BELOVED

BELOVED
Episode 78.


__ADS_3

"Sial! Kenapa pikiran ku tak bisa tenang, aku merasa bersalah sudah mengabaikan mommy. Tapi aku tidak suka ketika mommy membahas gadis itu, mommy terlalu baik hingga menganggap gadis itu sebagai anaknya." Arcell mengusap rambut kasar, ia merebahkan kepala di sandaran sofa, lalu mendongak menatap langit-langit kamarnya.


"Tidak bisa dibiarkan, gadis itu ga boleh masuk ke dalam keluarga ku, kedatantangan akan menimbulkan banyak masalah." Arcell dari awal bertemu gadis itu di puskesmas ia sudah merasakan firasat buruk tentang gadis tersebut. Ia begitu yakin gadis itu pasti akan mengupayakan segala cara agar bisa masuk dalam keluarganya.


Tok! Tok! Tok!


"El, boleh mommy masuk," ujar Khanza dari luar pintu kamar.


"Ya mom, masuk saja pintu tidak aku kunci," sahut Arcell dari dalam, ia membuka laptop pura-pura menyibukkan diri.


Khanza mengulas senyum, menatap putranya tengah fokus pada layar laptop. Khanza duduk di samping putranya, tangan meraih tisu mengelap peluh yang menetes di leher putranya.


"Kami keringetan, padahal AC nya hidup." Khanza memeriksa dahi putranya, agak hangat.


"Dahi kamu hangat nak, sudah dulu kerjanya. Ayo istirahat, kalau kamu sakit jalan-jalan besok bisa gagal. Kamu gak mau kan bikin princess kecewa," kata Khanza meminta putranya menghentikan pekerjaan.


Arcell menggenggam tangan mommynya, "Aku sehat mom, jangan khawatir aku tidak akan mengecewakan princess kesayangan ku." Ucapnya.


"Kalau gitu mommy minta tutup laptop kamu, dan rebahan di ranjang," ujar Khanza.


Arcell menuruti perkataan mommynya, ia segera menutup laptop. Bukannya pergi ke ranjang ia malah berbaring dengan kepala dipangkuan mommynya.


"Kamu lagi banyak pikiran atau ada masalah, cerita sama mommy keluh kesah mu. Mommy akan bantu menyelesaikan masalah mu, sebisa mommy," ucap Khanza membelai rambut Arcell, kemudian menunduk mencium dahi putranya.


"Aku tidak punya masalah mom! Aku minta maaf sudah mengabaikan mommy saat sedang bicara tadi," kata Arcell menatap mommynya.

__ADS_1


"Tidak masalah sayang, mommy mengerti kamu paling sulit menerima orang baru di keluarga kita. Kamu juga harus tau kalau Salsa gadis yang baik, mommy menyayanginya itulah kenapa mommy angkat dia sebagai anak. Dia yang menemani hari-hari mommy selama hilang ingatan, dia sangat menghibur di kala mommy sedih belum bisa mengingat kalian. Kalau kamu mau mengenalnya, kamu pasti akan menyayangi seperti sayang kamu ke princess." Khanza sengaja menceritakan tentang Salsa saat ada kesempatan, ia ingin Arcell tidak melihat orang lain yang masuk dalam keluarga mereka sebagai musuh. Ia mau Arcell bersikap selayaknya seperti adik-adiknya.


"Hem, mom bisa pijat kepala ku," pinta Arcell mengalihkan pembahasan mereka. Dia sungguh tak suka mendengar nama gadis tersebut.


"Kita pindah ke ranjang saja ya, mommy pijat biar kamu bisa langsung istirahat," ucap Khanza.


Arcell beranjak dan berpindah ke ranjang, merebahkan tubuh disana. Khanza mulai memijat kepala putranya, sampai akhirnya putranya terlelap.


"Honey apakah sudah selesai bicara dengan El. Kalau sudah ayo kita ke kamar, kamu harus kelonin suami mu ini," kata Antonio yang muncul dari ambang pintu, dari ambang pintu Antonio bisa melihat Arcell telah pulas.


"Mas kecilkan suara mu, El baru saja terlelap," tegur Khanza segera menggandeng suaminya keluar dari kamar Arcell. Khanza menutup pelan pintunya supaya tak menimbulkan suara.


🥀


"Abang gak ikut turun?" Tanya Ghani ketika melihat hanya Arcell saja yang tetap santai duduk di dalam busa.


"Tidak, abang ingin menunggu disini saja. Dia tidak penting untuk di ajak," kata Arcell pedas, mungkin jika Salsa ada disana akan sakit hati mendengar perkataan Arcell.


"Abang benar, aku juga hanya terpaksa mengikuti. Aku penasaran dengan gadis itu, apakah benar dia memang gadis yang baik seperti yang diceritakan mommy," ujar Ghani.


"Pergilah dan lihat sendiri, kamu bisa menilai setelah melihat rupanya," tukas Arcell menyuruh Ghani menyusul yang lainnya.


"Ghani jaga princess, awasi gadis itu jangan sampai dia menyentuh princess," pesan Arcell.


Ghani mengangguk, berlari keluar menyusul yang lainnya telah lumayan jauh. Sesampainya di depan rumah Salsa, Khanza mengetuk pintu dan mengucapkan salam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bu Erni, Salsa." Khanza bersuara cukup keras menyapa dari pelataran rumah.


"Eh ada nak Rani, masuk-masuk." Bu Erni mempersilahkan mereka yang lainnya masuk.


"Silahkan duduk, maaf duduk lesehan," ujar Bu Erni tak enak hati, apalagi melihat dari orang-orang yang dibawa Rani seperti bukan orang sembarangan.


"Terimakasih, tidak papa bu," jawab Khanza.


"Nak Rani pasti mau bertemu Salsa kan biar Ibu panggilkan." Bu Erni segera pergi ke kamar Salsa.


"Salsa ada Ibu mu di depan, katanya ingin bertemu dengan mu," beritahu Bu Erni nenek Salsa.


"Iya nek." Salsa merapikan tampilannya dan bersemangat menghampiri Ibu angkatnya. Namun Salsa mematung saat melihat banyaknya rombongan bersama Ibu angkatnya.


...🥀🥀🥀...


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


 


 

__ADS_1


__ADS_2