
Antonio memenuhi keinginan Queen dengan membawa putrinya berkeliling kebun teh. Antonio sendiri tak tahu kenapa putrinya tiba-tiba meminta kesana, padahal masih banyak tempat yang bagus untuk dikunjungi.
Sepanjang jalan Queen terus mengedarkan pandangan mencari sosok yang ingin sekali ia lihat. Namun sepertinya keberuntungan tidak berada dipihaknya sekarang, sosok tersebut sama sekali tidak ditemukan. Padahal kedatangannya kesini mempunyai harapan besar bisa bertemu dengan sosok yang dirindukan setahun ini.
"Ada apa princess?" Tanya Arcell merangkul pundak Queen, membuat princess nya tersentak kaget.
"Aku engga papa abang, disini pemandangan indah sekali," ungkap Queen sembari menetralkan raut wajahnya senormal mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Hem tapi abang perhatikan sedari tadi kamu seperti mencari-cari sesuatu, apa yang sedang kamu cari sayang? Bisa beritahu abang, abang pasti akan membantu mu," ujar Arcell pura-pura tidak tahu saja, padahal ia yakin princess nya pasti sedang mencari keberadaan 'Mommy' mereka.
"Gimana aku mau berterus terang, sedangkan kalian tidak mempercayai ku dan menganggap diriku hanya berhalunisasi. Maaf abang kali ini aku tidak bisa bercerita, tapi aku akan cerita jika aku sudah menemukan mommy dan benar-benar melihat berhadapan dengan ku, untuk saat ini biarlah aku memendamnya." Batin Queen berusaha menahan sesak di hatinya.
"Ga ada abang, aku cuma suka banget dengan keindahan disini," ucap Queen memilih tidak jujur dan menyembunyikan perasaan sedihnya.
Arcell membawa kepala princess nya bersandar di dada bidangnya, supaya dia dengan leluasa mengusapnya.
"Bisa ga ya bang kita kesini lagi nanti dengan keluarga yang lengkap," tutur Queen terdengar ambigu bagi yang tidak mengerti maksudnya, tetapi tidak dengan Arcell yang paham arti dari kalimat princess nya.
"Ya bisa sayang, abang berjanji kita akan kembali lagi kesini dengan anggota keluarga yang lengkap. Keinginan mu akan abang kabulkan," lontar Arcell mantap, yang malah membuat Queen menjadi bingung.
"Arcell jangan menjanjikan sesuatu yang ga bisa kita wujudkan. Daddy tidak mau sampai princess berharap besar dengan janji yang barusan kau ikrarkan," imbuh Antonio memberi teguran, dia berusaha menjaga putrinya agar tidak terluka di kemudian hari.
"Iya daddy aku mengerti, tapi aku sangat yakin bisa menepati janji ku ini," ujar Arcell berkata dengan percaya diri.
"Daddy abang, bisakah kita pulang sekarang. Aku merasa lelah dan ingin istirahat saja," lirih Queen meremas ujung hoodienya mencoba menahan rasa sakiti di area pinggang, kepala juga berdenyut pusing.
Queen teringat perkataan papa Vinno ditelpon sebelum mereka berangkat liburan. Papa Vinno mengingatkannya membawa obat-obat dan jangan sampai lupa meminum tepat waktu.
"Bodoh sekali, kenapa aku bisa lupa meminumnya. Pantas saja pinggang ku rasanya nyeri sekali, kepala ku juga pusing." Ucapnya dalam hati.
"Princess apa kamu sakit sayang? Wajah mu pucat sekali, biar daddy gendong ya," ucap Antonio ingin menggendong Queen, tapi didahului oleh Arcell mengangkat tubuh Queen ke dalam gendongannya.
"Daddy lebih baik panggil Rey, Ghani dan Bian saja. Biar aku bawa princess ke mobil duluan," ucap Arcell bergegas menuju mobil mereka.
"Bian, Rey, Ghani. Kita pulang sekarang, princess kelelahan!" Seru Antonio memanggil ketiga putranya yang masih asik menikmati pemandangan.
"Bentar dadd, aku lagi bicara sama papa ditelpon," sahut Abian.
"Kalau sudah cepat menyusul," balas Antonio.
"Pah sudah dulu ya, kita mau pulang ke villa dulu, entar aku telpon lagi."
__ADS_1
"Tunggu Bian, mengapa papa mendengar suara daddy mu seperti panik. Apa yang terjadi?" Tanya Vinno diseberang telpon sedikit mendengar nada panik Antonio, tetapi dia tidak terlalu jelas mendengar perkataan Antonio.
"Itu pah princess kelelahan," beritahu Abian.
"Apa princess pingsan Bian?" Tanya Vinno khawatir.
"Sepertinya tidak pah, sudah dulu ya pah."
Abian langsung mematikan telpon tanpa menunggu jawaban Vinno diseberang sana. Vinno yang masih berada di luar negeri, tampak khawatir memikirkan keadaan Queen.
"Princess kamu pasti melupakan minum obat mu. Kamu membuat papa takut sayang. Semoga tidak terjadi apa-apa sama kamu." Vinno melapalkan agar putrinya baik-baik saja.
"Mas kamu kenapa, kok keliatan tegang gitu. Apa ada sesuatu yang mengusik perasaan mu?" Naila datang dan membawa suaminya untuk duduk di sofa.
"Tadi aku habis nelpon Bian, terus aku dengar suara Vierr kayak panik gitu. Jadi aku tanya sama Bian apa yang terjadi, Bian bilang princess kelelahan. Aku khawatir sama princess, sayang." Papar Vinno.
"Aku yakin princess pasti baik-baik saja mas, besok juga kita akan pulang ke Indonesia. Kita bisa menyusul mereka ke puncak," ujar Naila.
"Kamu ingin kesana sayang," ucap Vinno.
"Iya mas, disana udaranya segar, apalagi pemandangan sungguh indah." Naila masih mengingat saat mereka liburan kesana, sesudah merayakan ulang tahun Queen.
"Baiklah kita akan langsung kesana setelah sampai ke Indonesia."
Sesampainya di villa, Arcell menggendong Queen lagi dan merebahkan tubuh princess nya di ranjang.
"Daddy telpon dokter ya buat priksa kamu," tawar Antonio.
Queen menggeleng, "Enggan usah dadd, aku cuma lelah saja tidak sakit. Aku hanya butuh istirahat, daddy sama abang-abang bisa tinggalin aku sendiri aja." Pintanya.
"Gak mau ditemanin aja sayang, abang takut ninggalin kamu sendirian di kamar, saat kamu kecapekan seperti ini," ujar Ghani.
"Aku engga bang Ghani, kalau ada apa-apa pasti aku teriak kok," ucap Queen sebisa mungkin membuat mereka percaya bahwa dia baik-baik saja. Kalau mereka menemaninya di kamar, bagaimana caranya dia bisa meminum obatnya, apalagi pinggang sungguh sangat nyeri sekali.
"Princess benar, sebaiknya kita membiarkan princess beristirahat," kata Antonio membawa keempat putranya keluar.
Setelah semua orang keluar, Queen turun dari ranjang membuka kopernya dan mengambil obat-obatan yang dibawanya. Dia langsung meminum beberapa obat yang disarankan. Usai meminum obat, dia kembali duduk diranjang dengan punggung bersandar dikepala ranjang. Ponselnya yang berada dalam tas kecil berdering, dia langsung mengangkatnya saat melihat nama papa Vinno muncul di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, princess apa kamu baik-baik saja sayang, papa khawatir sekali sama kamu,"
"Waalaikumsalam papa! Aku baik papa, tadi cuma kelelahan sedikit,"
__ADS_1
"Syukurlah sayang, papa lega mendengarnya. Papa tau kamu pasti lupa minum obat mu kan,"
"Maaf pa, aku benar-benar tidak sengaja melupakannya,"
"Yasudah tidak papa, lain kali jangan lupa sayang,"
"Iya pa,"
"Jaga dirimu baik-baik sayang. Kalau kenapa-kenapa hubungi papa ya,"
"Oke pa, papa juga baik disana,"
Selesai berbicara di telpon dengan papa Vinno. Queen mulai merasakan mengantuk, efek dari obat yang diminumnya. Tak kemudian mata mulai terpejam dan akhirnya terlelap.
Arcell yang tengah berada dikamar, berpikir akan menghubungi Batara dan menanyakan pencarian apakah membuahkan hasil atau tidak. Arcell merogoh ponsel di saku celananya dan mencari nomor Batara.
"Tara dimana kamu sekarang?"
"Saya sudah berada di puncak boss,"
"Lalu bagaimana apa kau sudah mendapatkan informasi tentang mommy ku,"
"Boss aku menemukannya,"
"Kau beneran menemukan mommy ku,"
"Ya boss saya sudah menemukam Ibu anda. Saya tidak bica menceritakan ini ditelpon, lebih baik kita ketemuan saja boss,"
"Oke baiklah, saya akan mengirimkan lokasi dimana kita ketemuan disana saja,"
Arcell mematikan sambungan telpon dan mengirimkan alamat lokasi. Arcell tersenyum tipis sehabis menelpon Batara, perasaan benar-benar bahagia sekarang. Semoga ini adalah petunjuk bahwa keluarga mereka sebentar lagi akan lengkap kembali.
"Mommy, bentar lagi kita akan berkumpul. Sungguh aku tidak sabar menantikan kebahagiaan keluarga kita akan kembali."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1