
Queen terbangun dari tidurnya dan langsung terduduk. Menoleh ke samping kanan, mendapati Aditya yang tersenyum lebar.
"Opa kapan ada disini?" Tanya Queen mengedarkan pandangan mencari oma cantiknya.
"Dari satu jam yang lalu, Opa nungguin kamu bangun lama juga," ujar Aditya mengacak rambut cucu kesayangannya.
Queen mengerucutkan bibir, "Oma mana opa?"
"Di dapur, lagi masakin kamu makanan spesial," jawab Aditya.
Queen beranjak dari ranjang, bermaksud keluar dari kamar dan pergi ke lantai bawah menyambangi Kirana. Belum sempat tangan mencapai pintu, dari belakang Aditya langsung mengangkat tubuh Queen ke kamar mandi.
"Opa, aku lapar mau sarapan," rengek Queen, saat Aditya mengatakan Kirana memasakan makanan spesial, gadis itu sudah menebak makanannya, maka dari itu dia ingin segera kebawah saking senangnya diberitahu opanya.
"Mandi dulu, baru sarapan, itu pesan oma cantik mu," tukas Aditya menyampaikan pesan istrinya.
"Siap boss," hormat Queen langsung menutup pintu kamar mandi.
"Opa tunggu dibawah ya." Setelah mendapat sahutan dari Queen, Aditya lekas keluar dari kamar.
Setelah selesai mandi, Queen merasa segar. Lantas gadis itu bergegas menuju lantai bawah. Mereka sarapan berlima, sedangkan tiga abang sudah berangkat kuliah dan sekolah. Hanya Queen belum diperbolehkan Vinno pergi sekolah, karena harus bedrest beberapa untuk memulihkan kesehatan. Walaupun Queen merengek terus minta diizinkan ke sekolah, tapi Vinno melarang keras.
"Papa aku mau sekolah besok, aku bosan dirumah, mau ketemu teman-teman," ucap Queen.
"Biar papa suruh teman-teman kamu ke rumah, mengertilah sayang kesehatan kamu belum pulih, membolehkan kamu pulang saja papa terpaksa kemarin. Jadi sekarang princess nurut, entar pulang papa bawain es krim." Vinno mencoba membujuk princess dengan es krim, tapi sepertinya tidak mempan, kelihatan bibir gadis itu mengerucut.
"Papa kira aku anak kecil, bisa dibujuk sama es krim. Lagian bang El pulang dari luar kota hari ini, mau bawain aku es krim," kata Queen, tadi malam Arcell video call dan menanyakan mau oleh-oleh apa. Queen menjawab hanya ingin es krim.
"Percaya bang Ell bawain kamu es krim, abang Ell kan sering kelupaan sayang," sahut Vinno lagi menanggapi celotehan Queen.
"Awas aja kalau engga, aku tendang ab-"
"Siapa yang mau kamu tendang princess?" Arcell bertanya, menyela ucapan Queen yang belum terselesaikan. Pria itu pulang lebih cepat dan menepati janji membawakan es krim.
"Abang udah pulang," pekik Queen langsung bangkit dari kursi, menghambur ke dalam pelukan Arcell.
"Mana es krim aku." Queen mengalihkan permbicaraan tadi dengan menagih es krim yanh dijanjikan Arcell.
"Batara ambilkan bawa es krim yang tadi beli kesini, adikku sudah gak sabar ingin memakannya," seru Arcell menyuruh Batara pergi mengambilnya.
"Ini tuan es krimnya." Batara menyerahkan paper bag berisi bermacam-macam es krim.
"Princess habiskan sarapan mu, baru boleh makan es krim," tegur Vinno.
"Oke papa," jawab Queen.
"Makasih abang, makasih juga kak Batara," ucap Queen memeluk Arcell saja, sebab Queen dilarang memeluk pria lain yang tidak ada hubungan darah, kecuali Deon. Queen telah menganggap Deon seperti orang tuanya, begitupun Deon juga menganggapnya seperti putri.
__ADS_1
"Arcell ajak nak Batara sarapan, oma udah masak banyak," kata Kirana.
Arcell menuruti perkataan omanya, dia mengajak Batara sarapan bersama Walaupun lelaki itu sempat menolak, tapi Arcell memaksa.
🥀
Diruang keluarga Queen tengan menonton drakor, ditemani oleh Aditya dan Kirana. Aditya meluangkan waktu menemani cucu kesayangan, ia rela mangkir kerja, tidak akan ada orang yang memarahinya, sebab dia Ceo. Meskipun dia Ceo, Kirana selalu memarahinya, jika dia selalu mangkir kerja.
"Opa gak kerja," celetuk Queen yang berbaring dengan paha Kirana menjadi bantalan kepala gadis itu.
"Opa libur sayang," jawab Aditya santai.
"Libur? Inikan masih hari selasa Opa, bilang aja Opa males kerja, mentang-mentang udah kaya," seloroh Queen.
"Aamiin, semoga kekayaan opa gak habis-habis biar opa sering-sering mangkir," sahut Aditya disertai kekehan.
"Oma kenapa gak marahin Opa," adunya.
"Biarin aja sayang, sehari aja oma izinkan. Kalau besok gak kerja oma hukum opa mu," ucap Kirana menanggapi aduan princess nya.
"Aku setuju oma," jawab Queen antusias.
"Hukumannya yang bikin ***-*** ya istriku," sambung Aditya mengedip-edipkan matanya bermaksud menggoda istrinya.
"Mas omongan mu, ada princess loh." Kirana menatap tajam suaminya yang kelewat mesum, padahal sudah punya lima cucu, masih aja gak inget umur.
"Hem, siap sayang. Entar oma kasih yang sulit hukuman buat opa."
Ketiga orang asik dengan tontonan mereka, sambil mengobrol. Tidak menyadari kedua orang baru saja sampai di mansion. Setelah dua hari berada di Bogor, Antonio dan Khanza disambut bibi Fatimah.
"Tuan, nyonya. Mau saya buatin makanan," tawar bi Fatimah.
"Gak usah bi, biar saya masak sendiri saja nanti," balas Khanza dengan senyuman.
"Bibi ada siapa di mansion? Saya bisa mendengar suara orang tertawa," ujar Antonio bertanya, sebab telinga mendengar jelas orang tertawa.
"Oh itu tuan, ada tuan Aditya sama nyonya Kirana. Mereka lagj menemani nona Alesha nonton, nona Alesha baru saja pulang dari rumah sakit kemarin dan belum dibolehkan tuan Vinno masuk sekolah," papar bi Fatimah.
Antonio dan Khanza saling berpandangan, mereka seakan merasa bersalah mengabaikan putri mereka. Terutama Khanza, dia yang paling merasa bersalah, harus menemani Salsa.
Queen dirawat selama dua hari di rumah sakit pasca dirinya pingsan dikamar. Selama berada dirumah sakit Antonio dan Khanza tidak ada menemani disana, hanya ada Naila, Aditya, Kirana, berserta tiga abangnya. Sedangkan Arcell tidak diberitahu sama sekali, mereka khawatir jika mengabari Arcell, pria itu pasti meninggalkan meeting penting disana dan pulang dengan menyetir ugal-ugalan, jadi mereka memutuskan untuk tidak memberitahu si sulung Horison.
"Princess," seru Antonio ketika mengamati putrinya tengah menonton drakor bersama kedua mertuanya.
"Daddy mommy, aku kangen kalian," seru Queen balik, saat gadis itu mau bangkit memeluk Khanza dan Antonio. Aditya buru-buru mencegahnya.
"Adit, apa maksud mu menghalangi putriku memeluk kami," protes Antonio mendengkus kesal melihat sikap sahabat sekaligus mertuanya.
__ADS_1
"Kalian darimana saja hah? Anak sakit, bukannya pulang. Malah menemani anak orang, anak sendiri malah diabaikan," marah Aditya, ia masih bisa menekan emosi agar tidak bicara dengan intonasi tinggi, karena ada princess bersamanya.
"Sabar Mas, mungkin Khanza mau membalas kebaikan Salsa, jadi Khanza menemaninya mengantar nenek gadis itu ke peristirahat terakhir," imbuh Kirana sembari mengelus lengan suaminya. Kirana tak bisa ikut menyalahkan Khanza dan Antonio, sebab maksud Khanza baik.
"Tetap saja meraka salah Ran, seharusnya mereka kembali saat mendengar princess sakit bukan malah tetap disana," ujar Aditya memandang keduanya dengan marah.
"Opa jangan marahin daddy sama mommy, aku gak papa kok kan masih ada abang-abang ada mama papa, opa oma," bela Queen buka suara.
Aditya menghela napas kasar, percuma saja dia memarahi Antonio dan Khanza. Karena cucu kesayangan pasti membela keduanya. Sedangkan Antonio dan Khanza cuma bisa menunduk, menyadari kesalahan mereka yang telah mengabaikan Queen selama dua hari.
"Opa mau lepasin, mau peluk daddy sama mommy," pinta Queen, bukannya melepaskan Aditya mengeratkan pelukannya.
"Tidak bisa sayang, daddy sama mommy harus mandi dulu kalau mau peluk princess. Opa gak suka ngeliat mereka masih mengenakan pakaian dari Bogor." Aditya mendelik kearah dua orang yang masih berdiri.
"Sialan! Kalau bukan mertua, ku habisi kau Aditya." batin Antonio mata tajam menantap nyalang pada Aditya.
"Sana kalian mandi, baru boleh peluk cucu kesayangan ku," usir Aditya, sebenarnya dia tidak tega, mau bagaimana lagi gara-gara mereka cucu ku sampai mengigau terus setiap malam menyebut nama daddy mommynya saking rindunya, padahal ditinggal baru dua hari.
Jadi Aditya memberikan sedikit pelajaran, supaya kedepannya tidak lagi mengabaikan cucu kesayangannya.
"Awas kau Aditya, ada waktunya ku balas." kesal Antonio berucap dalam hati.
"Daddy mommy, sehabis mandi kesini ya, aku peluk kalian," ucap Queen.
"Iya sayang, kami pamit ke kamar." Antonio merangkul istrinya, keduanya lantas pergi menuju kamar. Sedari tadi Khanza sudah menitihkan air mata, ketika Aditya memarahi mereka.
"Sudah jangan menangis honey. Kita sama-sama bersalah, gak usah dengarkan omongan ayah." Antonio membenamkan wajah istrinya didada bidangnya, mengusap kepala istrinya agar berhenti menangis.
"Mas gimana kalau kita ajak Queen jalan-jalan, untuk menebus kesalahan kita," ucap Khanza terpikir menghabiskan waktu bersama putrinya.
"Sepertinya harus kita tunda dulu sayang, Queen baru pulang dari rumah sakit. Vinno pasti tidak akan mengizinkan Queen keluar," tukas Antonio.
"Yaudah kita habiskan waktu dirumah aja bareng Queen, aku akan membuatkan princess kita kue kesukaannya," kata Khanza, Antonio menyetujuinya karena itu lebih baik.
"Maaf honey, mas belum bisa menceritakan penyakit putri kita."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1