
Sedari lima menit berlalu Queen mondar mandir depan pintu ruang kerja opa Andreas. Queen merasa ragu ingin mengetuk pintu, hatinya benar-benar bimbang dan bingung harus mulai pembicaraan darimana nanti. Queen mengurut dahi, saat kepalanya terasa sedikit pening memikirkan perkataan Alex yang mendesak dirinya untuk menolak perjodohan dan berbicara pada opa Andreas.
"Tidak Queen! Kamu harus melakukannya, ini yang terbaik bagi aku dan kak Alex," gumam Queen seraya mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Antonio yang memang sedang berada di ruang kerja Andreas, lantas berdiri membukakan pintu. Queen terkejut melihat ada daddy nya, dan ya daddy berdiri didepannya dengan senyuman yang selalu ditunjukkan padanya setiap hari.
"Ayo masuk princess," ajak Antonio mempersilahkan putrinya.
Queen mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan opa Andreas yang cenderung berwarna cat abu-abu hitam, persis seperti ruangan Antonio dan Arcell. Queen mendekati opa Andreas yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
Andreas menarik tangan princess kesayangan hingga jatuh kepangkuannya. Andreas memeluk erat princess nya, memberi kecupan di pipi. Antonio memutar bola mata melihat pemandangan tak jauh darinya dengan tatapan jengkel melihat putrinya dikuasai oleh papanya.
"Tumben sekali princess menemui opa, atau princess ingin memberitahu permintaan yang princess inginkan," tebak Andreas.
Queen menganggukan kepalan sembari tetap menunduk. Jadi tebakan Andreas tidak meleset sama sekali, bahwa princess menemui adalah mengatakan permintaan waktu itu yang menjadi syarat dari solusi dia bisa berbikan dengan sang istri.
"Katakan saja princess, opa pasti memenuhi permintaan mu," ucap Andreas menunggu princess nya berbicara.
Lidah Queen sangat kelu untuk mengatakan permintaan. Queen turun dari pangkuan Andreas, kemudian memilih duduk di sofa bersama Antonio yang menatap putrinya dengan rasa penasaran. Namun Queen belum juga bersuara, dia malah memainkan jemarinya.
Antonio menyadari mungkin princess nya tak mau bicara, karena masih ada dirinya.
"Baiklah daddy akan keluar saja." Antonio berdiri bersiap ingin melangkah, namun Queen menahan tangan daddy nya.
"Tetap disini dadd, aku juga ingin daddy mendengar permintaan ku ini," sergah Queen meminta Antonio agar tetap duduk ditempatnya.
"Hem oke sayang," ucap Antonio.
Andreas yang masih berada di kursi kebesarannya langsung bangkit, melangkah menghampiri Queen dan Antonio.
__ADS_1
"Opa daddy, permintaan aku ini mungkin berat bagi opa. Tapi aku mohon opa mau memenuhinya," kata Queen menatap Andreas dan Antonio bergantian.
"Katakan sayang, opa berjanji akan memenuhinya. Seperti yang sering opa bilang, laki-laki yanh dipegang omongan dan pembuktian itu harus. Jadi opa akan memenuhi permintaan mu seperti janji opa," papar Andreas.
"Opa bisakah perjodohan ini di batalkan saja. Aku menolak perjodohan ini, ka..karena aku engga mencintai kak Alex," lugas Queen berterus terang.
Tubuh Andreas yang semula biasa saja, kini berubah menegang mendengar kalimat yang keluar dari mulut princess nya. Andreas tidak pernah menyangka bahwa permintaan princess sangat sulit dipenuhi, tetapi dia telah berjanji akan memenuhi permintaan primcess nya.
Antonio merasa papanya belum siap untuk berbicara, lantas dia memegang lembut pipi princess agar menatap padanya.
"Princess yakin ingin menolak perjodohan ini?" Tanya Antonio memastikan bahwa putrinya memang tidak menginginkan perjodohan yang dilakukan mereka.
"Ya dadd, aku sangat yakin dengan keputusan yang ku buat. Kami tidak saling mencintai dadd, apalagi kak Alex sendiri sudah punya pasangan. Aku engga mau menyakiti hati seseorang jika perjodohan ini tetap dilanjutkan," tutur Queen.
"Opa," panggil Queen menyentuh telapak tangan Andreas yang mengepal, lalu menggenggam membuka kepalan tangan itu. Queen menghapus telapak tangan Andreas dengan lembut.
"Aku tau keputusan ku sangat berat opa terima, tapi aku mohon opa mengerti bahwa ini jalan yang terbaik. Memaksakan segala hal yang dipaksakan dan tidak didasari kemauan sendiri, itu sama saja menyakiti diri kita sendiri dan orang lain," kata Queen bijak, semua itu berkat didikan dari Khanza yang selalu menanamkan sifat rendah hati dan pemikiran yang baik.
"Baiklah princess, opa menerima keputusan sayang. Malam ini kita akan membahas bersama keluarga Alastar," ujar Andreas membuat Queen merasa lega dengan jawaban dari opanya.
"Opa emang the best, aku sayang opa," ungkap Queen mencium pipi Andreas kanan kiri. Kemudian keluar dari ruangan kerja dengan perasaan antara senang dan sedih. Senang karena opa nya memenuhinya, sedih karena keputusan yang dia buat begitu berat diambilnya, meskipun dia tak bisa menyangkal bahwa dilubuk hati terdalamnya masih ada sercercah harapan untuk bisa memiliki.
"Pah bukannya ini perjanjian yang sudah dibuat sedari papa dan om Levian masih remaja. Bahkan kalian sama-sama menyimpan kertas perjanjian tersebut. Namun perjanjian kalian tidak bisa terpenuhi sebab kami terlahir laki-laki, tetapi perjanjian kalian memiliki sercercah harapan sekarang, karena aku memiliki anak perempuan," papar Antonio bisa berbicara dengan Andreas, sebab Queen sudah keluar dari ruang kerja.
"Pah mungkin ini terdengar egois, jujur saja aku pun tak menyetujui perjodohan ini setelah putranya Deon mengatakan menolak perjodohan ini dengan alasan sudah memiliki kekasih. Karena aku tidak mau putri ku patah hati, cukup dengqn kehilangan Khanza membuatnya sangat terpukul bahkan beberapa kali berhalusinasi, jadi kali ini aku akan berusaha menjaganya lebih ketat lagi." Tutur Antonio.
"Vierr bisa tinggalkan papa sendiri, papa perlu menjernihkan otak agar bisa berpikir," ujar Andreas mengusir Antonio.
"Baik pah, ingat papa tak boleh banyak pikiran atau kesehatan papa akan menurun," peringat Antonio sebelum keluar dari ruangan Andreas.
🥀
__ADS_1
Semantara dikediaman Alastar, Nafisa sangat sibuk di dapur memasak berbagai macam menu makanan. Nafisa tidak sendiri melainkan dibantu beberapa assisten rumah tangganya, tetap saja Nafisa yang harus mengambil alih dalam perbumbuan. Wanita cantik dengan hijab menutupi kepalanya, tidak mau sampai kekurangan apapun semua harus totalitas.
Bunda Nafisa menghentikan acara masaknya, ketika melihat putra sulung berjalan, kelihatan letih dan lesu.
"Assalamu'alaikum," salam Nafisa menyadarkan Alex yang lupa mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum bunda." Alex mengambil tangan bundanya, lalu menciumnya.
"Waalaikumsalam sayang! Kamu kok baru pulang jam segini sayang, padahal bunda sudah berpesan setelah jam sekolah berakhir langsung pulang, ga usah latihan basket dulu atau main ke cafe untuk hari ini," omel Nafisa bersungut-sungut.
"Maaf bunda, aku baru mengingat kalau hari ini ada jadwal latihan basket dan ga bisa di tunda," ucap Alex.
"Heum bunda maklumi, sudah sana kamu langsung bersih-bersih sama istirahat yang cukup," kata Nafisa mendorong tubuh putranya agar segera ke lantai atas.
"Iya bunda cantik, tapi sayang sering ngomel-ngomel, canda bunda." Setelah mengatakannya Alex mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.
"Alex jangan kurang aja sama bunda, entar bunda bilangin ayah biar kamu dihukum." Teriak Nafisa seraya mengelus dada. Namun tidak dipungkiri Nafisa tersenyum, Alex memang berbeda dari Arthur putra bungsunya. Alex kelewat pendiam, sangat jarang bercanda dengannya, berbeda dengan Arthur yang humoris, senang melontarkan candaan.
"Rasanya bunda sudah merindukan mu lagi, padahal baru kemarin kita bertemu. Bunda ingin kamu kembali ke Indonesia nak, tapi bunda tidak bisa memaksakan kemauan bunda, sebab itu adalah keputusan mu sendiri. Bunda hanya berharap suatu hari nanti kamu berubah pikiran."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1