BELOVED

BELOVED
Episode 93.


__ADS_3

Naila menyuapi Queen dengan telaten, kini wanita paruh baya itu menemani putrinya yang kembali dirawat lagi. Dia sedikit heran dengan kondisi kesehatan putrinya yang akhir-akhir menurun, dia pikir mungkin kah putrinya menderita penyakit serius. Namun Vinno, suaminya selalu berkata bahwa princess mereka hanya kelelahan.


"Sayang kenapa heum? Ada yang menganggu pikiran mu." Vinno bertanya serayan merunduk memeluk istrinya.


Lamunan Naila buyar, ketika mendapati sepasang tangan memeluknya dari belakang. Tangan Naila masih terus mengusap rambut Queen.


"Sayang mengapa jadi diam! Jawab pertanyaan ku, ada yang sedang kau pikiran saat ini, hingga membuat tampak kelihatan gelisah." Vinno berkata ulang.


"Aku mau berbicara hal penting dengan mu Mas, tapi aku minta kau harus menjawab dengan jujur. Aku tidak mau lagi kamu berbohong, atau aku akan pergi dari hidup mu." Tanpa diminta oleh Naila kalimat itu keluar sendiri dari mulutnya, entahlah Naila merasa suaminya membohongi mereka semua.


Sejurus kemudian pelukan Vinno terurai, dia berdiri disamping istrinya, menatap istrinya dengan wajah serius.


"Ya, bicaralah sayang Mas akan berkata jujur," tukas Vinno menormalkan detak jantung dan raut wajahnya.


"Tidak disini Mas, diruangan mu saja lebih aman. Aku tidak mau mengganggu tidur anak-anak," kata Naila seraya memperhatikan ketiga putra mereka sedang tidur di sofa.


Abian tidur dengan duduk dan punggung menyandar di sandaran sofa, lalu Rey berbaring berbantalkan paha Abian. Semantara Ghani juga tidur dengan gaya yang sama seperti Abian.


Setelah mendengar Queen dirawat lagi dirumah sakit, ketiga putranya ikut bersamanya. Bahkan mereka pun makan malam bersama dirumah sakit.


"Aku telpon Arsen, buat jagain adik-adiknya." Vinno mengeluarkan ponsel pintarnya, kemudian mencari nama Arsen.


"Arsen ke kamar rawat princess sekarang juga, jagain adik-adikmu. Papa sama mama mau keluar bentar." Setelahnya Vinno mematikan ponsel, sesudah mendapat jawaban dari Arsen.


Sekarang keduanya nampak diam dengan pikiran masing-masing. Terlebih mulai menegang saat melihat istrinya mulai bicara.


"Katakan dengan jujur, kenapa dengan princess, Mas? Aku menyadari sesuatu, wajah princess selalu tampak pucat, bahkan baru sebulan yang lalu princess dirawat dan sekarang dirawat lagi. Alasan princess dirawat pun tetap sama, kelelahan serta banyak pikiran yang memicu kesehatannya menurun. Tadinya ku pikir memang itulah faktornya, tapi lama-lama aku ngerasa heran, princess juga keliatan kurus. Princess memang tampak ceria, tapi wajah pucatnya tidak bisa berbohong." Papar Naila panjang lebar, seketika Vinno menjadi tertegus sebegitu perhatiannya kah istrinya pada princess, bahkan ditengah-tengah kesibukan dengan pembukaan butik barunya, istrinya masih bisa menyadari perubahan fisik princess.


"Jadi putriku menderita penyakit apa Mas?" Tanya Naila menatap tajam Vinno, baru kali ini Naila bisa seberani ini pada suaminya.


"Princess kita cuma punya satu ginjal untuk bertahan hidup sayang. Maka dari itu Mas mengusahakan mencari pendonor secepat agar bisa melakukan transplantasi ginjal segera. Kesehatan princess juga menurun drastis, aku sangat takut sekarang sayang. Aku terpaksa menyembunyikan rahasia sebesar ini dari kalian, demi menepati janji ku pada princess." Sekian lama akhirnya Vinno memilih jujur pada istrinya.


Naila menutup mulutnya, sebuah fakta yang menyakitan baru saja didengarnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa princess hanya punya satu ginjal Mas?" Naila kembali bertanya, karena kurang puas dengan penjelasan Vinno.


Mengalirlah cerita yang sama pada saat Vinno menceritakan pada Antonio. Tidak kuran maupun dilebih-lebihkan.


"Siapa saja yang tau penyakit princess Mas?"


"Xavier, Arsen dan kamu, Mas juga minta jangan ceritakan pada yang lain. Biarkan ini menjadi rahasia kita,"


"Mereka juga berhak tau Mas atas kondisi princess, terutama Khanza. Aku yakin Khanza pasti terpukul setelah mengetahui kenyataan ini,"


"Mas tahu sayang, karena itu princess memilih menyembunyikan penyakitnya. Dia tidak ingin membuat kita bersedih, meskipun kamu tau penyakitnya, kamu harus pura-pura tidak tahu didepan princess ya sayang. Lakukan senormal mungkin, seperti biasanya,"


"Baiklah Mas, aku akan lakukan sesuai permintaan mu. Terimakasih sudah mau berkata jujur padaku,"


"Mas takut ditinggalin kamu sayang, mangkanya Mas memutuskan untuk jujur saja,"


Naila tertawa kecil, padahal dia cuma bercanda saja. Tapi ternyata ancaman dikira sungguhan oleh sang suami.


🥀


"Mas," seru Khanza menyentuh pundak suaminya.


Antonio berbalik dan mengulas senyum pada istrinya, "Ada apa honey?"


"Aku ngerasa gak tega ninggalin Salsa seorang diri, apalagi sekarang gadis itu sebatang kara Ibu Erni baru saja tutup usia. Bagaimana jika kita bawa Salsa ke Jakarta saja Mas. Kita sekolahkan dia ditempat princess," usul Khanza.


Antonio menggeleng keras, menolak usulan Khanza. Antonio tidak suka sifat baik istrinya menjadi boomerang dalam keluarga besarnya. Antonio tidak mau istrinya mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu mamanya lakukan dengan membawa Clara ke dalam kediaman mereka.


"Mas aku tau kamu takut, tapi apa salahnya kita percaya pada Salsa. Aku yakin dia gadis yang baik. Kita tidak perlu mengangkatnya sebagai anak, cukup sekolahkan dia ditempat yang sama dengan anak-anak kita."


"Dengarkan Mas baik-baik honey, kita gak perlu membawanya ke Jakarta, cukup sekolahin dia disini, Mas akan menanggung seluruh biaya sekolah sampai sarjana," sanggah Antonio memberi pengertian pada istrinya.


"Tetap saja aku tidak tega Mas, apalagi Salsa dulu yang selalu menemani aku kala aku sedih tidak mengingat kalian. Jadi apa salahnya aku membalas kebaikannya," kekeh Khanza.

__ADS_1


Antonio memijit dahinya, kepala pusing. Belum lagi pikiran dipenuhi kecemasan tentang keadaan putrinya. Antonio takut, jika Salsa tinggal bersama mereka, maka perhatian Khanza akan teralihkam untuk gadis itu, sedangkan putrinya akan diabaikan. Antonio tidak bisa membayangkan itu akan terjadi.


"Mas!"


"Fine, honey. Mas setuju, tapi Mas gak mau Salsa tinggal dimansion kita, biarkan dia tinggal di apartemen saja," ujar Antonio pasrah.


"Loh Mas mengapa harus tinggal diapartemen, mansion Horison banyak kamar. Salsa bisa menempati salah satu kamar disana," balas Khanza melayangkan protesan.


"No, Mas tidak mengizinkan Salsa serumah dengan kita," putus Antonio lalu keluar mecari udara segar untuk menjernihkan pikiran.


Antonio berpapasan dengan Salsa dan bersikap cuek pada gadis itu. Antonio yakin gadis itu pasti sudah mendengar pembicaraannya dengan Khanza, tetapi Antonio enggan perduli. Datang ke Bogor pun dia sangat terpaksa, karena tidak ingin Khanza sendirian. Antonio masih menyimpan trauma dengan pristiwa penculikan istri dan putrinya.


"Queen." Teriak Khanza terbangun dari tidurnya, wajahnya berkeringat.


"Honey, kamu kenapa?" Tanya Antonio yang juga terbangun mendengar suara teriakan istrinya.


"Mas ada hubungin princess, perasaan ku tiba-tiba gak enak, barusan aku mimpi hi-hidung putriku berdarah-darah," ucap Khanza terbata-bata diakhir kalimatnya.


Antonio tampak kaget, mendengar perkataan istrinya.


"Mas sudah hubungi tadi, cuma gak diangkat, kayanya putri kita ketiduran nonton drakor. Sudah ya kamu tidur lagi, itu cuma mimpi jadi jangan dipikirin. Besok kita pulang saja." Antonio terpaksa berbohong, yang dialami Khanza sama sepertinya, dia sangat mencemaskan putrinya. Apalagi semua orang tidak ada yang mengangkat telponnya.


Khanza mulai tertidur lagi dalam pelukan Antonio. Sedangkan Antonio sendiri tak bisa memejamkan matanya, pikiran berkelana kemana-mana.


...🥀🥀🥀...


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


 

__ADS_1


 


__ADS_2