
"Semoga mereka memang benar keluarga ku, hati dan perasaan ku juga gak bisa dibohongi, kalau aku nyaman bersama mereka. Aku ngerasa punya ikatan kuat dengan mereka, apalagi suara princess ketika memanggil ku mommy sama persis yang sering ku denger dalam mimpi."
Rani bicara sendiri sambil menatap wajahnya di cermin kecil ditangannya. Rani bisa melihat luka bakar dirahang pipi kirinya, ia pun tak tahu darimana mendapatkan luka bakar tersebut. Orang tua angkatnya cuma menceritakan saat ia keserempet motor saja untuk luka bakar mereka tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya dengan dirinya.
Rani mengambil cincin yang tak pernah dipakainya hanya ia simpan saja. Sekarang ia akan menunjukkan cincin tersebut ke pria tua yang mengaku sebagai suaminya.
"Aku selalu lupa menanyakan nama pria tua itu, padahal aku seharian bersamanya. Mungkin kah namanya adalah Antonio." Rani membaca ukiran nama pada cincin kawin ditangannya.
"Kalau benar, berarti dia tidak bohong kalau aku memang istrinya," kata Rani mengukir senyum di bibirnya. Rani menyentuh dadanya ia merasa berdebar.
"Rani! Apa kau masih lama dikamar nak?" Bu Tini berdiri depan pintu Rani. Rani yang sudah lama berada dikamar membuat Bu Tini khawatir.
Antonio berdiri dari duduk lesehan, lalu mendatangi kamar istrinya, ia ikut merasa cemas, takut istrinya nekat berbuat sesuatu yang tak diinginkan.
"Honey buka pintunya atau mas dobrak, dalam hitungan ketiga kamu juga masih belum buka pintu, jangankan salahkan mas kalau pintunya rusak," ujar Antonio mengkode Bu Tini agar menyingkir ke samping, ia mundur kebelakang sampai mentok ke tembok mengambil ancang-ancang menobrak pintunya.
Antonio yang hendak mendobrak menjadi jatuh bersama istrinya yang bertepatan membuka pintu. Antonio yang tidak siap melindungi kepala istrinya hingga kebentur dilantai.
"Awshh kepala ku sakit," ringis Rani mengaduh kesakitkan, kepala berputar-putar tak bisa Rani tahan sakitnya, Rani pun pingsan.
"Honey! Honey!" Antonio menepuk pipi istrinya pelan, namun tidak juga mendapat respon. Terpaksa Antonio menggendong istrinya, membaringkan ke tempat tidur.
"El, hubungi Vinno. Suruh papa mu kesini, cepat," titah Antonio.
Arcell lantas segera menelpon papa Vinno, seperti yang dikatakan oleh daddy nya.
"Papa, mommy pingsan. Papa seger kesini bawa peralatan dokter, aku sherlock alamatnya."
"Ya papa kesana sekarang."
Setelah sambungan telpon berakhir, Arcell mengirimkam sherlock alamat kontrakan mommynya. Vinno langsung membuka pesan whatsapp dari Arcell, kemudian mengklik google maps, ternyata kontrakan tidak begitu jauh dari kebun teh.
Vinno berjalan menghampiri putranya Bian, "Bian, papa titip mama sama princess ke kamu jaga mereka."
"Papa mau kemana?" Tanya Bian.
"Abang El nelpon papa, katanya mommy pingsan. Jadi papa diminta kesana, papa cuma sebentar. Nanti papa kembali lagi." Vinno bicara sangat pelan, agar tak didengar putrinya.
"Okey pa, urusan mama sama princess aman. Aku bakal jaga dua malaikat kita dengan segenap jiwa ku," kata Bian terlalu lebay.
__ADS_1
"Papa tunggu," seru Queen dari kejauhan beberapa meter, gadis itu berlari kearah Vinno.
Vinno terpaksa menghentikan langkah kakinya menunggu Queen sampai didepannya.
"Papa sudah mau pulang ya," ucap Queen.
"Engga sayang, papa cuma mau ke mobil sebentar ambil sesuatu," kata Vinno tak sepenuhnya berbohong, ia memang mau ke mobil mengambul peralatan dokter.
"Princess ayo sayang kita lanjutin lagi mengitari kebun teh ini sambil bantu bantu pekerja yang lain," ajak Naila ketika putranya Bian memberitahu sesuatu lewat bisikan.
"Yasudah papa aku ke mama dulu, kami mau melanjutkan jalan-jalannya," pamit Queen.
"Hati-hati princess, ingat sayang jika lelah cepat istirahat. Jangan memaksa untuk terus berkeliling," pesan Vinno, ia khawatir dengan kesehatan putrinya bila terus memaksakan kehendaknya, putrinya juga tiga hari lagi harus cuci darah.
Vinno harus mencari alasan agar putrinya dirawat dirumah sakit, supaya ia bisa melakukan cuci darah. Kalau putrinya dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sehat, yang lain bisa curiga, termasuk Arsen yang merupakan dokter pastinya pria itu menjadi orang pertama yang menaruh kecurigaan. Apalagi Arsen yang kerap menanyakan perihal kesehatan princess padanya yang kian menurun. Sebab yang mengambil alih tugas dalam pemeriksaan princess adalah dirinya, Arsen hanya diminta fokus menangani pasien lainnya. Jadi Arsen tidak akan pernah tahu tentang princess yang hanya memiliki satu ginjal untuk bertahan hidup.
🥀
Khanza mengerjap-erjapkan matanya menyesuaikan pengelihatannya, wanita itu mengedarkan pandangan dimana ia berada sekarang. Ia mengingat pristiwa yang terjadi padanya setahun yang lalu. Mata menoleh ke samping, tatapan jatuh pada mata teduh suami tampannya. Ia menampilkan senyum manisnya.
"Mas Nio, dimana princess kita?" Tanya Khanza bangun terduduk.
"Honey, ka-kamu mengingat aku," ucap Antonio berkaca-kaca.
"Mommy! Aku senang mommy sudah ingat kembali." Rey berseru heboh, memeluk mommy nya.
"Putra ku yang jahil! Alhamdulillah mommy sudah mengingat kembali, tadinya mommy ingin menunjukkan cincin ini, hanya untuk mengetahui apakah kalian keluarga mom atau bukan. Tapi sepertinya allah maha baik, sehingga membuatkan skenario bagaimana mom bisa mengingat keluarga mom lebih cepat," tutur Khanza.
"Abang El, Ghani kemari. Kalian tidak mau peluk mommy juga," tukas Khanza memanggil kedua putranya.
Arcel dan Ghani lantas memeluk Khanza. Mereka berlima berpelukan bersama, Khanza mencium kepala keempat pria yang memeluknya.
"Vierr aku dat-"
Perkataan Vinno terhenti ketika melihat kelima orang tengah berpelukan. Vinno menyadari jika telah terjadi sesuatu yang membahagiakan sekaligus mengharukan.
"Ah sepertinya aku merusak suasana haru kalian," sambung Vinno ingin undur diri keburu Khanza memanggil namanya.
"Kak Vinno kesini, kenapa ga aja princess sekalian," ujar Khanza membuat Vinno tertegun sejenak, mencerna kalimat Khanza mencari salahnya dimana.
__ADS_1
Vinno cukup tersenyum, ternyanta inilah momen haru mereka. "Princess lagi diajak Naila jalan-jalan ke kebun teh."
"Lalu kak Vinno sedang apa disini?" Tanya Khanza heran melihat Vinno yang membawa peralatan dokter.
Vinno menatap Antonio agar dia saja yang menjelaskan.
"Mas yang meminta Vinno kesini honey, mas panik saat kamu pingsan tadi," jelas Antonio.
"Aku baik-baik saja sekarang, jadi tak perlu di priksa," ucap Khanza.
"Tidak honey, kamu tetap harus dipriksa. Vinno kemari priksa Khanza," seru Antonio.
Khanza akhirnya pasrah, menuruti kemauan Antonio. Mereka menyingkir dari kasur Khanza, Vinno mendekat lalu melakukan pemeriksaan.
"Gimana Vinno, apa Khanza mengalami luka serius?" Antonio bertanya duluan, belum selesai Vinno memeriksa.
"Vierr tidak bisakah kau menunggu sampai pemeriksaan ini selesai, coba kau bersabarlah." Vinno mendengkus kesal.
"Hem, kerja mu lambat. Coba saja ada Arsen disini, aku pasti tidak mengandalkan mu, karena putra ku lebih hebat dari mu," ujar Antonio menyindir Vinno dan membanggakan Arsen.
"Ya terserah mu lah Vierr," balas Vinno tak mau kalah.
"Hentikan perdebatan kalian berdua, apa kalian tak malu di tonton orang tua angkat ku sedari tadi. Mas Nio jangan membandingkan Arsen dan kak Vinno, mereka berdua jauh berbeda, kak Vinno adalah senior sekaligus papanya jadi pastinya lebih unggul kak Vinno. Arsen masih butuh bimbingan kak Vinno," papar Khanza membuat Vinno tersenyum mengejek pada Antonio, karena mendapat pembelaan dari Khanza.
"Keadaan Khanza baik-baik saja, aku juga tidak melihat ada luka serius di bagian kepalanya," jelas Vinno.
Antonio lega mendengarnya, ia duduk lagi di dekat istrinya. Mencium kening istrinya menyalurkan rasa rindu yang terpendam selama ini.
Diambang pintu Khanza melihat gadis yang selama sudah dianggap anak olehnya. Mata mereka saling bertemu, Khanza bisa melihat sorot kesedihan terpancar dari mata gadis tersebut. Saat Khanza ingin memanggilnya kemari, keburu gadis itu pergi keluar, Khanza tak bisa mengerjar sebab pelukan suaminya begitu erat, membuatnya sulit melepaskan.
"Meskipun aku telah mengingat semuanya dan bertemu keluarga ku, aku tidak akan melupakan mu nak. Kamu anak baik yang sudah menemani hari-hari ku disini, kamu akan tetap ku anggap anak."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1