bilang ada urusan sama om Satya, kalau gak salah mau meninjau proyek pembangunan hotel baru Horison," jelas Ghani, membuat Khanza lega mendengar penjelasan putranya.
"Daddy kan antar aku ke sekolah hari ini, kok gak bilang dulu sih." Queen mengerucutkan bibirnya.
"Ghani, daddy ada bilang gak lokasinya?" Tanya Queen sembari mengusap kepala putrinya.
"Bukannya daddy udah pamit sama mommy, jadi ku pikir daddy pasti udah ngasih tau mommy," ujar Ghani.
"Iya kamu benar nak, tapi daddy pamit saat mommy masih ngantuk, jadi kurang jelas dengarnya," sahut Khanza.
"Aku gak tau lokasinya mom, daddy cuma bilang ke suatu tempat gitu aja," kata Ghani.
"Entar kalau daddy balik kantor, aku telpon mommy," sanggah Arcell.
Khanza mengulas senyum ke arah Arcell. Putra sulungnya sangat peka, jika kedua orang tuanya tengah ada masalah. Tapi Arcell tidak bertanya apapun masalah yang tengah terjadi diantara keduanya.
"Princess biar mommy yang antar gimana? Sekalian mommy antar kak Salsa ke apartemen," ujar Khanza.
"Loh kenapa kak Salsa gak tinggal disini saja mom," ucap Queen mendongak menatap Khanza.
"Gak papa Alesha, ini aku kok yang mau tinggal diapartemen aja. Aku mau mandiri, aku udah banyak ngerepotin kalian," ujar Salsa menyahut omongan Queen.
"Kak Salsa gak betah kalau kamarnya kaya gitu, kak Salsa bisa bilang kok sama daddy atau mommy, biar kamar di renovasi sesuai keinginan kak Salsa," kata Queen.
"Princess dengarin abang, biarin Sa-Salsa mandiri," tegas Arcell, ia tidak akan membiarkan adik kecilnya berbaik hati pada gadis itu.
"Kak Salsa beneran gak mau tinggal disini aja, disini rame loh orangnya. Kalau di apartemen kan sepi. Kalo kak Salsa disini, kita bisa belajar bareng nonton drakor bareng," sambung Queen, terdengar seperti rayuan.
"Benar kata princess ku, kalau disini kamu bisa berteman baik sama princess," timpal Rey yang telah menyelesaikan sarapan paginya.
Salsa menggeleng, "Aku ingin belajar mandiri, Alesha bisa kapan saja menginap di tempat ku." Ucap Salsa memberi pengertian supaya Queen tak memaksanya tetap tinggal di mansion.
"Udah princess, jangan maksa kak Salsa ya nak. Toh kak Salsa bilang kamu bisa menginap di apartemen kak Salsa kapan aja," ujar Khanza menengahi agar pembicaraan mereka cepat selesai.
"Mom aku pamit berangkat kantor." Arcell menyambangi Khanza dan Queen. Mencium pipi dua perempuan kesayangannya.
"Ghani bawa mobil hati-hati, pastikan keselamatan princess," pesan Arcell, kini beralih pada sang mommy.
"Mommy antar dia, jangan nyetir sendiri. Diantar Alvaro aja ya, aku gak ijinin mommy bawa mobil," tukas Arcell.
"Baiklah mommy nurut sama abang," sahut Khanza.
🥀
"Salsa sudah siap liat apartemen kamu nak?" Salsa mengangguk dan tersenyum memamerkan deretam gigi putihnya.
"Kak Varo kita ke alamat apartemen xxx," seru Khanza.
Alvaro lantas mengendarai mobil menuju jalan xxx. Menempuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di apartemen tersebut. Alvaro mengikuti kedua perempuan yang berjalan duluan didepannya.
Khanza menempelkan kartu akses apartemen. Khanza dan Salsa mengitari seluruh ruangan dalam apartemen yang dibelikan Antonio.
"Gimana Sa, kamu suka nak? Kalau ada yang kamu kurang suka dari interior apartemen ini, kamu bilang saja ya, nanti Ibu usulkan sama Mas Nio buat di renovasi bagian-bagian yang kurang kamu sukai," tutur Khanza merangkul bahu Salsa.
"Engga ada buk, apartemen sangat bagus. Bahkan apartemen ini terlalu mewah buat aku yang gadis kampung," terang Salsa merendah.
"Ssttt. Jangan ngomong gitu, Ibu gak suka kamu merendah gini," kata Khanza.
"Ayuk Ibu bantu kamu menyusun barang-barang kamu, habis itu Ibu tinggal gak papakan," ujar Khanza.
__ADS_1
"Salsa bisa susun bareng sendiri kok buk, Ibu kalau mau ke kantor om Antonio, pergi aja sekarang." Salsa tak ingin merepotkan Khanza dengan membantunya.
"No, Ibu bakal bantuin kamu, sebelum ke kantor," kata Khanza.
Tak selang lama, pakaian Salsa sudah tersusun rapi di walk-in closet dibantu oleh Khanza. Setelahnya Khanza pamit pergi ke kantor untuk menemui suaminya, padahal Arcell belum mengabari.
"Salsa kabarin Ibu kalau kamu butuh apa-apa, nanti sore ada orang yang akan mengantar seragam sekolah untuk kamu," kata Khanza.
"Iya buk, Ibu hati-hati ya dijalan," ucap Salsa menyalami punggung tangan Khanza.
Kini Khanza melanjutkan perjalanan ke kantor Horison. Khanza berharap suaminya sudah ada diruangan. Bila suaminya tidak ada, dia akan menunggu dalam ruangan sampai suaminya balik ke kantor.
"Selamat datang Ibu Khanza, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsonis dengan sopan dan ramah. Resepsionis mengenal wanita di hadapannya adalah istri boss.
"Apa pak Antonio ada di ruangannya?" Khanza balik bertanya.
"Pak Antonio belum ada ke kantor sedari pagi buk," jawab resepsionis.
"Kalau begitu saya akan menunggu diruangan saja. Jika suami saya datang, jangan beritahu saya menunggu diruangan," pesan Khanza.
"Baik bu," balas resepsionis.
Kemudian Khanza menaiki lift khusus petinggi perusahaan. Khanza mengendap-endap masuk keruangan Antonio tanpa sepengetahuan Arcell. Kaki Khanza menyusur setiap sudut ruangan Antonio, setelah satu tahun mereka tidak bersama, ruangan Antonio tidak berubah sedikipun interiornya tetap sama seperti sebelumnya.
Khanza mendudukan diri di sofa, sudah satu jam dia menunggu, belum ada tanda-tanda kedatangan Antonio. Khanza mulai merasa kantuk menyerangnya, dia pun akhirnya terlelap dengan posisi duduk.
Sedangkan dia luar Antonio berjalan sembari bercengkrama dengan Satya. Mereka baru saja datang ke kantor, sehabis meninjau lokasi pembangunan hotel.
'Ceklek'
"Khanza!" Gumam Antonio terkejut melihat ada istrinya di dalam ruangannya dan tengah tertidur pulas.
"Satya, kita bicarakan nanti lagi untuk selanjutnya. Kamu bisa tinggalkan ruangan saya," ujar Antonio meminta Satya keluar dari ruangannya.
Sepeninggal Satya, Antonio mengunci pintu ruangan agar tidak sembarang orang masuk. Antonio membopong istrinya berjalan ke arah kamar yang tersedia di dalam ruangannya. Perlahan Antonio membaringkan istrinya di ranjang dengan hati-hati.
"Mas Nio," lirih Khanza mendorong badan Antonio agar merunduk, untuk dipeluknya.
"Hiks maafin aku udah bantah Mas terus, tolong jangan marah lagi. Aku ga bisa diam-diam terlalu sama Mas. Aku sadar kesalahan ku Mas, aku juga sudah merenunginya tadi malam," urai Khanza.
Antonio mengangkat tubuh Khanza, lalu duduk dengan Khanza berada atas pangkuannya. Antonio menatap wajah istrinya yang sembab, tangan mengusap air mata itu.
"Sudah ya honey, jangan nangis. Mas juga salah udah diamin kamu," ucap Antonio.
"Salsa juga udah aku antar ke apartemen, dia juga bilang mau mandiri," kata Khanza.
"Kamu sudah makan siang?" Tanya Antonio, ia enggan membahas gadis itu.
Khanza menggeleng, "Aku masih kenyang-
Kryuukk... kryuukk...
"Heum masih kenyang ya, jadi barusan suara perut siapa?" Antonio menggoda Khanza dengan pura-pura tak tahu.
"Tapi bohong, aku lapar sekarang," lanjut Khanza.
"Biar Mas pesankan makanan dulu." Antonio kemudian memesankan makanan untuk dia dan istrinya.
30 menit kemudian makanan mereka tiba, keduanya langsung makan bersama. Setelah makan siang, keduanya tak langsung pulang dan memilih menghabiskan waktu bersama di kantor dengan mamadu kasih.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1