
Pagi ini Queen tampak ceria, setelah satu minggu tidak masuk sekolah, kini gadis itu telah diperbolehkan kembali sekolah oleh Vinno. Didalam mobil ada Antonio dan Khanza yang akan mengantar ke sekolah, gadis itu duduk ditengah-tengah mommy dan daddynya.
Antonio mengusap kepala putrinya yang menyender di bahunya, sekuat tenaga Antonio bersikap seperti orang yang tak mengetahui penyakit anaknya. Begitu besar pengorbanan putrinya untuk saudaranya, Antinio menyesal pernah meninggalkan putrinya disaat kehilangan Khanza, dia berduka sendiri dan mengabaikan anak-anaknya.
"Daddy!" seru Queen menggoyangkan lengan Antonio.
Antonio tak merespon panggilan Queen, sebab dia tengah melamun. Queen yang jengan karena daddy tetap diam, menggigit pipi daddynya.
"Awshh! Kok pipi daddy malah digigit sayang," ujar Antonio bingung, sedangkan Khanza yang memandang keduanya tertawa kecil menyaksikan wajah lucu suaminya yang dibuat-buat.
"Siapa suruh gak denger dipanggil berulang kali, cepat bukain pintunya daddy aku mau keluar," pinta Queen.
"Gak akan daddy bukain, sebelum princess cium pipi daddy yang bekas digigit," tolak Antonio menahan lengan putrinya.
"Mommy aku gak mau cium pipi daddy, daddy ngeselin," adu Queen menatap memelas pada Khanza agar mau membantu lepas dari Antonio.
"Mas lepasin gih, putri kita mau sekolah, kalau kamu tahan nanti bisa-bisa telat," tutur Khanza lembut memberi pengertian, sayangnya Antonio tetaplah menahan putrinya.
"Hem, tidak bisa mommy. Princess harus mencium pipi ku, barulah ku lepaskan," sahut Antonio tak mau mengalah.
'Muaachh' Queen mencium lala pipi Antonio. Queen terpaksa, jika tidak menuruti daddynya pasti tetap menahanya.
"Sudahkan dadd, ayo lepaskan tangan ku," ucap Queen.
"Sebentar sayang." Antonio balik mengecupi seluruh wajah putrinya.
"Sayang bekalnya jangan lupa dimakan, gak boleh jajan sembarangan," peringat Khanza, ia menciumi seluruh wajah Queen seperti dilakukan suaminya tadi.
"Siap boss!" Hormat Queen, gadis lantas berjalan menuju gerbang. Banyak siswa yang berpapasan menyapa dirinya.
Terdengar bunyi bell masuk, Queen melangkah terburu-buru, hingga tak memperhatikan jalan.
'Bruk' Tangan seseorang berhasil menangkap tubuhnya, hingga Queen merasa tubuhnya melayang digendongan seseorang.
"Apa lo akan pura-pura pingsan, sehinga gue dengan berbaik hati membawa lo ke uks."
Queen membuka matanya dan langsung bertemu pandang dengan mata biru cowo yang menggendongnya.
"Ka-kamu kok bisa bahasa Indonesia," cicit Queen, belum sadar dirinya masih digendongan cowo tersebut.
"Lo kira cuma lo aja yang bisa bahasa Indonesia, gue juga bisa kali." Ucapnya sewot.
__ADS_1
"Jawabnya gak usah sewot gita bisakan." Queen mengerucutkan bibir.
"Heum, lo kaya'nya nyaman banget digendongan gue, sampai gak sadar-sadar," ejek cowo tersebut.
Queen langsung turun, dan ingin berlari. Tapi pergelangan tangannya sudah dipegang erat.
"Tunggu, jangan main pergi aja. Gue mau lo anterin gue keruang kepala sekolah."
"Kamu anak baru?" Cowo itu mengangguk.
"Ikutin aku." Queen berjalan duluan di depan, memandu cowo tersebut menuju ruang kepala sekolah.
"Sudah sampai, ini ruangannya. Kamu bisa masuk sendirikan, aku buru-buru harua ke kelas." Tanpa menunggu jawaban dari cowo didepannya, Queen lekas berlari menuju ke kelasnya.
"Menarik! Cantik dan polos." Gumam cowo tersebut, kemudian mengetuk pintu kepala sekolah, setelah mendapat sahutan dari dalam barulah dia masuk.
🥀
Seketika mata Alex melebar melihat lelaki yang amat dikenalnya, merupakan sahabat baiknya saat bersekolah di LA.
"Long time no see Alexander," sapa Liam memeluk sahabatnya.
"I didn't expect you to also change schools in Indonesia," ucap Alex mengurai pelukan mereka.
"Liam, lo bisa bahasa Indonesia," kaget Alex, sebetulnya Liam bisa bahasa Indonesia belajar sedikit-dikit dari dia dan Meldy, hanya saja yang membuat Alex terkejut bahasa Indinesia Liam sangat fasih.
"Diajarin kakak gue, tapi bahasa gaulnya gue cari guru diam-diam buat ajarin. Bahasa kakak gue baku banget bro," kata Liam jujur.
Liam Lazuardi Russell, kerap dipanggil Liam adalah sahabat baik Alex dan Meldy selama bersekolah di LA. Ketika kedua sahabatnya memutuskan untuk pindah sekolah di Indonesia, Liam merasa sangat kesepian, jadi dia memutuskan pindah sekolah juga dan disetujui keluarganya. Liam giat belajar bahasa Indonesia sama kakaknya setiap hari, hingga dia mengerti dan bisa mempraktekan dengan ngobrol bersama sang kakak menggunakan bahasa Indonesia.
"Meldy juga sekolah disinikan?" Tanya Liam.
"Hem ya, gue sama Meldy beda kelas," jawab Alex.
"Kalian masih pacaran?""
"Alex, Liam. Apa kalian sudah cukup mengobrolnya, jika ingin lanjut silahkan keluar dari kelas saya." Tegur guru didepan, bekata tegas.
Tak lama bell berbunyi menandakan jam istirahat. Alex mengajak Liam bergabung bersama para sahabatnya ke kantin sekolah. Alex memperkenalkan Liam pada keempat sahabatnya, mereka menerima Liam bergabung.
Queen merasa tak nyaman diawasi oleh sepasang mata biru yang duduk tak jauh dari mejanya. Ketiga sahabatnya mengobrol pun dia tak fokus sama sekali.
__ADS_1
"Sha tau gak, katanya ada anak baru. Kakak tingkat cakep benar pokoknya, matanya biru." Luna begitu antusias menceritakannya.
"Tuh orangnya lagi mandangi ke meja kita," celetuk Dinda.
Luna melambaikan tangan dan tersenyum tipis, bukan membalas lambaian Luna. Liam malah memalingkan wajahnya.
Langkah kaki Meldy berhenti saat baru saja memasuki area kantin, tubuh berdiri kaku melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Meldy berbalik melangkah pergi dengan setengah berlari.
"Meldy, mau kemana lo!" seru Fani meneriaki sepupunya yang tiba-tiba saja pergi tanpa alasan.
"Gue kejar Meldy dulu ya." Fani hendak mengejar, tapi dia ditahan oleh Maira.
"Biarin aja dulu Fan, mungkin Meldy lagi ada masalah sama Alex, dan butuh sendiri. Lo bisa lihat kan akhir-akhir Meldy kaya sedih banget," papar Maira.
Fani mengangguk mengikuti kedua temannya, mereka duduk di dekat Alex dkk. Fani tampak terpesona melihat cowo didekat Alex, mata cowo itu sungguh indah, apalagi wajah terlihat tampan.
"Lex teman baru lo ya? Kenalin dong," ucap Fani dengan gaya centilnya.
"Lex gue mau ke toilet dulu ya." Liam langsung pergi meninggalkan meja Alex, sebetulnya dia mendengar omongan gadis yang tengah berdiri dekat Alex itu menyebut nama Meldy.
"Hey tunggu kita belum kenalan," teriak Fani tanpa tau malu.
"Ngeselin banget tuh cowo, baru aja mau kenalan malah ditinggalin." Fani mengerucutkan bibir tanda kesal.
Keempat sahabat Alex, termasuk Alex juga ikut tertawa hanya kedua teman Fani yang sanggup menahan tawa.
"Kalian ngetawain gue," marah Fani menatap tajam kelima orang cowo.
Mereka berlima mengendikkan bahu, enggan menanggapi Fani. Begitupun keempat gadis ikut tertawa menyaksikan bagaimana wajah Fani yang marah, keempat sangat puas melihat pemandangan itu.
Liam menyusuri lorong sekolah, kepala celingak celinguk mencari keberadaan Meldy. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan perempuan tersebut.
"Disini ternyata lo hem! Mau kabur kemana lagi lo?"
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1