
Dua hari berlalu, namun Queen belum juga membicarakan tentang jawaban atas perjodohan yang telah dilakukan Andreas dan Levian. Queen merasa begitu gelisah sekarang, bagaimana tidak gelisah Alex terus-menerus mengiriminya pesan melalui whatsapp, menanyakan apakah dia sudah bicara atau belum serta jawaban opa Andreas soal penolakan.
Ketiga sahabatnya memperhatikan ekspresi wajah Queen yang terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu. Semantara beberapa meter dari meja keempat cewe-cewe, ada keenam cowo-cowo tampan tengah berada di kantin juga. Ketiga orang dari cowo-cowo tampan tersebut menatap kearah Queen dengan pandangan dan pikiran berbeda-beda.
"Princess lagi kenapa ya, gue perhatiin makanannya cuma diaduk-aduk. Rasanya pengen nyamperin terus gue tanyain, tapi ada teman-teman. Gue ga bisa gegabah kaya gini, identitas princess belum boleh diketahui siapapun, karena sangat penting menjaga keselamatan princess." Batin Rey, hati dan pikiran berperang dan dia harus bisa mengendalikan diri untuk tidak selalu terburu-buru dalam bertindak.
"Tuh cantik banget! Mandangin wajah aja ngebuat hati gue adem banget rasanya. Yaallah ada apa dengan hamba mu ini? Mungkin kah gue jatuh cinta sama dia, enggak, enggak. Dia milik sahabat lo Kei, jadi lo ga boleh ngerebut yang udah menjadi milik sahabat lo." Batin Keisyam menepuk-nepuk pipi pelan agar sadar apa yang telah dikatakannya tidak boleh terjadi, persahabatan lebih penting dari segalanya, cuma sahabatnya yang selalu ada di saat dia kesepian dan butuh bantuan.
"Kenapa Alesha ga bales chat gue, padahal gue cuma pengen tahu jawaban dari opa Andreas. Apa mungkin dia nyembunyiin sesuatu atau belum ngomong sama opa Andreas, engga gue ga bisa biarin ini. Makan malam kali ini gue harus mastiin Alesha menolak perjodohan konyol ini. Gue harus bicara sama Alesha sekarang." Batin Alex menatap Queen seraya di dalam benak penuh dengan pertanyaan.
Kembali di meja keempat cewe-cewe, di antara mereka berempat cuman Queen yang makanannya belum habis.
"Lesha! Lo lagi mikirin apa sih, sampai makanan lo aduk-aduk aja. Sedari tadi gue perhatiin lo kaya lagi banyak pikiran gitu," tegur Luna menyentuh lengan Queen menyadarkan gadis tersebut.
Queen langsung sadar dari lamunannya saat merasakan tangan seseorang menyentuh lengannya. Mata menatap Luna yang ternyata menyadarkannya.
"Yah malah diam, jawab sha," desak Luna.
"Eum Luna, maaf aku gak fokus tadi kamu ngomong apa?" Queen balik bertanya.
"Sha kalau lo ada masalah, cerita sama kita. Sebisa kita akan bantu nyelesain masalah lo." Kali bukan Luna yang berbicara, melainkan Alia.
"Tentu saja, kita ini sahabat. Kalau memang masalah lo punya sangat berat dan ingin berbagi sama kita, lo cerita aja. Benar kata Alia, kita pasti bantuin lo buat nyelesain masalahnya, misalkan masalah lo emang gak harus berbagi sama kita, engga papa Sha. Kita cukup ngerti privasi lo," papar Dinda ikut angkat bicara.
"Maafin aku ya, aku ga bisa cerita masalah ku sama kalian," ucap Queen sedih.
Luna merangkul bahu Queen, hingga menempelkan kepala mereka satu sama lain. "Engga papa Sha, kita mengerti. Ada saatnya orang tidak bisa berbagi masalah mereka, karena suatu hal yang memang tidak harus diketahui orang lain. Jadi lo ga perlu minta maaf, gue cuma minta lo habisin makanan lo. Sayang nanti mubazir, kita harus bersyukur masih bisa makan enak, semantara orang di luar sana belum tentu bisa kaya kita sekarang." Kata Luna bijaksana.
"Setuju gue sama lo Lun," imbuh Dinda.
Queen pun tersenyum, mulai menyuap makanannya, meskipun terpaksa. Karena dia benar-benar tidak nafsu makan sama sekali, otak terus saja bekerja memikirkan soal perjodohannya. Sampai terdengar bunyi suara ponselnya menandakan ada pesan masuk. Dia lekas membuka pesan tersebut.
__ADS_1
Ting!
**Kak Alex📲
"Temuin gue di taman belakang sekolah sekarang**."
Setelah membaca isi pesan dari Alex. Queen memandang meja tak jauh dari tempat mereka dan disana tidak ada Alex sama sekali.
"Kalian duluan aja ke kelas, aku mau ke toilet bentar," ujar Queen beralasan.
"Perlu gue temenin gak," tawa Dinda.
Queen menggeleng, "Engga usah din, lagian gue cuma mau buang air kecil, bentar aja kok."
"Kalo ada apa-apa hubungin kita ya, pokoknya kalo lo digangguin tiga kakak senior kencentilan cepat telpon gue," pesan Luna.
Queen mengangkat tangan membentuk huruf 'O' yang artinya 'Oke'. Queen lantas melangkah, namun tujuan bukan kearah toilet melainkan pergi ke taman belakang sekolah untuk menemui Alex. Disana Queen bisa melihat Alex yang sedang duduk dibangku panjang menungguinya.
Alex menatap intens gadis yang berdiri dengan menundukkan kepala tak ingin melihatnya.
"Ada apa kakak minta ketemuan disini?" Tanya Queen tanpa menatap lawan bicaranya.
"Gue bakal ngomong, kalau lo duduk," tegas Alex.
Perlahan Queen menudukkan pantatnya di bangku panjang yang juga diduduki oleh Alex.
"Gue nyuruh lo temuin gue disini, karna gue mau bahas pembicaraan kita dua hari yang lalu." Perkataan Alex membuat tubuh Queen menegang mendengarnya.
"Lo udah ngomongkan sama opa Andreas, kalau lo juga menolak perjodohan konyol kita," cetus Alex menatap gadis disampingnya yang hanya diam.
"Maa..aaf kak, aa..aku belum sempat bicara sama opa, taa..tapi aku akan ngomong setelah pulang sekolah," kata Queen terbata-bata.
__ADS_1
"Jadi ini alasan lo ga balas chat gue! Kenapa lo belum bicara juga, lo taukan malam ini keluarga lo dan gue bakalan membahas perjodohan kita. Gue mau lo harus menolak perjodohan kita," malah Alex, tetap bisa mengendalikan emosi.
"Ya aku tau kak, aku harap kakak tenang. Aku akan berterus terang ke opa untuk menolaknya. Kakak tidak perlu khawatir, perjodohan ini tidak akan terjadi," tegas Queen sembari berdiri dari duduknya, usai mengatakan itu dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Alex sendirian.
"Maaf jika perkataan gue menyakiti hati lo." Alex hanya bisa bergumam, sebab Queen telah pergi.
Sedangkan Queen tidak langsung ke kelas, dia lebih memilih pergi ke toilet untung menangis disana. Dia meredam tangisan di dalam toilet yang kebetulan sepi, tidak ada satupun orang yang masuk. Setelah puas menangis dia membasuh wajah, lalu membalas pesan dari Luna yang menanyakan keberadaannya.
"Luna, aku tiba-tiba ga enak badan. Tolong ijinin, aku ga bisa masuk kelas. Aku lagi di uks sekarang."
Beberapa menit kemudian Luna membalas pesan darinya, Queen membuka isi pesannya.
**Luna📲
"Gue kesana sekarang ya, gue khawatir banget sama lo**."
^^^"Ga usah Lun, kamu jangan bolos. Aku engga papa kok sendirian aja."^^^
"**Habis selesai pelajaran gue kesana."
^^^"Iya kalau udah selesai kesini aja**."^^^
Lalu pesan Queen tidak dibalas lagi oleh Luna. Queen sebenarnya tidak sakit, cuma ingin menenangkan diri dan tidak mungkin juga dia masuk kelas dalam keadaan mata sembab habis menangis, yang malah akan menimbulkan berbagai pertanyaan dari Luna. Maka dari dia memilih untuk menghidarinya.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1
Â
Â