
Sepeninggal Luna, kini Queen berdiri sendirian didepan pos satpam. Gadis itu menunggu daddynya yang telah berjanji akan menjemput sepulang sekolah. Dia mendengkua kesal saat mau menelpon, handphone digenggamannya lowbet. Dia terpaksa tetap harus menunggu, hingga 15 menif berlalu daddynya tak kunjung datang.
Queen mau melangkah masuk lagi ke dalam sekolah, dia ingin mendatangi Rey, meminta diantarkan pulang oleh abangnya itu. Saat terus berjalan dia berpapan dengan Keisyam yang menyapa dirinya.
"Alesha," sapa Keisyam berhenti didepan Queen.
"Ehh kak Kei, kak Kei lihat bang Rey gak?" Tanya Queen siapa tahu senior dihadapannya tahu keberadaan abangnya.
"Tadi gue lihat Rey diruang osis, sibuk banget dia," beritahu Keisyam, dia tahu karena habis dari ruang osis juga, tapi urusan sudah selesai.
"Oh gitu ya kak, yaudah makasih ya kak." Queen segera berbalik badan melangkah pergi, Keisyam bergerak cepat menahan lengannya.
"Tunggu Sha, lo mau pulangkan. Biar gue anterin," tawar Keisyam.
"Eung tapi entar merepotkan ka-"
"Gue gak suka ditolak," sela Keisyam seraya merangkul Queen mengajak ke mobil.
"Sialan si Keisyam, dia terang-terangan dekatin Alesha. Mereka gak boleh sampai jadian," geram Alex mengepalkan tangat, ketika netranya melihat dua orang melangkah pergi.
"Sayang anterin aku pulang yuk." Meldy datang langsung bergelayut manja dilengan Alex.
"Sopir yang biasa jemput kamu kemana," ujar Alex meredam emosinya dan mulai bicara normal.
"Papi bawa ke bandung, jadi semantara waktu aku dijemput dan diantar kamu aja maukan," ucap Meldy menatap manja kekasihnya.
"Tidak bisa begitu Mel, akhir-akhir aku banyak kesibukan. Setelah selesai urusan osis, aku juga langsung ke kantor ayah ku. Mulai sekarang aku di minta belajar mengelola kantor," tukas Alex, semua yang dikatakan Alex memang benar. Dia sudah satu bulan berlajar tentang mengelola perusahaan agar nanti dia tidak kaget dan tahu apa-apa yang harus dikembangkan untuk kedepannya.
"Kok aku ngerasa kamu banyak berubah lex. Dulu kamu gak kaya gini loh, apapun kemauan aku selalu diturutin, apa kamu berubah karena adik kelas yang dibilang Fani selalu mendekati mu itu, kalau gak salah namanya Alesha, benarkan?" Papar Meldy, sejak satu bulan dia merasa Alex sulit dijangkau. Setiap dia minta temani, Alex selalu beralasan sibuk, entah sibuk beneran atau tidak.
"Maksud mu apa? Tidak usah mengada-ngada, memangnya kamu pernah melihat aku jalan dengan Alesha atau sekedar dekat, tidakkan! Jangan berprasangka buruk terhadap orang lain, aku betulan sibuk aku tidak bohong soal itu," sanggah Alex.
"Maafkan aku sudah menaruh curiga padamu. Aku cuma ngerasa takut saja kehilangan mu." Meldy memeluk Alex, begitupun Alex juga membalas pelukan.
__ADS_1
"Kamu naik taksi online saja tidak papakan, aku harus ke kantor. Kalau telat ayah akan memarahi ku," ucap Alex memberi pengertian pada Meldy.
"Iya ga papa, kamu kerja juga buat masa depan kita nanti," balas Meldy menampilkan senyum palsu, hatinya sedikit dongkol tidak diantar pulang.
"Langsung pulang kerumah jangan singgah kemanapun," pesan Alex, lantas melangkah menuju parkiran mobil.
🥀
Keisyam memberhentikan mobil di depan pintu utama mansion Horison. Queen melepaskan sabuk pengaman, lalu melirik cowo disampingnya.
"Mau mampir kak," tawar Queen.
Keisyam menggeleng, "Kapan-kapan aja gue mampir, hari ini keponakan gue lagi berkunjung ke rumah. Jadi gue mau langsung pulang aja."
"Kakak hati-hati ya, makasih sudah nganteri aku pulang," ucap Queen.
"Iya sama sama cantik, lagian cantik gak boleh pulang naik kendaraan umum entar malah diculik. Diluar banyak orang jahat, apalagi kalau mereka sampai tahu lo anak orang kaya, bisa bahaya. Gue sarankan, misalkan pulang sekolah lo belum dijemput tunggu aja di pos satpam atau gak datangi gue. Gue pasti bisa anterin lo pulang, satu lagi jangan mudah percaya sama orang yang belum pernah lo lihat dan kenal," tutur Keisyam memperingati gadis polos disampingnya. Keisyam takut terjadi apa-apa dengan gadis belahan jiwanya, jadi Keisyam harus bisa menjaganya seperti permintaan dokter Vinno yang mempercayakan padanya.
"Mommy," gumam Queen tanpa sadar meneteskan air mata saat memori itu berputar diotaknya.
"Hey? Jangan menangis, apa perkataan gue ada yang salah." Keisyam menghapus air dipipi Queen.
"A,aku gak papa kok kak, aku turun ya kak. Aku akan mengingat perkataan kakak," kata Queen mengulas senyum manis, kemudian membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, dia ingin bertemu mommynya.
Keisyam menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah gadis polos itu. Tadi menangis, lalu tiba-tiba tersenyum, sungguh aneh sekali. Keisyam menjalankan mobil meninggalkan mansion Horison.
Usai berganti pakaian santai, Queen bergegas turun kebawah mencari keberadaan mommynya, biasanya jam segini sudah berada didapur memasakan makanan. Saat berada diarea dapur Queen kecewa tak melihat mommynya disana.
"Nona pasti mencari nyonya Khanza kan," seru bibi Fatimah, kebetulan sedang didapur tengah memasak.
"Iya bi, apa bibi tau kemana mommy ku?" Tanya Queen masih tetap berdiri diposisinya.
"Coba nona tanyakan pada Mba Yunia, barangkali tau kemana tuan dan nyonya. Bibi liat tadi pagi setelah nona berangkat sekolah, nyonya dan tuan kaya pergi terburu-buru," beritahu bibi Fatimah apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Makasih bi, biar aku cari Mba Yunia." Queen bergegas ke pavilium menemui nannynya.
Tok! Tok! Tok!
"Mba, ini aku Alesha. Aku mau menanyakan sesuatu, apa mba di dalam." Seru Queen dari luar pintu.
"Mas Ed hentikan goyangan mu, diluar ada nona Alesha. Hentikan dulu percintaan kita," ujar Yunia sembari bangun dari atas tubuh Eduard, tetapi Eduard malah tidak melepaskan Yunia begitu saja. Eduard memegang pinggul istrinya menuntaskan percintaan mereka, sebelum Yunia pergi membukakan pintu.
"Mashh." Yunia membekap mulutnya menyadari nona mudanya berdiri diluar pintu kamar.
"Sebentar lagi sayang, Mas sampai."
Eduard menyelimuti dirinya, sedangkan Yunia turun dari ranjang dan mengenakan pakaian kembali. Membasuh wajah dalam kamar mandi, setelah merasa tampak segar, dia berjalan kearah pintu, lalu membukanya.
"Maaf aku menganggu tidur siang mba," kata Queen, wajah Yunia bersemu merah, malu berhadapan dengan nona mudanya sehabis percintaan bersama suaminya.
"Engga papa nona, nona ada perlu apa. Biar saya bantu," ujar Mba Yunia.
"Mba tau kemana mommy dan daddy ku pergi?" Tanya Queen.
"Tuan sama nyonya bilangnya mau ke bogor nona, untuk urusan apa mereka kesana. Mba kurang tau," jawab Mba Yunia.
"Oke deh mba, itu saja yang mau aku tanyakan tadi." Queen lantas melangkah keluar dari pavilium, pinggang terasa sedikit nyeri.
Queen memilih beristirahat dikamar, berbaring sembari menonton drakor kesukaannya untuk menghilangkan rasa suntuk. Mansion sangat sepi sekali, orang-orang belum pada pulang. Padahal dia berharap saat pulang bertemu mommy dan memeluknya.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1