
Entah sudah berapa lama Queen tertidur, ketika ia berusaha membuka mata ia menyadari bahwa tempat ini bukanlah kamarnya melainkan kamar kedua baginya. Matanya mengitari sekeliling kamar rawat, namun tidak menemukan satu orang pun yang menungguinya. Queen meremas selimut, mengingat-ingat dirinya yang selalu menyusahkan keluarganya. Ia merasa orang pesakitan, tetapi memang benar adanya. Sampai keluarga mungkin lelah merawatnya.
"Mommy, aku ingin bersama mu disurga sana jika benar mommy memang meninggal. Kalau ternyata mommy masih hidup, aku mohon ya allah berilah hamba pentunjuk agar bisa menemukan mommy." Queen berdoa, setelahnya menjadi terkejut.
Pendengaran Queen begitu tajam, sehingga dapat mendengar suara Andreas yang meneriaki Antonio di dalam ruangan yang kedap suara yang ternyata tak tertutup rapat masih meninggalkan celah.
"XAVIER BERAPA KALI PAPA MENGINGATKAN MU AGAR TIDAK LALAI MENJAGA PRINCESS!!"
Queen memandang sebuah pintu penghubung yang ada di kamar rawatnya. Queen sangat penasaran apa yang membuat opa Andreas semarah itu kepada daddy nya, rasa keingintahuan dalam dirinya begitu besar, ia mencoba untuk bangun meskipun kepala masih terasa agak pusing.
Sebelum menurunkan kakinya, tangan Queen meraih gelas berisi air. Ia kemudian meminumnya, saat merasa tenggorokan terasa kering. Setelah merasa lega, ia mencabut infus secara paksa dan menahan rasa sakit yang diterimanya, barulah ia menyingkap selimut menurunkan kakinya menginjak lantai dingin tanpa memakai sendal.
Queen menjaga keseimbangan tubuhnya agar mencapai pintu tersebut, ia menempelkan telinga agar bisa mendengar pembicaraan mereka lebih jelas.
"Pa sabar, kalau papa marah-marah begini, itu tidak akan baik bagi kesehatan jantung papa," ucap Erina mengelus lengan Andreas berharap bisa menenangkan emosi suaminya. Erina paham putranya salah, karena lalai menjaga cucu cantiknya sampai harus masuk rumah sakit, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini tidak sepenuhnya salah putranya.
"Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus mah, lebih baik princess kita bawa ke luar negeri saja. Papa merasa princess belum bisa mengikhlaskan kepergian Khanza, mungkin ada baiknya princess tinggal bersama kita di luar negeri," urai Andreas membuat Aditya yang tadinya duduk lantas berdiri dari tempatnya.
"Saya tidak setuju om Andreas. Princess juga cucu saya, jadi saya tidak bisa membiarkan cucu saya tinggal jauh dari saya. Jika Antonio tidak mampu mengurus princess, saya yang akan mengambil alih tugasnya." Kalimat Aditya menyulut emosi Antonio yang sedari tadi memilih diam terus mendapat kemarahan dari Andreas.
"Cukup! Kalian sudah terlalu banyak bicara, sekarang giliran kalian yang mendengarkan saya! Sampai mati pun princess adalah putriku, jadi akulah yang berhak atas putriku, bukan kalian. Anak-anak akan tetap bersama ku, tidak ada yang bisa menjauhkan anak-anak dari ku." Tegas Antonio berkilat marah meninggalkan keempat orang yang terdiam.
Saat membuka pintu Antonio terkejut melihat putrinya berdiri depan pintu dengan berurai air mata.
"Pri-princess!"
"Daddy hiks."
Tanpa di duga, Queen menghambur kepelukan Antonio. Menangis keras dalam pelukan Antonio. Bahkan Antonio tidak bisa berkata apapun selain membalas pelukan putrinya. Antonio menggendong di depan tubuhnya, dia membawa putrinya berjalan kesana kemari untuk meredakan tangisan putrinya.
Keempat orang hanya bisa memandang punggung Antonio yang tengah menggendong Queen. Keempat orang merasa tidak kuat menyaksikan tangisan Queen, memilih keluar meninggalkan ayah dan anak tersebut.
Hampir tiga puluh menit Queen menangis seperti anak kecil dalam gendongan Antonio. Akhirnya gadis itu malah mendengkur artinya telah terlelap, Antonio menghela napas lega mendengar dengkuran kecil dari putrinya.
Antonio membaringkan putrinya kembali ke ranjang agar membuat putrinya lebih nyaman.
__ADS_1
"Daddy jangan tinggalkan aku lagi." Igau Queen memegang tangan Antonio seperti takut akan ditinggalkan jauh.
"Daddy janji tak akan meninggalkan mu sayang. Sampai kapan pun tidak ada orang yang bisa memisahkan kita," ucap Antonio mengelus tangan putrinya, seketika mata tak sengaja melihat darah yang mengering, lalu beralih pada infusan yang menjuntai ke bawah.
"Gadis nakal!" Gemas Antonio mencium kening putrinya dan segara memencet tombol penghubung ke ruangan Arsen dan Vinno.
'Klek' pintu kamar rawat terbuka, munculah Arsen dengan Snelli dan stetoskop yang menggantun dilehernya.
"Loh ini kenapa bisa princess melepas infusan nya dad," ujar Arsen bertanya pada daddy nya.
"Entahlah sen, daddy pun tak tau. Princess kita memang nakal, sering bertindak di luar batas. Seperti perlu pengawasan 24 jam non stop, biar kejadian ini tidak terulang lagi," kata Antonio berpikir akan mencari bodyguard perempuan untuk selalu berada di belakang putrinya, agar hal seperti ini dia tidak kecolongan lagi.
"Ide daddy boleh juga, tapi apakah princess mau? Daddy tau kan princess sangat keras kepala, susah membuatnya mengerti bahwa yang kita lakukan sebenarnya demi keselamatannya," tukas Arsen sembari memasang kembali infus yang sempat di lepas.
"Hemm benar yang kamu bilang sen, daddy akan coba bicara dengan princess," ujar Antonio.
"Daddy sudah makan malam?" Tanya Arsen.
"Belum! Tetapi Daddy tidak lapar son," jawab Antonio.
"Tidak usah son, kau juga perlu istirahat. Daddy tau kamu juga lelah, perlu beristirahat. Biar daddy pesan delivery saja."
"Aku tidak percaya daddy akan membelinya, biar aku belikan makanan di kantin saja agar lebih cepat prosesnya."
Setelah mengatakan itu Arsen lekas keluar dari kamar rawat adiknya, langsung menuju kantin membelikan daddy nya makanan. Sedangkan Antonio hanya pasrah saat Arsen memaksa akan tetap membelikannya makanan.
Tinggalkan Antonio sendirian menemani putrinya di kamar rawat. Mengapa ketiga putranya tidak ada? Karena mereka Antonio suruh pulang untuk beristirahat, terutama Arcell yang keras kepala ingin tetap menemani Queen. Tetapi dilarang Antonio, bukan tanpa alasan Antonio melarang putranya, Arcell harus ke berangkat ke luar kota besok pagi untuk meninjau pembangunan hotel baru dan sekalian meeting di kantor cabang Horison. Itulah alasan Antonio bersikeras melarang putranya menginap di rumah sakit, takut kurang istirahat. Semantara Ghani dan Rey besoknya mereka harus kuliah dan sekolah.
Tidak sampai dua puluh menit Arsen datang membawa makanan yang beli untuk daddy nya. Setelah mengantar makanan, Antonio meminta Arsen kembali ke ruangannya untuk beristirahat.
Usai menyantap makanannya, Antonio memilih berjaga agar tak tidur. Sebab biasanya putrinya akan mengalami demam beberapa jam sesudah menangis. Ya, Antonio sangat tau tentang putrinya.
"Di...dingin" Terdengar rintihan Queen.
Anotonio naik keranjang memeluk tubun putrinya yang sebenarnya tidak dingin melainkan panas. Antonio mengusap-usap kepala putrinya, kadang dia juga menempelkan telapak tangan memeriksa suhu putrinya.
__ADS_1
Nyatanya Antonio yang ingin tetap terjaga malah tertidur sambil memeluk tubuh putrinya.
Keesokan paginya Queen terbangun, saat merasakan sesuatu yang panas bersentuhan dengan kulitnya. Tubuhnya menggeliat untuk menghindarinya, tetapi pelukan seseorang begitu erat. Queen perlahan membuka mata untuk mengetahui siapa pelakunya.
"Daddy," serak Queen baru bangun tidur, tanganya menyentuh dahi Antonio, memeriksa apakah rasa panas yang dirasakan berasal dari sang daddy.
"Badan daddy panas sekali," pekik Queen terduduk.
Queen memecet tombol yang berada tepat didinding belakangnya untuk memanggil abang dan papanya.
'Klek' pintu kamar rawat terbuka munculah Arsen dan Vinno bersamaan.
"Papa, abang! Ba..badan daddy panas hiks," tangis Queen pecah.
"Tenang sayang, papa periksa daddy mu dulu." Vinno bergerak melakukan pemeriksaan pada Antonio. Benar saja badan Antonio terasa panas, sedangkan Queen sendiri diperiksa oleh Arsen.
"Daddy hanya demam sayang, jadi jangan khawatir," ujar Vinno.
Vinno meminta satu ranjang lagi ke kamar rawat Queen untuk tempat Antonio. Antonio dipindahkan ke ranjang bersebelahan dengan Queen, infusan juga dipasang di tangan Antonio. Sedari tadi Queen terus menatap wajah daddy nya, dia sama sekali tak melepas pandangan, dia merasa takut kehilangan daddy nya.
"Arsen sebaiknya kamu tetap berada disini, alihkan saja pekerjaan mu pada dokter lain," suruh Vinno.
"Iya pa, aku juga berpikir menemani daddy dan princess disini." Kata Arsen mengirimkan pesan ke dokter Asyraf untuk menggantikan tugasnya.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1